MILIKILAH MENTALITAS YANG TERUJI DAN TERPUJI (3)
2 Timotius 2:3-4 3Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. 4Seorang prajurit yang sedang berjuang yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupan, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.
MENTALITAS
Setiap orang percaya, terlebih pelayan Tuhan, tidak hanya meningkatkan kualitas rohani /imannya, melainkan harus memiliki mentalitas yang teruji dan terpuji.
Kasus Paulus dan Simon sudah kita pelajari, dan kita menemukan kebenaran alkitab yang berbicara soal iman, berbicara soal roh, jiwa, dan tubuh. Jadi disini kita dibawa untuk melihat dan lebih menyadari bahwa, kita adalah seorang manusia lahiriah yang ada iman didalam Kristus dan itu ada di hati kita, di roh kita. Sebaliknya kita juga harus memahami bahwa, iman yang ada pada kita yang isinya adalah firman yang ada didalam hati/roh kita berada pada diri seorang manusia lahiriah.
Kenapa ini sangat penting? Itulah yang kita temukan dalam alkitab. kita perlu mengagumi alkitab, oleh karena alkitab tidak hanya berbicara tentang mujizat, tetapi alkitab juga bicara tentang kemanusiaan lahiriah dari seorang percaya, sehingga kita sudah pelajari bagaimana keberadaan daripada rasul- rasul sebagai rasul orang rohani dan juga sebagai rasul yang juga manusia jasmani. Dan kita menemukan disitu, ternyata inilah yang membuat adanya keseimbangan. Kita tidak memakai segala hal yang kemanusiaan itu sebagai kompromi, mendispensasikan dosa, tetapi kita perlu memahami, sebagaimana hebatnya jabatan rohani dan pelayanan rohani tidak menjamin bahwa mentalitas orang itu baik.
Karena ketika kita tahu bahwa kehidupan ini berinteraksi dengan realitas, maka kita akan selalu berhadapan dengan mentalitas kita sebagai manusia lahiriah dan inilah yang terlebih dahulu aktif, makanya kita menemukan bahwa walaupun Elia nabi besar tetap minta mati, walaupun Yunus sudah dipakai Tuhan untuk membawa satu negeri bertobat tetapi ia juga tetap minta mati.
Disini kita dapat melihat dan sadar untuk tidak menjadi tukang hakim, kenapa? Karena dikalangan kita, khususnya dikalangan gereja denominasi kita itu suka menghakimi. Jadi pemahaman inilah yang perlu diluruskan sehingga tanpa disadari muncul kesombongan- kesombongan rohani, karena umunya semua kalimat-kalimat mimbar itu kalimat penghakiman, sehingga muncul standar ganda tentang kehidupan rohani.
Pemahaman berikutnya yang juga perlu diluruskan adalah yang ditanmakan kepada jemaat bahwa seseorang sudah penuh Roh kudus, sudah berbahasa roh semuanya sudah beres, padahal Roh kudus juga berada dalam manusia lahiriah dan orang yang dipenuhi Roh Kudus dan tidak dirasuk, dia sadar 100%.
Satu bulan yang lalu saya membuka Facebook dan ketemu dengan teman lama seorang hamba Tuhan punya klipan video, tetapi yang memasukan itu orang lain yang mengambil klipan video dari hamba Tuhan ini, termasuk ada salah satu jemaat juga yang mengambil klipan video ini. Hamba Tuhan ini dulu waktu masih muda, punya banyak anak asuhan, baik anak asuhan secara jasmani, maupun secara anak asuhan rohani. Yang disayangkan sekarang sudah menjadi usia lanjut, mungkin juga lebih tua dari saya atau sebaya, tetapi sayang mindset-nya tidak berubah, yaitu dimana dia berkhotbah dari dulu sampai hari ini dia suka memaki pendeta, dia kecam gereja-gereja dan anti orang-orang yang fulltime.
Waktu saya berada di Australia, disana mereka akan membuat natal oikumene, jadi teman saya ini dipanggil untuk berkhotbah disana, kemudian teman saya yang menjadi tuan rumah sangat menyesal mengundang orang tersebut untuk berkhotbah, padahal orang tersebut sudah terkenal di Indonesia, apalagi dikalangan anak muda dulu. Dia menyesal mengundangnya karena khotbah natal yang dibawakan ada kalimat makian untuk pendeta dan gereja.
