This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

LEBIH DARI PEMENANG

GppsPalu – Roma 8:35-39 “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

2 Korintus 4:10 “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.”

Minggu yang lalu kita telah mempelajari mengenai hal “Menjaga diri dari jebakan iblis”. Dari situ kita telah memahami betapa perlunya kita menjaga kasih karunia Allah yang sudah dianugerahkan kepada kita di dalam Yesus Kristus, sehingga ketika Tuhan menetapkan suatu hukum yang utama untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan dan dengan segenap akal budi, maka segala sesuatu yang dilakukan dari unsur-unsur tersebut tujuannya adalah agar kita dapat mencapai Roma 8:37 yaitu menang bahkan menjadi lebih dari pemenang, asalkan selalu diawali dengan mengasihi atau agape kepada Tuhan.
Roma 8:35 menyebutkan “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?” Yang artinya kasih itu adalah milik Allah sehingga seharusnya tidak ada satupun yang dapat menggagalkan/menghalangi kasih Kristus yang maha dahsyat itu didalam kehidupan setiap orang percaya, kasih yang didalamnya terdapat pengampunan (kasih Allah yang agape), kekuatan kasih Kristus itulah yang membuat diri kita menjadi lebih dari pemenang, dengan demikian iblis tidak akan menjerat kita dengan cara apapun. Kualitas kehidupan rohani yang seperti itulah yang Tuhan inginkan untuk dimiliki oleh orang percaya.
Menjadi lebih dari pemenang yang dimaksudkan disini adalah menang dari perkara-perkara yang disebutkan dalam kitab Roma 8:35 yang akan diuraikan lebih jelas pada penjelasan dibawah.

I. REALITA HIDUP DALAM HAL-HAL LAHIRIAH
Berbagai hal-hal yang sifatnya horizontal yang telah disebutkan dalam Roma 8:35, yang hadir dalam berbagai bentuk realita hidup, secara alamiah dapat menghalangi kita mencapai lebih dari pemenang, tetapi sebagai orang percaya sepatutnya kita menyadari dan memahami maksud dan tujuan Tuhan melalui peristiwa-peristiwa ini :
1. Penindasan
Tekanan dalam hidup secara fisik dapat dikategorikan sebagai bentuk penindasan dalam hidup, pertanyaannya adalah bagaimana sikap hati kita terhadap Tuhan? Bagaimana kita bisa menangkap nilai-nilai ilahi dari peristiwa penindasan ini? Apakah kita masih agape kepada Tuhan? Jika iman kita tidak bisa menerimanya, maka agape yang telah kita terima dari Tuhan Yesus melalui karya keselamatannya akan terganggu, oleh karena faktor-faktor dalam jiwa kita mulai bekerja, kita cenderung akan berpikir dengan kehendak dan menuruti perasaan sendiri.
Jika kita tidak dapat menjaga iman kita dengan baik, maka kita akan kembali jatuh dalam jerat iblis. Rasa kecewa akan pelan-pelan membawa kita menjauh dari kasih Tuhan.

2. Kesesakan
Kesesakan dapat hadir dalam berbagai bentuk didalam kehidupan setiap manusia khususnya orang percaya, ketika kesesakan termanifestasi dalam bentuk peristiwa hidup, kita diperhadapkan kembali lagi kepada pilihan bagaimana kita menghadapinya supaya kita tetap mengasihi Tuhan dan menjadi lebih dari pemenang.

3. Penganiayaan
Bentuk penganiayaan yang terjadi dalam bentuk berbagai peristiwa, tidak hanya ketika kita disakiti secara fisik, tetapi ketika kita disakiti melalui pikiran, hati dan perasaan dapat menjadi celah untuk membuat kita terjebak dalam jebakan iblis.
4. Kelaparan
5. Ketelanjangan
Setiap hari manusia lahiriah bergumul dan berjuang untuk memenuhi berbagai kebutuhan jasmaninya, namun ada kalanya dalam hidup apa yang telah diperjuangkan dan digumuli sekian lama belum juga tercapai, hal ini juga bisa menggoncangkan kasih seseorang kepada Tuhan, karena hal-hal yang menyangkut kebutuhan hidup merupakan kebutuhan yang utama yang harus segera tercapai. Ketika seseorang tidak menemukan solusi dari masalah-masalah finansial ini, maka inilah kesempatan Iblis untuk menjauhkan seseorang dari kasih Tuhan, inilah bentuk manifestasi dari kelaparan dan ketelanjangan.
6. Bahaya
Semua peristiwa ini dapat membuat kita jatuh dalam jebakan iblis dan menghalangi kita untuk menjadi orang-orang yang lebih dari pemenang, padahal semua jawaban dari segala bentuk realita dan pergumulan diatas, jawabannya telah Tuhan sediakan melalui Firman-Nya, ketika kita taat dan setia melakukan firman Tuhan didalam kehidupan kita, maka Tuhan akan bekerja sesuai waktunya Tuhan, dan ketika ketika Tuhan menjawab pergumulan kita, saat itu kita sudah teruji karena telah berhasil melalui pergumulan-pergumulan itu, dengan demikian kita akan menjadi orang percaya yang terpuji.

