This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

DIDIKAN TUHAN (2)

Ibrani 12:5 “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya”

I. DIDIKAN TUHAN

Alkitab mengajarkan bahwa setiap orang percaya pasti mengalami didikan Tuhan. Karena itu kita perlu menjelaskan pula kepada orang percaya yang baru lahir baru supaya mereka memahami bahwa kehidupan orang percaya tidak hanya mengalami kemudahan-kemudahan, berkat-berkat dari Tuhan, serta doa yang dijawab, namun juga didikan Tuhan. Dengan demikian mereka akan memahami bahwa iman bukan hanya sebatas jawaban doa tetapi ketaatan akan Firman Tuhan.

II. MENGAPA HARUS DIDIKAN?

Ada perbedaan antara “Ajaran” dan “Didikan”. “Ajaran” adalah materi-materi yang diberikan kepada kita dan didalamnya ada petunjuk apa yang harus kita lakukan. Sedangkan “didikan” adalah bentuk nyata secara praktek terhadap materi yang diajarkan, termasuk didalamnya terdapat resiko akibat pelanggaran terhadap materi yang telah diajarkan.

Di dalam “ajaran” sudah ada petunjuk apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita. Sebagai contoh ketika Allah mengajarkan kita tentang “kesabaran”, kita diajarkan petunjuk-petunjuk untuk menjadi sabar. Ketika Firman itu hadir dalam bentuk realita (hadirnya orang-orang yang menjengkelkan kita), maka kita harus melakukan petunjuk-petunjuk yang telah diajarkan. Roh Kudus akan mengingatkan kita akan Firman yang sudah kita pelajari. Namun ketika kita memutuskan untuk menuruti keinginan daging dan tidak mengikuti petunjuk yang telah Tuhan ajarkan, maka kita akan mengalami hajaran. Hajaran/ganjaran adalah akibat yang akan dialami oleh setiap orang akibat tidak menaati apa yang sudah diajarkan.

Mengapa Tuhan mengajar dan menghajar kita? Karena kita dikasihi dan diterima sebagai anak-Nya.

1 Petrus 4:1 “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, …”

Ayat diatas berkata agar pikiran tersebut harus menjadi senjata dalam pikiran kita. Maka ketika kita menghadapi hajaran dari Tuhan, kita tidak lagi bertanya, “MENGAPA AKU YANG MENGALAMI, TUHAN?” melainkan kita mempersenjatai pikiran kita: “Aku dihajar karena aku dikasihi Tuhan, karena aku adalah anak-Nya”

1 Petrus 4:1b-2 “— karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa —, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.”

Waktu yang sisa dimulai dari waktu kita lahir baru sampai waktu kita dipanggil Tuhan (meninggal). Sebelum lahir baru kita hidup sia-sia. Maka setelah lahir baru sampai dipanggil Tuhan, itu adalah waktu yang tersisa bagi kita untuk melakukan kehendak Allah. Namun banyak dari orang percaya yang masih hidup “semau gue” di dalam waktu yang sisa tersebut, maka Tuhan menghajarnya! Hajaran itu bahkan bisa berbentuk musibah. Tujuannya agar orang tersebut berhenti berbuat dosa. Ada orang yang harus dihajar sampai tidak bisa berbicara karena waktu yang sisa ia pakai untuk menggosip orang, dll.

Jadi mengapa Allah mendidik kita?
1. Karena kita diterima Allah
2. Kita adalah anak yang dikasihi
3. Supaya kita memelihara kekudusan

III. BENTUK DIDIKAN

Bentuk didikan Tuhan meliputi 3 aspek kehidupan kita:
1. Tubuh.
Contohnya pengalaman sakit.

2. Jiwa.
Contohnya mengalami tekanan di jiwa.

3. Roh
Didikan Tuhan hadir berdasarkan tingkat pertumbuhan rohani kita.

Efesus 4:13 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,”

Tuhan menghendaki agar kita mencapai kedewasaan penuh.

Efesus 4:14 “sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,”

Roh kita juga perlu dididik agar kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh angin-angin pengajaran karena iman kita bukan berada di otak kita tetapi di dalam roh kita!

Saat ini tidak mudah untuk membedakan angin-angin pengajaran. Karena saat membuka youtube, banyak pendeta-pendeta yang membawa angin-angin pengajaran:
– Ada pendeta yang tidak mengajarkan Tritunggal, tetapi mengajarkan Dwitunggal dan ada lagi yang mengajarkan Jesus Only.
– Dulu dukun mengajarkan untuk mengusir setan dengan garam. Namun saat ini ada pendeta yang mengajarkan untuk mengusir setan dengan garam. Padahal Alkitab sudah mengajar kita bahwa kita mengusir setan-setan dengan nama Yesus! Markus 16:17 “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,”

1 Korintus 10:13 “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Tuhan tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Namun didalam beban pergumulan/realita hidup, kita harus menyadari bahwa ada 2 pribadi yang turut serta yaitu:
1. Tuhan yang mendidik kita
2. Iblis yang memanfaatkan beban tersebut untuk menyerang kita.

Iblis ingin mencobai kita melampaui kekuatan kita. Sadrakh, Mesakh, Abednego adalah contoh dimana iblis mau mencobai mereka melampaui kekuatan mereka yaitu mereka dimasukkan ke dalam dapur api. Namun Tuhan bertanggungjawab untuk melindungi saat kita dicobai diluar kemampuan kita. Tuhan turun tangan dan melindungi Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api.

Disaat kita merasa tak berdaya, segera berserah kepada Tuhan, bukan menyerah kepada peristiwa karena disitulah iblis akan ambil kesempatan.

Disaat kita mengalami jalan buntu, ingatlah: “Jalan buntu bagi manusia pada umumnya adalah keputusasaan. Namun jalan buntu bagi orang percaya adalah kesempatan memperbaiki penyerahan hidup kepada Allah.”

Saat kita dicobai Allah akan memberikan kepada kita jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya. Kalimat “sehingga kamu dapat menanggungnya.” dalam terjemahan lain dikatakan “sehingga kamu CAKAP menanggungnya.” Tuhan menghendaki agar kita cakap menghadapi masalah.

Sehingga akhirnya kita memahami bahwa saat kita mengalami beban pencobaan:
1. Pencobaan itu tidak melampaui kekuatan kita
2. Supaya kita cakap menanggungnya
3. Mendatangkan kebaikan, yaitu ujungnya adalah damai sejahtera

By : Pdt. R. F. Martino

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *