HIDUP DALAM DIMENSI IMAN
Roma 15:13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.
Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Ibrani 11:6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
Roma 8:26 8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
Sebelumnya kita sudah belajar memahami mengenai doktrin secara theologis, bagaimana kita menikmati hidup oleh iman dalam kehidupan nyata. Kita tidak boleh menganggap hal ini adalah sesuatu yang sulit, tapi kita tidak bisa menganggap remeh sehingga hanya menganggap sebagai sesuatu yang simple.
Sikap serta tindakan dalam menjalani kehidupan sehari-hari tergantung sejauh mana pribadi tersebut memahami hidup dalam dimensi iman. Karena pemahaman yang benar akan menghasilkan sikap yang benar dan sikap yang benar akan menghasilkan tindakan yang benar.
Pada umumnya orang Kristen memahami tentang iman hanyalah sebatas terjawabnya doa untuk sebuah keinginan. Seolah-olah jemaat memaksa Tuhan dalam doanya agar doanya dikabulkan. Hal ini membuat seolah-olah Tuhan bisa dipaksa dengan doa. Sebagian orang Kristen berdoa dengan sungguh-sungguh supaya doanya didengar dan ketika doanya tidak dijawab maka sebagian dari orang Kristen tersebut menjadi kecewa.
Dalam berdoa kita tidak boleh memaksakan Tuhan untuk menuruti dan mengabulkan kemauan kita, ini berbahaya! Ketika orang percaya dituntun seperti ini maka hidup dalam dimensi iman adalah nol. Dia hanya bisa menyaksikan pengalaman-pengalaman jawaban doa dan biasanya jawaban doa adalah hal-hal yang hanya sebatas lahiriah saja. Orang Kristen yang seperti ini akan sulit memberitakan Injil. Yang diberitakan bukanlah Injil tapi kebaikan-kebaikan Tuhan dalam menjawab doanya, menyembuhkan, memberkati usahanya, dll. Itu semua hanyalah fasilitas Injil, sedangkan isi Injil bukan hanya itu. Injil adalah berita keselamatan yang Tuhan berikan bagi setiap pribadi yang meresponinya.
Oleh karena itulah mari kita memperhatikan dengan baik dalam Roma 15:13 Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.
Dalam ayat tersebut dijelaskan yang menyebabkan adanya sukacita dan damai sejahtera dalam iman adalah karena adanya kekuatan Roh Kudus yang adalah sumber pengharapan memenuhinya bahkan berlimpah.
Pertanyaannya adalah apakah selama mengikuti Tuhan, kita sudah menikmati hidup oleh iman dengan sejahtera? Apakah kita dengan beribadah dengan sukacita? Apakah kita memberi dengan segenap hati karena terpaksa? Apakah semua aktifitas rohani yang kita lakukan membawa sejahtera atau hanya menjadi sebuah tekanan?
Jika damai sejahtera belum kita miliki dalammelakukan semuanya berarti kita belummasuk dalam kategori Roma 15:13. Yang masuk dalam kategori ayat ini adalah yang imannya penuh dengan damai sejahtera dan sukacita. Jadi sangat gampang dalam mengujinya.
Jika Tuhan berkata seperti ini, berarti masih banyak orang percaya yang belum hidup dalam dimensi iman, sebab imannya belum dipenuhi sukacita dan damai sejahtera, orang percaya itu masih merasa bahwa mengikut Tuhan itu berat.
Kita butuh kekuatan Roh Kudus untuk bisa memiliki iman yang dipenuhi dengan sukacita dan damai sejahtera (hidup dalam dimensi iman). Jika tidak, maka hidup dalam dimensi iman pastilah berat, karena hidup dalam dimensi iman itui berarti kita hidup dalam pengharapan.
Jangan menganggap remah dengan apa yang namanya pengharapan. Kita tidak bisa hanya terfokus dengan masalah, karena apabila kita sampai pada titik pustus asa, maka tidak aka nada lagi harapan.
Dikatakan bahwa Allah, sumber pengharapan, memenuhi dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman.
Apa hubungan iman dengan pengharapan? Karena iman dimulai dengan setitik pengharapan. Kalau mau hidup dalam dimensi iman, berlimpahlah dengan pengharapan!
PRibadi yang orang yang penuh dengan pengharapan, apakah murung tidak. Tapi sukacita pengrapan melimpah.
Raut muka orang yang putus asa akan sangat berbeda dengan orang yang dipenuhi dengan sukacita. Tidak akan ada orang yang penuh dengan sukacita, ekspresi mukanya murung. Tapi orang yang sudah putus harapan, ia akan tidak berdaya dan tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah mengalami jalan buntu. Faktor jiwani akan mengambil alih keadaan yang sedang terjadi.Tuhan tidak menginginkan kita, sebagai orang percaya yang ditaklukkan oleh berbagai macam masalah dan pergumulan hidup. Tuhan mau kita hidup dalam dimensi iman yang isinya penuh dengan damai sejahtera dan berlimpah dengan pengharapan.
Ibrani 11: 1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Roma 8:24-25 24Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? 25Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.
