SABARLAH DALAM KESESAKAN DAN BERTEKUNLAH DALAM DOA
Roma 12:12 “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”
I. APA RESPON KITA SAAT BERADA DALAM KESESAKAN?
Ada kesukaran yang tidak dapat kita hindari dan harus kita hadapi. Tetapi ada kesukaran yang sebenarnya terjadi atau disebabkan oleh kesalahan diri kita sendiri. Karena kurang bijak maka kesukaran hadir dalam keluarga kita. Karena kurang bijak maka kesukaran hadir dalam usaha/karier kita. Tidak banyak orang yang menyadari banyak kesukaran yang terjadi dalam hidupnya oleh karena kesalahannya sendiri. Mengapa? Karena orang seperti ini memiliki konsep sendiri dalam pikirannya sehingga saat ia mengalami kesukaran maka ia tidak mengoreksi dirinya sendiri tetapi menyalahkan orang lain yang dianggapnya sebagai penyebab kesukaran. Saat ia dinasihati, ia berbalik menasihati orang yang menasihatinya. Sikap seperti ini tidak patut untuk ditiru. Ayat diatas berkata “Sabarlah dalam kesesakan”. Kesesakan itu bukan hanya kesukaran/kesulitan biasa. Kesesakan adalah kesukaran yang sangat hebat, yang sangat berat, dan tragis sehingga membuat orang bisa mengalami depresi. Orang yang mengalami kesesakan ingin segera lepas dari kesesakannya. Dan orang-orang rohani akan segera “menyerbu” sorga dengan doa-doa. Namun Allah memerintahkan agar kita “sabar dalam kesesakan”. Umumnya memang orang akan memberi kata-kata penghiburan, “Sabar, ya” kepada sesamanya yang sedang mengalami kesesakan. Namun kata-kata itu tak lebih dari sebuah kalimat etis yang tidak menyelesaikan masalah. Saat Tuhan berkata, “Sabarlah dalam kesesakan”, itu seakan berarti agar kita lebih lama “menikmati” kesesakan tersebut. Ini perintah Tuhan yang secara logika tidak masuk akal. Yang memotori kehidupan kita adalah faktor jiwani yang terdiri dari pikiran, perasaan, dan kehendak dimana 3 bagian ini berhubungan satu sama lain. Sabar ada di dalam perasaan/emosi kita, yang kemudian berhubungan dengan pikiran dan kehendak kita. Ketika ada yang menyakiti, memfitnah atau memaki, apakah kita bisa bersabar? Apakah pikiran kita tidak terganggu? Sesungguhnya saat Tuhan memerintahkan kita untuk bersabar, itu bukan hanya tentang menunda atau memperpanjang waktu, tetapi ada nilai rohani di dalamnya!
II. APA NILAI ROHANI DI DALAM PERINTAH “SABARLAH DALAM KESESAKAN”?
Nilai Ilahi di dalam bersabar yaitu supaya manusia rohani mengambil alih untuk menguasai tubuh jasmani yang selama ini dikuasai oleh unsur jiwani. Bersabar di dalam kesesakan akan melatih dan membentuk diri kita untuk menaklukkan kehendak jiwani kepada kehendak Roh yang isinya adalah firman Tuhan. Jadi di dalam kesabaran ada nilai ilahi yang berkaitan dengan pembentukan diri. Sabar dalam kesesakan juga merupakan salah satu tindakan iman untuk tidak melakukan dosa batin dan dosa tindakan. Dimana kita menahan diri untuk tidak membalas saat disakiti dan tidak membiarkan manusia lahiriah untuk meluap/menguasai diri kita melainkan menuruti kehendak Allah dan Firman-Nya.
Filipi 1:29 “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”
Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita akan dibawa bukan hanya masuk ke dalam pengalaman hidup tetapi pengalaman iman yang namanya: “menderita demi Kristus”. Suka dan duka seperti saudara kembar yang pasti hadir dalam kehidupan manusia sebagai akibat dari dosa yang masuk dalam hidup manusia sejak zaman manusia pertama. Untuk itu Tuhan mengajarkan kita agar selalu bersukacita.
