This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

FENOMENAKARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS (2)

1 Korintus 14:26-33 26 Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun. 27 Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.28 Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.29 Tentang nabi-nabi — baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan.30 Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri.31 Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan.32 Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi.33 Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.

1 Yohanes 4:1 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.”

I. MENGUJI FENOMENA KARUNIA ROH KUDUS
Beberapa minggu lalu kita telah belajar tentang “fenomena baptisan Roh Kudus”. Fenomena yang terjadi saat pertama kali pencurahan Roh Kudus di loteng Yerusalem adalah Xenolalia yaitu bahasa roh yang dapat dimengerti oleh setiap suku bangsa. Namun fenomena berikutnya yang terjadi adalah Glossolalia yaitu bahasa roh yang tidak dimengerti oleh seorangpun. Jadi pada peristiwa baptisan Roh Kudus banyak terjadi fenomena yang berbeda-beda. Begitupun pada “fenomena karunia-karunia Roh Kudus”.
Namun kita harus berhati-hati karena fenomena-fenomena itu, baik fenomena baptisan Roh Kudus maupun fenomena karunia-karunia Roh Kudus tidak bisa dijadikan doktrin!
Jika fenomena dijadikan doktrin maka ini sangat berbahaya karena akan terjadi 2 hal:
1. Penyesatan: bagi pengikutnya dan bagi orang yang percaya.
2.Penolakan: bagi orang yang tidak percaya. Disini iblis juga bisa mengambil keuntungan karena apa “yang benar” pun dapat ditolak.

Firman Tuhan berkata agar kita menguji SETIAP roh agar kita tidak menerima yang sesat sekaligus agar kita tidak menolak yang benar. Jadi setiap pekerjaan pelayanan yang berkaitan dengan Roh Kudus harus diuji. Kita harus berhati-hati agar tidak tersesat karena “yang benar” dan “yang sesat” bisa keluar dari orang yang sama.

Kita harus mengerti bahwa dalam hal pemilihan Tuhan kepada seseorang untuk dipakai sebagai alat-Nya, tidak tergantung oleh latar belakang orang tersebut. Contohnya:
1. Di Yerikho, Tuhan memakai Rahab seorang perempuan sundal. Apakah tidak ada perempuan baik-baik di Yerikho sehingga Tuhan memakai seorang perempuan sundal untuk menyelamatkan mata-mata orang Israel? 2. Saat Samaria terkepung dan penduduk kota itu kehabisan makanan, Tuhan memakai orang-orang kusta untuk menemukan makanan. Padahal zaman itu orang kusta adalah orang-orang yang tidak dianggap dan terpinggirkan. Mengapa Tuhan memakai mereka? Tidak adakah orang lain?

Inilah yang terkadang menimbulkan penolakan karena kita melihat latar belakang orang. Padahal kita akan mengerti hal ini jika kita mengerti didalam konteks kedaulatan Tuhan.

II. CARA KERJA MALAIKAT TERANG (IBLIS) DALAM GEREJA TUHAN
Kita hidup di penghujung akhir zaman. Iblis bekerja dengan berbagai macam cara, bukan hanya melalui berbagai bencana alam, peperangan, dlsbnya, namun juga iblis bekerja di dalam gereja untuk mengacaukan segala sesuatu.
2 Korintus 11:13-14 13Sebab orang-orang itu adalah rasul-rasul palsu, pekerja-pekerja curang, yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. 14Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang.”
Saat Alkitab berkata bahwa iblis bisa menyamar sebagai Malaikat Terang, maka dari sini kita bisa tahu dimana iblis beroperasi, bagaimana dia beroperasi, dan apa hasilnya.

