PUNDI-PUNDI YANG BERLUBANG
Hagai 1:1-7 1 Pada tahun yang kedua zaman raja Darius, dalam bulan yang keenam, pada hari pertama bulan itu, datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, bunyinya: 2 “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!” 3 Maka datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: 4 “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? 5 Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! 6 Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang! 7 Beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu!
Kalimat “Perhatikanlah Keadaanmu!” diulang hingga dua kali. Ini berarti Tuhan mau Bangsa Israel memperhatikan apa yang Tuhan katakan.
Apa yang perlu diperhatikan? (Perhatikan kata-kata yang digaris bawahi)
Hagai 1:6
Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!
Mengapa mengalami pundi-pundi yang berlubang?
Hagai 1:2-3 2 “Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!” 3 Maka datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: 4″Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?
Ayat 2 dan ayat 4 berbicara mengenai Prioritas. Prioritas artinya adalah yang didahulukan dan diutamakan daripada yang lain. Bangsa Israel lebih mengutamakan kepentingan/kenyamanan mereka sendiri.
Apa Akibatnya?
Hagai 1:6
Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!
Bagaimana Supaya Tidak Mengalami Pundi-Pundi Yang Berlubang?
1. Miliki prioritas hidup
Mendahulukan, mengutamakan Tuhan
2 Korintus 8:5 “Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami”.
Jemaat di Makedonia BERBEDA dengan Bagsa Israel di Hagai 1.
Bangsa Israel jaman Hagai lebih mementingkan mendandani rumah mereka (kepentingan sendiri) dibanding rumah Tuhan yang tetap jadi reruntuhan dengan mengatakan: “Belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah Tuhan”
Prioritas Hidup Jemaat di Makedonia
2 Korintus 8:1-5 “1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. 2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. 3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. 4 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. 5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
Kekayan finasial bukan ukuran kekayaan pribadi. Mereka mau melibatkan diri, mereka mendesak supaya mereka juga dibari kasih karunia dalam mengambil bagian untuk pelayanan pekerjaan Tuhan. Inilah contoh bukti cinta kita kepada Tuhan yaitu melalui proyek-Tuhan yang ada dibumi.
2. Berdamai dengan sesama
2 Korintus 8:5 “Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami”.
Berdamai secara vertikal (dengan Tuhan) juga horisontal (dengan sesama manusia).
SALIB bukan hanya sekedar simbol karena pernah dipakai untuk menyalibkan Yesus. Tapi Salib juga mempunyai makna bahwa kasih kita harus secara vertikal dan horisontal. Orang percaya yang mengakui mengasihi Tuhan seharusnya juga ia akan mengasihi sesamanya manusia.
Matius 5:23-24 23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, 24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
Tuhan tidak menghendaki kita bermasalah dengan sesama dalam hal apapun, “PERGILAH BERDAMAI DAHULU DENGAN SAUDARAMU” (Anak, orang tua, teman sepelayanan, teman kerja, dll)
Selesaikanlah yang belum diselesaikan:
– Kesalahpahaman
Ada sesuatu yang horisontal jangan dikaitkan dengan vertikal dan bukan menjauhi yang vertikal, tapi firman Tuhan berkata “selesaikanlah!”. Solusinya bukanlah undur dari pelayanan. Ingatlah firman Tuhan berkata dalam Kolose 3 23: Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
– Peminjaman yang perlu dikembalikan
Masalah pinjam meminjam terkadang dianggap sepele, tapi hal ini perlu menjadi perhatian bagi kita. Ketika kita meminjam maka pinjaman itu harus dikembalikan. Sebisa mungkin janganlah berhutang, apa yang masih bisa dijual, juallah, sehingga tidak perlu berhutang. Tapi jika memang harus berhutang, maka bayarlah hutang tersebut.
Yesaya 32:17 berkata: “Dimana ada kebenaran disitu ada damai sejahtera”. Kalau kita hidup tidak benar maka tidak ada damai sejahtera. Sebaliknya jika melakukan kebenaran maka kita akan limpah dengan damai sejahtera.
3. Kaya dalam kemurahan = murah hati
2 Korintus 8:1-5 1 Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. 2 Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. 3 Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. 4 Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. 5 Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
MURAH HATI berbicara HATI lebih daripada apa yang kita lakukan dengan tangan.
