MENGANTISIPASI KEMAPANAN HIDUP (3)
2 Korintus 8:9 Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
Galatia 3:13 Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!”
Ulangan 8:11-18 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya. Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.
Allah sudah merancangkan bahwa orang percaya bukan hanya mati masuk surga namun juga hidup mapan di dunia. Namun Allah memperingatkan kita bahwa apabila kita tidak mengantisipasi kemapanan sejak awal, maka kemapanan akan menjadi awal kejatuhan. Berkali-kali Tuhan memperingatkan “Berhati-hatilah supaya kamu jangan melupakan Tuhan Allahmu”. Mengapa kita harus berhati-hati? Karena saat kita masuk pada masa kemapanan, sebenarnya kita masuk dalam zona berbahaya karena jika daya tarik kemapanan itu lebih kuat, maka kemapanan dapat merebut dan menempati hati kita sehingga membuat kita melupakan Tuhan!
Alkitab berkata bahwa Yesus yang adalah Allah menjadi miskin supaya kita menjadi kaya. Alkitab juga berkata bahwa Yesus menebus kita dan menjadi terkutuk di kayu salib supaya berkat Abraham juga bisa sampai kepada kita. Namun banyak orang percaya yang membuat kemapanan pada akhirnya menggantikan karya Kristus dalam hidupnya.
Umumnya orang percaya tersentuh perasaannya oleh kalimat-kalimat syair lagu rohani atau kalimat-kalimat sugesti, namun jika bukan rohnya yang tersentuh, maka hidupnya tidak akan berubah untuk melakukan Firman Tuhan. Begitupun pada hamba-hamba Tuhan. Saat pelayanannya mulai dikenal banyak orang, maka keberhasilan ini membuat banyak hamba Tuhan menjadi tinggi hati. Saat ada orang yang tidak mengenal pelayanannya maka ia memperkenalkan diri yang didalamnya ada kesombongan. Hal ini sangat berbahaya! Karena Alkitab dalam Matius pasal 7 memperingatkan kita bahwa segala prestasi dan reputasi pelayanan tidak ada artinya saat pada penghakiman akhir Tuhan berkata, “Aku tidak mengenal kamu! Enyahlah kamu sekalian pembuat kejahatan!” Iblis tidak punya hak menyentuh hidup kita kecuali kita yang mengizinkan. Iblis menerobos melalui jalur alamiah, dan salah satu jalur alamiah itu adalah kemapanan! Saat orang mulai memanggil kita, “Bapak / Ibu / Boss”, dsbnya, hal ini dapat membuat kita tinggi hati. Ketika ada yang memanggil kita, “Eeee…” maka kita menjadi tersinggung. Ini jalur alamiah dan berbahaya jika kita tidak berhati-hati! Karena itu Tuhan memperingatkan:
1. Jangan mencintai dunia
1 Yohanes 2:15-17 berkata, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”
2. Tuhan tidak pusing akan keinginan kita namun kebutuhan kita.
1 Timotius 6:7-8 “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.”
Dengan demikian, manajemen keuangan yang benar adalah “Jangan membeli apa yang kita inginkan sebelum membeli apa yang kita butuhkan.” Karena itu sungguh aneh jika ada hamba Tuhan yang mengajarkan jemaatnya untuk mempunyai banyak keinginan dan mengingini milik orang lain seperti tumpang tangan pada mobil atau rumah orang dan berkata “Dalam nama Yesus ini milik saya!” Ini berbahaya!
3. Awal kejatuhan adalah ingin menjadi kaya dan cinta akan uang
1 Timotius 6:9-10 “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”
Kita tidak perlu ingin menjadi kaya, karena Tuhan sendiri yang menghendaki kita hidup berkelimpahan. Keinginan menjadi kaya yang akan menjatuhkan manusia. Seorang pemuda mencintai seorang pemudi itu lumrah. Namun jika seseorang mencintai kertas dan logam yang namanya uang, maka ini aneh dan berbahaya.
Apa akibat mencintai uang?Menjadi KIKIR!
1 Korintus 6:9-10 “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”
Orang kikir akan kikir dengan dirinya sendiri. Ia mampu membeli sesuatu yang ia butuhkan namun ia tidak membeli karena kikir! Contoh: membeli martabak saja ia membeli yang paling murah, dicatat baik-baik bahwa sudah keluar uang Rp.5000 untuk sebuah martabak. Untuk dirinya sendiri saja pelit apalagi untuk orang lain! Firman Tuhan berkata bahwa orang kikir tidak akan masuk dalam Kerajaan Allah!
4. Muliakan Tuhan dengan harta bukan untuk dipamerkan!
Amsal 3:9-10 “Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.”
