MILIKILAH MENTALITAS YANG TERUJI DAN TERPUJI (2)
2 Timotius 2:3-5 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.
Pendahuluan
Setiap orang percaya harus memiliki mentalitas yang teruji dan terpuji. Gereja seringkali hanya mengajarkan tentang hal-hal rohani, pelayanan dan persyaratannya. Tetapi kita justru menemukan bahwa jabatan rohani ataupun kegiatan kegiatan rohani tidak menjamin mentalitas seseorang juga baik. Iblis terus menerus mengincar orang percaya melalui penerobosan mentalitas.
Gereja Tuhan harus memahami bahwa jemaat yang dilayani adalah manusia lahiriah yang memiliki iman didalam Kristus dan itu adalah iman yang berada dalam diri manusia lahiriah. Di dalam kita membawa/membimbing jemaat Tuhan, harus ada keseimbangan antara iman yang ada dalam manusia lahiriah dan manusia lahiriah yang memiliki iman dengan tidak melupakan “faktor manusiawi”. Perlu ada keseimbangan antara iman dan kemanusiaan.
Mentalitas tidak bisa kita sembunyikan, itu dapat terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari dengan setiap bentuk realita yang dihadapi. Mentalitas ada dalam unsur jiwani sedangkan iman ada dalam roh kita. Selama mentalitas tidak bisa kita taklukkan dibawah kehendak Roh maka manusia lahiriah dengan pikiran kehendak dan perasaannya sendiri itulah yang akan bekerja maksimal dalam diri kita.
II. Mentalitas haruslah melalui ujian barulah bisa terpuji
Pada kasus Simon Petrus, Iblis sudah menuntut kepada Tuhan untuk menggarapnya tetapi Yesus sendiri mendoakan Petrus supaya tidak jatuh dan Ia tahu persis apa yang akan terjadi sehingga Yesus mengatakan kepadanya saat itu juga bahwa Petrus akan menyangkal Dia.
Alkitab mencatat segala sesuatu yang sangat seimbang antara keilahian dan hal-hal yang lahiriah, antara iman dan manusia lahiriah.
Paulus memberikan responnya terhadap jemaat Tuhan di Korintus secara iman yang ia miliki. Dengan iman, ia tahu benar maksud dari semua yang ia alami. Paulus dengan sikap etis menyampaikan kepada jemaat di Korintus akan penderitaan dan kesusahan yang ia alami dalam pelayanannya.
2 Korintus 1:8-9 Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.
Paulus menyadari bahwa ia adalah bejana tanah liat yang di dalamnya memiliki kekuatan ilahi yang berasal dari Allah.
2 Korintus 4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
2 Korintus 4:8 ⁸Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;
⁹kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. ¹⁰Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.
Pengalaman putus asa secara manusia lahiriah akan hadir, tetapi bagi orang percaya, sekalipun habis akal tidak akan putus asa. Jalan buntu pada umumnya bagi manusia akan menjadi putus asa, tetapi jalan buntu bagi orang percaya adalah kesempatan bagi orang tersebut memperbarui penyerahan dirinya kepada Tuhan.
Kita perlu merenungkan apakah iman kita dapat memahami nilai-nilai ilahi dari setiap realita/peristiwa yang kita alami sehingga kekuatan dari kuasa Allah bekerja dan iman kita menjawab dari setiap hal yang kita hadapi dalam sikap yang mempermuliakan Tuhan, maka kita perlu mengetahui apakah mentalitas kita sudah kita taklukkan dibawah kehendak iman.
Dalam ayat yang lain Paulus memberikan respon yang berbeda sesuai dengan kemanusiaannya. Inilah respon manusia lahiriah Paulus.
2 Korintus 11:23-27 ²³Apakah mereka pelayan Kristus? — aku berkata seperti orang gila — aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.
²⁴Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, ²⁵tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut.
²⁶Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. ²⁷Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, ²⁸dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.
Alat penguji mentalitas adalah realitas sehari-hari. Tidak ada satupun realita yang tidak diresponi oleh manusia. Dan Tuhan memberikan kita peluang untuk menguji diri kita sendiri.
2 Korintus 13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.
Hal bijaksana yang perlu kita ketahui ialah,
Mazmur 119:71 Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.
Mari kita pahami ini supaya kita menemukan dalam diri kita dan melatih mental kita melalui realita hidup sehari-hari dan mempermuliakan Tuhan.
By : Pdt. R.F Martino










Leave a Reply