MILIKILAH PENGALAMAN, HIDUP BERSAMA ROH KUDUS (3)
GppsPalu – Galatia 2:19-20 “Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku”.
Sebagai orang percaya yang sudah dibaptis Roh Kudus, kita harus hidup PENUH dengan Roh Kudus.
Setiap aktivitas manusia secara lahiriah dipimpin oleh unsur jiwani dan umumnya rohnya hanya dipakai bernafas. Tetapi manusia yang sudah lahir baru dan menjadi ciptaan baru, ditetapkan Tuhan untuk hidup oleh Roh / hidup oleh iman di dalam tubuh manusia lahiriah. Jika kita lalai hidup oleh Roh, unsur jiwani kita yang akan berfungsi mengelola hidup kita sehari-hari yang mudah sekali terpengaruh dengan situasi lingkungan (orang-orang disekitar dan kondisi) yang mudah berubah-ubah.
Roh Kudus ada di dalam diri kita jadi kita harus belajar hidup bergaul dengan Roh Kudus.
Lagu “it is well, it is well oh my soul” (damailah, damailah jiwaku) ditulis oleh seorang hamba Tuhan yang ditugaskam melayani di negara yang jauh dari negara asalnya. Lalu ia memanggil istri dan anak-anaknya untuk datang. Tetapi suatu peristiwa yang mengejutkan terjadi. Kapal yang ditumpangi keluarganya terkena badai dan akhirnya tenggelam. Roh Kudus memberi ilham kepadanya untuk menulis lagu ini “damailah, damailah jiwaku”. Inilah pengalaman, hidup bersama Roh Kudus.
Dari ayat diatas, Paulus memberitahu cara untuk hidup dalam hidup yang baru.
“.. namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah…”
Hidup oleh iman juga dipertegas Tuhan dalam Roma 1:16-17 “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.
Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.””
Jika sebagai orang percaya kita menjalani hidup baru dengan cara yang lama, bukan dengan cara yang baru, maka kita akan menyiksa diri kita sendiri, Firman Tuhan akan terasa seperti penyiksaan pada diri kita. Tetapi kita harus hati-hati, banyak juga orang percaya yang menjalani hidup baru dan mencapai kekudusan tetapi dengan kekuatan diri sendiri, dan hasilnya adalah semua nilai-nilai rohani tersebut menjadi kebanggaan dirinya dan akhirnya ia jatuh dalam dosa kesombongan.
Orang yang hidup oleh Roh tidak dirasuk Roh Kudus (kita sadar 100%). Berbeda dengan orang yang dirasuk oleh roh jahat, orang tersebut tidak sadar, bisa melakukan hal-hal yang diluar kewajaran misalnya makan 1 loyang. Tetapi Roh Kudus bekerja didalam kita yaitu manusia lahiriah, kita tetap sadar 100%, unsur manusiawi kita tetap ada. Banyak orang yang menjadi orang yang “nge-Roh” yang sedikit-sedikit berkata “Tuhan bilang….” atau “Tuhan berbicara….”. Ada sebagian hamba Tuhan dan pelayan Tuhan yang membawa dirinya menjadi orang yang “nge-Roh”. Apakah berkata “Tuhan bilang” atau “Tuhan berbicara” itu salah? Tidak, karena memang Tuhan masih berbicara sampai sekarang, tetapi kita harus hati-hati. Saat Roh Kudus bekerja, unsur manusiawi kita tidak ditaklukkan pada penguasaan Roh Kudus sehingga unsur lahiriah kita masih tetap ada. Saat menyampaikan pesan Tuhan, kita harus benar-benar bersih. Jika ada celah atau dosa, maka akan terjadi pencemaran oleh unsur jiwani kita. Karena itu banyak orang yang tidak bisa membedakan manakah yang berasal dari Roh Tuhan, roh manusia, atau roh iblis. Sehingga ada pesan dari Roh Tuhan dikira dari manusia, dan ada pernyataan dari roh manusia dipikir berasal dari Roh Tuhan. Hanya orang-orang yang diberikan karunia membedakan bermacam-macam roh yang bisa membedakannya.