1 Petrus 4:1 “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, — karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa”
Ketika seseorang tidak bisa dibentuk oleh Tuhan dan tidak mau di-cover oleh tudung otoritas maka Iblis akan menggocoh tubuhnya. Mengapa tubuhnya perlu digocoh? Agar ia berhenti berbuat dosa. Bagi beberapa orang, saat dalam kesesakan dan unsur jiwani menjadi tak berdaya-lah ia berbalik kepada Tuhan. Ada wanita yang mengalami sariawan agar ia berhenti bergosip. Ada juga kisah nyata seorang suami yang sering dinas keluar kota namun diluar kota ia justru memesan kamar hotel beserta wanita untuk “menemaninya”. Ternyata suatu ketika saat berduaan dengan seorang wanita, suami itu menjadi “tak berdaya”. Ternyata pada saat yang sama istrinya sedang bersabar dan berdoa untuk suaminya. Karena sang suami menjadi “tak berdaya”, disitulah menjadi titik balik pertobatannya. Sabar dalam kesesakan sesungguhnya untuk melatih ketahanan iman dan mental untuk bisa kita nikmati hasilnya pada akhirnya.
III. BAGAIMANA CARA BERSABAR DALAM KESESAKAN?
1. Cara untuk bersabar dalam kesesakan adalah rendahkan hati dan diri dihadapan Tuhan dan berdoalah. Karena itu kalimat selanjutnya setelah “sabarlah dalam kesesakan” adalah “bertekunlah di dalam doa”. Tekun nilainya lebih tinggi daripada rajin. Masuk ke dalam hadirat Tuhan melalui doa dan pujian penyembahan. Di dalam hadirat Tuhan kita bisa melampiaskan gejolak emosional dari unsur jiwani kita, lalu iman kita bangkit dan berharap kepada Tuhan. Setelah kita mendapatkan sesuatu di hadirat Tuhan, hal itu harus kita gunakan di alam nyata. Hubungan dengan Tuhan harus nampak dalam kehidupan horizontal. Jadi jika di dalam kamar doa kita bisa bersabar, maka kesabaran itu harus kita pakai di dunia nyata. Bagaimana dengan cara kita berbicara saat kita dalam kesesakan? Masakkan orang dunia lebih etis berbicara daripada kita?
2. Kita bisa membaca Alkitab, khususnya Mazmur. Banyak sekali Mazmur yang ditulis saat pemazmur berada di dalam kesesakan, yang dapat menjadi berkat bagi kita
Mazmur 81:7-8 “Aku telah mengangkat beban dari bahunya, tangannya telah bebas dari keranjang pikulan; dalam kesesakan engkau berseru, maka Aku meluputkan engkau; Aku menjawab engkau dalam persembunyian guntur, Aku telah menguji engkau dekat air Meriba. Sela”
Dalam ayat ini Tuhan berjanji bahwa Ia akan menjawab kita di dalam kesesakan kita, mengangkat beban dari bahu kita, serta meluputkan kita.
3. Kita harus belajar menyerahkan dan mempercayakan hidup kita kepada Tuhan. Karena pada saat kita menyembah mengangkat tangan, Tuhan akan turun tangan; pada saat kita bersabar, Tuhan yang akan bertindak. Persoalan yang tidak bisa terselesaikan dengan kekuatan kita, begitu mudahnya Tuhan selesaikan dengan cara yang tak terduga.
Kita harus memahami bahwa Tuhan sangat mengasihi kita. Ayam dan sapi yang mati ada harganya, tetapi orang yang mati tidak ada nilainya di hadapan manusia. Namun Tuhan berkata bahwa “Berharga di mata Tuhan kematian orang yang dikasihi-Nya.” Maka kita akhirnya memahami bahwa: Jika Tuhan menolong kita, itu bukan karena beratnya/besarnya persoalan kita, melainkan karena kita adalah anak yang dikasihi-Nya!
By : Pdt. R. F. Martino









