KUNYATAKAN ENGKAUTUHAN DIHIDUPKU
Tema khotbah Minggu ini diambil dari sebuah lagu yang berjudul “Tuhan Dihidupku”. Beberapa hal yang bisa kita pelajari dari lirik lagu tersebut adalah:
– Kita patut bersyukur karena nama kita tertulis di telapak tangan Tuhan.
– Kalau kita berada di dalam genggaman Tuhan kita akan merasa nyaman sekalipun kita mengalami banyak masalah di dalam kehidupan.
– Di tengah badai hidup, seringkali orang-orang di sekitar kita meninggalkan kita, namun Tuhan tak pernah meninggalkan kita.
– Kalau saat ini kita bisa mencapai keadaan yang lebih baik dibandingkan keadaan yang dulu, itu karena Tuhan yang mengangkat hidup kita.
– Tuhan di setiap nafasku, berarti selama kita hidup, kita akan selalu menjadikan Dia Tuhan dalam hidup kita.
Baca: 2 Korintus 3:3
Saat ini kita sudah jarang berkomunikasi dengan menggunakan surat karena zaman sudah maju dan umumnya kita berkomunikasi dengan Telepon, SMS, WA, dll. Namun zaman dulu, surat adalah salah satu media komunikasi yang sangat dibutuhkan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan sikap seseorang mengenai sesuatu hal. Isi surat pribadi menggambarkan maksud seseorang atau bahkan bisa memberikan informasi mengenai isi hati. Dari gaya tulisan dan gaya bahasa dalam surat, kita bisa mengetahui karakter seseorang. Tujuan penulisan surat adalah untuk dibaca oleh penerimanya.
Saat Paulus berkata bahwa kita adalah surat Kristus, berarti hidup kita terbuka dan dapat dibaca oleh semua orang dari cara hidup, sikap hidup dan perbuatan kita: apakah semuanya mencerminkan Pribadi Kristus atau tidak.
Baca: Kisah Para Rasul 11:26
Mengapa jemaat di Antiokhia menyebut murid-murid Yesus dengan sebutan Kristen? Karena ketika jemaat Antiokhia melihat murid-murid Yesus, mereka teringat pada apa yang pernah diperbuat oleh Kristus. Arti Kristen adalah pengikut Kristus. Jadi, murid-murid disebut pengikut Kristus karena apa yang murid-murid lakukan dalam keseharian mengingatkan jemaat Antiokhia kepada Pribadi dan perbuatan Kristus. Jadi saat kita menyebut diri kita Kristen, seharusnya diri kita mencerminkan Pribadi Kristus.
Namun sayangnya banyak orang yang tidak tertarik dan menjadi antipati dengan Kekristenan karena perilaku orang Kristen sendiri yang menjadi batu sandungan.
Contoh:
– Di hadapan ribuan mahasiswa di Kolombo, Mahatma Gandhi berkata , “Seandainya Kekristenan seindah Khotbah di bukit, maka saya sudah menjadi orang Kristen. Tetapi karena hidup orang Kristen-lah maka saya tidak mau menjadi orang Kristen.” Mahatma Gandhi sangat tertarik dengan khotbah Yesus, namun ia memutuskan untuk tidak menjadi Kristen karena perilaku orang Kristen sendiri. Mengapa ia berkata demikian? Karena Mahatma Gandhi pernah mengalami pengalaman yang pahit. Suatu saat ia tertarik untuk beribadah di sebuah gereja, namun saat ia hendak masuk, ia ditolak oleh orang-orang berkulit putih hanya karena ia tidak berkulit putih. Padahal Tuhan tidak hanya memilih orang-orang berkulit putih atau orang-orang dari suku tertentu. Rasul Petrus dulunya adalah orang yang sangat ke-yahudi-an, sampai akhirnya Tuhan menegurnya dalam suatu penglihatan sehingga ia menyadari bahwa Tuhan tidak membeda-bedakan latar belakang suku bangsa seseorang untuk menerima anugerah keselamatan.
– Seorang filsuf ateis bernama Friedrich Nietzsche. Dari fotonya kita bisa melihat bahwa ia adalah orang yang pahit hati – terlihat dari tatapan matanya. Ia pernah menjawab pertanyaan mengapa ia sangat membenci kekristenan. Ia berkata, “Saya akan percaya jalan keselamatan mereka (orang-orang Kristen) apabila hidup mereka (orang-orang Kristen) sedikit lebih terlihat seperti orang yang sudah diselamatkan.” Betapa menyedihkannya pernyataan Friedrich ini. Berarti orang-orang Kristen yang ia temui tidak menjadi berkat namun menjadi batu sandungan baginya.