Kita akan membuktikan bahwa seorang rasul yang sudah dibaptis Roh Kudus juga masih bisa jatuh dalam dosa.
Galatia 2:11-14 “Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah.
Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat.
Dan orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka.
Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup secara kafir dan bukan secara Yahudi, bagaimanakah engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup secara Yahudi?” ”
Mengapa bisa seorang rasul seperti Petrus (Kefas) yang melakukan tanda-tanda ajaib oleh kuasa Roh Kudus bisa jatuh dalam dosa kemunafikan? Karena setiap manusia yang masih hidup masih dipengaruhi oleh unsur jiwani. Unsur jiwani kita memang tidak steril terhadap dosa, siapapun orangnya. Begitu tidak hidup dipimpin oleh Roh maka orang tersebut menjadi tidak steril terhadap dosa.
Karena itu jangan mendewakan / mengkultuskan siapapun termasuk hamba Tuhan dan menjadikannya “tuhan allah kedua” karena jika suatu saat kita menemukan kekurangannya, kita bisa kecewa dan memusuhi Tuhan. Banyak orang percaya yang kecewa terhadap hamba Tuhan/pelayan Tuhan yang diidolakan dan akhirnya kecewa serta memusuhi Tuhan.
Petrus adalah rasul senior tetapi jatuh dalam dosa kemunafikan dan menyeret Barnabas dalam kemunafikannya. Saat ini bukan hanya ada kenakalan remaja tetapi juga banyak kenakalan orang tua. Banyak dosa-dosa kesenioran dan akibatnya besar. Setiap hari di TV kita disuguhkan berita tentang kenakalan dan kejahatan orang tua. Sebagai orang tua/otoritas, harus berhati-hati supaya tidak jatuh dalam dosa ini. Sebagai anak-anak kita harus tetap menghormati otoritas dan mendoakan mereka.
Dari kisah Petrus dan Paulus diatas, kita menemukan bahwa hasil berikutnya dari pengalaman hidup bergaul dengan Roh Kudus adalah “Kepekaan”.
Roma 8:1-6 “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.
Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.
Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging,
supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh.
Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh.
Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”
Jadi hidup oleh Roh bukanlah karena kita takut Tuhan pukul, seakan Tuhan itu kejam. Tetapi kita melakukan ketaatan harus didalam damai sejahtera.
Roma 8:8-10 “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.
Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.
Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.”
Jadi format lahiriah didalam tubuh kita harus diubah ke format alkitabiah supaya kita bisa hidup oleh Roh / hidup oleh iman. Roh Kudus yang tinggal didalam kita jangan hanya supaya kita bisa berbahasa roh, tetapi agar kita bisa bergaul dan dipimpin oleh Roh Kudus.
Roma 8:11 “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.”
Jadi kita bisa melihat betapa hebat kuasa Roh Kudus yang membangkitkan tubuh kita yang fana untuk melakukan Firman Tuhan. Kita harus tetap bergumul dan berjuang untuk hidup oleh iman. Karena secara tubuh lahiriah memang kita lemah. Tetapi Roh Kudus akan menolong jika kita meminta untuk ditolong.
Jika kita melihat ada orang-orang yang jatuh atau gugur dari hidup oleh iman maka kita jangan membencinya dan menjadi hakim bagi orangnya, tetapi kita harus mendoakannya.
Dalam berusaha hidup oleh Roh, jangan sekali-kali membuat hal-hal rohani sebagai kebanggaan karena jika semua nilai-nilai rohani menjadi kebanggan, Tuhan akan mengizinkan aib menimpa orang tersebut supaya kemuliaan yang dicuri oleh orang tersebut kembali kepada Tuhan. Jadi biarlah kita menjalani hidup yang baru ini dengan sungguh-sungguh dipimpin oleh Roh Kudus.
Written by Pdt. DR. R. F. Martino