Dari ayat tersebut kita tahu bahwa Iblis pun bisa bekerja di dalam gereja, melalui nabi-nabi palsu, dan menghasilkan pengajaran-pengajaran sesat (“Cult”). Namun anehnya pengajaran-pengajaran ini dengan tekun diikuti oleh pengikut-pengikut gereja tersebut, dan memang terjadi berbagai fenomena ajaib yang menyertainya.Sebagai contoh:
1. Ada pengajaran bahwa anggur perjamuan kudus dapat disiram ke tempat-tempat keramat. Ini penyesatan karena roti dan anggur dalam Perjamuan Kudus – yang tertulis didalam Alkitab – untuk dimakan dan diminum. Alkitab tidak mencatat bahwa anggurnya bisa dipakai untuk menyiram tempat keramat.
2. Pengajaran bahwa minyak urapan dapat diminum. Ini juga sesat karena Alkitab mencatat bahwa minyak urapan dipakai untuk mengurapi. Namun ada pengajaran bahwa minyak urapan bisa diminum, dan karena terjadi mujizat maka banyak yang mengikutinya. Mengapa? Karena manusia memang suka dengan fenomena-fenomena. Padahal ini penyesatan. Karena itu penting untuk mengikuti PEMURIDAN karena pemuridan itu DOKTRIN dan doktrin itu DASAR.

III. CARA KERJA KARUNIA ROH KUDUS
Kita harus memahami dan memisahkan antara “pribadi” dan “karunia”-nya. Saat karunia Roh Kudus bekerja dalam diri seseorang, ia sadar 100% dan tidak dirasuk seperti setan/roh jahat merasuk dan membuat orang tidak sadarkan diri. Saat karunia Roh Kudus bekerja dalam diri seseorang, ia sadar 100%. Karena ia sadar 100%, maka faktor jiwani – yaitu pikiran, perasaan, kehendak – orang tersebut bisa masuk dan tersalur dalam bentuk karunia. Contoh dari kisah nyata: seorang siswi sekolah Alkitab bernubuat bahwa ia telah dijodohkan Tuhan dengan seorang siswa sekolah Alkitab. Ini bukan nubuat dari Tuhan melainkan sudah tercampur dengan keinginan jiwa orang tersebut.
Waspadalah! Jika karunia Roh Kudus dicemari oleh unsur jiwani/roh manusia, maka datanglah Malaikat Terang (iblis) bekerja melakukan penyesatan.
Ada pula seorang hamba Tuhan yang dipakai Tuhan luar biasa. Dia memiliki karunia kesembuhan dan banyak orang dengan penyakit parah disembuhkan. Namun karena ia menerima begitu banyak sorotan, pujian, ia jatuh dalam dosa seksual. Untunglah dalam kejatuhannya ia bertobat dan kembali kepada Tuhan maka Tuhan memulihkan hidupnya. Itulah sebabnya kita harus mencamkan hal ini: Karunia tidak lebih berharga dari “buah roh”. Karunia sifatnya hanya pemberian, bisa permanen namun bisa juga karunia tersebut hanya beroperasi dalam satu saat itu dan tidak terjadi lagi.

IV. KARUNIA ROH KUDUS DALAM IBADAH
1. Dalam suratnya kepada jemaat Korintus, Paulus mengajar jemaat bagaimanakah ibadah itu seharusnya: 1. Setiap orang datang dengan seluruh keberadaannya siap untuk beribadah / berbuat bakti kepada Allah, yaitu untuk mempersembahkan sesuatu. Jadi dalam ibadah, orang percaya bukan berpikir untuk menerima sesuatu dari Tuhan melainkan untuk membawa persembahan kepada Allah baik itu pujian, ucapan syukur, dll. Karena semua orang percaya sudah siap, maka tinggal Roh Kudus yang memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya untuk berkarunia.

2. Saat orang percaya berkarunia/saat karunia bekerja, harus dilakukan seorang demi seorang, bukan beramai-ramai.
a. Jika seorang berkarunia bahasa roh, namun bahasa roh yang dia ucapkan selama beberapa saat tidak ada yang menafsirkannya, maka orang tersebut harus menahan diri dengan cara mengecilkan volume suaranya / berdiam diri. Orang tersebut bisa berdiam diri karena ia dalam kondisi sadar 100%. Jika ia tidak bisa berdiam diri, maka hamba Tuhan memiliki tanggung jawab untuk menertibkan orang tersebut.
b. Jika ada yang menyampaikan pernyataan Tuhan, maka orang percaya yang lain mengaminkan pernyataan Tuhan tersebut.