Mengapa seperti itu? itulah cara lama dan sebagian gereja kalangan kita masih menjadi tukang hakim. Kenapa bisa jadi tukang hakim? Karena tidak dapat menemukan bahwa manusia rohani itu berada didalam manusia lahiriah. Serohani –rohaninya kita, tetap manusia lahiriah yang tidak luput daripada yang namanya mengalami mentalitas rusak.
Apa isi dari khotbah hamba Tuhan tersebut? “Kenapa pendeta tidak bisa tegas? Ya, memang tidak bisa tegas saudara- saudara, saya bicara terus terang, coba saudara bayangkan, bagaimana bisa berbicara keras, sedangankan yang memberikan persembahan itu duduk di depan, ada orang berduit didepan pendeta yang berkhotbah, makanya dia katakan pendeta jangan fulltime, harus kerja dunia, ongkosi diri sendiri supaya tidak dipandang enteng, supaya berani untuk berbicara.”
Saya berpikir mungkin dia pernah menemukan pendeta yang punya model seperti itu, tetapi jangan dianggap semua pendeta fulltime yang sudah menyerahkan hidupnya adalah orang-orang hina. Kenapa dia bisa berkata seperti itu? Sederhana, itu adalah masalah mentalitas, memang dia seorang pendeta, dan mungkin dia temukan orang yang seperti itu, hal ini yang membuktikan meskipun dia seorang pendeta kalau mentalnya rusak, mentalnya parah, dia akan jadi mental seperti itu, mental yang sungkannisme yang tidak beralasan, sehingga sulit menyuarakan kebenaran, karena dia berpikir, bagaimana kita bisa menyuarakan kebenaran, sedangkan orang yang memberikan kita makan ada dihapan kita, betapa rusaknya mental orang tersebut.
Jadi kita tidak bisa menghakimi hamba- hamba Tuhan, atau orang lain menurut mindset-nya kita sendiri, mungkin dia sulit berkata terus terang, kalau ada orang yang memberikan sesuatu kepadanya, nah berarti mentalnya rusak.
Kasus-kasus mentalitas
Mental tahu
Tidak ada pendirian, tidak ada ketegasan, tidak ada kejelasan, dan mengambang. Gampang untuk dihancurkan
Mental gratis
Umumnya dikalangan hamba- hamba Tuhan, tetapi tidak semuanya. Kenapa? Karena juga pengaruh budaya kita yang mau semunya serba gratis, sudah terlalu keenakan diberikan sesuatu tanpa bayar.
Mental kacung
Tidak bisa berinisiatif dan tidak bias bergerak kalau tidak diperintah padahal sudah menjadi tugasnya. Mental ini tidak akan bias membuat orang berkembang, karena tidak memiliki kreatifitas, tidak berkembang pemikirannya, tidak berinisiatif. Apalagi jika seseorang yang memiliki mental ini sudah menjadi pelayan Tuhan, maka tidak aka nada masa depan.
Mental boss
Atau biasa diistilahkan dengan kata “nge-boss”. Belum menjadi boss, tetapi sudah bersikap seperti boss yang suka memerintah.
Mental parasite
Hanya mau bergaul dengan orang-orang tertentu, terlalu bergantung kepada orang dan merugikan orang lain, hal ini sangat Tuhan benci, karena merusak iman, imannya sudah mengandalkan manusia, tidak bisa mandiri.
Mental penjilat
Suka mengambil keuntungan dari orang lain, menguras orang lain, yang lama kelamaan jika dibiarkan akan menjadi mental penghianat.
Jadi jangan beranggapan bahwa mentalitas ini tidak penting, itulah yang akan aktif selama kita hidup dan menghadapi realita dikehidupan nyata. Semua kualitas iman kita itu harus nampak dan diekspresikan oleh mentalitas kita, bukan ekspresi iman kita, dengan pujian, penyembahan, doa dan puasa, itu hanya jenis kegiatan iman. Tetapi mengekspresikannya dalam kehidupan hari-hari dalam masyarakat berinteraksi dengan sesama manusia, yang dinampakan ialah mentalitas.
Yang mengalami kerusakan-kerusakan mental ini, justru orang-orang rohani, orang-orang yang giat dalam pelayanan, dan akhirnya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Kita harus memahami kasus-kasus seperti ini. Gereja harus memperhatikan pemulihan unsur jiwani, bukan hanya pemulihan rohani. Mentalitas itu berwujud perilaku.
Banyak tokoh-tokoh alkitab yang mengalami pembentukan mentalitas seperti Elia, yunus dan Paulus. Nah sekarang, apakah Yesus juga mengalami pembentukan mentalitas?
