This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MEMAHAMI DAN MENGHAYATI HIDUP OLEH IMAN #3 -Hidup oleh iman adalah gaya hidup / jalan hidup (way of life)-

GppsPalu – “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (I Yoh 5:4)

Gereja ini memiliki misi yaitu membangun jemaat yang kuat untuk menjadi kekuatan rohani. Tetapi setiap jemaat tidak akan menjadi kekuatan rohani jika hanya “lahir baru”. Memang harus dimulai dengan “lahir baru” lebih dulu, tetapi tidak boleh berhenti sampai disitu. “Lahir baru” memang membawa kita untuk memperoleh jaminan masuk sorga – atau dengan kata lain “urusan akherat” sudah beres, tetapi selama kita hidup di dunia, kita harus menjalani “hidup baru” yaitu hidup oleh iman!

HIDUP OLEH IMAN UNTUK HIDUP DI DUNIA

Banyak orang Kristen yang hanya sekadar “lahir baru”, dimana mereka:

· Tidak menjalani hidup oleh iman dalam kehidupannya – Yesus tidak nampak dalam kehidupan mereka sehari-hari.

· Memahami iman hanya sebatas mujizat, atau iman hanya sebatas jawaban dari suatu doa. Imannya hanya muncul saat mengalami masalah yang besar. Tetapi dalam hidup sehari-hari, ia tetap hidup dengan kekuatan sendiri, pikiran sendiri, dan kehendak sendiri dan tidak mempergunakan imannya.

· Mereka tidak menjadi garam dan terang dunia. Mereka tidak berbeda dengan orang dunia. Tidak heran dunia tetap gelap sekalipun orang Kristen bertambah karena mereka tidak menjadi terang. Tidak heran dunia tetap busuk sekalipun orang Kristen bertambah karena mereka tidak menjadi garam!

· Akan melahirkan orang Kristen turunan saja, bukan orang Kristen yang hidup oleh iman.

Saat kita beriman kepada Tuhan Yesus maka kita menerima jaminan keselamatan. Jika iman itu ternyata begitu dahsyat untuk urusan akhirat, maka iman seharusnya juga kita hidupi dalam kehidupan kita untuk urusan di dunia! Jika iman hanya untuk urusan akhirat, mengapa Tuhan menetapkan dalam Roma 1:17 bahwa “orang benar akan hidup oleh iman”? Berarti Tuhan menghendaki agar kita hidup oleh iman selama di dunia ini.

DASAR IMAN KITA HARUSLAH IMAN YANG PALING SUCI

“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.” (Yudas 1:20)

Mengapa ayat diatas berkata “iman yang paling suci”? Jika dikatakan “iman yang paling suci” berarti ada iman yang “tiga per empat suci”, “setengah suci”, dstnya. Apa maksudnya?

Iman yang tidak suci bukan berbicara tentang perilaku yang berdosa atau orang percaya yang jatuh dalam dosa. Tetapi iman yang tidak suci berbicara tentang pencemaran iman! Yaitu adanya kepercayaan-kepercayaan kafir yang bercampur dengan iman. Misalnya kepercayaan mistik. Masyarakat kita umumnya suka dengan hal-hal mistis. Contohnya sekarang ini lagi marak batu-batuan yang dipercaya punya khasiat-khasiat tertentu. Padahal ini hanyalah siasat ekonomi dari oknum-oknum tertentu.

Sebagian lagi ada kelompok orang percaya yang imannya bercampur dengan ritual-ritual Perjanjian Lama yang seharusnya sudah tidak perlu dilakukan karena sudah digenapi oleh Yesus Kristus, seperti yang dilakukan oleh beberapa gereja, seakan jika melakukan ritual-ritual tersebut maka itulah yang benar. Padahal dalam Perjanjian Baru, semua sudah digenapi oleh Kristus dengan iman di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Karena hal inilah Paulus menegur jemaat Galatia dengan berkata “Apakah kamu sebodoh itu?” karena jemaat Galatia membangkitkan kembali hal-hal dalam Perjanjian Lama seperti sunat, yang sebenarnya sudah digenapi oleh kasih karunia.

Lalu mengapa ayat tersebut memerintahkan agar kita membangun diri kita diatas dasar “iman yang paling suci”?

Karena banyak orang percaya yang membangun imannya diatas dasar iman yang sudah tercemar. Banyak kepercayaan-kepercayaan yang mencemari iman orang percaya. Dan jangan menyangka bahwa jika iman saudara bercampur dengan kepercayaan kafir maka saudara bisa masuk sorga. Karena pencemaran iman ini bukan main-main.