– Anton Szandor LaVey adalah pendiri gereja setan. Semula ia adalah seorang Kristen, aktif beribadah dan melayani di gereja. Namun ia menemukan banyak kemunafikan di dalam gereja. Ia melihat banyak pria Kristen yang di dalam gereja tampak sangat saleh/alim, namun diluar gereja mereka hidup dalam dosa dan kenistaan, sehingga pengalaman itu yang mendorong LaVey untuk mendirikan gereja setan dimana anggotanya bebas mengumbar nafsu tanpa dibungkus kemunafikan.
Sering kali orang Kristen tidakmampumenjadisuratKristus/suratterbukakarenakarakter-karakter yang tidakmenjadiberkatbagi orang lain diantaranyaadalah:
1. Kikir.
Seorang hamba Tuhan pernah berkata, “Bagaimana kita tidak menangis ketika melihat kantong-kantong Kristen sudah ‘dihijaukan’ karena penduduknya diberi sembako.” Pengusaha-pengusaha di pihak mereka dengan sangat royal berlomba-lomba untuk “menabur” bagi gerakan penghijauan. Sedangkan orang Kristen sendiri lebih kikir, menggunakan uangnya hanya untuk kepentingan diri sendiri. Hamba Tuhan itu melanjutkan, “Gereja-gereja di kota besar mengeluarkan uangnya hanya untuk pembangunan gedung-gedung besar dan fasilitas-fasilitas mewah seperti layar LED yang senilai ratusan juta Rupiah.” Dalam hal ini gereja-gereja bertanggungjawab di hadapan Tuhan jika tidak melaksanakan amanat agung.
2. Emosi yang tidak terkontrol.
Sewaktu masih sekolah, ada teman sekelas saya, seorang Kristen, yang jika marah membenturkan kepalanya ke tembok. Hal ini menjadi pertanyaan bagi teman-teman yang beragama lain, bisakah orang Kristen menyakiti diri sendiri? Dalam pelayanan, saya pernah menjumpai seorang remaja Kristen yang saat marah meminum obat antimo dengan jumlah banyak sampai hampir meninggal. Kemudian ada suami yang mengeluh, istrinya jika marah cenderung menyakiti diri sendiri. Di satu sisi orang-orang ini mungkin telah mengundang Yesus ke dalam hatinya namun ia tidak menghormati Kristus dalam hidupnya. Mereka tidak menyadari bahwa Tuhan marah terhadap apa yang mereka lakukan! Karena hidup mereka adalah pemberian dan milik Tuhan, sehingga mereka tidak berhak menyakiti diri sendiri. Jika mereka meninggal, maka neraka yang menyambut mereka. Inilah contoh hidup yang tidak memuliakan Tuhan.
3. Pembohong.
Ada orang Kristen yang suka sekali berbohong dan menganggapnya biasa. Karena suka berbohong, lama kelamaan orang itu menjadi pembohong. Ada pelayan Tuhan yang rajin melayani namun suka berbohong. Ada juga orangtua yang suka menyuruh anaknya berbohong. Suatu hari ada seorang ibu berkata kepada saya bahwa ia tertempelak saat ia menyuruh anaknya berbohong, sang anak berkata, “Di sekolah minggu saya diajar tidak boleh berbohong. Mengapa mama mengajar saya berbohong?”
4. Ego / tidak suka mengalah.
Diluar negeri, pada transportasi umum disediakan tempat duduk dengan tulisan “priority” (prioritas) kepada orang tua atau orang yang lebih lemah. Mereka diajar untuk mengalah. Namun banyak orang Kristen yang tidak suka mengalah. Suami istri yang ribut setiap hari yang sebenarnya membebani anak-anak. Dulu saat masih kecil rumah saya berada di lorong, dimana yang tinggal di lorong tersebut dari berbagai suku dan agama. Ada sebuah rumah di lorong kami, penghuninya adalah orang Kristen. Di pagi hari sang istri terdengar lagi menyanyikan lagu pujian penyembahan sampai berbahasa roh. Tetangga-tetangga berkata, “Ia sedang menyanyi lagu koor”. Namun di sore hari terdengar oleh tetangga ia bertengkar hebat dengan suami. Tetangga-tetangga berkata, “Ronde pertama dimulai”. Akhirnya kekristenan jadi tertawaan. Aplikasi poin ini cukup banyak. Misalnya: orang Kristen saat berkendara dan tiba-tiba diserobot, meneriaki dan memaki orang itu. Bayangkan jika orang itu akhirnya melihat saudara memimpin di suatu ibadah. Akhirnya kekristenan kita tidak menjadi berkat. Sebagai orang percaya kita harus belajar untuk menahan ego.
