This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

BECAUSE OF JESUS

GppsPalu – “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!” Roma 11:36

Pendahuluan

Pesan Tuhan tahun ini membawa pikiran, hati dan seluruh keberadaan diri kita untuk berpusat pada segala sesuatu yang telah Tuhan kerjakan bagi kita, dengan harapan hal ini akan tertanam dan bertumbuh bagi kemuliaan Tuhan dalam bentuk melaksanakan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan sepanjang tahun 2015.

Dari ayat yang telah kita baca dalam Roma 11:36, kita akan belajar tentang kasus dalam kehidupan Yakub dalam Kejadian 32, yang tidak berbeda dengan yang kita alami dalam hidup sehari-hari.

Segala sesuatu atau apapun yang kita miliki bukan jawaban atas segala sesuatu yang kita hadapi. Kita memang mempunyai akal untuk mengelola segala sesuatu yang sudah Tuhan berikan bagi kita, tapi kita perlu pahami bahwa sekalipun kita melihat ada hal-hal yang dijawab oleh Tuhan yang ada pada kita, semuanya ada batasnya, karena semua terikat dengan hukum logika.

Kisah Yakub ketika bertemu dengan Esau

“Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan. Sebab pikirnya: “Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah, maka pasukan yang tinggal akan terluput”.” Kejadian 32:7-8

Ketika Yakub mendengar bahwa Esau ada di depan dan akan berpapasan di jalan, Ia mulai menganalisa dengan logikanya yaitu mengatur rombongan menjadi dua, karena jika rombongan satu diserang masih ada rombongan satunya lagi. Inilah pikiran logis Yakub, tapi hasil konkretnya masih menduga-duga.

Sementara Yakub mengatur dan membagi dua rombongannya, kegelisahan karena ketakutannya, sebab dari peristiwa sebelumnya ia belum mengadakan pemberesan dengan Esau. Dalam ketakutannya ini Yakub mencoba mengatur dengan logikanya sendiri. Bahkan Yakub juga menyiapkan hadiah yang banyak untuk Esau. Hal ini lumrah dan logis, seperti yang dilakukan kebanyak orang untuk melembutkan hati seseorang, maka ada hadiah yang diupayakan untuk hal itu, sekali lagi ini adalah bagian dari manusia lahiriah yang logis dan lumrah yang diperlukan untuk berinteraksi satu dengan yang lainnya,

Yakub tidak tinggal diam, ia melakukan keseimbangan, bukan hanya urusan vertikal kepada Tuhan ia melakukan pemberesan tapi juga pemberesan secara horizontal dengan Esau. Dan Yakub juga memahami bahwa hal ini adalah hanya masalah etis, ini hanyalah suatu langkah untuk memperbaiki hubungannya dengan Esau.

Bagaimana aplikasi pada diri kita masing-masing? Masalah apa yang membuat kita hingga takut dan menyesakkan?Tuhan tidak berurusan dengan masalah kita, Tuhan hanya berurusan dengan pribadi kita yang bermasalah.

Yakub mengikat imannya dengan janji Allah

Inilah yang dilakukan Yakub ketika ia dalam kesesakan menghadapi Esau.

“Kemudian berkatalah Yakub: “Ya Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak, ya TUHAN, yang telah berfirman kepadaku: Pulanglah ke negerimu serta kepada sanak saudaramu dan Aku akan berbuat baik kepadamu –.“ Kejadian32:9

Yakub tidak datang dengan bebannya tapi ia mengingat apa yang menjadi janji Tuhan dalam Firman-Nya.

Kebanyakan orang datang kepada Tuhan dengan segudang keluhan dan orang terjebak dalam masalahnya. Datang kepada Tuhan hingga berdoa dengan histeris dan berseru-seru dan dengan begitu ia merasa lega. Hal ini adalah wajar karena merupakan proses jiwani, tapi hal ini bisa membawa kita terjebak dalam masalah kita, kita menganggap bahwa semuanya sudah selesai padahal masih ada hal realitas yang perlu dihadapi.

Seperti halnya Yakub, kitapun harus selalu menemukan apa janji Tuhan atas apa yang kita hadapi. Di saat dalam kesesakan, Yakub mengikat imannya dengan janji Tuhan. Ada janji perbuatan baik yang Allah akan lakukan dalam kondisinya yang tidak baik. Yakub mengikat imannya dengan janji Allah. Hal ini tidak banyak dilakukan oleh kebanyakan orang Kristen, meski menyebut dirinya adalah orang percaya.

Mengingat kebaikan Tuhan adalah cara mengikat iman kita dengan janji Allah

“sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan.” Kejadian32:10

Yakub merenungkan dan menemukan bahwa dahulu dia hanya keluar dengan tongkat tapi sekarang Tuhan membuat ia menjadi pemimpin. Yakub yakin bahwa Tuhan pasti akan selalu berbuat baik kepadanya.

