This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Kebaktian Pembukaan Sekolah Pelayanan Palu Angkatan XI & Sekolah Training Misi Angkatan II Palu, 28 Juni 2015 KAMI HAMBA-MU

GppsPalu – Pada tahun 1989, Tuhan memberikan visi untuk membuka Sekolah Pelayanan Palu (SPP). Sekolah ini dimulai dengan off campus yang diikuti oleh berbagai denominasi gereja. Puji Tuhan, setelah beberapa angkatan yang diwisuda, Tuhan membuka jalan untuk on campus. Kampus Sekolah Pelayanan Palu yang juga sekaligus berada di kompleks Bukit Doa Karmel, Bakubakulu.

Sekolah Pelayanan Palu didirikan untuk mendidik calon-calon hamba Tuhan. Setelah beberapa waktu berjalan, maka tuntutan panggilan untuk menjawab apa yang Tuhan Yesus katakan bahwa tuaian banyak tapi pekerja sedikit, maka dibukalah Sekolah Training Misi Palu (STMP) untuk men-training calon hamba Tuhan yang secara khusus berada di pedalaman yang sulit dijangkau. Tahun ini memasuki angkatan yang ke-2.

Kita bersyukur ada pribadi yang meresponi panggilan-Nyauntuk menjadi hama Tuhan sepenuh waktu. Sekolah Pelayanan Palu adalah sekolah yang sedikit unik, sekolah ini tidak mencari murid tapi mencari hamba Tuhan yang bersedia menjadi hamba Tuhan dan bukan menjadi pendeta. Pendeta adalah jabatan kehormatan. Tidak semua hamba Tuhan itu pendeta, sebab ada banyak yang dikerjakan oleh hamba Tuhan yang berhati hamba. Sekolah Pelayanan Palu hanya bersedia membimbing mereka yang bersedia melayani Tuhan. Tidak semua pendeta itu adalah hamba Tuhan. Gelar kependetaan dipakai

Jemaat Tuhan di tempat ini telah mengambil bagian untuk meresponi visi Allah dari tahun 1989 sampai saat ini. Menopang sekolah ini baik melalui dana, pemikiran, dll. Semua yang kita kerjakan tidak ada yang sia-sia.

Sehubungan dengan ibadah pembukaan Sekolah Pelayanan Palu dan Sekolah Training Misi Palu kita diperhadapkan dengan tema “Kami Hamba-Mu”. Kita semua adalah hamba Tuhan, jadi tema ini bukan hanya dikhususkanbagi siswa/I SPP dan STMP, tapi tema ini berlaku bagi kita semua.

Arti kata hamba

Hamba artinya doulos yang mempunyai makna budak belian. Berarti hamba Tuhan adalah budak beliannya Tuhan.

Begitu kita menyentuh pelayanan dan melaksanakannya kita harus menyadari bahwa keberadaan kita sebagai hamba Tuhan, baik secara fulltimer (sepenuh waktu) maupun tidak fulltimer. Kita harus melayani dan bekerja seperti Firman Tuhan katakan dalam Kolose 3:23: “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia”.

Kualitas kerja seseorang dinilai dari cara kerjanya. Apa yang teraplikasi dala keseharian termasuk pelayanan itulah yang menjadi kualitas jati diri kita. Jati diri kita dengan sendirinya akan menyatakan kualitas pelayanan kita, begitupun sebaliknya

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai”. I Kor. 4:1-2

Apakah kita sudah layak disebut sebagai hamba Tuhan? Hal ini menjadi tantangan buat kita. Kata hamba Tuhan hanya sekedar menjadi kata sebutan saja ataukah benar-benar merupakan suatu tanggungjawab yang dipertanggungjawabkan?

“Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus,…”

Ayat ini berbicara dalam kehidupan nyata bukan secara vertical. Masa saat ini adalah masa yang sangat memprihatinkan, makna kependetaan semakin kabur. Kependendetaan/kehamba Tuhan-an semakin murahan. Hal ini sangat bertentangan dengan kata Alkitab bahwa seorang hamba Tuhan adalah seorang yang dipercayakan rahasia Allah. Hal ini menunjukkan bahwa kependetaan/kehamba Tuhan-an bukan sesuatu yang murahan. Belakangan ini kependetaan sedang dilanda “gila title/gelar”. Kependetaan yang diikuti dengan gelar yang diperoleh dengan cara yang tidak sesuai dengan aturan yang ada. Gelar yang didapat dengan cara yang sangat cepat dan abal-abalan dan ketika diminta pertanggungjawaban tidak bisa memberi jawaban yang jelas. Kesarjananaan yang harusnya diporelah dengan suatu perjuangan yang gigih, bisa diperoleh dengan cara yang sangat cepat dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hal inilah yang membuat kependetaan menjadi tercemar, kesakralan kependetaan menjadi tercemar dengan gelar yang disandangnya. Hal ini akan berpengaruh kepada jemaat yang digembalakan, pencemaran ini bisa terjadi melalui penumpangan tangan.

Seorang hamba Tuhan adalah orang yang dapat dipercaya

“…yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah”.