Matius 26:36-42 36 Maka sampailah yesus bersama murid-muridnya ke suatu temat yang bernama getsemani. Lalu ia berkata kepada murid-murid-Nya: “duduklah disini, sementara Aku pergi kesana untuk berdoa. 37 Dan ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah ia merasa sedih dan gentar, 38 lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati Ku sangat sedih seperti mau mati rasanya. Tingallah disini dan berjaga jagalah dengan Aku. 39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan beerdoa, kata-Nya: “Ya Bapa ku jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu daripada-Ku, tetapi janganlah seperti yan Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau Kehendaki.” 40 Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku? 41 berjaga jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh kedalam pencobaan: ro memang penurut, tetapi daging lemah.” 42 Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”
Yesus sendiri dalam kemanusiaannya, “kalau boleh cawan ini lalu daripada-Ku.” Pergumulan yang begitu berat antara manusia lahiria dan manusia rohani sebagai anak Allah dan sebagai anak manusia.
Pembentukan mentalitas harus ada pembinaan, dan harus terjadi dalam kehidupan kita, karena inilah yang aktif setiap saat dalam menghadapi segala sesuatu, dan iman kita yang harus mensuplai segala yang diperlukan, bukan sebaliknya iman kita dihancurkan oleh mentalitas kita.
Di ayat 42, ujian telah melahirkan menjadi terpuji, menghasilkan mentalitas yang diuji, keluar sebagai terpuji. Tidak ada lagi tekanan, tidak ada lagi depresi, tidak ada lagi pergumulan yang begitu menekan dan membuat rasa ingin mati, menjadi relah, terjadilah seturut Kehendak-Mu.
Marilah kita pahami, betapa perlunya kita harus memiliki mentalitas teruji dan ketika mentalitas teruji itu bukan berada di kamar doa, bukan ditempat puasa, tetapi di kehidupan sehari hari ketika kita menghadapi masalah. Kenapa? Oleh karena respon kita terhadap masalah yang kita hadapi menunjukan kita termasuk kategori mentalitas yang mana?
Jadi jangan pernah melihat kegiatan rohani orang, tetapi lihatlah mentalnya, bagaimana ia bereaksi ketika menghadapi suatu masalah. Iman tidak bisa dilihat, tetapi iman teraplikasi didalam mentalitas setiap orang.
MENGAPA HARUS MEMILIKI MENTAL PRAJURIT?
Hidup oleh iman adalah medan peperangan rohani(pergumulan iman).
BERMENTAL PRAJURIT
Tahan banting dan bukan “mental kerupul, “mental tahu” dlsbnya.
Disiplin yang tinggi.
Tunduk & taat kepada otoritas.
Siap berjuang habis-habisan.
Jangan pernah takut untuk dibully, orang-orang yang dibully setelah berhasil melewati peristiwa dibully, ia akan memiliki mentalitas yang teruji dan terpuji, kecuali ia tidak memahami apa makna dari dari kejadian dibully itu, ia akan tahan menghadapi. Tetapi kalau ia tidak tahan menghadapi, ia kan hancur, terbawa menjadi orang-orang yang jiwanya rusak.
Sebagian dari orang-orang yang berhasil juga mempunyai berbagai macam kesaksian tentang bagaimana ia di hina, dibully, tetapi manusia biasanya justru langsung merasa terbawa arus dengan pujian.
Kita harus tahan banting, pembinaan fisik juga ada hubungannya dengan mentalitas. Penderitaan-penderitaan fisik juga membentuk dan membawa mentalitas kita menjadi kuat. Oleh karena itu, mengapa prajurit harus dibina fisiknya.
Jadi disini, bukan otoriter, tetapi bagaimana kita taat kepada pemerintah dan melatih diri kita terbiasa melakukan perintah yang diberikan kepada kita dan mentaatinya.
Fisik juga perlu kita jaga, untuk Tuhan pakai. Pada saat kita sakit, kita berani datang kepada Tuhan memang sudah benar, tetapi kita harus menangkap, perkataan Tuhan, “kenapa bisa sakit? Tuhan belum pakai, sudah sakit.” Tuhan sudah banyak memberikan kita kesempatan sebelum kita sakit. Oleh karena itu miliki lah fisik yang tahan banting, kedisiplinan,taat kepada otoritas dan berjuang habis- habisan, karena kita tidak tahu waktunya kapan Tuhan panggil, maka manfaatkan kesempatan- kesempatan yang Tuhan berikan.
By : Pdt. R. F Martino









