KEKUATAN KUASA ROH ALLAH DALAM DIRI ORANG PERCAYA (2) Sub Tema: DENGAN ROH MEMATIKAN PERBUATAN DAGING
GppsPalu – 2 Timotius 4:7-8 “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”
Roma 8:13 “Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.”
I. TUHAN MENGHENDAKI AGAR KITA SETIA SAMPAI AKHIR DENGAN CARA MENJALANI HIDUP MENURUT ROH
Banyak orang percaya yang masih menggunakan kekuatannya sendiri untuk menjalani hidup ini karena secara format alamiah, unsur jiwani (daging) – yaitu keinginan sendiri, pikiran sendiri, perasaan sendiri – yang memotori kehidupan manusia. Selama orang percaya masih hidup menurut unsur jiwani, maka ia akan selalu gagal hidup berkenan kepada Allah. Padahal setiap orang percaya telah memiliki Roh Allah dalam dirinya sehingga ia seharusnya bisa hidup menurut roh.
Banyak orang percaya yang tidak mau mengubah pergumulan hidupnya menjadi pergumulan iman. Padahal betapa siksanya jika kita tetap bertahan dalam pergumulan hidup. Untuk menyelesaikan pertandingan yang baik, mencapai garis akhir dan memelihara iman, kita harus hidup di dalam roh, karena kita tidak akan pernah berhasil jika berusaha dengan kekuatan unsur jiwani kita. Kita mungkin melihat ada orang-orang yang tidak mengenal Tuhan tetapi bisa hidup “kudus”. Tetapi jika kita menyelidikinya maka kita akan menemukan bahwa orang itu belum berhasil. Apa yang Paulus katakan dalam ayat diatas bukanlah perkara yang mudah. Ia berkata bahwa ia telah menyelesaikan pertandingan yang baik, mencapai garis akhir, dan memelihara iman. Maka tersedia baginya mahkota kehidupan dari Allah. Mahkota ini akan dikaruniakan Allah kepadanya karena ia setia sampai akhir. Bagaimanakah kondisi iman kita masing-masing? Setiap kita suatu saat akan mencapai ajal/garis akhir. Apakah saat mencapai ajal kita didapati setia sampai akhir? Paulus memang adalah seorang rasul tetapi ia juga adalah manusia biasa sama seperti kita. Sebagai manusia biasa, Paulus juga memiliki kekurangan. Ia pernah salah mengambil keputusan dalam pelayanannya sehingga ia mengalami masalah.
II. BELAJAR DARI PENGALAMAN PAULUS DAN ELIA
Kesalahan Paulus sukar terdeteksi karena hal itu adalah hal rohani. Paulus telah ditetapkan Tuhan menjadi rasul bagi bangsa-bangsa namun karena ia sangat mencintai bangsanya yaitu bangsa Yahudi, maka ia kembali ke Yerusalem. Roh Kudus lalu memperingatkan Paulus melalui murid-muridnya agar jangan ke Yerusalem, namun ia tetap berkeras untuk pergi ke Yerusalem. Tuhan lalu mengutus nabi Agabus untuk memperingatkan Paulus. Nabi Agabus dengan pimpinan Roh Allah mengambil ikat pinggang Paulus dan mengikat dirinya lalu berkata bahwa demikianlah Paulus akan diikat di Yerusalem dan diserahkan kepada bangsa-bangsa. Namun Paulus tetap berkeras pada keputusannya. Akhirnya Tuhan Yesus sendiri memperingatkan Paulus untuk jangan ke Yerusalem namun Paulus tetap pada keputusannya. Dari kelanjutan kisah ini akhirnya kita tahu bahwa Paulus mengalami banyak masalah. Paulus pernah keluar dari visi Tuhan baginya yaitu menjadi rasul bagi bangsa-bangsa. Mengapa? Karena demikian cintanya ia kepada bangsanya. Apakah cinta kepada bangsa sendiri itu salah? Tidak! Namun ternyata dari peristiwa ini kita belajar bahwa: “SUATU KEINGINAN YANG ROHANI TERKADANG BISA BERASAL DARI DAGING.” Pertanyaan untuk membantu kita:
1. Pernahkah kita melayani tetapi mencuri kemuliaan Tuhan?
2. Pernahkah dalam pelayanan kita berusaha memberi yang terbaik tetapi untuk kepujian diri sendiri?
3. Pernahkah kita ke gereja memakai pakaian bagus untuk dipuji orang?
Jadi sesuatu keinginan yang rohani bisa berasal dari daging. Elia adalah seorang nabi yang dipakai Tuhan luar biasa. Ia berhasil mengalahkan nabi-nabi Baal. Tetapi saat ia mendapat ancaman dari Izebel, ia sangat ketakutan dan meminta mati kepada Tuhan. Siapa menyangka bahwa nabi yang dipakai Tuhan seperti Elia pun bisa mengalami masalah dengan mentalitasnya saat menghadapi masalah? Ada kalanya kita seperti Elia yang merasa begitu kuat dalam waktu-waktu tertentu. Tetapi ada juga di saat-saat tertentu kita merasa begitu lemah.
III. CARA HIDUP MENURUT ROH
Dalam Roma 8 kita menemukan kebenaran yang luar biasa.