PENTINGNYA KARAKTER.
Karakter adalah sifat batin yang mempengaruhi pikiran, perilaku, budi pekerti, dan tabiat yang dimiliki oleh manusia. Karakter menentukan jati diri seseorang. Apabila seseorang berkarakter buruk maka perilaku / jati dirinya menjadi buruk. Tetapi apabila seseorang berkarakter baik, maka jati dirinya juga menjadi baik.
Karakter juga berbicara tentang pondasi dimana seseorang membangun semua kehidupannya. Karena karakter seperti pondasi yang berada di dalam, maka karakter itu tidak kelihatan tetapi sangat menentukan. Karakter itu baru kelihatan saat tekanan datang atau saat berkat datang melimpah.
Abraham Lincoln berkata, “Untuk menguji karakter seseorang, berikan dia kekuasaan.” Pertanyaannya: Mengapa? Karena apabila seseorang tidak mempunyai karakter yang kuat, saat ia diberi posisi yang tinggi maka itu akan sangat berbahaya. Saat “di atas gunung batu Kau bawa hidupku” (Tuhan mengangkat hidup kita), namun kita tidak memiliki karakter yang kuat, maka kita akan terjatuh.
Kita akhirnya memahami kasus-kasus korupsi terjadi karena orang-orang yang memiliki kekuasaan tidak memiliki karakter yang kuat. Seringkali kita ingin Tuhan membawa kita semakin naik menjadi kepala dan bukan ekor, namun kita harus menyadari bahwa kita juga harus mempersiapkan karakter kita. Jika karakter/pondasi hidup kita tidak kuat, maka segala sesuatu yang kita susun diatasnya bisa roboh. Banyak orang yang saat dibawa semakin tinggi oleh Tuhan, hubungannya dengan Tuhan menjadi renggang dan ia menjadi sombong kepada orang lain. Akhirnya ia terjatuh karena karakternya sendiri. Karena itu perkuat karakter kita yaitu menjadi serupa dengan Kristus!
KAPAN KARAKTER MULAI DIBENTUK?
Karakter dibentuk sejak masa kanak-kanak. Apakah karakter orang dewasa masih bisa dibentuk? Masih bisa namun lebih sulit karena sudah ada nilai-nilai yang terbentuk sekian lama di dalam dirinya, dan untuk mengubahnya itu tidak mudah. Maka sebisa mungkin, usia 0-6 tahun adalah usia emas bagi orangtua untuk membentuk karakter anak, jangan sekedar menitip anak dengan babysitter / pengasuh. Yang membentuk karakter anak adalah nilai yang dia pegang dalam kehidupannya: bagaimana cara ia dibesarkan. Orang-orang yang berada disekitarnya mempengaruhi karakternya. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan oleh orangtua akan ditiru anak-anaknya. Misalnya tidur tidak sikat gigi, pulang rumah langsung lempar sepatu. Sedangkan orangtua telah memberi teladan yang baik, seorang anak masih bisa melakukan yang buruk karena meniru pergaulannya di sekolah, apalagi jika orangtua memberi contoh yang buruk.
Kita perlu memperhatikan:
– Nilai yang dipegang akan menjadi tingkah laku.
– Tingkah laku yang dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan.
– Kebiasaan yang dipertahankan akan menjadi karakter.
– Karakter seseorang akan menentukan masa depannya.
Karena itu jika ada anak kecil yang tidak suka berbagi, tidak suka mengalah, dll, peran orangtua untuk jangan membiarkan sang anak berperilaku seperti itu dengan alasan ia masih anak-anak. Orangtua harus segera mengajarkan dan menanamkan nilai yang benar.