Tuhan menghendaki kita memiliki Iman yang paling suci yaitu iman yang paling murni, tidak ada campuran lain.

HIDUP OLEH IMAN BERSIFAT PRIBADI

Tuhan memerintahkan kita, “Bangunlah dirimu sendiri…” berarti Iman bersifat pribadi, tidak bisa ikut-ikutan. Realita yang terjadi saat ini:

· Suami istri pergi ke gereja kalau sama-sama ke gereja. Kalau salah satu (suami/istri) tidak ke gereja, maka pasangannya juga tidak ke gereja.

· Suami yang mengandalkan doa / keaktifan isterinya, sehingga ada pernyataan, “Cuma maitua (istri) yang kuat, ini semua berkat doa maitua”. Atau demikian sebaliknya.

· Orang tua yang mengandalkan iman anak-anak, atau sebaliknya.

· Orangtua bermasalah di gereja, anak-anak disuruh tidak boleh ke gereja dan tidak boleh melayani. Padahal urusan iman, urusan ibadah, dan juga pelayanan adalah hal pribadi.

Orang percaya yang imannya hanya ikut-ikutan, nanti akan mudah hanyut oleh tipu daya iblis.

IMAN YANG MENGALAHKAN DUNIA

“sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.” (I Yoh 5:4)

Tidak dikatakan bahwa iman mengalahkan akhirat, tetapi iman mengalahkan dunia. Jadi sekarang kita paham, dipakai dimanakah iman kita? Di dunia! Berarti iman itu dipakai setiap hari sebagai gaya hidup!

Lalu apa maksudnya “iman yang mengalahkan dunia”? Berarti tidak satupun hal-hal dunia yang dapat menumbangkan iman orang percaya karena iman sudah menjadi gaya hidupnya. Contoh gaya hidup tidak berdusta – ini berarti iman kita sudah mengalahkan dunia. Seluruh aspek hidup kita hanya berdasarkan Firman Tuhan.

Prinsip ini sederhana sebenarnya, yaitu: “Jika kita tidak melakukan Firman dalam hidup sehari-hari, maka kita pasti melakukan dosa.”

Hidup oleh iman perlu dilakukan baik secara vertikal (ketaatan kepada Tuhan) maupun horizontal (dengan sesama manusia). Bagaimana melakukannya?

HIDUP OLEH IMAN DALAM HUBUNGAN HORISONTAL

Manusia adalah makhluk sosial sehingga setiap manusia perlu untuk berinteraksi dengan orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari dengan orang lain inilah diri kita akan diketahui apakah kita hidup oleh iman atau tidak. Inilah gaya hidup dan keadaan kita secara riil yang tak bisa kita pungkiri. Hidup oleh iman dimulai dari rumah kita karena itulah yang terpenting. Barulah kemudian berlanjut di sekolah, di masyarakat, dan seterusnya.

Bagaimana cara hidup oleh iman dalam hubungan horizontal (dengan sesama manusia)?

“Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.” (Gal 5:6).

Semua perbuatan iman yang kita lakukan, motornya adalah kasih! Kasih itu harus diwujudkan dalam tindakan yang riil. Tetapi kita harus waspada, karena banyak perbuatan iman yang tidak dimotori oleh kasih dan ini sia-sia (I Korintus 13).

“Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (I Yoh 3:17-18)

Jika kita menghadapi orang yang butuh didoakan/dikuatkan secara rohani, maka doakanlah. Tetapi jika kita menghadapi orang yang memerlukan bantuan finansial, dan kita mempunyai harta duniawi karena diberkati Tuhan, maka bukan berdoa yang harus dilakukan, tetapi memberikan harta duniawi sesuai kebutuhan orang tersebut. Inilah kasih.

Banyak kali yang terjadi saat seorang percaya berhadapan dengan orang yang membutuhkan bantuan finansial, seorang percaya itu hanya mendoakan dan mencari banyak alasan untuk tidak memberikan berkat finansial seperti yang diperlukan oleh orang tersebut. Ini bukanlah kasih! Alkitab menjelaskan hal ini lebih jelas lagi:

“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yak 2:14-17)

Jika kita melihat contoh diatas, mengapa contoh perbuatan iman tersebut mengenai hal jasmani? Karena iman tersebut untuk dipraktekkan di dunia! Iman memang sakral dan bersifat rohani tetapi untuk dilakukan di dunia.

“Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.” Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yak 2:18-26)

Jadi sangat jelas bahwa oleh perbuatan-perbuatanlah maka iman menjadi sempurna. Hiduplah oleh iman dengan melakukan Firman Tuhan dan menjadi gaya hidup kita dalam kehidupan kita setiap hari.

Written by Pdt. DR. R. F. Martino