II. REALITA HIDUP DALAM HAL IMAN
Diakhir jaman ini kebanyakan orang menyukai hal-hal yang bersifat supranatural, jika itu adalah kebenaran bisa menjadi hal yang positif jika tidak maka dapat mengganggu iman kita. Adanya ajaran-ajaran yang menyesatkan (ajaran sesat ini bukanlah ajaran dari kepercayaan lain, tetapi ajaran Kristen yang sesat) jika tidak kita waspadai juga bisa menggoyahkan iman kita, iman tidak hanya bisa terganggu karena hal-hal lahiriah yang telah dijelaskan diatas, tetapi iman kita juga bisa terganggu karena ajaran-ajaran sesat itu yang hadir dalam kehidupan nyata saat ini, bahkan di zaman rasul Paulus segala penyesatan-penyesatan itu telah terjadi, namun Paulus tetap memegang teguh imannya.

Roma 8:38-39 “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”

Dalam menjalani kehidupan rohani sehari-hari kita harus menjalaninya dengan serius, terkadang segala realita kehidupan yang menyangkut hal-hal lahiriah bisa kita lewati tetapi kita juga harus bisa membedakan mana yang sesuai firman Tuhan mana yang sesat. Gereja boleh memiliki pengajaran-pengajaran tetapi suatu pengajaran tidak boleh melebihi Kristus. Roh Kudus juga bisa memberikan karunia kepada orang-orang tertentu, tetapi segala karunia itu atau orang yang diberikan karunia itu tidak boleh melebihi yang memiliki karunia itu yaitu Tuhan Yesus, bahkan ketika ada penguasa-penguasa lain, ada malaikat-malaikat lain, tidak boleh menggeser posisi Tuhan. Kita juga tidak boleh mengekstrimkan hal-hal tertentu, seperti menjadikan perjamuan kudus sebagai jimat, sebagai media penyembuhan, dipakai memberkati suatu tempat, dll. Minyak urapan saat ini juga mulai di komersilkan sehingga seolah-olah memiliki kuasa untuk menyembuhkan, bahkan pintu-pintu rumah juga dioleskan minyak, hal-hal inilah yang bisa menjurus kepada penyesatan, padahal imanlah yang menyelamatkan kita.

Selanjutnya kita akan belajar dari Paulus, dimanakah letak kekuatan Paulus yang menjadikannya lebih dari pemenang?

2 Korintus 4:7-11 “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.
Sebab kami, yang masih hidup ini, terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus, supaya juga hidup Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.
Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.”

Segala realita dalam bentuk peristiwa lahiriah ataupun yang sifatnya penyesatan, Paulus dapat mengatasinya dengan menjadi lebih dari pemenang, karena kemampuan hikmatnya memang bukan dari dirinya sendiri, tetapi berasal dari Tuhan, inilah yang harus kita miliki. Menjadi pemenang bukan hadiah, tetapi melewati berbagai macam tahapan. Setiap kemenangan melewati segala macam proses untuk mencapi kemenangan itu. Seorang olahragawan pun akan melalui berbagai proses kerja keras, latihan dan berbagai persiapan ketika ingin memperoleh kemenangan, begitu pula dalam peperangan, ada perjuangan yang harus dilalui terlebih dahulu untuk mencapai kemenangan dan Paulus sudah melewati semuanya itu. Bagi kita sendiri apakah peristiwa-peristiwa ini menjadikan kita lebih dari pemenang ataukah ini memisahkan kita dari Kristus?

Roma 8:36-37 “Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”

Lebih dari pemenang adalah keberhasilan yang kita miliki sebagai akibat dari memiliki kasih agape. Agape Yesus di atas kayu salib sering hanya dipahami secara dangkal, hanya melihat sebagai peristiwa penyelamatan untuk kehidupan di surga, padahal segala peristiwa-peristiwa diatas tersebut telah Yesus alami lebih dulu selama hidupnya bahkan sampai mati di kayu salib dan Yesus menang. Ketika Yesus mengalami pengalaman seolah-olah “kasih Allah dicabut” dari dirinya, Alkitab berkata Ia sangat ketakutan dan sangat sedih. Yesus juga mengalami pengalaman “rasa hampir mati” pada saat berdoa di taman getsemani, pada malam sebelum peristiwa penyaliban, bahkan Yesus pernah berseru “Bapa mengapa Engkau meninggalkan aku?” seolah-olah agape itu diputus, tetapi justru disinilah agape itu dibuktikan yaitu dengan pengorbanan Yesus di kayu salib, itulah nilai tertinggi dari cinta.
Dalam kita menjalani kehidupan sebagai orang percaya dalam menghadapi berbagai realita hidup ini, jika belum mengalami pengorbanan maka kadar cinta kita belum sampai kepada agape, karena nilai cinta yang tertinggi adalah pengorbanan. Bagian kita adalah memahami kehendak Bapa dalam kehidupan kita, terus menjaga hati kita dan mensyukuri agape itu sendiri agar tetap bertumbuh dalam hidup kita sehingga ketika segala realita hidup terjadi dalam hidup kita, kita telah siap menghadapinya dengan agape kepada Tuhan, dan ketika kita telah berhasil melalui semuanya itu dengan pengorbanan, maka saat itulah kita menjadi lebih dari pemenang.

Pdt. R. F. Martino