Selain orangtua, guru sekolah minggu juga memiliki peranan untuk membentuk karakter anak. Anak-anak bukanlah pendengar yang baik namun peniru yang baik. Jika guru sekolah minggu ke gereja naik motor tidak pakai helm, datang terlambat, melanggar rambu lalu lintas, maka anak-anak sekolah minggu akan meniru kita. Saat masih kecil, karena kondisi keuangan keluarga yang sangat minim, untuk membeli permen coklat saja sangat sulit. Karena saya ingin sekali makan permen coklat dan tidak punya uang, saya hendak mencuri coklat dari suatu kios. Saya menggenggam beberapa permen coklat dan memasukkannya ke kantong saya. Namun tiba-tiba saya teringat guru sekolah minggu saya pernah berkata bahwa mencuri itu dosa, dan bisa membawa kita ke neraka. Akhirnya saya mengembalikan coklat tersebut dan pergi dengan menangis. Nilai yang guru sekolah minggu saya ajarkan masuk ke dalam hati saya. Jadi jika saya bisa berdiri saat ini, itu karena hasil dari sekolah minggu. Maka saya selalu berkata kepada para keluarga muda: “Sedini mungkin bawalah anak-anak saudara ke sekolah minggu.” Mungkin mereka sepertinya belum mengerti, namun mereka sudah dibiasakan dengan suasana pujian penyembahan sejak kecil, dan ada hal-hal rohani yang akan terekam dalam ingatan mereka.
Baca: Amsal 22:6
Maka sebagai pendidik, nilai itu harus kita alami lebih dulu baru bisa kita impartasikan kepada orang lain.
KARAKTER YANG DIUBAHKAN.
Tuhan sangat tertarik dengan karakter. Tuhan lebih tertarik untuk mengubah karakter kita daripada mengubah keadaan di sekitar kita.
Tuhan siap mengubah kita namun dibutuhkan kerendahan hati. Untuk mengalahkan keangkuhan kita, itu butuh perjuangan karena manusia pada dasarnya angkuh. Kita harus menyadari bahwa tidak ada dari kita yang benar, namun kita mau terus belajar untuk hidup benar. Kita harus datang dan berkata kepada Tuhan, “Aku siap untuk engkau bentuk, ya Tuhan.”
Mau tidak mau, sebagai surat Kristus kita akan dibaca oleh semua orang. Namun kita harus menjadi surat yang memuliakan Kristus karena kita diciptakan untuk kemuliaan-Nya.
Baca: Filipi 1:20
Saat seorang Kristen meninggal, apakah orang-orang yang hadir dalam ibadah penghiburan akan berkata, “Saya sangat diberkati dari kehidupannya. Saya menjadi Kristen karena dia. Dia sangat murah hati.” Ataukah orang-orang akan berkata, “Ia meninggal karena anfal jantung setelah bertengkar dengan isterinya”? Paulus memiliki kerinduan bukan untuk menjadi rasul yang besar, namun agar Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam hidup dan matinya.
Sebagai orangtua, ajarlah anak-anak saudara agar tidak mempermalukan nama Tuhan. Karena setiap pergerakan kita dilihat orang-orang dan kita harus menjaga agar nama Kristus tidak dipermalukan.
Karakteristik Kristus apa saja yang seharusnya dilihat oleh orang-orang melalui hidup kita?
1. Hati.
Hati Yesus adalah hati yang selalu penuh dengan belas kasihan. Apakah keseharian kita menjadi pribadi yang egois dan kikir? Kasih berbicara mengenai pengorbanan dan Yesus telah membuktikannya dengan mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib. Kita baru bisa disebut mengasihi jika didalamnya ada nilai pengorbanan. Kita rela mengampuni sekalipun telah disakiti.
2. Murah Hati.
Orang yang murah hati pasti suka memberi. Sekalipun kita juga harus mengetahui “orang atau tempat yang tepat” untuk kita menyalurkan kemurahan hati. Bagi orang yang murah hati, dimanapun ia berada akan mendapat kemurahan juga.
3. Cara berpikir.
Yang dimaksud adalah cara berpikir yang positif. Melihat segala sesuatu jangan langsung negatif. Saat melihat orang berbisik-bisik kita mengira mereka menceritakan kita, saat mereka tertawa kita mengira mereka menertawakan kita. Ini cara berpikir yang negatif. Kita harus belajar berpikir positif.
4. Cara pandang.
Kita bisa memahaminya dari peristiwa bagaimana Samuel diperintahkan Tuhan untuk mengurapi raja Israel yang baru sebagai pengganti Saul. Cara pandang Samuel dan Tuhan berbeda. Samuel memandang apa yang nampak namun Tuhan melihat hati.
Karena itu baiklah kita merenungkan ayat ini: Matius 5:16 “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” Dan biarlah hidup kita memuliakan Bapa di sorga.
By : Pdt. Lea Novitasari










Leave a Reply