IMAN DAN PENGALAMAN IMAN (3)
Roma 1:17 “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”
1 Yohanes 5:4-5 “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? ”
Saat sebelum menjadi orang percaya kita hidup dalam 1 dimensi yaitu dimensi lahiriah, dan dimensi lahiriah ini yang mudah sekali diterobos oleh iblis. Namun saat kita menjadi orang percaya, adalah ketetapan Tuhan bahwa setiap orang percaya hidup oleh iman, maka seharusnya kita hidup dalam dimensi iman. Jika sebagai orang percaya kita tetap bertahan untuk menjalani hidup dalam dimensi lahiriah saja, maka kita menyiksa diri kita sendiri karena semua ketaatan kepada Tuhan adalah ketaatan di dalam tekanan karena takut mendapat hukuman dari Tuhan. Namun jika kita hidup oleh iman / dalam dimensi iman maka kita akan mengalami pengalaman-pengalaman iman!
Bentuk-bentuk pengalaman iman:
1. Pengalaman iman akan kedahsyatan Allah.Pengalaman awal kita mengenal Kristus adalah pengalaman akan kedahsyatan Tuhan. Saat kita berdoa, cepat sekali Tuhan menjawab doa kita. Selain itu, kedahsyatan Tuhan ini juga bisa berbentuk mujizat. Sayangnya banyak orang menganggap bahwa hidup oleh iman itu mengenai mujizat saja. Padahal hidup oleh iman bukan hanya mengenai mujizat / doa yang dijawab melainkan melakukan Firman Tuhan. Selain itu, orang yang menginginkan mujizat seringkali tidak menyadari bahwa mujizat itu baru hadir setelah ada peristiwa-peristiwa tragis, misalnya vonis dokter mengenai suatu penyakit, dll. Jadi jika seseorang ingin mengalami mujizat, ia harus terlebih dulu mengalami peristiwa-peristiwa tragis.
2. Pengalaman iman tentang ketaatan. Setiap janji Tuhan diikat dengan ketaatan, yaitu saat kita melakukan bagian kita untuk taat melakukan Firman Tuhan maka Tuhan melakukan bagian-Nya memberkati kita. Namun yang lebih berkualitas lagi adalah taat sekalipun tidak mendapatkan penggenapan janji Allah di dunia ini. Orang-orang yang mengalami hal ini juga termasuk dalam kategori “pahlawan-pahlawan iman” (Ibrani 11).
3. Pengalaman iman tentang perbuatan iman. Saat kita dibaptis Roh Kudus, Ia akan memberi kita kemampuan untuk melakukan kebenaran Allah dalam hidup kita. Secara alamiah format yang mengontrol hidup manusia adalah unsur jiwani. Namun setelah menjadi orang percaya, formatnya berbeda: yaitu unsur iman. Untuk mengubah format alamiah ke format yang baru ini tidak otomatis. Maka tempat kita melatih diri hidup oleh iman adalah kehidupan kita sehari-hari.
Galatia 2:20 “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Dari ayat diatas Paulus memberi teladan bahwa setiap orang percaya yang masih hidup di dalam tubuh jasmaninya, ternyata BISA hidup oleh iman. Karena Tuhan tidak akan memberikan perintah yang tidak bisa kita lakukan.
Roma 8:11-13 “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.”
Dari ayat diatas, kita semakin memahami jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini: Bagaimana kita bisa hidup oleh iman secara manusia lahiriah? Bagaimana kita bisa membuktikan Roh Kudus ada di dalam diri kita secara manusia lahiriah? Rasul Paulus menjelaskan dengan cara yang sangat sederhana: hidup oleh iman adalah hidup oleh Roh. Bagaimana caranya? Yaitu kita memang masih hidup secara lahiriah, namun di dalam hidup kita yang kita hidupi/jalani di dalam tubuh kita, kita dipimpin oleh Roh Kudus, mematikan keinginan-keinginan daging.
Yakobus 2:14 “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?”
Ayat ini menjadi perdebatan diantara beberapa gereja. Ada gereja yang menganggap bahwa perbuatan tidak terlalu penting, menganggap sekali terima Yesus dan sudah selamat, akan tetap selamat sekalipun melakukan dosa. Yang kemudian berkembang lebih parah lagi yaitu pengajaran “Hyper Grace”. Sementara gereja-gereja yang lain menekankan bahwa iman harus disertai perbuatan.
Yakobus 2:15-16 “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? ”
Camkanlah: iman itu berkaitan dengan hal-hal lahiriah. Jadi iman dibuktikan bukan dalam angan-angan dan bukan dibuktikan dengan hal-hal rohani seperti berdoa, ibadah, pelayanan. Iman dibuktikan saat diperhadapkan dengan realitas hidup!
