This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MEMULIAKAN TUHAN #2

GppsPalu – “Sebab segala sesuatu dari Dia, oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Roma 11:36)

“Memuliakan Tuhan” berarti mengakui bahwa Tuhan adalah Pribadi yang Maha Mulia, hal ini sesungguhnya bermakna sakral. Betapa sakral saat bangsa Israel hendak menghadap Tuhan. Di Kemah Musa kita tahu bahwa saat imam-imam mau menghadap Tuhan maka mereka harus “steril”. Jika para imam menghadap Tuhan dalam kondisi yang tidak kudus, maka mereka akan disambar oleh hadirat Tuhan. Mengapa? Karena betapa sakralnya Tuhan itu.

I. MEMAHAMI BETAPA DALAM KASIH TUHAN KEPADA KITA, MEMOTIVASI KITA UNTUK HIDUP MEMULIAKAN ALLAH

“Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” (Mzm 8:4-6)

Saat Daud melihat dirinya dengan semua ciptaan Tuhan, ia menyadari siapakah dia sehingga Tuhan memperhatikan Dia.

Sebelum manusia diciptakan, Lucifer adalah ciptaan Tuhan yang melebihi ciptaan lainnya. Meskipun demikian ia tidak diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan. Hanya manusia yang diciptakan serupa dan segambar dengan Allah dan diberi hak untuk bersekutu dengan Allah. Kita perlu merenungkan betapa luar biasanya hal ini. Saat manusia jatuh dalam dosa, manusia kehilangan kemuliaan Allah. Tetapi karena pengorbanan Tuhan Yesus kita diterima kembali oleh Allah dan kemuliaan Allah kembali menaungi kita. Karena itu kita harus hidup memuliakan Allah sesuai dengan kata Alkitab bahwa manusia diciptakan untuk kemuliaan Allah.

II. RASA MALU YANG BENAR ADALAH TIDAK MAU NAMA TUHAN DIPERMALUKAN

“Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikianpun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.” (Filipi 1:20)

Setiap orang masih memiliki rasa malu, tetapi umumnya hanya terbatas menutupi apa yang tidak boleh dinampakkan yaitu dalam hal berpakaian. Tetapi rasa malu dalam hal lain sudah terkikis dalam kehidupan bangsa kita. Contohnya seperti oknum-oknum yang tertangkap karena suatu kasus dan tidak malu memberi keterangan palsu di depan televisi. Hal ini sangat memprihatinkan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, orangtua memberi peringatan kepada anaknya untuk tidak mempermalukan orang tua. Begitupun Hamba Tuhan mengajar anaknya untuk berperilaku baik supaya tidak mempermalukan orang tuanya yang adalah Hamba Tuhan. Secara Firman, hal ini tidak benar karena akan membuat anak-anak melakukan semua perbuatan baik bukan untuk kemuliaan Tuhan tetapi untuk nama baik/kemuliaan orang tua.

Pada zaman Tuhan Yesus, orang kusta harus disingkirkan dari masyarakat dan ketika mereka berjalan mereka harus berteriak “Najis! Najis!”. Keadaan mereka sangat memprihatinkan dalam kehidupan bermasyarakat. Suatu ketika Yesus menyembuhkan 10 orang kusta, tetapi hanya 1 orang yang kembali kepada Yesus, bersyukur, dan berseru dengan suara nyaring memuliakan Allah. Yesus terkejut karena 1 orang yang kembali bukanlah orang Yahudi yang tahu Firman, tetapi orang tersebut adalah orang Samaria yang bukan umat Allah.

Apa yang bisa kita tangkap dalam kisah diatas? Seringkali kita bisa menjumpai orang-orang kafir sangat menghormati allahnya. Jika melihat penghormatan orang-orang kafir kepada allahnya dan membandingkan penghormatan kita terhadap Allah kita, maka kita harus malu, karena banyak orang percaya yang tidak menghormati Tuhan.

III. JANGAN MENGEJAR KEMULIAAN SEMU

Kita perlu berwaspada karena iblis akan berusaha untuk:

1. Membawa orang percaya untuk tidak hidup memuliakan Allah (hidup dalam dosa)

2. Membawa orang percaya untuk mengejar kemuliaan semu.

Dalam kehidupan secara lahiriah, semua manusia mau dimuliakan. Tidak satupun manusia yang mau direndahkan. Dalam kehidupan bermasyarakat ada level kehidupan bermasyarakat. Karena itu dalam kehidupan bermasyarakat ada namanya masyarakat menengah ke bawah (masyarakat akar rumput), menengah, menengah ke atas, dan masyarakat elit. Setiap level tersebut ada kemuliaannya masing-masing.

Kita harus memahami bahwa dalam ibadah menghadap Tuhan kita semua sama. Tetapi dalam kehidupan bermasyarakat level-level kehidupan bermasyarakat itu memang ada. Dan untuk naik ke level yang lebih tinggi berarti harus ada kerja keras yang luar biasa. Secara manusia orang yang naik level layak mendapat kemuliaan. Tetapi sebagai orang percaya kita harus memahami bahwa kemuliaan hanya milik Tuhan!