Rahasia adalah hal-hal yang khusus yang tidak bersifat umum atau sesuatu yang bernilai, yang tidak pernah dibocorkan keluar. Jadi seorang hamba Tuhan adalah orang yang harus dapat dipercaya dan mempunyai integritas/kejujuran. Hal ini tidak gampang dan tidak sembarangan. Cukup lama kependetaan tidak “dipandang” bahkan oleh kalangan Kristen. Karena Jati diri hamba Tuhan itu sendiri tidak mempunyai mencerminkan Kristus. Harus dipahami bahwa kependetaan bukan murahan. Mengapa orang lain menganggapnya murahan? Karena jati dirinya juga sudah rusak.

Dalam sebuah pengalaman saya ketika masuk di sekolah Alkitab. Sekolah Alkitab ini berada di bawah salah satu organisasi gereja, yang anehnya anak kaum muda di gereja itu sangat tidak suka dengan keberadaaan siswa/i sekolah Alkitab, bahkan dianggap remeh, sehingga ada jurang pemisah antara siswa/i sekolah Alkitab. Saya dan beberapa teman berusa mencari tahu apa penyebab semuanya ini dengan bergaul langsung dengan kaum muda gereja tersebut. Tidak mudah untuk masuk ke dalam lingkungan mereka. Setelah sekian lama, barulah ada yang menegur, tapi sangatlah terbatas. Kami membangun jembatan komunikasi. Ternyata kedua-duanya ada benar dan ada salahnya. Waktu itu ada seorang siswa yang dijadwalkan khotbah di ibadah kaum muda. Dalam khotbahnya ia memberikan khotbah yang langsung dipraktekkan (memakan roti yang dipakai untuk ilustrasi khotbah). Hal ini tidak bisa diterima oleh kaum muda di gereja tersebut dan langsung mengirimkan surat teguran pada kantor sekolah Alkitab. Dan siswa yang melakukan tersebut tetap bertahan dan tidak merasa bersalah, dia bertahan dalam kekeliruannya. Mulai saat itu, tidak ada siswa/i sekolah Alkitab yang dijadwalkan untuk berkhotbah.

Sekian lamanya, barulah ada penjadwalan membawakan khotbah. Salah satu teman saya diberikan tugas untuk berkhotbah, dan kemudian khotbahnya mendapat respon yang baik dari kaum muda di gereja tersebut.

Banyak orang tua yang tidak mendukung anaknya, ketika ada anaknya yang rindu menyerahkan diri secara fulltime. Banyak orang tua berpikir bahwa menjadi hamba Tuhan adalah status yang hina. Bahkan ada yang mempersembahkan anaknya, jika anak tersebut dianggap tidak mempunyai masa depan yang baik. Memberikan Tuhan yang sisa-sisa saja. Hal ini sangatlah tidak bijak.

Dalam Alkitab, seorang yang ingin menjadi penilik jemaat adalah orang yang benar-benar memberikan yang terbaik. Ketika seseorang menyambut panggilan Tuhan dan menyerahkan hidup untuk Tuhan, adalah pribadi yang mulia, jangan tunggu keadaan terpuruk baru mau menyerahkan diri danmasuk sekolah Alkitab.

“Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus”. II Korintus 4:5

Inilah keprihatinan yang melanda gereja Tuhan. Seorang hamba Tuhan tidak akan memberitakan hal yang lain, tapi ia hanya akan memberitakan Kristus, terpusat pada Kristus.

Ada banyak gereja yang memberitakan pengajarannya sendiri, berpusat pada penyembahan dan puji-pujian. Kristus tidak boleh digantikan oleh pengajaran apapun. Puji-pujian dan penyembahan yang hebat tidak boleh menggantikan Kristus dalam gereja. Da beberapa gereja yang sangat mengagungkan pengajarannya. Kita tidak bisa memaksakan karunia bekerja dankitapun tidak boleh melebihkan sesuatu lebih dari Kristus

”Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus”. Galatia 1:10

Seorang hamba Tuhan tidak dapat dibeli dengan apapun juga, harus menjaga komitmen imannya agar tetap teguh tidak tergoyahkan dengan apapun juga. Seorang hamba Tuhan juga harus bisa memisahkan factor sungkan dan factor prinsip iman. Sikap sungkan kita tidak boleh menghancurkan prinsip iman kita. Setiap keputusan ada pada kita. Kita tidak boleh bertindak arogan tapi dapat menjawabnya dengan tegas tapi tetap santun.

Peganglah teguh untuk setiap panggilan Tuhan? Iblis berusaha menggugurkan iman percaya, makanya tidak sedikit orang yang gugur dalam masa pendidikan atau masa parktek atau bahkan ketika sudah berada di tempat pelayanan yang Tuhan tetapkan. Iblis tidak pernah kehilangan cara untuk menggugurkan. Mental juga harus dipersiapkan selama pendidikan berlangsung. Dan kita sebagai jemaat perlu mendukung siswa/i Sekolah Pelayanan Palu dan Sekolah Training Misi Palu agar mereka diberikan kekuatan untuk menjalani panggilan Tuhan sampai Tuhan Yesus datang. Amin

Written by Pdt. DR. R. F. Martino