This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MILIKILAH PENGALAMAN, HIDUP BERSAMA ROH KUDUS (2)

GppsPalu – “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (I Korintus 15:10)

Paulus berkata bahwa ia tidak menyia-nyiakan kasih karunia Allah. Bagaimana dengan kita?

Banyak orang percaya yang tanpa ia sadari telah menyia-nyiakan kasih karunia Allah. Dengan cara bagaimana? Dengan cara masih hidup dalam hidup yang lama.

Jika kita berkata bahwa kita tidak menyia-nyiakan kasih karunia Allah tetapi jika dalam kehidupan sehari-hari kita masih hidup dengan cara hidup yang lama, maka orang tidak akan mempercayainya.

Kita harus memahami bahwa Tuhan Yesus menebus kita, dimana kita yang seharusnya binasa tetapi oleh iman kita telah diselamatkan karena pengorbanan Kristus dan status kita diganti dari orang berdosa menjadi anak-anak Allah.

Lebih lanjut lagi Ia telah mengutus Roh Kudus sebagai Penolong yang tinggal di dalam kita dan menyatu dengan roh kita. Banyak orang percaya yang masih berpikir bahwa Tuhan itu begitu jauh, padahal Roh Kudus ada di dalam kita dan begitu mudahnya kita dapat berkomunikasi dengan Dia.

Lalu mengapa orang yang sudah dibaptis Roh Kudus dan sudah berbahasa roh sebagai tanda awal baptisan Roh Kudus masih jatuh dalam dosa? Kita akan mempelajari hal ini agar kita tidak menjadi kecewa.

Sebagai orang percaya kita seharusnya memiliki pengalaman hidup bersama Roh Kudus dalam mengelola hidup kita, mengelola masalah di dalam hidup sehari-hari.

Bagaimana memiliki pengalaman hidup bersama Roh Kudus?

1. Mengalami Baptisan Roh Kudus.

Beberapa minggu lalu kita telah belajar bahwa baptisan Roh Kudus adalah mutlak dialami oleh setiap orang percaya untuk dapat mengalami hidup bersama Roh Kudus.

Efesus 4:17-19 berkata “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.”

Paulus menemukan di Efesus ada jemaat Tuhan yang sudah lahir baru tetapi belum menjadi manusia baru, yaitu orang percaya yang masih hidup seperti orang yang belum mengenal Allah. Karena itu Paulus berkata, “Jangan hidup ‘lagi’ sama seperti orang yang belum mengenal Allah.”

Efesus 4:20-24 “Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.

Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.”

Alkitab berkata ada “Kekudusan yang sesungguhnya” berarti ada “kekudusan yang palsu/kemunafikan.” Tuhan menghendaki kita hidup dalam kekudusan yang sesungguhnya, bukan yang palsu.

Efesus 4:25-29 “Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota. Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”

Semua hal-hal ini adalah daftar dosa-dosa perbuatan yang seharusnya sudah tidak lagi kita lakukan. Tetapi bukan hanya dosa perbuatan melainkan juga dosa di dalam batin!

Efesus 4:30-32 “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Ini adalah orang percaya yang takkan mengalami pengalaman hidup bersama Roh Kudus karena perbuatan-perbuatannya dan juga keadaan batinnya mendukacitakan Roh Kudus. Dan Roh Kudus tidak dapat berfungsi sebagai penolong karena orang tersebut tidak mau ditolong.

Kita harus memahami hal ini supaya kita tidak menjadi kecewa.

Sebagai orang percaya kita tidak boleh menjadi batu sandungan, tetapi kita juga jangan menjadi korban batu sandungan orang lain karena hal iman bersifat pribadi antara kita dengan Tuhan.

2. Penuh dengan Roh Kudus

Efesus 5:18 “Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh,”

Manusia lahiriah kita penuh dengan unsur kedagingan, apalagi iblis berusaha menumbangkan orang percaya dengan segala macam cara. Jadi orang percaya yang sudah dibaptis Roh Kudus harus memahami bahwa baptisan Roh Kudus adalah awal, dan harus dilanjutkan pada tahap selanjutnya yaitu menjadi penuh dengan Roh Kudus!