Begitupun dalam hal rohani. Setiap peningkatan kualitas rohani kita akan membawa kita ke level yang lebih tinggi dan kemuliaan Tuhan pasti menyertainya. Tetapi kita harus berhati-hati. Iblis sangat memahami hal ini. Jika kemuliaan yang Tuhan beri dalam hidup kita – baik secara rohani maupun jasmani – tidak segera kita kembalikan kepada Tuhan, maka ini yang bisa iblis garap. Saya mengamati mengapa banyak Hamba Tuhan yang jatuh? Setelah saya meneliti akhirnya saya memahami kejatuhan mereka disebabkan karena kemuliaan yang Tuhan beri kepadanya tidak segera dikembalikan kepada Tuhan melainkan dinikmati dan dijadikan sesuatu yang diagungkan. Maka yang terjadi kemudian adalah Tuhan harus mengambil kemuliaan-Nya sendiri dari orang tersebut dan itu berarti aib menimpa pribadi tersebut!

Bagaimana cara memuliakan Tuhan? Harus dimulai dari Hati. Orang kusta yang kembali dan memuliakan Tuhan karena semua itu dimulai dari hati. Karena ia tahu bahwa ia siapa dan ia tahu anugerah Tuhan atas dirinya.

IV. DENGAN APA KITA MEMULIAKAN TUHAN?

Kita bisa memuliakan Tuhan melalui 3 hal berikut ini:

1. Ucapan bibir yang memuliakan Tuhan.

“Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.” (Ibr 13:15)

Saat seorang pemimpin pujian berkata, “Mari beri kemuliaan kepada Tuhan!” Jemaat umumnya langsung merespon dengan berkata “Haleluya” atau bertepuktangan. Padahal perkataan yang memuliakan Tuhan bukan hanya “Haleluya”, bukan hanya tepuk tangan. Ada banyak yang bisa kita katakan misalnya “Tuhan Engkau besar!” dan sebagainya. Biasakan pula berkata “Puji Tuhan” yaitu kita mengembalikan kemuliaan kepada Tuhan.

Selain itu, jangan ada perkataan kotor keluar dari mulut kita. Jangan memaki dan mengutuk. Jika kita melakukan ini dari hati yang mengasihi Tuhan, maka kita tidak akan mengeluarkan perkataan kotor, bohong, dan lain sebagainya.

2. Memuliakan Allah dengan tubuh kita

“Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (I Kor 6:20)

Bagaimana cara memuliakan Tuhan dengan tubuh kita? Melalui pelayanan!

“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1)

Saya tidak suka ketika mendengar ada orang muda yang mengidap sakit seperti sakit jantung dan sebagainya. Mengapa? Karena dalam usia muda bisa mengidap sakit seperti itu karena mereka tidak menjaga tubuh mereka baik-baik. Tubuh kita bukan milik kita karena tubuh kita sudah dibeli lunas secara tunai oleh darah Yesus. Tuhan punya hak untuk memakai tubuh kita.

Kita bisa memakai tubuh kita sejauh kita melakukan bagian kita untuk menunaikan tanggung jawab yang secara kodrat harus kita lakukan. Misalnya sebagai orang tua kita mencari nafkah untuk keluarga, dsbnya.

Tetapi dimana bagiannya Tuhan? Dalam 1 hari kehidupan kita berapa jam yang Tuhan bisa pakai? Tuhan memakai hidup kita melalui pelayanan. Karena itu tidak boleh ada seorang percaya yang hanya menjadi jemaat biasa (yang hanya setia beribadah). Setiap orang telah Tuhan beri minimal 1 talenta karena itu talenta kita harus kita kembalikan untuk kemuliaan Tuhan.

Kita harus memahami bahwa tidak satupun perbuatan kita di dunia yang kita lakukan untuk kepentingan diri sendiri yang tercatat di sorga. Hanya perbuatan yang kita lakukan untuk kepentingan Tuhan yang dicatat di sorga, seperti yang Firman Tuhan katakan dalam Wahyu 14:13 bahwa segala perbuatan kita untuk pekerjaan Tuhan akan menyertai kita.

“Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.” (I Kor 15:58)

3. Memuliakan Tuhan dengan harta.

“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu” (Amsal 3:9)

Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita tetapi juga memberkati kita. Memuliakan Tuhan dengan harta bukan berarti tampil “wah”/glamour. Ada gereja yang menanamkan ke jemaat untuk tampil “wah” sebagai bukti bahwa ia diberkati Tuhan.

Di gereja ini ditanamkan bagaimana kita bisa memuliakan Tuhan dengan harta:

* Mengelola keuangan. Jangan membeli yang diinginkan sebelum membeli yang kita butuhkan supaya kita tidak bikin susah diri sendiri.

* Jangan mengingini milik orang lain. Ada gereja yang mengajarkan jemaatnya kalau ingin mobil seperti milik orang lain, dengan iman tumpang tangan pada mobil tersebut dan berkata “Dalam nama Yesus, mobil ini jadi milik saya”. Ini keliru. Kita harus bekerja keras untuk mendapatkannya, dan kita harus percaya bahwa segala sesuatu indah pada waktunya. Kalau saat ini masih diberkati dengan sepeda, bersyukurlah dengan sepeda. Jika diberkati dengan sepeda motor, bersyukurlah. Jika kemudian diberkati dengan mobil, bersyukurlah. Ada saatnya Tuhan mengangkat hidup kita.

* Memberi / menabur. Kita sudah diajarkan bagaimana Mengembalikan milik Tuhan (persepuluhan), memberi untuk hamba Tuhan, memberi untuk pekerjaan Tuhan (pelayanan), dan memberi untuk orang miskin karena ada bagian orang miskin di dalam harta kita. Dengan mengembalikan milik Tuhan dan menabur, maka hidup kita akan diberkati.

Pdt. DR. R. F. Martino