Roma 8:2-8 “Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”
“Hidup dalam daging” ini jangan selalu kita asumsikan dengan perbuatan-perbuatan bejat, namun “Hidup dalam daging” disini sesungguhnya berbicara tentang format alamiah. Kecepatan daging dalam merespon apa yang datang dalam hidup kita melebihi kecepatan roh dalam merespon karena itulah format alamiah manusia. Namun setelah kita menjadi milik Kristus, kita harus mengubah format alamiah tersebut. Kita perlu mengetahui bahwa Tuhan membentuk kita bukan di kamar doa, tetapi saat menghadapi realita hidup sehari-hari. Namun sudah sekian lama gereja mengajarkan hal yang keliru bahwa jika mau dipakai oleh Tuhan, kita harus “mengurung diri” di kamar doa. Para pengajar sekolah Alkitab mengajarkan jika mau menjadi “sakti” maka doa puasa. Begitu keluar dari kamar doa maka bisa melakukan mujizat. Dan pada akhirnya banyak orang kecewa karena karakternya tidak berubah sekalipun sudah berada di kamar doa. Bukan berarti kita tidak perlu berdoa. Berdoa itu sangat perlu karena saat kita berdoa di kamar doa, kita mendapat kekuatan baru, urapan baru, seperti aki yang di-charge kembali. Namun Tuhan membentuk kita saat kita berhadapan dengan realita hidup yaitu saat kita keluar dari kamar doa. Jika kita berada di rumah, maka Tuhan membentuk kita di rumah. Jika kita di gereja, Tuhan membentuk kita di gereja. Demikian Tuhan membentuk kita dimanapun kita berada.
Roma 8:9-11 “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu.”
Kita harus memahami bahwa zaman kita sekarang lebih sukar daripada zaman para rasul dulu karena segala kecanggihan teknologi saat ini memudahkan manusia untuk melakukan berbagai macam dosa. Di zaman ini pencemaran rohani begitu merajalela. Banyak orang percaya yang tidak menaruh perhatian pada perkara “Hidup yang berkenan kepada Tuhan” dan “Setia sampai akhir”. Mengapa? Karena banyak gereja yang hanya mengajarkan jemaatnya tentang hidup mati masuk surga (urusan akhirat) dan di dunia hidup makmur sehingga iman orang percaya menjadi tidak kuat menghadapi tantangan hidup.
Ana
Rogasmu meringkaa
IV. BAGAIMANA MENGUBAH FORMAT ALAMIAH YANG DIPIMPIN OLEH DAGING MENJADI HIDUP DIPIMPIN OLEH ROH ALLAH?
Galatia 5:16 “Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”
Inilah formatnya. Jika kita hidup oleh roh, maka kita tidak akan hidup menurut daging. Demikian sebaliknya, jika kita tidak hidup oleh Roh, maka secara otomatis kita akan hidup menurut daging. Jika kita mengejar kekudusan dengan kekuatan sendiri maka kita akan jatuh dalam kesombongan rohani. Kesombongan rohani ini adalah perbuatan daging tetapi berbau rohani. Kita harus waspada mengenai hal ini karena Tuhan berkata bahwa di hari-hari terakhir banyak orang yang berkata bahwa ia sudah melayani Tuhan dan memiliki berbagai macam karunia termasuk karunia mujizat namun pada akhirnya Tuhan menolaknya!
Galatia 5:17-18 “Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging — karena keduanya bertentangan — sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat.”
Jadi perjalanan iman kita harus bertujuan untuk hidup yang berkenan di hadapan Tuhan. Jika iman kita hanya bertujuan untuk mengubah nasib dari miskin menjadi kaya maka saat kita mencapai kemapanan, iman kita akan kandas. Kita harus jujur bahwa pada umumnya dalam menjalani hidup kita hanya menggunakan kekuatan sendiri/unsur jiwani, sedangkan roh kita hanya kita gunakan untuk bernafas dan Roh Allah yang didalam kita seringkali hanya kita libatkan untuk berbahasa roh dan selain itu kita tidak memberikan ruang bagi Roh Allah untuk berkarya. Ini tidak boleh terjadi. Dari ayat yang kita baca, roh itu tidak pasif. Oleh roh kita mematikan perbuatan-perbuatan daging!
Dalam injil Yohanes, Tuhan Yesus berkata bahwa Roh Allah yang diberikan kepada kita itu begitu luar biasa.
1. Roh Allah itu diam didalam kita.
2. Roh Allah itu adalah Penolong. Ia menolong kita didalam kelemahan kita.
3. Roh Allah akan menuntun kita kedalam seluruh kebenaran.
4. Roh Allah akan mengajar kepada kita segala sesuatu.
5. Roh Allah akan mengingatkan semua Firman yang sudah kita dengar/baca.
Kekuatan Roh Allah itu begitu luar biasa namun sayangnya banyak orang percaya yang tidak memberi-Nya ruang untuk berkarya dan tetap bertahan hidup dengan format jiwani seperti orang-orang yang tidak memiliki Kristus. Salah satu peran Roh Kudus adalah mengingatkan Firman Allah dari masalah yang sedang kita hadapi. Tetapi setelah Firman itu dihadirkan, maka kita harus memilih hidup dipimpin oleh Roh. Jika kita tidak mau dipimpin oleh Roh maka kita tetap hidup didalam daging.
Galatia 5:19-21 “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”
Perhatikan baik-baik. Ayat diatas ini bukan untuk orang diluar Tuhan tetapi untuk orang percaya, jemaat Galatia.
Galatia 5:22-25 “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh, ”
Dipimpin roh bukan berarti menjadi orang yang “nge-roh” tetapi dipimpin oleh Firman. Temukan dulu peranan Roh Allah dalam hidup kita untuk menghadirkan Firman sesuai dengan apa yang sedang kita hadapi dan latih diri kita untuk dipimpin oleh Roh Allah. Kecepatan reaksi daging sangat cepat dalam merespon karena telah terformat begitu rupa dalam diri kita. Maka kita harus melatih diri untuk memiliki pengalaman ketaatan akan Firman (melakukan Firman) oleh pertolongan Roh Allah yang ada di dalam diri kita.
Pdt. DR. R. F. Martino










Leave a Reply