HIDUP YANG MENGANDALKAN TUHAN (2)
Yeremia17:7-8 7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
Kolose 2:6-7 6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. 7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Pendahuluan
Minggu yang sudah dijelaskan hal-hal praktis mengenai apa yang harus kita lakukan dalam mengandalkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa petunjuk praktis sudah diberikan dan juga telah dijelaskan apa sesungguhnya pengertian mengandalkan Tuhan.
Apa yang terjadi ketika ayat yang digaris bawahi berikut dihilangkan: Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
Hal ini akan membuat orang menjadi ekstrim karena bisa saja orang tersebut memahami makna mengandalkan Tuhan berarti menjadi pribadi yang pasif, pesimis dan menyerah pada nasib. Karena arti menyerah pada nasib dan menyerah pada Tuhan sangat tipis perbedaannya, tergantung dari pemahaman orang tersebut. Jika kita salah memahami hal ini maka kita akan salah bersikap dan salah bertindak.
Tapi dalam ayat tersebut tidak meghilangkan kalimat ini: “…yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air…” Ini menunjukkan ada pergerakan dan aktifitas dari pohon itu, karena pohon itu hidup.
Akibat ada pergerakan dari pohon itu maka hasilnya adalah daun pohon itu tetap hijau dan tetap berbuah.
Jadi hal ini menunjukkan bahwa ada bagian yang harus kita kerjakan dan tidak boleh tinggal diam.
Mengandalkan Tuhan dimulai dari sikap batin. Pemahaman kita tentang mengandalkan Tuhan secara iman akan menghasilkan sikap iman.
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”
Dalam kamus, kita akan mendapatkan bahwa “mengandalkan” tidak dapat dipisahkan dengan “mengharapkan”. Harapan berarti suatu keinginan yang mau dicapai.
Mengandalkan berarti mempercayakan, menggantungkan, mengunggulkan, menyandarkan. Contohnya: orang yang pintar akan mengandalkan kepintarannya, orang kaya akan mengandalkan harta kekayaannya, dll.
Jadi jika kita adalah orang yang mengandalkan Tuhan berarti kita adalah pribadi yang menaruh semua pengharapan kita kepada Tuhan, tidak boleh bercabang lagi. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mengandalkan Tuhan tapi sikap hati dan sikap hidup kita berbeda.
Mengapa Tuhan menetapkan bahwa setiap orang percaya dalam hal mengandalkan dan mengharapkan suatu tidak boleh ditaruh pada manusia dan dalam bentuk kekuatan apapun? Karena itu akan menghancurkan iman percayanya, menghancurkan harga dirinya, dan bisa-bisa ia menjual harga dirinya semurah-murahnya. Dirinya tidak ada nilainya, karena mental berharap kepada manusia. Itu akan merubah seluruh eksistensi dirinya. Sehingga pergaulannya-pun tidak akan dengan orang yang “biasa-biasa” saja, supaya ia bisa kebagian juga. Ini berbahaya, karena ada tertulis bahwa Alah adalah Allah yang cemburu. Tanpa disadari kita sudah menghambakan diri pada manusia dan akan melakukan apa saja yang diperintahkan.
Ini tidak boleh terjadi pada orang yang sudah lahir baru, karena kita sudah punya iman untuk menikmati dan mengalami kekuatan kuat kuasa Tuhan secara nyata dalam kehidupan kita.
Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Kita harus menikmati bagaimana iman kita punya kemampuan, bisa menggerakkan hati Tuhan dan melakukan sesuatu dan menghadirkan yang tidak ada menjadi ada. Ini tidak ada urusannya dengan manusia
Kita sudah belajar pada minggu yang lalu bahwa kita tidak boleh tinggal diam dengan situasi dan kondisi yang ada. Akar dari pohon itu merambatkan akarnya ke tepi air, ada pergerakan ada aktifitas dari pohon itu karena pohon itu hidup. Begitupula dengan kita semua, pasca bencana kita semua masih diberikan kesempatan untuk hidup, itu berarti kita harus bisa bergerak seperti akar pohon itu. Bergerak berarti tidak boleh tinggal diam, ini juga akan menolong segala bentuk trauma.
Tuhan bisa bekerja melalui orang-orang yang ada di sekitar kita dan itu bagian anugrah Tuhan bagi orang-orang tersebut. Tetapi dikatakan disini orang yang mengandalkan Tuhan adalah orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan ia akan menaruh harapannya pada Tuhan bukan pada manusia.
Kolose 2:6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.
Hidup kita harus tetap di dalam Tuhan bukan pada orang lain, bukan pada andalan-andalan lahiriah yang ada pada kita (hikmat, akal budi, kebijaksnaan, kepintaran, kekuasaan, kekuatan, kekayaan, dll)
Kolose 2:7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.