Orang yang selalu melakukan dengan tangannya belum tentu murah hati. Orang yang murah hati tidak hitung-hitungan, tidak akan pernah berhenti memberi karena dia suka member, tidak mementingkan diri sendiri.
Kisah Para Rasul 20:35 sebab Ia sendiri telah mengatakan: adalah lebih berbahagia MEMBERI dari pada MENERIMA.
MURAH HATI hasilnya KELIMPAHAN
Artinya: kelimpahan adalah akibat dari orang yang murah hati, tetapi kelimpahan TIDAK PERNAH menjadi TUJUAN dari org yang murah hati karena memang dia suka memberi sudah itulah pribadinya/hatinya.
Amsal 11:25 “Orang yang banyak memberi akan berkelimpahan, orang yang suka menolong akan ditolong juga” (BIS)
Amsal 11:25 “Bahwa hati yang murah itu akan dikaruniai dengan banyak, dan barang siapa yang mendirus, ia itu akan disirami dengan Kelimpahan”. (TL)
Amanat agung tidak bisa teraplikasi jika kita tidak bersosialisasi. Kalau kita bermasa bodoh dengan yag horisontal kita tidak akan melakukan firman Tuhan dengan sepenuhnya.
Orang yang memberi karena motivasinya ingin mendapatkan tidak akan ada kelimpahan dan TIDAK BISA disebut MURAH HATI. Dia akan BERHENTI MEMBERI pada saat dia tidak mendapatkan sesuatu.
Tetapi bagi orang yang SUKA MEMBERI=MURAH HATI meskipun tidak pernah mendapatkan, dia akan TERUS MEMBERI, karena memang itu pribadinya sama seperti BAPA di Surga.
Roma 8:32 Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?
Ada istilah yang sering kita dengar: Like Father Like Son, kalau kita mengaku adalah anak Tuhan berarti seharusnya pribadi kita juga mencerminkan kepribadian Bapa di Surga. Bapa di Surga adalah Bapa yang murah hati, anak-Nya yang tunggalpun dikorbankan untuk penebusan dosa umat manusia.
MURAH HATI bukan berarti MURAHAN, harus memberi kepada siapa saja yang meminta kepada kita.
Yesuspun berkata “jangan memberi”
Matius 7:6 “Jangan kamu memberikan barang yang kudus kepada anjing dan jangan kamu melemparkan mutiaramu kepada babi, supaya jangan diinjak-injaknya dengan kakinya, lalu ia berbalik mengoyak kamu.”
Artinya kita harus memberi pemberian kita kepada orang yang tepat.
Kebahagiaan bagi orang yang murah hati pada saat dia menemukan orang yang tepat/layak untuk menerima pemberiannya. Bukan menyuapi orang yang malas atau “aji mumpung”
Murah hati tdak selamanya berbicara ttg uang, tapi juga berkemurahan dengan:
-Waktu yang kita punya
– Doa kita
– kata-kata yang dapat menolong orang lain
4. MANAJEMEN
Vertikal dan horisontal tidak bermasalah tapi kalau manajemen bermasalah maka tetap akan terjadi pundi yang berlobang.
Kita harus memiliki manajemen hidup dan manajemen keuangan.
Manajemen Hidup
Di saat bekerja kita harus bekerja, tertibkan diri pagi – sore adalah waktu untuk bekerja, bukan bangun siang-siang, karena bangun siang “manna sudah mencair”
Manajemen Keuangan
Jangan seperti pepatah berkata: Besar pasak daripada tiang yang artinya pengeluaran lebih besar daripada pendapatan.
Lukas 14:28 Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
Meskipun tahap 1 sampai dengan 3 sudah kita lakukan dengan benar, tapi jika tahap yang ke-4 ini tidak dilakukan maka kita aknmengalami pundi yang berlubang.
Manajemen hidup dan manajemen keuangan adalah hal yang mutlak harus dilakukan supaya segala sesuatunya dapat terencanakan dengan baik dan menghasilkan sesuatu yang baik pula sehingga kita tiodak megalami pundi-pundi yang berlubang.
By : Pdt. Lea Novitasari









