This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

JANJI IMAN = NAZAR

1 Korintus 11:25 “Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”

Melalui penebusan darah Kristus dengan ikatan perjanjian darah, kita bukan lagi orang berdosa namun menjadi anak-anak Allah. Bahkan Allah bersumpah demi diri-Nya sendiri. Seharusnya kita tidak perlu mempersoalkan janji Tuhan karena janji Tuhan begitu kuat dan Tuhan tidak mungkin ingkar janji. Jika ada janji Tuhan belum tercapai dalam hidup kita, persoalannya bukan pada Tuhan namun pada kita. Jadi kita-lah yang harus mencari tahu dari diri kita mengapa sampai janji Tuhan itu belum tergenapi.

Jadi, tidak ada masalah dengan janji dari pihak Tuhan, namun bagaimana dengan janji kita kepada Tuhan?

I. APA ITU NAZAR?
Istilah “Janji Iman” saat ini lebih populer dikalangan Kristen. Namun sayangnya istilah ini seakan dianggap ringan. Padahal sesungguhnya “Janji Iman” sama dengan “Nazar” bahkan arti “Janji Iman” lebih dalam.
“Nazar” (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah akan berbuat/melakukan sesuatu apabila suatu maksudnya tercapai. Secara rohani, “Nazar” adalah ikatan janji dengan Tuhan. Bentuknya bermacam-macam. Ada yang bentuknya uang, ada yang bentuknya suatu perbuatan, ada yang bentuknya diri kita, dll.

Orang-orang yang bernazar adalah orang-orang yang sedang mengalami masa yang sulit. Mereka menghadapi jalan buntu dan harus mengambil keputusan untuk menyelesaikan persoalan itu. Namun karena mereka menyadari bahwa hanya Tuhan yang bisa menolong mereka, maka mereka menyampaikan maksudnya kepada Tuhan, dan disitulah ia berjanji kepada Tuhan apa yang akan ia lakukan apabila Tuhan menolongnya untuk menyelesaikan masalahnya.

II. TOKOH ALKITAB YANG PERNAH BERNAZAR
Kita akan melihat contoh 2 tokoh Alkitab yang pernah bernazar:
1. Yakub
Kejadian 28:18-22 “Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus. Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”

Yakub berada dalam bayang-bayang maut karena dikejar Esau untuk dibunuh. Maka Yakub bernazar kepada Tuhan. Namun apakah masalah Yakub langsung selesai? Tidak! Ia harus bekerja sekian lama dan ditipu oleh Laban, berjuang untuk mendapatkan Rahel sebagai istrinya, dll. Setelah bekerja sekian lama, barulah ia kembali ke negerinya dengan keluarga dan ternak yang sangat banyak. Apa yang Yakub harapkan terjadi / dikabulkan oleh Tuhan dan ia membayar nazarnya. Jadi untuk suatu nazar terjadi, kita tetap harus melakukan bagian kita.

2. Yefta
Saat itu bangsa Israel menghadapi musuh yang kuat yaitu bani Amon, dan Yefta diangkat menjadi pemimpin bagi mereka. Maka Yefta bernazar kepada Tuhan.

Hakim-hakim 11:30-36 “Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.” Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangannya. Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari Aroër sampai dekat Minit — dua puluh kota banyaknya — dan sampai ke Abel-Keramim, sehingga bani Amon itu ditundukkan di depan orang Israel. Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: “Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur.” Tetapi jawabnya kepadanya: “Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.”

Dari kisah diatas kita menemukan bahwa:
– Terlalu mudah bagi Tuhan untuk menepati janji-Nya menolong kita. Jadi jangan mempersoalkan janji Tuhan dalam hidup kita.
– Yefta akhirnya menepati nazarnya kepada Tuhan sekalipun keputusan itu tidak mudah baginya.

III. JANJI TUHAN
Kekuatan janji Tuhan luar biasa dan sudah dibuktikan dan dinyatakan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Dan perjanjian Tuhan kepada kita bukan hanya persoalan keselamatan di akhirat, namun juga perjanjian bagi kehidupan kita di dunia.

Galatia 3:29 “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.”