Melalui ayat diatas Alkitab langsung memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari bagaimanakah seharusnya iman disertai perbuatan iman. Namun pembuktian iman bukan hanya mengenai kegiatan-kegiatan sosial seperti contoh diatas. Karena intinya adalah semua yang kita hadapi dalam kehidupan riil, itulah yang menjadi pembuktian iman kita. Jangan menilai kerohanian seseorang hanya dari aktivitas rohaninya karena didalam gereja semua orang seperti malaikat. Pembuktian imannya dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari dimulai dari rumahnya. Yang paling tahu karakter seseorang adalah orang rumahnya, termasuk pembantu (helper)nya di rumah. Sesungguhnya melatih diri untuk melakukan Firman bisa dilakukan, hanya kita mau atau tidak. Ubahlah setiap pengalaman hidup kita menjadi pengalaman iman, karena iman selalu diperhadapkan dengan kondisi real dan dibuktikan dengan perbuatan iman. Kesimpulannya: Isi iman kita akan dibuktikan melalui perbuatan iman!
Ilustrasi: Ada seorang Kristen yang melalui suatu jalan. Tiba-tiba ia melihat ada pecahan beling yang hampir mengenai kakinya dan dengan segera ia menghindar dari beling itu. Ia bersyukur kepada Tuhan karena meluputkannya dari celaka, lalu ia melanjutkan perjalanan. Setelah itu lewatlah seorang biksu di jalan tersebut. Begitu sang biksu melihat ada pecahan beling, ia mengambilnya dan membuangnya ke tempat yang aman supaya tidak mengenai pejalan kaki berikutnya. Orang Kristen itupun bersaksi betapa dahsyat Tuhan meluputkannya dari celaka, apalagi ia mendengar sebelumnya ada orang yang terkena pecahan beling namun ia sendiri terluputkan. Bagaimana pendapat saudara mengenai orang Kristen pada ilustrasi diatas? Bisakah disebut perbuatan iman jika ia hanya menyelamatkan diri sendiri namun tidak peduli pada keselamatan orang lain? Etiskah ia bersaksi Tuhan meluputkannya dari bahaya sedangkan ada orang lain yang celaka?
Yakobus 2:19-22 “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”
Perbuatan-perbuatan iman ada beberapa bentuknya:
1. Melakukan Firman untuk hal-hal yang belum melampaui hukum logika
2. Melakukan Firman untuk hal-hal yang melampaui hukum logika.
Kita harus melatih diri sehingga terbiasa melakukan Firman tentang hal-hal umum dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita sudah terbiasa melakukannya, maka kita bisa jika Tuhan memerintahkan kita melakukan hal-hal yang diluar logika yaitu ketaatan tanpa syarat. Tuhan tidak memberi ujian melampaui kemampuan kita. Tetapi iblis mau melakukan berbagai cara agar kita kecewa dengan Tuhan dan undur dari Tuhan saat kita menghadapi masalah yang melampaui hukum logika. Saat menghadapi masalah yang melampaui hukum logika maka kita membutuhkan mujizat! Namun kita harus memahami bahwa mujizat tidak terjadi dengan sendirinya tetapi ada hal-hal yang harus dilakukan yaitu tindakan-tindakan iman oleh si penerima mujizat. Sebagai contoh: Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang dipaksa untuk menyembah patung Nebukadnezar. Mereka menolak untuk menyembah patung tersebut sekalipun ancamannya adalah hukuman mati. Secara manusia apa yang mereka hadapi sangat berat. Namun mereka bertiga sepakat dan berkata, “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
Inilah tindakan iman yang mereka lakukan. Maka rajapun menjadi sangat marah dan ia memerintahkan supaya dapur api dipanaskan sampai 7 kali lalu Sadrakh, Mesakh, dan Abednego pun dimasukkan ke dalam dapur api tersebut.
Saat mereka menghadapi masalah yang melampaui hukum logika inilah maka mujizat Allah dinyatakan! Ada malaikat Allah yang menyertai mereka dan merekapun selamat tanpa terbakar sedikitpun. Dari kisah ini kita juga memahami bahwa iman bukan hanya skedar keyakinan sungguh tetapi juga ketaatan tanpa syarat! Sayangnya banyak hamba Tuhan yang memberi penghiburan palsu: “Percaya saja pasti akan menerima”, “Kalau iman itu tanpa kata jika”, dll.
Setelah memahami semua ini, marilah kita melakukan Firman Tuhan yaitu iman kita harus disertai perbuatan-perbuatan iman dalam seluruh kehidupan kita.
By. : Pdt.R. F. Martino