Kita harus hidup dalam dimensi iman dengan kekuatan Roh Kudus. Ada banyak faktor yang menyebabkan kita butuh kekauatan Roh Kudus, supaya berlimpah dalam pengharapan karena kita tahu ada banyak realitas hidup yang menghancurkan harapan seseorang. Pengharapan hancur maka iman akan lenyap.
Roma 8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.
Ada beberapa orang yang menaikkan doa dengan mengatakan “terlalu yakin” akan janji Allah bisa tergenapi dalam hidupnya, tetapi begitu dihadapkan dengan realitas tidak bisa menerimanya. Jangankan hidupoleh iman, berdoa saja kita kita butuh Roh Kudus.
Roh Kudus yang akanmembantu kita dalam kelemahan. Dimanakah kelemahan kita secara,manusia? Letaknya adalah pada keterbatasan kita. Dimana letak keterbatas kita sehingga kita sulit hidup dalam dimensi iman? Yaitu keterbatasan kita secara lahiriah karena diikat oleh hukum logika. Inilah keterbatasan manusia yang sekaligus juga menjadi kelemahan..
Sehebat-hebatnya manusia, ia hanya akan sampai pada batas hukum logika dan setiap hukum logika pasti ada dasarnya. Semua terikat dan ada dasarnya.
Pertanyaannya? Apakah setiap realita yang kita hadapi adalah selalu hal yang logis? Apakah berbagai problem/kenyataan hidup itu selalu hadir sesuai dengan kemampuan hukum logika kita?
Contoh kasus:
Roma 4:18-25 18Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”19 Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup. 20 Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, 21 dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. 22 Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. 23 Kata-kata ini, yaitu “hal ini diperhitungkan kepadanya,” tidak ditulis untuk Abraham saja, 24 tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kita pun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati, 25 yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.
Abraham disuruh keluar ketempat dimana ia tidak tahu, tapi karena Tuhan yang berfirman maka ia taat. Dalam pengalamnnya secara lahiriah bersamaTuhan dia sangat diberkati. Abraham terbiasa bergaul dengan Tuhan. Abraham sangat diberkati bahkan namanya sangat termasyur. Semuanya terlaksana sesuai dengan janji Tuhan. Dalam kekayaannya dan kemasyurannya ada janji Tuhan yang berkata bahwa keturunannya akan sangat banyak bahkan seperti bintang di langit. Tapi hal ini tidak mungkin terlaksana karna pada waktu itu usia mereka sudah sangat lanjut dan tidak mungkin menghasilkan keturunan.
Semua yang ada dalam kehidupan praktis pasti ada dasarnya untuk berharap. Secara hukum logika setiap pengharapan pasti ada dasarnya, nah apa dasar Abraham berharap?
Tapi inilah yang Abraham lakukan:
Roma 4:18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”
Abraham tetap berharap juga, walaupun ia tahu keadaannya tidak memungkinkan. Ia berharap karena Tuhan yang berjanji. Imannya tidak menjadi lemah. Apakah ia tidak tau koindisi riilnya? Ia sangat tahu. Problem yang ia alami tidak sampai membuat ia tertekan, tidak membuat imannya lemah.
Ketika tidak ada dasar untuk berharap, inilah alasan yang paling kuat untuk berputus asa karena sudah putus pengharapan. Pengharapan tidak boleh lenyap satu titikpun. Apapun yang terjadi tidak boleh putus pengharapan.
Dengan kekuatan Roh Kudus kita akan mampu menjalaninya . Cara iblis menghilangkan harapan kita dengan cara membuat kita putus asa dan tidak mau capek bergumul dalam Tuhan.
Ibrani 11:6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
Dasar Pengharapan Kita
I Timotius 1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita,
II Korintus 1:20 Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.
Oleh pertolongan Roh Kudus kita akan melimpah dengan pengharapan. Mari mulai dengan hal-hal yang praktis.
Sejak bangun tidur apakah yang kita harapkan? Sepanjang hari yang kita jalani umumnya terlibat dengan rutinitas, itu sebabnya kita menghadapinya juga hanya dengan rutinitas
Iman yang dipenuhi dengan sukacita dan damai sejahtera oleh kekuatan Roh Kudus akan melimpah dengan pengharapan. Keseharian yang dihadapi jika tidak ada pengharapan itu artinya tidak ada gunanya selain hanya rutinitas saja.
Sebelum bekerja hadirkan dulu pengharapan.
Bagi yang berwirausaha, apa yang Saudara harapkan untuk meningkatkan omset? Jangan hanya berdoa secara umum agar Tuhan memberkati Saudara, munculkanlah angka (Rupiah) yang ingin Saudara harapkan.
Adakalanya kita sudah berusaha dengan baik bahkan bekerja keras, tapi kita tidak ada iman untuk apa yang kita harapkan.
Pengalaman iman yang lebih lagi jika kita mau hidup dalam dimensi iman. Oleh sebab itu kita butuh Roh Kudus untuk menghadirkan harapan itu
By : Pdt. R.F. Martino