Jika kita baca dengan teliti kita akan menemukan bahwa jika kita hanya terfokus pada sisi unsur jiwani saja maka hal ini akan membuat kita terus tertekan, jangan lupa bahwa dalam diri kita juga unsur roh, yang bukan hanya dipakai untuk bernafas saja. Melalui roh kita carilah Tuhan, temukan pribadi Tuhan dalam diri kita dengan cara merenungkan dan menemukan apa yang sudah Tuhan perbuat atas diri kita, pertolongannya atas usaha, keluarga dan kehidupan kita, bukankah semua ini adalah bukti bahwa Allah sudah menyertai kita.

Hal inilah yang terkadang lupa untuk kita renungkan. Pribadi yang ekstrim, terkadang menuntut Tuhan untuk melakukan mujizat atas setiap persoalannya, hal ini tidak salah. Tapi yang perlu kita ingat bahwa Tuhan punya kedaulatan mutlak atas hidup kita. Kita harus siap menerima semua kenyataan yang terjadi melalui kedaulatan Tuhan, jika hal ini tidak dipahami maka akan membuat kita kecewa dengan alasan bahwa Tuhan tidak menolongnya. Doa bisa jadi jawaban atas segala sesuatu, tapi kedaulatan Tuhan tidak dapat disentuh dengan apapun juga. Jadi kita harus terus belajar memahami manakah mujizat, manakah kedaulatan Tuhan.

“Hidup berserah dalam kedaulatan Tuhan tidak semudah yang kita duga, tapi lebih indah dari yang kita duga” – – Rasdy Ferry Martino

Ketika dalam kesesakan dan tekanan yang begitu hebat ada satu hal yang membuat dia tertolong yaitu mengingat kebaikan Tuhan.

Kebaikan Tuhan yang terbesar dalam hidup kita dalah keselamatan yang telah kita miliki dalam Tuhan Yesus Kristus. Hal keselamatan adalah urusan akhirat, yaitu kehidupan setelah kematian.

Tapi Tuhan juga menjanjikan kebaikannya selama kita menjalani realita di dunia ini.

“Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Roma 8:32

Kalau keselamatan atas diri kita Bapa tidak menyayangkan Putra-Nya yang tunggal, apalagi hanya masalah-masalah hidup di dunia. Semuanya juga sudah disediakanbagi kita.

Ingat kasih-Nya, ingat kebaikan-Nya

Dan anugrah-Nya s’lamatkanku

S’bab kasih-Nya setinggi langit

Kasih setia Allah pada kita

Besar kasih Allah pada kita

Kutakkan lupa kasih-Nya

Kutakkan lupa anugrah-Nya

Dia penuhkan, Dia penuhkan

Dia puaskan hasratku

Besar kasih Allah pada kita

“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” Mazmur 42:6

“Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?” Mazmur 42:4

“Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Daud.

Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi! Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.

Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kauletakkan dasar kekuatan karena lawan-Mu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam.

Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:

apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?

Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.

Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya:

kambing domba dan lembu sapi sekalian, juga binatang-binatang di padang;

burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut, dan apa yang melintasi arus lautan.

Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” Mazmur 8:1-10

Pemazmur juga pernah mengalami tekanan yang sangat berat, tapi ia terus merenungkan, memahami dan menemukan Allah dengan melihat segala ciptaan-Nya.

Kita diajak untuk menemukan akan Tuhan dalam segala bentuk karya dan kemuliaan-Nya, dan ternyata kita menemukan hal ini jauh lebih besar dari persoalan kita

“Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.

Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak anorang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” Ibrani 12:1-3

Apapun yang kita alami pandanglah kepada Yesus agar kita tidak putus asa. Tuhan sangat mengerti dengan hal-hal alamiah yang kita hadapi, mengingat kebaikan Tuhan tidak akan membuat kita putus asa. Pandanglah kepada Yesus! Iman kita harus tertuju kepada Tuhan. Masalah iman adalah masalah yang sangat pribadi dengan Tuhan. Jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain dan juga jangan menjadi korban batu sandungan.

Penutup

“Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” Mazmur 116:12

Kalimat pada ayat diatas adalah kalimat pertanyaan yang akan memotivasi kita, yang sudah mengalami kebaikan Tuhan, untuk menjawabnya. Kita tidak akan pernah bisa membalas kebaikan Tuhan, bukan berarti kita tidak berbuat apa-apa.

Masing-masing kita akan dilayani oleh Roh Kudus untuk dibawa kepada pemahaman bahwa Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!”

Pdt. R. F. Martino