This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

DIDIKAN TUHAN

Filipi 1:29-30 29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, 30 dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.

1 Petrus 4:1-2 1 Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, — karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa —, 2 supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.

Setiap orang yang sudah menjadi percaya tidak hanya dipanggil menjadi orang percaya tetapi juga dikaruniakan kepadanya karunia menderita untuk Tuhan. Petrus mengingatkan, sebagaimana Kristus sudah menderita badani maka kita pun harus mempersenjatai diri dengan pikiran seperti itu. Katena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa. Tidak ada seorang percaya akan luput dari didikan Tuhan. Hal ini adalah mutlak.

Ada pemahaman khusus mengenai kata “ajaran” dan “didikan”. Ajaran lebih menunjuk kepada materi/teori/topik yang diajarkan. Sedangkan didikan adalah teori-teori/topik-topik yang diajarkan menjadi riil dialami seseorang, misalnya sebagai orang tua, ada banyak materi-materi yang kita ajarkan kepada anak-anak, seperti mengajar ia bicara dengan mengenalkan berbagai nama dan bentuk benda disekitarnya. Awalnya orang tua mengajar tentang kata “mama”, “papa”, kemudian mengenal hal-hal yang lain, sehingga anak ini mulai tahu dan dapat membedakan mama dan papanya. Ini baru materi/topik/ajaran yang diajarkan. Selanjutnya ketika orang tua menanyakan kepada anak tersebut “yang mana mama”? Lalu si anak menunjuk papa-nya, maka orang tua akan memberikan petunjuk untuk membantu anak itu sampai dia mengenal mama dan papanya supaya ia tidak salah, itulah didikan.

Ketika kita menjadi orang percaya atau lahir baru, pertama-tama kita dibawa masuk ke dalam pengalaman-pengalaman iman, dimana jawaban-jawaban doa begitu cepat terjawab. Jadi tidak heran diwaktu ini, banyak kesaksian-kesaksian tentang mujizat dalam berbagai macam bentuknya, kesembuhan, Tuhan buka jalan, Tuhan beri pengharapan baru saat putus asa, dll, tetapi kita dipanggil bukan hanya menjadi percaya dan menikmati doa-doa yang sudah terjawab tetapi kita pun dipanggil menderita untuk Kristus.

Untuk memahami ini, orang percaya perlu diajar firman Allah dalam berbagai topik supaya ketika menghadapi berbagai macam realita hidup, maka jawaban sudah ada di dalam ajaran-ajaran tersebut. Ketika realita itu menjadi nyata, maka kita bukan hanya diajar Tuhan tetapi kita dididik Tuhan. Karena didikan itu nyata, hadir dalam bentuk peristiwa. Materi/ajaran bisa kita dengar sambil duduk dengan tenang seperti dalam ibadah, pemuridan dan dimanapun firman diberitakan. Ketika semua topik2/ajaran yang diajarkan hadir dalam kehidupan kita, di situlah Tuhan mendidik kita. Apakah kita hanya mendengar saja atau bisa melakukan sesuai dengan ajaran yang sudah diterima.

Tetapi mengapa ada orang-orang yang tidak berubah setelah menerima firman? Karena orang tersebut hanya sekedar belajar atau sekedar tahu tetapi tidak mau dididik Tuhan. Kita tidak bisa menutup telinga untuk mendengar atau menutup mulut orang lain untuk menilai kita. Orang yang belajar banyak dan tahu banyak tetapi tidak mau dididik Tuhan maka ia akan luput dari didikan Tuhan.

Seharusnya kita bersyukur karena semua yang diajarkan tentang materi-materi firman untuk kehidupan kita, itulah jawaban untuk kita pakai. Ketika yang diajarkan adalah topik setia maka itulah jawaban yang seharusnya kita praktikkan ketika ada realita yang membutuhkan kita untuk setia, itulah didikan Tuhan dan dari sinilah kita akan bertumbuh. Tetapi sebagian umat Tuhan, tidak mau dididik Tuhan. Hal ini tidak sepenuhnya salah umat Tuhan tetapi dapat juga disebabkan oleh pemberitaan firman yang tidak tuntas dalam gereja, karena materi-materi yang disampaikan di mimbar akan mempengaruhi bobot/kualitas orang-orang percaya ketika menjalani didikan Tuhan.

Ada gembala yang hanya mengkhotbahi jemaat tetapi tidak mendidik jemaatnya. Ada kekeliruan dari pihak gereja, ada juga kekeliruan yang terjadi dari pihak orang percaya. Ada oknum-oknum yg tidak mau diajar, walaupun ada juga yang dengan tekun dan setia tetapi tidak mendapat apa pun.

