MENGANTISIPASI KEMAPANAN HIDUP (4)
1 Yohanes 2:15-17 “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”
Minggu ini kita akan melanjutkan belajar kebenaran Firman Tuhan mengenai apa yang telah kita pelajari beberapa minggu yaitu:
1. Memahami bahwa kemapanan hidup adalah rancangan Tuhan bagi setiap orang percaya. Tuhan menghendaki agar kita hidup mapan.
2. Sikap iman kita sebagai orang percaya adalah tidak perlu bercita-cita untuk menjadi kaya karena Tuhan sudah menetapkan setiap orang percaya untuk hidup mapan, dan kita harus berhati-hati supaya kita tidak melupakan Tuhan saat Tuhan membawa kita kepada kehidupan yang mapan. Saat Tuhan memberkati kita, itu hanyalah fasilitas supaya segala sesuatu yang kita kerjakan menjadi lancar. Namun yang banyak terjadi adalah orang percaya membuat hatinya menjadi “gudang barang/materi” sehingga segala hal duniawi tersebut menggantikan / mengambilalih posisi Tuhan dalam hatinya. Firman Tuhan berkata jika seseorang mencintai dunia maka kasih (AGAPE) akan Bapa tidak ada dalam diri orang itu. Seseorang yang tidak memiliki kasih AGAPE kepada Tuhan maka ia melakukan segala ketaatannya dibawah tekanan. Ia taat karena takut Tuhan hukum, bukan karena mengasihi Tuhan.
3. Tindakan kita dalam meresponi rancangan Tuhan adalah dengan melakukan 2 hukum:
Pertama, Hukum alamiah yaitu dengan cara:
a. Bekerja karena cara Tuhan menghadirkan uang dalam hidup kita melalui bekerja. Orang yang tidak mau bekerja janganlah ia makan. Melalui bekerja maka kita akan mendapatkan hasil.
b. Manajemen yang baik. Urus/kelola dan kembangkan dengan baik dengan segala hikmat akal budi. Jangan membuang waktu. Orang dunia saja mempunyai filosofi “Waktu adalah uang”. Kita memang tidak mau tertekan dengan uang namun kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu.
Karena itu camkan: “Jika kita sudah umur 40 tahun masih tinggal dirumah orangtua/mertua maka selamanya kita tidak akan punya rumah sendiri.” Mengapa? Karena saat umur 40 tahun kekuatan fisik dan pikiran kita melemah. Maka sebelum umur 40 tahun kita harus berjuang untuk mencapai kemapanan hidup seperti yang Tuhan rancangkan.
Kedua, Hukum Firman yaitu dengan melakukan Firman Tuhan yaitu mengembalikan milik Tuhan dan menabur.
Kita harus memahami bahwa IMAN BERSIFAT SANGAT PRIBADI. Jika si A menjadi penyebab kita menjadi lemah, maka Tuhan tidak berurusan dengan si A namun dengan diri kita mengapa kita menjadi lemah. Karena itu Tuhan memerintahkan kita dalam Yudas 1:20-21 “Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.” Begitupun karena iman itu bersifat sangat pribadi, janganlah kita menghakimi orang lain, karena itu bukan urusan kita namun urusan/hak Tuhan, apalagi jika orang tersebut mempunyai pergumulan hidup. Karena itu kita harus menjaga hati. Dalam Roma 14:23 “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.”
Hidup oleh iman adalah hidup melakukan Firman. Berarti SEGALA SESUATU YANG KITA LAKUKAN HARUS SESUAI FIRMAN. Sederhananya: jika kita tidak melakukan Firman, maka kita melakukan dosa. Saat kita bekerja dan mendapatkan hasil, maka dari hasil tersebut ada 10% yang merupakan milik Tuhan yang harus dikembalikan.
Maleakhi 3:10 “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Dari ayat diatas Tuhan berjanji akan melimpahkan berkat. Tuhan tidak hanya memberkati secukupnya namun BERKELIMPAHAN. Tuhan menantang kita untuk “mencobai Tuhan” dalam hal mengembalikan persepuluhan maka Tuhan akan memberkati sampai berkelimpahan. Sekalipun demikian, kita mengembalikan persepuluhan bukan karena mengharap balasan Tuhan. Lakukanlah dengan IMAN dan KASIH kepada Tuhan. Mengembalikan persepuluhan tidak membuat hamba Tuhan menjadi kaya, sebaliknya jika kita tidak mengembalikan persepuluhan tidak membuat hamba Tuhan menjadi miskin. Karena Tuhan bisa memberkati hamba Tuhan dengan berbagai cara. Tuhan memelihara Elia dengan cara mengirim roti melalui burung gagak. Padahal kita tahu bahwa burung gagak adalah burung yang najis. Berarti Tuhan bisa memberkati hamba Tuhan dengan berbagai cara bahkan bisa dari luar jemaat.
Jika kita tidak mengembalikan milik Tuhan, uang tersebut tetap tidak akan ada pada kita karena Tuhan akan datang ambil sendiri milik-Nya dengan berbagai cara. Setelah mengembalikan milik Tuhan, kita harus memahami hal berikutnya: Mengapa Tuhan memberkati kita sampai berkelimpahan? Supaya kita bisa menabur.
2 Korintus 9:9-11 “Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”Ia yang menyediakan BENIH bagi penabur, dan ROTI untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.”
