This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Berpusat Kepada Kristus (Christo Centris)

GppsPalu – Wahyu 4:1-11 “Kemudian dari pada itu aku melihat: Sesungguhnya, sebuah pintu terbuka di sorga dan suara yang dahulu yang telah kudengar, berkata kepadaku seperti bunyi sangkakala, katanya: Naiklah ke mari dan Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus terjadi sesudah ini. Segera aku dikuasai oleh Roh dan lihatlah, sebuah takhta terdiri di sorga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis; dan suatu pelangi melingkungi takhta itu gilang-gemilang bagaikan zamrud rupanya. Dan sekeliling takhta itu ada dua puluh empat takhta, dan di takhta-takhta itu duduk dua puluh empat tua-tua, yang memakai pakaian putih dan mahkota emas di kepala mereka. Dan dari takhta itu keluar kilat dan bunyi guruh yang menderu, dan tujuh obor menyala-nyala di hadapan takhta itu: itulah ketujuh Roh Allah. Dan di hadapan takhta itu ada lautan kaca bagaikan kristal; di tengah-tengah takhta itu dan di sekelilingnya ada empat makhluk penuh dengan mata, di sebelah muka dan di sebelah belakang. Adapun makhluk yang pertama sama seperti singa, dan makhluk yang kedua sama seperti anak lembu, dan makhluk yang ketiga mempunyai muka seperti muka manusia, dan makhluk yang keempat sama seperti burung nasar yang sedang terbang. Dan keempat makhluk itu masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata, dan dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang.” Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya, maka tersungkurlah kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan Dia yang duduk di atas takhta itu, dan mereka menyembah Dia yang hidup sampai selama-lamanya. Dan mereka melemparkan mahkotanya di hadapan takhta itu, sambil berkata: “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.””

Pesan Tuhan untuk tahun 2016 bagi jemaat GPPS Palu adalah “Berpusat kepada Kristus”. Kita memang baru saja mengawali tahun 2016, tetapi di dalam peta zaman, kita sudah berada di penghujung dari akhir zaman. Tuhan Yesus akan segera datang! Karena itu penting bagi kita untuk memiliki sikap hati yang berpusat kepada Kristus. Alkitab tidak membenarkan kita untuk menentukan tanggal berapa Tuhan Yesus akan datang. Ada beberapa film yang dibuat tentang kapan akhir dari dunia. Beberapa gereja atau persekutuan di negeri kita pun pernah mencoba menentukan kapan Tuhan Yesus datang. Bahkan salah satu gereja telah menjual semua harta dan pindah ke suatu pulau untuk menyambut kedatangan Tuhan dan ternyata Tuhan Yesus belum datang. Hal ini pada akhirnya membuat banyak orang menjadi tidak lagi tertarik dengan pesan Tuhan mengenai akhir zaman/kedatangan Tuhan.
Belum lama ini di Papua ada upacara penanaman kapsul waktu. Di dalam kapsul tersebut tersimpan impian dari berbagai provinsi di Indonesia. Kapsul ini akan dibuka kembali pada tahun 2085, berarti 70 tahun lagi. Hal ini adalah hal yang positif karena ini adalah visi bagi bangsa Indonesia. Setiap orang mutlak harus mempunyai visi. Seorang mahasiswa baru memiliki gairah dan visi untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar. Pengantin baru memiliki impian dan perencanaan akan masa depan. Orang yang memulai bisnis mempunyai impian bagi bisnisnya. Semua hal ini adalah hal yang positif tetapi hal yang positif ini dapat dibuat iblis menjadi negatif jika kita tidak berhati-hati.
Kita mutlak harus bekerja keras/banting tulang tetapi jangan sampai semua itu merusak kerohanian kita. Iman jangan digunakan hanya untuk merubah nasib, untuk menghadirkan benda-benda/materi. Iman tidak sehina itu. Karena Tuhan sendiri sudah menetapkan bahwa orang benar akan diberkati, diangkat menjadi kepala, bahkan berkat orang fasik disiapkan untuk orang benar. Jadi jangan biarkan semua impian/visi/perencanaan kita membuat kita lupa bahwa Tuhan bisa saja datang sebelum semua target kita tercapai. Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan masih lama datang, atau Tuhan baru akan datang setelah semua impian kita tercapai. Ini berbahaya! Hendaknya kita senantiasa mawas diri. Di penghujung akhir zaman ini kita harus mempersiapkan diri kita dan kita harus melayani Tuhan.

2 Timotius 1:3-6 “Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan HATI NURANI YANG MURNI seperti yang dilakukan nenek moyangku. Dan selalu aku mengingat engkau dalam permohonanku, baik siang maupun malam. Dan apabila aku terkenang akan air matamu yang kaucurahkan, aku ingin melihat engkau kembali supaya penuhlah kesukaanku. Sebab aku teringat akan IMANMU YANG TULUS IKHLAS, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu. Karena itulah kuperingatkan engkau untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padamu oleh penumpangan tanganku atasmu.”
Dalam ayat diatas dikatakan bahwa ada hati nurani yang murni, berarti ada hati nurani yang TIDAK MURNI. Ada iman yang tulus ikhlas, berarti ada juga iman yang TIDAK TULUS IKHLAS. Itulah iman yang digunakan hanya untuk memperbaiki nasib: susah menjadi senang, miskin menjadi kaya, kekurangan menjadi berkelimpahan. Mengapa banyak jemaat yang seperti ini? Tergantung dari bagaimana hamba Tuhan membimbing mereka. Padahal kita sudah diselamatkan oleh iman. Mengapa kita tidak menggunakan iman kita untuk hidup oleh iman di dunia?

Ibrani 12:1-2 “Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang MEMIMPIN KITA DALAM IMAN, DAN MEMBAWA IMAN KITA ITU KEPADA KESEMPURNAAN, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”
Ayat diatas tidak mengatakan bahwa iman digunakan untuk benda-benda materi. Kita harus mempersiapkan diri kita supaya kita siap untuk masuk ke dalam kerajaan sorga.
Jangan menghargai diri kita dan iman kita dengan harta, tas, dan perhiasan yang ada pada kita. Mungkin tas yang kita gunakan harganya ratusan juta, tetapi jangan menilai iman kita hanya untuk benda-benda materi. Nilai iman kita jauh melebihi semuanya itu.
Tuhan mengajarkan kita dalam doa Bapa kami untuk meminta makanan yang secukupnya. Namun kenyataannya Tuhan sudah memberkati kita makan lebih dari cukup. Karena itu jangan gunakan iman kita untuk pergumulan jasmani. Karena hal ini bisa membawa kita lupa diri dan akhirnya berpusat kepada materi, berpusat kepada berkat, bukan kepada Sumber Berkat yaitu Tuhan Yesus.
Jadi iman kita digunakan untuk apa? Untuk melakukan kehendak Tuhan, untuk hidup di dalam ketaatan. Ayat diatas berkata bahwa iman kita harus menuju kepada kesempurnaan, karena saat ini iman kita belum sempurna, belum tulus ikhlas. Karena itu kita harus terus memusatkan iman kita kepada Kristus, inilah benteng pertahanan kita supaya kekuatan daya tarik dunia tidak dapat menerobos iman kita.
Ada kisah nyata dari seorang dosen teologia yang dulunya “dipakai” untuk mengajar di sebuah universitas lalu kemudian tidak lagi dipakai. Dosen ini stres dan suatu saat dosen ini diundang oleh universitas teologia abal-abal – dimana mahasiswanya dalam waktu singkat sudah bisa mendapatkan gelar – dan akhirnya dosen tersebut mengajar di universitas tersebut. Mengapakah kalau tidak “dipakai” membuat diri menjadi stres? Kita harus melatih diri supaya kita dipuji/tidak dipuji biasa saja. Kita dihormati/tidak dihormati biasa saja.
Kita harus menjadi jemaat yang dewasa bahwa pelayanan kita adalah urusan pribadi kita dengan Tuhan. Tidak perlu pusing dengan orang lain karena masing-masing mempertanggungjawabkan dirinya sendiri kepada Allah. Jangan pernah pusing dipuji atau tidak, diketahui orang atau tidak, dipakai atau tidak, yang penting lakukan dengan hati nurani yang murni dan iman yang tulus ikhlas kepada Tuhan.

Pdt. R. F. Martino