Ketika orang percaya awal mengalami banyak mujizat, ia memahami bahwa apa yang diminta akan diberikan sehingga pengertian iman baru sebatas jawaban doa, tetapi begitu ia mengalami didikan Tuhan yang namanya penderitaan, ia tidak siap karena pemahamannya baru sampai disitu. Penderitaan yang dimaksud adalah penderitaan karena Kristus bukan penderitaan karena dosa. Ketika dihukum karena perbuatan-perbuatan jahat maka kita harus punya rasa malu, tetapi penderitaan karena Kristus, kita tidak perlu merasa malu.

1 Petrus 4:14 Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.

Ada orang-orang yang dengan tekun dan setia justru dibawa ke dalam penderitaan untuk Kristus. Inilah penderitaan yang nilainya mulia. Beda halnya dengan orang yang dihukum karena kejahatan. Tetapi inilah yang tidak dipersiapkan oleh gereja.

Jauh lebih terhormat ketika dihukum karena berbuat benar dibandingkan dihukum karena berbuat jahat. Oleh karena itu dibutuhkan kekuatan ilahi dalam diri kita untuk menjalani hal ini. Karena ini akan membangkitkan kemarahan yang dahsyat dalam diri manusia atau tidak dapat diterima manusia lahiriah karena diri memang benar.

Ibrani 12:5 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena TUhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

Tuhan mengingatkan setiap orang percaya untuk tidak menganggap enteng didikan Tuhan. Ini ditujukan bagi setiap orang yang tidak mau dididik oleh Tuhan. Ketika materi diajarkan, maka belum ada yang namanya ganjaran karena ini baru diajarkan. Ketika sudah masuk dalam proses didikan, ajaran menjadi hajaran. Ini adalah ganjaran yang diterima ketika ajaran tidak dilakukan. Hal ini pernah kita lakukan sebagai orang tua.

Tuhan mendidik setiap orang yang diakuinya sebagai anak. Hal inilah yang perlu dipahami oleh setiap orang percaya dan semua hamba Tuhan. Tidak seorang pun luput, bahwa sesudah kita diajar, kita akan masuk ke dalam praktek sesuai materi yang sudah kita terima. Tuhan menghajar kita untuk kebaikkan kita supaya kita mendapat bagian dalam kekudusan-Nya. Orang–orang yang meluputkan diri dari ganjaran dan hajaran Tuhan adalah orang-orang yang tidak mau dibentuk dan diproses Tuhan untuk masuk dalam kekudusan. Tuhan melakukan ini karena Ia mengasihi kita.

Tiap-tiap ganjaran yang diberikan tidak mendatangkan sukacita melainkan dukacita. Ganjaran dari Tuhan bisa saja terjadi dengan sendirinya tetapi bisa juga karena Tuhan secara khusus menghadirkannya. Sebagai seorang manusia, ganjaran ada macam bentuknya. Tetapi semunya adalah penderitaan badani karena penderitaan ini membuat orang berhenti berbuat dosa. Seluruh eksistensi kehidupan kita dalam berbagai aspek kehidupan, mengalami penderitaan badani. Bisa saja bukan sakit penyakit melainkan sakit hati. Sejauh mana ketahanan roh kita menghadapinya.

Tuhan memberikan firman-Nya supaya Roh Kudus membantu kita memunculkan firman yang sudah kita terima saat harus mempraktekan didikan Tuhan. Karena didikan Tuhan akan sepanjang hidup kita. Hal ini terjadi setiap hari. Tuhan mendidik kita sesuai dengan apa yang sudah kita terima. Oleh karena itu ada tertulis siapa menerima banyak kepadanya akan dituntut lebih banyak.

Menjalani hidup baru adalah berbeda dengan pertobatan. Karena menjalani hidup adalah diproses oleh Tuhan sepanjang umur hidup manusia. Jika setelah lahir baru, namun tidak menjalani hidup barunya maka diragukan pertobatannya. Tujuan lahir baru adalah menjalani kehidupan lahir baru.

Ibrani 12:12,13 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.
Kitalah yang punya pergumulan dan perjuangan ini sehingga kita harus mau dididik oleh Tuhan supaya kita tidak “terpelecok”. Walaupun pada kenyataannya tidak semua orang mau dididik Tuhan. Karena hasil dari didikan Tuhan adalah sukacita dan berkat yang kita alami dalam kehidupan kita.
By : Pdt. R.F Martino