HIDUP YANG BERKEMENANGAN BERSAMA TUHAN
“Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?” 1 Yohanes 5:4-5
Kuasa kemenangan Kristus hendaknya bukan hanya sebatas pengetahuan tetapi menjadi pengalaman hidup kita. Banyak orang sudah mengetahui bahwa Yesus adalah Juruselamat tetapi apakah ia mengalaminya? Hidup berkemenangan ini harus kita alami dalam kehidupan kita di dunia. Dan hal ini tidak bisa dilepaskan dari “hidup oleh iman”.
Matius 17:14-20 “Ketika Yesus dan murid-murid-Nya kembali kepada orang banyak itu, datanglah seorang mendapatkan Yesus dan menyembah, katanya: “Tuhan, kasihanilah anakku. Ia sakit ayan dan sangat menderita. Ia sering jatuh ke dalam api dan juga sering ke dalam air. Aku sudah membawanya kepada murid-murid-Mu, tetapi mereka tidak dapat menyembuhkannya.” Maka kata Yesus: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu? Berapa lama lagi Aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!” Dengan keras Yesus menegor dia, lalu keluarlah setan itu dari padanya dan anak itu pun sembuh seketika itu juga. Kemudian murid-murid Yesus datang dan ketika mereka sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka: “Mengapa kami tidak dapat mengusir setan itu?” Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, — maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”
Inilah realita yang mereka alami. Dalam peristiwa diatas Yesus menegur ketidakpercayaan mereka dengan keras. Mengapa? Karena ketidakpercayaan adalah bagian dari kesesatan. Tanpa bermaksud menghakimi, kita melihat bahwa iman para murid bermasalah dan puncaknya pada saat kebangkitan Yesus, dimana awalnya mereka tidak percaya bahwa Yesus telah bangkit. Mereka memiliki konsep sendiri dalam beriman sehingga Yesus pernah berkata, “Jika Anak Manusia datang kembali apakah Ia akan menemukan iman di bumi?”.
Dalam kesempatan lain Yesus juga pernah menegur para murid dalam peristiwa riil saat seorang perwira datang kepada Yesus untuk memohon kesembuhan bagi hambanya. Sang perwira berkata kepada Yesus bahwa ia tidak layak menerima Yesus di rumahnya, ucapkan saja sepatah kata maka hambanya itu akan sembuh. Yesus berkata “Iman sebesar ini belum pernah Kujumpai diantara orang Israel.” Ini teguran yang keras sekaligus sebenarnya memalukan bagi para murid karena iman sang perwira melebihi iman para murid. Kemudian saat Yesus meredakan angin ribut, Yesus lagi-lagi mencela ketidakpercayaan para murid! Jadi kita melihat bahwa dalam banyak peristiwa Yesus mencela ketidakpercayaan mereka.
Gereja Tuhan saat ini harus mengoreksi pengajaran mereka tentang “iman” kepada jemaat. Dalam Alkitab memang dikatakan bahwa dengan iman kita bisa masuk dalam pengalaman-pengalaman kemustahilan. Namun yang banyak terjadi adalah banyak orang Kristen yang menggunakan imannya untuk mengatur Tuhan! Ini yang banyak diajarkan oleh gereja saat ini yaitu iman hanya sebatas jawaban doa. Banyak gereja mengajarkan jemaatnya menggunakan iman untuk mengatur Tuhan supaya menuruti keinginannya, dan tidak diberi pemahaman tentang apa itu Kedaulatan Tuhan. Akhirnya saat Tuhan tidak mengabulkan doa seseorang dan justru menjawabnya dengan cara yang berbeda maka banyak orang percaya yang menjadi kecewa. Bukan berarti kita anti doa. Kita harus berdoa dan kita boleh meminta kepada Tuhan, namun fokus kita bukan pada hal tersebut. Gunakan iman untuk menyenangkan hati Tuhan dengan menaati kehendak-Nya. Jika pemahaman seseorang akan iman sangat dangkal, maka saat antikris datang dan melakukan mujizat-mujizat besar, maka ia akan terseret.