Roh Kudus yang ada di dalam kita bukan hanya kita libatkan didalam doa. Bahkan ada juga pemahaman yang keliru bahwa bahasa roh baru boleh diucapkan setelah merasa ada getaran-getaran pada tubuh mereka. Ada juga pemahaman bahwa bahasa roh baru boleh diucapkan setelah menangis. Ini pemahaman keliru. Bahasa roh tidak harus diucapkan setelah merasa getaran-getaran atau harus menangis lebih dulu tetapi bisa kapan saja. Dan Roh Kudus ada di dalam kita supaya kita bisa berkomunikasi dengan Roh Kudus.

Pencapaian-pencapaian rohani seperti kekudusan yang dilakukan dengan usaha diri sendiri tanpa pertolongan Roh Kudus akan membawa seseorang kepada kesombongan rohani. Ada gereja yang dari hamba Tuhan-nya sampai jemaatnya merasa gerejanya yang paling benar dan gereja lain salah, bahkan berani berkata bahwa hamba Tuhan lain sesat. Setelah diselidiki ternyata gereja ini meraih pencapaian-pencapaian mereka dengan usaha mereka sendiri.

Roma 8:1-10 “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.

Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.

Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.

Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.”

Melalui ayat yang kita baca, kita mengetahui bahwa didalam diri kita ada keinginan daging, karena kita masih manusia lahiriah, tetapi didalam diri kita juga ada keinginan roh karena ada Roh Kudus yang menyatu dengan roh kita!

Roma 8:11-14 “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.”

Dalam ayat diatas, kebangkitan yang dimaksud bukan kebangkitan orang mati. Maksud ayat tersebut:

Sebagai manusia lahiriah kita cenderung melakukan hal-hal yang tidak benar. Tetapi Roh Kudus yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati, Roh Kudus itu akan membangkitkan tubuh kita yang fana ini supaya melakukan kebenaran-kebenaran melalui pimpinan Roh Kudus.

Lalu bagaimana caranya Roh Kudus bekerja di dalam kita supaya kita dapat mematikan keinginan-keinginan daging?

Dalam menjalani hari-hari kita akan berjumpa dengan berbagai realita hidup. Roh Kudus yang ada di dalam kita akan mengingatkan Firman yang pernah kita baca dan dengar sebagai jawaban atas setiap realita hidup yang datang pada kita (kita tidak perlu menjadi orang aneh yang sedikit-sedikit berkata,”Tuhan bilang” karena ada Alkitab yang bisa kita baca), dan kemudian kita membahas Firman yang diingatkan kepada kita itu bersama Roh Kudus, saat itulah Roh Kudus akan mengajar kita, membukakan pengertian demi pengertian mengenai Firman tersebut dan membeberkan langkah-langkah praktis untuk melakukannya bahkan akibat-akibat yang akan datang apabila kita memilih apa yang akan kita lakukan.

Tetapi hanya saja terkadang sekalipun Roh Kudus sudah mengingatkan dan mengajar Firman, banyak orang yang masih bertahan dengan kehendaknya sendiri. Karena itu kita harus mau dipimpin oleh Roh. Kecepatan kuasa Roh Kudus yang di dalam kita harus lebih cepat dari respon dari unsur jiwani kita terhadap realita hidup. Misal saat kita dipuji secara unsur jiwani kita senang tetapi kuasa Roh Kudus harus lebih cepat sehingga kita tidak menjadi tinggi hati. Begitupun saat kita dihina secara lahiriah kita tersinggung dan itu lumrah tetapi kecepatan kuasa Roh Kudus harus lebih cepat sehingga kita tidak menjadi pahit hati.

Betapa penting hidup dipimpin Roh Kudus sehingga kita menjadi pribadi yang tangguh bukan karena kekuatan kita sendiri tetapi karena Roh Kudus. Jika kita hidup dipimpin Roh Kudus maka kasih karunia Allah atas diri kita tidak menjadi sia-sia.

Written by Pdt. DR. R. F. Martino