2 Korintus 1:20 “Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.”

Jika ada seseorang berutang kepada kita dan sekian lama ia tidak membayar, kita mengultimatum dia untuk membayar utangnya. Saat ia berjanji ia akan membayar besok pukul 8 pagi, maka kita percaya pada janjinya dan kita pasti akan datang lebih awal (misalkan jam 7 pagi). Renungkanlah: Saat manusia berjanji kita mudah sekali percaya. Namun mengapa saat Tuhan berjanji kita tidak percaya?

Dari 2 ayat diatas sekali lagi kita melihat ada jaminan Tuhan bahwa janji-Nya pasti tergenapi dalam hidup orang percaya. Maka kita tidak perlu meragukan dan mempersoalkan janji Tuhan.

IV. SIKAP IMAN ORANG PERCAYA TERHADAP NAZAR
Lalu bagaimana dengan janji/nazar kita kepada Tuhan? Kita perlu memahami bahwa:
1. Nazar tidak dapat ditarik lagi dan nazar itu harus ditepati.
Ulangan 23:21-23 “Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu. Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri.”

Seseorang yang bernazar tidak boleh mempedulikan yang lain tetapi fokus untuk menepati nazarnya dan jangan menunda-nunda untuk menepatinya karena kita berdosa jika menunda untuk menepatinya.

Contoh kasus perihal bernazar:
a. Jika nazar itu berbentuk uang, maka kita bisa membayar nazar itu dengan 2 cara. Pertama, kita mulai mencicil membayar nazar itu sedikit demi sedikit, atau cara kedua, kita bisa mengumpulkannya di suatu tabungan sedikit demi sedikit dan setelah jumlahnya cukup/genap sesuai yang kita nazarkan, baru kita serahkan sekaligus.
b. Ada pasangan suami istri yang sekian lama menanti untuk memiliki anak. Karena sekian lama belum mendapatkan maka mereka bernazar kepada Tuhan yaitu apabila Tuhan memberi mereka anak maka anak itu akan diserahkan menjadi hamba Tuhan fulltime / sepenuh waktu. Maka pada kasus seperti ini, orangtua harus menjelaskan kepada anak itu sejak ia masih kecil bahwa ia telah dinazarkan menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu supaya ia memahaminya dan tidak menjadi masalah di kemudian hari.
c. Ada anak muda yang sedang putus cinta, bernazar kepada Tuhan bahwa ia akan membujang seumur hidup dan mempersembahkan hidupnya untuk melayani Tuhan. Ternyata setelah beberapa saat, ia melihat lawan jenis dan tertarik padanya. Akhirnya ia menyesali nazarnya. Maka berhati-hatilah dalam bernazar karena nazar tidak dapat ditarik/dibatalkan/”diputihkan”. d. Ada orang yang menjadikan nazar seperti permainan. Seorang pria bernazar bahwa siapa yang keluar pertama kali dari pintu gereja itulah yang akan menjadi pasangan hidupnya. Cara ini tidak benar dan ini adalah orang yang tidak mempergunakan akal sehatnya. Nazar tidak boleh dianggap dan dijadikan mainan seperti kasus diatas.

2. Setiap nazar yang tidak ditepati ada sanksinya.
Pengkhotbah 5:3-5 (Alkitab cetak) / 5:4-6 (Alkitab online) “Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?”

Kita selalu berdoa agar Tuhan memberkati pekerjaan tangan kita. Namun ini sanksi dari janji iman/nazar yang tidak ditepati: Tuhan bisa murka dan merusak pekerjaan tangan kita.

V. RAHASIA DIBALIK NAZAR
Jadi jika demikian, apakah lebih baik kita tidak usah bernazar?
Kita perlu memahami bahwa memang ada akibat jika kita tidak menepati nazar, namun bukan berarti kita tidak perlu bernazar! Ada rahasia dibalik nazar.

Inilah rahasia itu: “Salah satu pembuka jalan dalam hidup kita adalah nazar. Salah satu yang membuat Tuhan membuka jalan bagi seseorang adalah saat orang itu bernazar.”

Kita melihat bahwa Yefta sesungguhnya tidak mungkin memenangkan pertempuran melawan bani Amon. Namun saat ia bernazar, Tuhan membuka jalam untuknya. Sayangnya yang terjadi pada banyak orang Kristen adalah setelah Tuhan membuka jalannya, ia berjalan terus dan lupa pada nazarnya. Padahal saat Tuhan sudah membuka jalan, kita harus mengingat nazar kita dan bertindak untuk menepati nazar kita tersebut.

By : Pdt. R. F. Martino