Jadi setelah kita mengembalikan milik Tuhan yaitu 10% dari penghasilan kita, di tangan kita masih ada 90%. Di dalam 90% yang kita pegang itu ada:
1. Roti untuk dimakan.
2. Benih untuk ditabur. Karena itu jangan “memakan” semua 90% itu, karena ada benih yang harus ditabur.
Menabur adalah investasi masa depan. Karena itu latih diri kita untuk mengembalikan milik Tuhan dan menabur sejak masa muda!
Galatia 6:7-8 “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”
Dari ayat diatas kita memahami bahwa:
– Apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai. Jika kita menabur biji mangga, maka yang akan tumbuh adalah tanaman mangga. Maka:
– Siapa menabur rohani, akan menuai rohani. Jika kita menabur “doa”, yang akan kita tuai adalah iman kita menjadi kuat
– Siapa menabur materi/uang, akan menuai materi/uang.
Berarti: jika kita menuai doa, jangan mengharap akan menuai uang. Karena apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai. Namun banyak terjadi bahwa orang rohani menjadi semakin kikir, baik kikir kepada Tuhan maupun kepada dirinya sendiri. Mengapa? Karena mereka mendispensasikan hukum tabur tuai dengan hal-hal rohani yang sudah mereka lakukan. Karena itu tidak heran ada orang-orang rohani yang hidupnya melarat. Tentu kita tidak mau hidup seperti nyanyian, “Biar saya miskin di dunia asalkan kaya di surga.” Karena ketetapan Tuhan adalah di dunia kita diberkati, dan kekekalan kita ada di surga.
Selanjutnya yang perlu kita pahami: Kemana kita harus menabur? Tuhan sudah menetapkan pos-posnya:
1. Persembahan kasih (tatangan) untuk pekerjaan Tuhan contohnya pembangunan gereja, kolekte, dll. Hal ini dapat kita baca di 2 Korintus 8 & 9.
2. Menabur untuk hamba Tuhan. Galatia 6:6-7 “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.”
Mungkin ada yang berkata “Untuk apa memberi kepada hamba Tuhan karena hamba Tuhan juga bisa membeli sendiri.” Namun ingatlah bahwa kita melakukan ini karena Firman Tuhan yang mengatakannya / memerintahkannya.
3. Menabur untuk orang miskin (persembahan diakonia / sedekah). Matius 6:1-4 “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
BAGAIMANA MENABUR?
1. Jangan tunggu sampai kaya / berkelimpahan baru menabur. Latih diri lakukan dari sekarang. Salah satu aplikasi praktis yang bisa kita lakukan adalah membuat 4 macam celengan kecil
– Celengan pertama adalah persepuluhan. Begitu mendapat penghasilan langsung kita masukkan ke celengan tersebut 10% untuk kita kembalikan ke gereja
– Celengan kedua adalah untuk hamba Tuhan
– Celengan ketiga adalah untuk pekerjaan Tuhan.
-Celengan keempat adalah untuk diakonia/orang miskin. Karena celengan ke-2, 3, dan 4 tidak ditetapkan jumlahnya, maka kita bisa memulai dengan hal sederhana setiap hari. Saat hari ini ada uang didompet Rp.5.000 maka kita bisa masukkan ke salah satu celengan dimana Tuhan menggerakkan hati kita. Saat besok ada uang Rp.10.000 maka kita masukkan ke salah satu celengan lagi dimana Tuhan gerakkan hati kita. Demikian seterusnya sampai suatu ketika celengan tersebut sudah penuh maka bisa kita berikan/tabur sesuai tujuannya.
2. Untuk pekerjaan Tuhan di gereja ini, gereja mengadakan amplop partisipasi. Berapapun yang bisa kita berikan, kita berikan. Tidak harus jumlah yang besar namun apa yang bisa kita berikan. Di gereja ini tidak diizinkan pencarian dana dengan bazar. Mengapa? Karena misalkan modal bazar makanan Rp.10.000, lalu dijual dengan harga Rp.20.000, berarti sesungguhnya yang kita tabur bukan Rp.20.000 namun Rp.10.000. Apakah tanpa membeli bazar kita tidak bisa menabur Rp.20.000? Tentu bisa, bukan? Jadi tidak perlu melakukan pencarian dana dengan bazar, KECUALI pelayanan kategorial remaja/pelajar. Karena remaja/pelajar mempunyai dana yang terbatas dan belum bekerja, maka untuk melatih mereka untuk tidak memiliki mental meminta-minta, maka mereka boleh melakukan pencarian dana dengan “menjual tenaga” misalnya cuci motor, jaga parkir, termasuk bazar.
3. Menaburlah dengan IMAN dan KASIH. Dengan iman, berarti saat kita menabur kita percaya kita pasti menuai. Dengan kasih, berarti saat menabur bukan menuai yang menjadi tujuan/motivasi kita, namun karena kita mengasihi Tuhan. Jadi jika kita membangun gedung gereja, jangan berpikir untuk meminta sumbangan dari gereja lain. Bukan kita sombong, namun kita mau jemaat ini yang menabur supaya jemaat ini juga yang diberkati. Ingatlah, siapa menabur ia akan menuai. Jika kita melakukan Firman dalam hal hukum tabur tuai, maka kita akan melihat kelimpahan yang Tuhan janjikan.
By. : Pdt. R. F. Martino









