CARA MENGATASI REALITAS HIDUP
GppsPalu – Markus 4:35-41 “Pada hari itu, waktu hari sudah petang, Yesus berkata kepada mereka: “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Ia pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?”
Filipi 4:6 “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
I. MANUSIA DAN REALITAS HIDUP
Fakta kebenaran ini harus kita terima yaitu bahwa setiap manusia, dari usia anak-anak sampai dewasa, selagi masih hidup pasti akan diperhadapkan dengan realitas hidup. Pengalaman masing-masing orang pasti berbeda-beda begitupun cara menghadapinya.
II. PENGARUH REALITAS HIDUP
Setiap realitas hidup pasti akan berpengaruh pada ketiga unsur manusia yang terdiri atas tubuh, jiwa dan roh. Ketika realitas hidup itu muncul maka secara otomatis yang akan menanggapinya terlebih dahulu adalah unsur jiwani (perasaan, pikiran, kehendak). Ini yang membuat jiwa manusia itu tertekan. Jiwa manusia mempunyai kemampuan yang sangat terbatas dalam menyelesaikan setiap masalah. Setiap realitas hidup yang hadir tidak akan memperhitungkan apakah kita mampu atau tidak, tapi hal tersebut harus bisa diselesaikan. Dalam setiap diri orang yang sudah lahir baru di dalam rohnya ada Yesus yang bekerja melalui iman percaya kita. Ini yang sering terlupakan, akibatnya rohnya tidak bertindak untuk menghadapi setiap realitas hidup tapi justru terhanyut dalam perasaan jiwani dan berusaha mengatasinya sendiri dengan kemampuan jiwani yang sangat terbatas. Sekuat-kuatnya mental seseorang, atau setenang-tenangnya dia, pasti akan bereaksi ketika dimaki, dimarah, atau bahkan difitnah. Jiwanya akan meresponi, karena ia masih hidup, dimana pikiran dan perasaannya masih berfungsi secara normal. Karena terbatasnya kemampuan jiwani untuk menyelesaikan masalah, maka unsur jiwani inilah yang menghentar untuk melakukan atau mencari jalan keluar yang negatif dalam menyelesaikan masalah. Inilah yang membuat kita sering mendengar bahkan menyaksikan adanya tindakan-tindakan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang yang menyikapi semua masalah mereka dengan menyelesaikannya hanya dengan menggunakan jiwani mereka. Ketika menghadapi realitas hidup, mengapa iman yang ada dalam roh kita lumpuh dan tidak dapat bereaksi? Ini disebabkan karena kita selalu memberikan ruang dan kesempatan pertama pada unsur jiwani untuk meresponinya terlebih dahulu.
Dalam Markus 4:35-41dikisahkan ketika angin taufan yang sangat dahsyat menerpa perahu murid-murid Yesus, ini membuat semua murid panik ketakutan sedangkan Yesus sedang tertidur. Deruan angin taufan dan ombak tidak mampu membangunkan Yesus, tapi ketika murid-murid berseru memangil nama Yesus, disitulah Yesus terbangun. Masalah apapun yang terjadi dalam kehidupan kita, tidak akan mampu membuat Yesus menolong tetapi seruan kitalah yang membuat Ia menolong kita.
III. MEMAHAMI KEHADIRAN REALITAS HIDUP
Kehadiran realitas hidup bukanlah hal yang biasa atau kebetulan saja. Kita pernah belajar bahwa sekecil apapun masalah yang kita hadapi, hal itu punya kemampuan untuk menggoyahkan iman kita. Hanya iman yang ada dalam roh kita yang dapat menyelesaikan masalah. Unsur jiwani hanya dapat menyelesaikan hal-hal yang sangat terbatas.
Lukas 4:13 “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.”
I Petrus 5:8 “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.”
Orang percaya senantiasa menjadi incaran Iblis. Iblis selalu menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan setiap orang percaya. Tuhan menghendaki setiap orang percaya harus berwaspada setiap saat, jangan sampai lengah. Jangan biarkan Iblis mengambil keuntungan atas setiap pergumulan realita hidup yang ada.
Kita belajar dari kisah Ayub yang Tuhan ijinkan untuk dicobai oleh Iblis. Ayub menghadapinya dengan iman yang ada dalam rohnya. Apapun yang ia alami tidak membuat dia kecewa dan meninggalkan Tuhan.
Ayub 1:21-22 “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.”
Ini adalah realitas hidup dalam bentuk penderitaan, tapi ada dalam bentuk kesenangan, kejayaan, kemapanan bahkan kelimpahan. Kisah Raja Daud bisa jadi pelajaran yang berharga bagi kita. Ketika ia dalam masa kejayaannya, ia ingin tahu kekuatannya dengan menghitung pasukan yang ia miliki. Saat itulah Tuhan marah karena kesombongannya.
IV. BAGAIMANA KITA MENYELESAIKANNYA
I Petrus 5:9 “Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!”
Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Realitas hidup yang terjadi membentuk karakter kita, melalui ini juga akan membawa kebaikan dan ada nilai-nilai rohani yang mendatangkan kebajikan bagi diri kita. Tuhan selalu merancangkan yang terbaik dan masa depan yang penuh harapan.
Filipi 4:6 “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
Tuhan berkata “Diam dan Tenanglah!” Mari belajar untuk diam di bawah kaki Tuhan. Selalu ada jawaban atas setiap persoalan, Tuhan akan memberi petunjuk apa yang harus kita lakukan. Nyatakanlah segala keinginan kita dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Dengan berdoa kita belajar membangkitkan iman kita. Temukan janji-janji Tuhan atas persoalan kita.
Pdt. R.F. Martino