Banyak orang yang saat diberkati menjadikan hartanya sebagai pameran. Memakai tas-tas atau sepatu-sepatu yang bermerek/branded untuk pameran. Seharusnya kita menggunakan barang bermerk karena kualitasnya, bukan untuk dipamerkan kepada orang lain. Seharusnya kita memahami jika kita membeli barang bermerk tidak usah memamerkan merknya karena itu berarti kita menjadi promotor merk barang tersebut secara cuma-cuma.
5. Tuhan memberkati orang yang bekerja
Kita tahu bahwa semua yang kita pakai dari ujung rambut sampai ujung kaki bisa kita pakai karena ada uang yang dibelanjakan. Karena hidup itu membutuhkan uang, maka cara Tuhan menghadirkan uang dalam hidup kita melalui bekerja. Tuhan telah menetapkan hanya orang yang bekerja yang berhak makan, sedangkan orang yang tidak bekerja janganlah ia makan.
Roma 4:4Kalauada orang yang bekerja, upahnyatidakdiperhitungkansebagaihadiah, tetapisebagaihaknya.
Ada kebiasaan di suatu suku untuk ramah terhadap siapa saja termasuk memberi makan anggota keluarga yang malas bekerja. Ini kebiasaan yang harus diubah karena tidak sesuai Firman! Yang malas bekerja janganlah diberi makan! Jika Tuhan sudah berikan pekerjaan, ini adalah berkat Tuhan yang harus dihargai. Karena itu berdoa dan kelola pekerjaan kita dengan baik, jangan asal-asalan. Jika kita tidak memahami cara mengelola, belajarlah!
Ingat orang yang mendapat 5 talenta danmengelola talentanya, yang mendapat 2 talenta mengelolanya, namun yang mendapat 1 talenta menguburkan talentanya.
Jangan berpenampilan kusut supaya mendapat belas kasihan orang. Ada juga hamba Tuhan yang bermental seperti ini, memakai sepatu yang sudah sobek supaya mendapat belas kasihan padahal ia mampu membeli sepatu. Tuhan memberkati kita jika kita sudah berjerih lelah, maka Tuhan membuat segala usaha kita menjadi berhasil.
6. Saat Tuhan sudah memberkati, membuat kita berhasil, berhati-hatilah supaya kita tidak memakai pikiran dan pemahaman sendiri atau pendapat-pendapat orang lain.
Ketahuilah bahwa didalam harta kita bukan milik kita sepenuhnya:
a. Ada milik Tuhan didalamnya yaitu sebesar 10% dari penghasilan kita, yaitu persepuluhan. Ada hamba-hamba Tuhan tertentu yang mengajarkan kepada jemaatnya tidak perlu mengembalikan persepuluhan karena hamba Tuhan tersebut punya usaha. Namun di GPPS doktrin yang diajarkan adalah untuk memberi persepuluhan yang adalah milik Tuhan yang harus dikembalikan. Jadi jika kita bergereja di GPPS maka kita mengikuti apa yang menjadi doktrin di gereja ini. Banyak orang yang mengalami masa sukar yang tidak seharusnya ia alami. Saat kita tidak mengembalikan milik Tuhan, maka uang tersebut tetap tidak akan menjadi milik kita, karena Tuhan akan datang mengambil sendiri melalui peristiwa-peristiwa yang tidak seharusnya kita alami misalnya ditipu orang atau pengeluaran ke dokter. Karena itu latih diri kita untuk mengembalikan persepuluhan mulai uang yang kecil. Sejak masih sekolah minggu dan remaja sekalipun nilainya kecil namun jika kita sudah setia dalam ketaatan, maka kita akan terbiasa melakukannya saat nanti Tuhan memberkati kita lebih besar dan dengan demikian nilai persepuluhan kita tentu akan menjadi lebih besar juga.
b. Untuk pekerjaan Tuhan/persembahan tatangan misalnya kolekte di gereja
c. Untuk hamba Tuhan (Galatia pasal 6).
d. Untuk orang miskin
e. Baru untuk kita pakai dan kelola.
Dalammemberijangan tunggu kaya raya/untung besar baru memberi. Latih diri dalam ketaatan mulai uang yang kecil. Kita bisa mengaplikasikan dengan menggunakan beberapa kaleng atau celengan: untuk hamba Tuhan, untuk pekerjaan Tuhan, untuk orang miskin. Ketika ada uang, kita bisa sisihkan uang tersebut ke kaleng mana yang kita merasa Tuhan menggerakkan hati kita untuk menabur. Untuk itu kita perlu memahami semua hal ini supaya kemapanan tidak menggantikan/menggeser Kristus dalam hati kita namun kita menggunakan kemapanan itu untuk hidup memuliakan Tuhan.
By. : Pdt. R. F. Martino