3. Karunia Roh Kudus bekerja atas kehendak Roh Kudus, bukan dari kehendak manusia. Dalam sebuah seminar, seorang hamba Tuhan yang menjadi pembicara, menyuruh para peserta duduk berpasangan dan peserta yang pertama disuruh menyampaikan pernyataan Tuhan/nubuat kepada peserta kedua. Kemudian berikutnya bergantian peserta kedua yang menyampaikan pernyataan Tuhan/nubuat kepada peserta pertama. Ini pengajaran yang sangat berbahaya! Karena karunia Roh Kudus termasuk karunia nubuat itu bekerja bukan dari kehendak kita – bukan seperti saklar lampu yang mau kita tekan untuk menyalakan dan mematikan lampu semau kita. Akhirnya yang terjadi bukan “nubuat” tetapi “lubuat” (lu yang buat-buat).

V. CARA TUHAN BERBICARA DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Bagaimana cara Tuhan berbicara kepada orang percaya?
1. Pertama-tama Tuhan berbicara melalui Roh Kudus dalam diri kita tentang Firman Tuhan. Roh Kudus akan mengingatkan kita akan segala Firman yang pernah kita dengar dan baca.
2. Melalui segala sesuatu yang ada disekitar kita: bisa melalui manusia (orang disekitar kita), alam semesta, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian Roh Kudus memberi pengertian kepada kita akan kehendak Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari ada banyak orang percaya yang menjadi ekstrim:
1. Mudah sekali mengatasnamakan Tuhan. Kita perlu berhati-hati untuk tidak “mengatasnamakan Tuhan” untuk menasihati orang lain. Contoh: jika kita mau menasihati orang lain, kita langsung saja menasihati orang tersebut berdasarkan Firman Tuhan, misalnya, “Saudara, saat ibadah datanglah tepat waktu.” Tidak perlu mengatasnamakan Tuhan dengan berkata, “Tuhan bilang…”, “Tuhan bilang…”, “Tuhan bilang…”, misalnya, “Saudara, Tuhan bilang saudara suka datang terlambat. Tuhan bilang saudara harus datang tepat waktu.” Jangan sedikit-sedikit mengatasnamakan Tuhan dalam berbicara.
2. Tidak mau membuat perencanaan dengan alasan mengikuti tuntunan Roh. Ada seorang hamba Tuhan yang tidak terbiasa dalam perencanaan. Saat ia diperintahkan untuk membuat perencanaan pelayanan, ia tidak mau membuatnya. Alasannya mengikuti tuntunan Roh. Nanti sudah dekat saatnya, apa yang Roh Kudus sampaikan baru ia lakukan. Padahal jika ia benar-benar mengikuti tuntunan Roh, ia pasti membuat perencanaan karena Tuhan bekerja dengan perencanaan yang teratur.
3. Tidak ada perencanaan karena beralasan “Jika Tuhan kehendaki”. Ada orang-orang yang jika ditanya mengenai perencanaannya, ia tidak memberi kejelasan namun hanya berkata, “jika Tuhan kehendaki”. Ada orang yang ditanya apakah ia akan berangkat ke Jakarta minggu depan? Ia tidak menjawab “ya” atau “tidak”, namun “jika Tuhan kehendaki”. Hal ini berarti orang itu tidak membuat perencanaan. Orang yang tidak terbiasa membuat perencanaan akan merusak masa depannya, karena cara me-manage visi Allah ada tahap-tahapannya yaitu perencanaan. Jadi perkataan “Jika Tuhan kehendaki” sebenarnya cukup ada di hati kita untuk mengingatkan kita agar melibatkan Tuhan dalam perencanaan dan tidak mengandalkan diri kita sendiri.

By : Pdt. R. F. Martino