Jika kita sudah lahir baru di dalam Kristus tindak lanjutnya adalah kita harus brakar di dalam Dia. Itu sebabnya ada pemuridan (belajar firman Tuhan), supaya orang percaya itu berakar.
Kata berakar bukan hanya punya akar. Ketika belajar ilmu tumbuh-tumbuhan kita akan mempelajari apa fungsi akar. Dalam Yeremia 17:8 dijelaskan bahwa akar bukan hanya untuk menguatkan berdirinya pohon tapi yang paling utama adalah akar itu merambat ke dalam mencari makan.
Markus 4:16 16 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira ,17 tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.
Banyak orang yang menerima dan menyambut firman dengan gembira tapi karena firman itu tidak berakar, maka orang itu segera kecewa/murtad.
Tuhan juga tidak hanya bicara tentang tanaman, tapi Tuhan juga memperjelas dalam Kolose 2:7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia,
I Korintus 3:10-11 10 Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. 11 Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.
Tidak ada orang yang bisa mengukur iman kita, tapi hal itu akan nampak apakah rohani kita tumbuh subur dan apakah iman kita teguh atau tidak, semuanya tergantung kita. Seperti sebatang pohon yang mempunyai akar yang kuat, akan tetap berdiri kokoh dan tidak tumbang ketika ada diterpa angin/badai.
“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN.”
Mengandalkan Tuhan dan menaruh pengharapan pada Tuhan adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan dalam bukti riilnya dan dalam pengertiannya.
Kita akan terkejut ketika kita baca dalam Kitab Ayub, kita menemukan bagaimana Tuhan menghancurkan harapan-harapan manusia.
Ayub 8:13-14 13 Demikianlah pengalaman semua orang yang melupakan Allah; maka lenyaplah harapan orang fasik, 14 yang andalannya seperti benang laba-laba, kepercayaannya seperti sarang laba-laba.
Pengharapan manusia seperti sarang laba-laba, sebentar saja bisa lenyap.
Coba kita renungkan ada orang-orang yang ada didunia yang seolah-olah tidak akan pernah tumbang? Atau ada orang-orang yang mungkin kita kenal/tahu bahwa hidupnya sangat sombong, tapi Tuhan tidak melakukan apa-apa. Tuhan berkata dalam Amsal 24:1 Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka.
Itu semua bukan urusan kita, ketahuilah bahwa andalan mereka seperti benang laba-laba. Dan bagaimana Tuhan menghancurkan pengharapan manusia supaya berharap kepada-Nya?
Batu yang keras ditetes dengan air, tanpa sadar lama-kelamaan batu itu akan terbelah dimulai dengan lobang. Begitulah cara Tuhan menghancurkan harapan andalan manusia.
I Timotius 1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita,
Dasar pengharapan kita ada Kristus Yesus, berarti berharap dan menaruh harap kita kepada Tuhan ada dasarnya. Sama seperti seorang kaya yang mengandalkan kekayaannya, orang pintar mengandalkan kepintarannya, orang berkuasa mengandalkan kekuasaannya.
Jadi sekarang, setelah kita menerima Yesus, semua yang kita harapkan untuk menjadi kenyataan harus kita taruh kepada Tuhan, karena sudah ada jaminan dan yang menjadi dasarnya adalah Kristus.
Taruh pengharapan itu kepada Kristus, andalkanlah Dia!
Mengandalkan Tuhan berarti memang tidak boleh dengan kekuatan/kemauan diri sendiri, tetapi tetap ora et labora, berdoa dan bekerja. Jadi kalau sudah berdoa, bekerjalah.
Artinya melibatkan Tuhan dalam segala apa yang kita kerjakan. Jadi hati kita selalu ada kontak dengan Tuhan, sambil melakukan segala sesuatu, iman kita juga selalu kepada Tuhan.
Ibrani 6:19 Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,
Pengharapan itu adalah sauh/jangkar yang kuat, semua kapal mempunyai itu, ini sangat menolong kapal berlabuh sehingga tetap pada tempatnya.
Ada sesuatu kekuatan dahsyat yang akan kita alami hasilnya disaat kita mulai menaruh harapan kita pada Tuhan. Karena Tuhan bisa melakukan segala perkara.
Ada bukti nyata dari sikap hidup kita, bukan hanya pengakuan bahwa kita mengandalkan Tuhan, tapi perilaku kehidupan mengandalkan yang lain. Sangat jelas, ketika kita membuat pengakuan iman bahwa kita mengandalkan Tuhan, maka sikap hidup kita sehari-hari selalu menaruh pengharapan kita kepada Tuhan.
Hasilnya adalah “…tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
By : Pdt. RF. Martino