Yesus berkata,”Jika kamu memiliki iman sebesar biji sesawi maka kamu dapat memindahkan gunung.” Namun dengan ayat ini gereja menggiring jemaatnya untuk terfokus pada hal-hal supranatural/spektakuler, misalnya memindahkan gunung Nokilalaki Palolo ke Donggala. Jika kita melihat mujizat yang dilakukan Yesus, Ia tidak pernah memindahkan gunung, lalu mengapa Ia memberi contoh hal yang tidak pernah Ia lakukan? Maka disini kita harus memahami bahwa yang dimaksud Yesus iman itu harus dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga nama Tuhan dipermuliakan. Hal yang tidak bisa diatasi dengan hukum logika, barulah diselesaikan melalui pengalaman supranatural.
Markus 16:9-14 “Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya Yesus pernah mengusir tujuh setan.Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis.Tetapi ketika mereka mendengar, bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.
Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota.Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya.Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kedegilan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. ”
Saat Yesus mati, para murid sangat berkabung dan yang aneh 11 murid Yesus yang laki-laki tidak pergi ke kubur Yesus namun justru para wanita-wanita Yerusalem. Lalu setelah dikabarkan bahwa Yesus telah bangkit, para murid laki-laki tidak percaya padahal Yesus sudah berkali-kali menyampaikan bahwa Ia akan mati dan bangkit kembali!
Inilah yang terjadi. Banyak orang percaya yang justru menyukai menangis dan mencurahkan perasaannya di hadapan Tuhan lalu merasa lega, namun tidak menggunakan imannya untuk menghadapi realita hidup. Jadi kita menemukan bahwa para murid saat itu adalah orang percaya namun tidak percaya. Inilah yang juga banyak terjadi pada orang percaya: Saat harus menggunakan iman, mereka menggunakan logika (seperti kasus ini mereka tidak percaya terjadi mujizat bahwa Yesus telah bangkit) dan dimana saat harus menggunakan logika/akal sehat, mereka menggunakan iman (maka orang itu menjadi ekstrim atau “nge-roh”).
Dalam peristiwa yang lain lagi, para murid menyaksikan Yesus berjalan diatas air. Petrus lalu meminta kepada Yesus supaya Yesus memanggilnya sehingga ia pun bisa berjalan diatas air. Yesus mengabulkan permintaannya dan Petrus bisa berjalan diatas air. Misalkan saat itu Andreas yang mencoba berjalan di atas air maka Andreas pasti akan tenggelam karena Yesus tidak menyuruh Andreas. Yesus secara spesifik hanya berkata kepada Petrus untuk datang, bukan kepada Andreas. Maka dari sini kita memahami bahwa kita tidak boleh menjadikan pengalaman iman orang lain sebagai patokan mutlak bagi diri kita.
Kita harus membedakan mana iman yang menembus kemustahilan dan mana hukum logika yang dimaksimalkan. Ada banyak orang yang menggunakan logika yang tampaknya sampai kepada titik yang mendekati kemustahilan, tetapi ternyata setelah dikaji lebih dalam ternyata masih didalam hukum logika. Sebagai contoh pembangunan menara yang tertinggi di Taiwan dimana Taiwan merupakan negara rawan gempa. Awalnya banyak arsitek yang menganggap ide itu tidak masuk akal. Namun setelah dikaji ternyata hal itu mungkin.
Setiap kita harus memahami bahwa kita bisa saja dibawa Tuhan kepada pengalaman kemustahilan dimana hukum logika sudah tidak mampu menanganinya. Namun jika itu terjadi, Tuhan akan bekerja menurut cara-Nya sehingga nama-Nya yang akan dipermuliakan. Sayangnya kebanyakan orang percaya justru tidak siap menerima pengalaman kemustahilan, karena ternyata pengalaman kemustahilan itu berkaitan dengan peristiwa yang tragis sedangkan banyak orang memiliki pemahaman bahwa pengalaman kemustahilan adalah dengan menjadi “tukang sulap” dan melakukan hal-hal spektakuler seperti memindahkan gunung, membangkitkan orang mati, dan akhirnya nama dirinya yang dipermuliakan.
Jika kita membaca lebih lanjut sampai ke Kisah Para Rasul, kita lagi-lagi akan menemukan iman yang bermasalah. Jemaat berdoa agar Petrus dibebaskan dari penjara. Saat Tuhan melakukan mujizat-Nya dan Petrus bebas dengan cara ajaib, ia datang ke jemaat itu dan mengetuk pintu. Seorang hamba perempuan bernama Rode mendengar suara Petrus dan memberitahu kepada jemaat yang sedang berdoa bahwa itu adalah Petrus. Namun jemaat berkata, “itu malaikatnya”. Jemaat ini adalah orang-orang yang imannya bermasalah. Mereka lebih siap berdoa daripada siap menerima jawaban doa.
Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Kita harus memahami bahwa Tuhan mengikat diri-Nya dengan janji. Karena itu ikat iman kita dengan janji Tuhan dan milikilah keyakinan yang teguh kepada janji Tuhan.
Jika kita membaca kitab Ibrani 11 ayat 2 sampai ayat 35a, kita akan membaca daftar pahlawan-pahlawan iman yang mengalami pengalaman-pengalaman iman yang spektakuler. Namun jika kita melanjutkan membaca ayat 35b dan seterusnya, kita akan menemukan bahwa daftar pahlawan-pahlawan iman di ayat berikutnya mengalami hal yang sebaliknya: mereka tidak mengalami peristiwa/pengalaman spektakuler tetapi justru mengalami penderitaan karena ketaatan melakukan Firman Tuhan.
Ibrani 11:35b-40 “Tetapi orang-orang lain membiarkan dirinya disiksa dan tidak mau menerima pembebasan, supaya mereka beroleh kebangkitan yang lebih baik. Ada pula yang diejek dan didera, bahkan yang dibelenggu dan dipenjarakan. Mereka dilempari, digergaji, dibunuh dengan pedang; mereka mengembara dengan berpakaian kulit domba dan kulit kambing sambil menderita kekurangan, kesesakan dan siksaan.
Dunia ini tidak layak bagi mereka. Mereka mengembara di padang gurun dan di pegunungan, dalam gua-gua dan celah-celah gunung.Dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik.Sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita; tanpa kita mereka tidak dapat sampai kepada kesempurnaan.”
Dari ayat-ayat ini kita memahami bahwa iman itu perlu menjadi dewasa. Pahlawan-pahlawan iman ini tidak sempat menikmati janji-janji Allah namun mereka tetap taat dan setia tanpa pamrih. Inilah nilai tertinggi dari iman. Dengan demikian kita menemukan bahwa iman bukan digunakan untuk mengatur Tuhan namun ketaatan kepada Tuhan dalam segala hal.
Karena itu kita harus belajar mengucap syukur dalam segala hal/kondisi karena ada kuasa didalam mengucap syukur. Mengucap syukur adalah belajar menerima kondisi riil yang sedang kita hadapi. Seorang ibu datang kepada hamba Tuhan karena anak ibu itu menjadi penari telanjang. Hamba Tuhan itu menuntunnya untuk berdoa mengucap syukur atas keadaan anaknya. Ibu itu menolak! Bagaimana mungkin mengucap syukur karena memiliki anak seorang penari telanjang?
Padahal “Menerima” berbeda dengan “Menyetujui”. Kita memang tidak menyetujui keadaan seperti ibu itu namun kita harus belajar menerima kondisi yang terjadi dan karena itu kita mengucap syukur. Jika kita tidak menerima kondisi riil maka itu justru menciptakan tekanan dalam diri kita. Namun saat kita mengucap syukur, kita menjadi tenang sehingga kita dapat berdoa seperti yang Firman Tuhan katakan.
Ada kalanya dalam hidup, anggota keluarga kita mungkin melakukan hal-hal yang memalukan seperti contoh ibu diatas. Mungkin anak, saudara, orangtua, atau pasangan kita. Dan yang mungkin terjadi kita seakan tidak mau lagi menerima mereka. Padahal sejelek-jeleknya mereka, mereka tetaplah anak, saudara, orangtua, suami/istri kita. Tuhan adalah Bapa kita, bayangkan jika Tuhan memperlakukan kita seperti itu, tidak mau lagi mengakui kita sebagai anak karena kita berulang-ulang menyakiti hati-Nya maka tidak satupun dari kita yang akan selamat.
Saat ibu itu belajar mengucap syukur, mujizat terjadi. Saat tengah malam, tiba-tiba anak perempuannya pulang rumah lebih cepat, menangis, dan memohon ampun kepada ibunya. Apa yang terjadi? Ternyata pada malam itu, di klub malam itu datang beberapa orang penginjil dan memberitakan injil termasuk kepada anak ibu itu. Malam itu anaknya bertobat melalui pelayanan dari para penginjil.
Saat kita mengucap syukur, maka Tuhan bekerja dengan cara-Nya untuk menolong kita. Tetaplah teguh dalam iman, dalam pengiringan kita kepada Tuhan.(MS)
By : Pdt. R. F. Martino









