This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Bertumbuh Untuk Menghasilkan Buah (4) (Buah yang Tetap)

GppsPalu – Yohanes 15:16 Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

Yeremia 17:7-8 “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”.

Kita sudah belajar tentang 3 hal pertumbuhan yang menghasilkan buah

1. Buah pertobatan (dasar untuk memulai hidup baru)

2. Buah Iman (hasil dari melakukan firman)

3. Buah-buah Roh Kudus (pembentukan karakter)

Dalam Yohanes 15:16 kita perlu memahami bahwa kita bukan hanya dipanggil, tapi Tuhan mempunyai rancangan bukan hanya untuk urusan akhirat (meninggal kemudian masuk surga) tetapi juga selama kita masih di dunia. Selama kita hidup di dunia ada banyak pergumulan yang harus kita hadapi yang mengharuskan kita memfungsikan iman percaya kita.

Iman bukan hanya sekedar terjawabnya sebuah doa. Iman kita harus bertumbuh dan kita harus menikmatinya, yaitu melakukan firman meski bertentangan dengan keinginan kita. Setelah kita berhasil melakukan firman maka akan menghasilkan buah iman. Tapi sayang sekali tidak semua orang Kristen memilih hidup oleh iman. Banyak yang gagal dalam menjalani iman percaya mereka, karena mereka mencoba menjalani hidup barunya dengan cara yang lama.

Buah pertobatan adalah dasar untuk memulai hidup baru. Jika pertobatan tidak ada buahnya kita tidak akan berhasil hidup oleh iman. Setiap pembentukan karakter akan membentuk kita sehingga menghasilkan buah-buah Roh Kudus. Buah-buah Roh Kudus tidak hanya didapat dari keaktifan kita mengikuti kegiatan-kegiatan rohani, dalam pembentukan karakterlah buah-buah Roh Kudus bisa dihasilkan. Namun demikian semua buah-buah Roh Kudus ini adalah untuk kehidupan di dunia. Oleh karena itulah Tuhan menetapkan setiap orang percaya yang sudah lahir baru harus hidup oleh iman untuk menghasilkan buah.

Arti kata “tetap”: selalu berada (tinggal, berdiri) di tempatnya; tidak berubah (keadaanya, kedudukannya); tidak berpindah-pindah; tidak beranjak; tidak putus-putusnya; selalu; untuk selama lamanya.

Berdasarkan arti kata “tetap”, yang paling sederhana adalah; “tidak berhenti berbuah”. Buah pertobatan yang memulai hidup baru kita harus berlangsung terus menerus. Kebanyakan orang percaya melakukan firman yang disukai, yang tidak disukai, tidak dilakukan atau melakukan firman yang masuk akal, yang tidak masuk akal tidak dilakukan. Hal ini akan menyebabkan buah iman tidak menjadi buah yang tetap.

Dalam Yeremia 17:7-8, pohon yang tidak berhenti menghasilkan buah. Pohon ini adalah gambaran orang percaya yang selalu mengandalkan Tuhan dan menaruh harapnya hanya kepada Tuhan.

Kata mengandalkan dan menaruh harap akan ada hubungannya dengan interaksi orang-orang di sekitar kita dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak ada yang kita andalkan/harapkan kita tidak akan dapat menjalani hidup. Adakalanya kita harus menemukan siapa yang kita andalkan dan harapkan. Betapa berbahanya jika kita tidak mengandalkan Tuhan, hal ini juga penyebab kita tidak bisa berbuah.

Yeremia 17:5-6 “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

Ingin berbuah terus dan menghasilkan buah yang tetap, kita harus menjadi pribadi yang mengandalkan Tuhan dalam segala hal dan menaruh harap hanya pada Tuhan.

Dalam menghasilkan buah-buah yang bersifat rohani sama halnya secara lahiriah juga. Diberkati bukan hanya secara materi karena hal ini sudah otomatis terjadi, oleh sebab itu Tuhan berkata bahwa janganlah kita kuatir. Kekuatiran akan mengarah kepada hal mengandalkan kekuatan sendiri atau orang lain.

Ingat tentang proses pembuahan yang sudah kita pelajari. Sebelum ada buah harus ada proses pengguguran bunga terlebih dahulu. Banyak orang mempertahankan bunganya, sehingga terlambat atau bahkan tidak berbuah. Kepujian yang harusnya dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan, ditampung menjadi milik kita. Ketika ada angin (pergumulan) dan bunga itu harus gugur, maka akan terasa sakit. Didalam berbuahpun kita harus berhati-hati, semua harus dikembalikan untuk kemuliaan Tuhan. Terkadang harga diri lebih berharga dari pertobatan. Sehingga lebih memilih mempertahankan keegoisan daripada harus bertobat.

Buah tetap yang akan dibawa pulang sampai ke surga

Seluruh rangkaian kehidupan yang kita jalani pastinya akan merasa lelah, karena tidak semua yang kita lalui adalah hal yang menyenangkan. Begitu sulit dan semua sudah maksimal dikerahkan dan akhirnya meninggal dunia dan kita tahu pasti bahwa kita akan masuk surga. Pertanyaannya adalah apa yang akan kita bawa ke surga nantinya? Apakah segala kelelahan kita hasilnya bisa kita bawa sampai ke surga. Ada pepatah mengatakan: “gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama”. Pertanyaannya? Nama yang baik atau jelek?

Alkitab mengatakan bahwa ada yang kita kerjakan di dunia ini, yang bisa kita bawa pulang ke rumah Bapa di Sorga.

Wahyu 14:13 “Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

Jerih lelah yang bagaimana?

1 Korintus 15:58 “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”

Apakah kita akan berlelah untuk hal yang sia-sia? Tentunya tidak. Kalau buah itu hanya sebatas dinikmati di dunia itu bukan buah yang tetap.

Berikut ini daftar orang yang berjerih lelah untuk pekerjaan Tuhan:

Roma 16:1-27 “Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea, supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri. Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus. Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu. Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku. Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan. Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi. Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus. Salam kepada Herodion, temanku sebangsa. Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan. Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu. Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka. Salam kepada Filologus, dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudus yang bersama-sama dengan mereka. Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus. Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya. Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat. Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu! Salam kepada kamu dari Timotius, temanku sekerja, dan dari Lukius, Yason dan Sosipater, teman-temanku sebangsa. Salam dalam Tuhan kepada kamu dari Tertius, yaitu aku, yang menulis surat ini. Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh jemaat. Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri, dan dari Kwartus, saudara kita. [Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian! Amin.] Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, — menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman — bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.”

Jerih payah/kelelahan yang kita lakukan untuk pekerjaan Tuhan selama di dunia, itulah yang dapat kita bawa pulang ke surga nantinya. Kita harus melakukan dan mengerjakan yang terbaik bagi Tuhan, tidak memberikan seadanya. Yang paling memprihatinkan adalah, ketika kita bisa melakukan yang baik tapi kita hanya melakukan apa adanya.

Jangan berhenti berbuah! Penghambat berhenti berbuah adalah karena tidak mau ada bunga yang gugur. Kita harus bertekun dan melakukan dengan maksimal bagi kemuliaan Tuhan.

Written by Pdt. R.F. Martino