This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

IMAN DAN PENGALAMAN IMAN (4): UJIAN IMAN

Roma 14:23 “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.”

1 Yohanes 5:4-5 “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?”

Minggu ini kita akan mempelajari topik tentang Ujian Iman. Saat seseorang baru pertama kali percaya Yesus, ia mengalami pengalaman iman awal yaitu kasih Allah dalam bentuk kelembutan seperti kedahsyatan Tuhan, doa yang cepat dikabulkan Tuhan.
Pengalaman ini adalah dasar bagi seseorang untuk mengenal akan kedahsyatan Tuhan. Namun pengalaman berikutnya setelah ia semakin bertumbuh dalam iman adalah ujian iman berupa nyala api siksaan.

1 Petrus 4:12 “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.”

Ujian iman ini membingungkan orang percaya. Bukankah Tuhan itu baik? Bukankah Tuhan sudah berjanji? Mengapa seolah-olah janji Tuhan tidak terjadi? Bukankah Tuhan mendengar doa? Ya, Tuhan mendengar setiap doa namun bagaimana Tuhan menjawab itu tergantung kedaulatan Tuhan. Jika orang percaya tidak memahami hal ini sebagai ujian iman, maka mereka akan heran. Karena itu Petrus berkata, “Janganlah kamu heran”. Namun yang lebih lanjut adalah orang percaya tersebut bisa kecewa kepada Tuhan. Padahal ada maksud Tuhan dalam ujian iman.

Ibrani 12:5-6 “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.””

Dari ayat diatas kita memahami bahwa Tuhan menghajar dan menyesah orang yang dikasihi dan diakui-Nya sebagai anak. “Mengajar” beda dengan “Menghajar”. “Mengajar” itu dengan kata-kata, “Menghajar” dengan pukulan/cambukan. Tidak ada orangtua yang tidak pernah “menghajar” anaknya. Dalam pendidikan formal di sekolah, ada ujian SD, SMP, SMA. Jika lulus ujian barulah si murid naik ke jenjang pendidikan berikutnya.
Begitupun ujian iman. Kita tidak perlu berusaha menghindar dari ujian iman karena tidak seorangpun yang bisa luput. Namun setiap orang yang lulus dari ujian tersebut akan naik ke jenjang berikutnya.

APA TUJUAN UJIAN IMAN?
1 Petrus 1:6-7 “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”

Tujuan ujian iman adalah untuk membuktikan kemurnian iman kita sampai sejauh mana ketaatan kita: Apakah ketaatan kita masih ketaatan bersyarat atau sudah mencapai ketaatan tanpa syarat. Ketaatan bersyarat adalah kita melakukan bagian kita dan Tuhan akan melakukan bagian-Nya (menggenapi janji-Nya). Sedangkan yang Tuhan kehendaki agar kita mencapai ketaatan tanpa syarat seperti di Ibrani 11 dimana tetap taat sekalipun tidak menerima yang Tuhan janjikan. Mengapa bisa? Karena kita mencintai Tuhan.

Iman orang percaya umumnya hanya siap untuk hal-hal sehari-hari. Tetapi kita harus mempersiapkan iman kita untuk sesuatu yang luar biasa, yang tidak pernah kita duga:
* Orang yang tidak kita duga ternyata melakukan sesuatu yang jahat pada kita.
* Disakiti anak sendiri lebih menyakitkan daripada disakiti oleh anak tetangga.
* Disakiti suami/istri tercinta. Hal ini dapat membuat kita kecewa / tawar hati.

APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
1 Petrus 4:13-14 “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.”

Saat menghadapi ujian iman ini, Firman Tuhan berkata, “Bersukacitalah!”. Saat menghadapi nyala api siksaan, kadang kita berpikir bahwa mujizat itu hanya pada saat Tuhan melepaskan kita dari pergumulan, padahal mujizat juga terjadi jika kita bisa bersukacita di dalam ujian iman. Bisakah kita tidak mendendam saat disakiti oleh orang lain? Jika bisa, maka itulah mujizat! Saat menghadapi ujian iman, Roh Allah yang ada di dalam kita yang akan menguatkan kita.

1 Petrus 4:15-16 “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.”

Tuhan juga memperingatkan kita supaya penderitaan yang kita alami bukan penderitaan yang disebabkan karena kita berbuat dosa namun karena kita melakukan Firman Allah.

Ibrani 12:7-11 “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

Ujian iman hadir untuk membersihkan kita dari semua pencemaran iman. Orang percaya yang tidak mengalami didikan Tuhan adalah “anak-anak gampang” (Terjemahan Lama: anak-anak haram). Jika kita tidak memahami tujuan ujian iman maka rohani kita dan pelayanan kita menjadi lemah. Saat seorang percaya mengalami kelemahan seperti itu, umumnya orang mencari penyebabnya, dan begitu dia dapatkan penyebabnya adalah orang lain, maka ia menyalahkan orang lain atas apa yang ia alami. Tuhan memperingatkan kita: Jangan pernah menyalahkan orang lain atas kelemahan yang kita alami, karena Tuhan tidak berurusan dengan orang lain, namun Ia berurusan dengan diri kita!

Ibrani 12:12-13 “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.”

Tuhan menghendaki supaya kita menguatkan diri kita sendiri, jangan jadikan orang lain sebagai alasan kita menjadi lemah. Dalam Yudas 1:20 Tuhan memerintahkan kita untuk membangun diri kita sendiri. Jangan bergantung pada orang lain. Saat kita lemah dan terjatuh, bangkitlah! Kuatkan kembali tangan dan lutut kita yang goyah! Sumber kekuatan kita berasal dari Tuhan sendiri.

ADA JALAN YANG LEBIH BAIK!
2 Korintus 13:5 “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.”

Inilah jalan yang lebih baik. Tuhan memberi kesempatan untuk kita menguji diri sendiri sehingga tidak perlu ada sesuatu yang luar biasa terjadi dalam hidup kita.
Apa yang mau kita uji? Dalam hal hidup oleh iman yaitu hidup dalam ketaatan tanpa syarat karena kita mengasihi Tuhan.

Latih diri kita untuk menguji diri sendiri dalam hal ketaatan dalam hidup sehari-hari, dengan demikian kita telah menguji diri kita. Kehidupan kita dalam setiap harinya akan ada realitas yang hadir dihadapan kita namun disaat yang sama juga hadir Firman. Saat Firman hadir maka taatilah. Setiap realitas hidup yang terjadi, jadikanlah sebagai realitas iman. Taatilah Firman Tuhan maka iman kita akan terus bertumbuh.

By. : Pdt. R.F. Martino