MEMAHAMI KEHADIRAN REALITA HIDUP
GppsPalu – Yosua 21:45 “Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.”
Roma 9:20-21 “20Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya:
“Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” 21Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”
Sikap-sikap orang percaya dalam memahami realita hidup
Memahami kehadiran realita hidup adalah hal penting dan mendasar. Semua orang percaya mengakui bahwa dalam menjalankan kehidupannya sebagai manusia pasti akan menghadapi realita hidup, kecuali kalau ia sudah meninggal. Oleh karena hal ini adalah kebenaran yang riil/nyata/mutlak, maka muncullah berbagai sikap orang percaya bahkan hamba-hamba Tuhan yang kita temukan masing-masing mempunyai sikap dan pemahaman terhadap arti kehadiran realit hidup yang dilihat atau dirasakan.
– Ada yang bingung
– Ada yang lari dari kenyataan
– ada yang menghadapinya tetapi ujung-ujungnya gagal
– Ada juga yang dipermain-mainkan dengan realita hidup sehingga tak berdaya
– Dll
Pemahaman yang keliru dan dangkal ini membawa keuntungan bagi si Iblis untuk mencapai kita dengan segala macam cara. Itu sebabnya adakalanya hadirnya setiap realita hidup membuat sebagian orang percaya sulit untuk mengerti dan menerimanya, tetapi terlalu cepat menghakimi orang lain, bahkan menghakimi hamba Tuhan:”Katanya hamba Tuhan, kok bisa jatuh dalam dosa?”dan kata-kata penghakiman yang lainnya. Kita selalu diingatkan bahwa sekecil apapun bentuk realita hidup punya kemampuan untuk menggoyahkan iman. Kita tidak bisa menganggap remeh sekecil apapun pergumulan itu.
Mengapa sikap-sikap itu bisa terjadi?
Dimanapun kita berada di segala penjuru kehidupan kita muncul realita hidup yang kita rasakan, kita lihat, kita alami, maka dengan sendirinya unsur jiwani yang pertama meresponinya. Contohnya: ketika kita dihina atau dicaci maki oleh orang di depan umum, maka akan timbul rasa sakit hati, marah, tersinggung. Hal ini adalah respon yang alamiah. Yang jelas adalah, karena kita merasakannya maka dengan sendirinya perasaan/pikiran kita akan terfokus pada masalah tersebut. Akhirnya segala keberadaan kita tersita pada realita yang ada. Inilah yang terjadi pada umumnya. Karena ini terjadi seperti alamiah, maka muncullah istilah pergumulan hidup.
Apa yang menjadi pergumulan hidup Anda sekarang?
Ketika hal-hal itu sudah menjadi pergumulan hidup, terkadang banyak yang sudah tidak dapat menangkap dan memahami apa arti realita hidup yang sedang dihadapi. Sebagian lari dari kenyataan, sehingga ada yang bunuh diri, bahkan melakukan pembunuhan, ini sudah terjadi secara umum dan tidak sedikit yang kita temukan ada orang percaya yang melakukan itu juga.
Kisah Adam dan Hawa
Mari kita renungkan sejenak, darimanakah semua realita hidup ini?
Kita belajar dari kisah Adam dan Hawa. Ketika hawa, karena bujukan Iblis, akhirnya memakan buah yang dilarang untuk dimakan dan kemudian memberikan kepada Adam dan Adampun ikut memakan buah itu. Pada saat itu juga terjadilah pelanggaran terhadap apa yang Tuhan firmankan, mereka jatuh ke dalam dosa karena melanggar dan putus persekutuan dengan Tuhan. Segala yang baik yang sudah mereka nikmati menjadi lenyap pada saat itu.
Kejadian 3:10-12 “ 10Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” 11 Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” 12Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”
Adam tidak mau disalahkan, dia menyalahkan Hawa yang sudah memberi buah itu padanya. Masalah iman adalah masalah yang sangat pribadi antara kita dengan Tuhan. Kita tidak bisa menyalahakan si A, Si B, si C yang menjadi penyebab masalah yang kita alami. Tuhan tidak berurusan dengan masalah kita ataupun dengan orang lain, tapi Tuhan berurusan dengan pribadi kita yang sedang menghadapi permasalahan itu.
Kejadian 3:13 “Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu:”Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”
Kasus Adam dan Hawa adalah contoh orang-orang yang tidak siap menerima realita, sehingga “main lempar” permasalahan. Ia akan selalu mencari siapa penyebab permasalah itu. Ini bahaya!
Apa akibat dari semua pelanggaran ini
Kalau kita tidak bisa menerima realita dan selalu mencari penyebab/obyek penderita, kita tidak akan pernah menemukan diri kita sebagai oknum yang menghadapi segala sesuatu yang Tuhan ijinkan kita alami. Memang akan hadir siapa dan bagaimana bentuknya, tapi yang jelas adalah bahwa kita yang merasakan dan menghadapi permasalahan itu. Jangan dulu cari penyebabnya, tapi yang terlebih dahulu harus kita intropeksi adalah diri kita.
Kejadian 3:17-18 “18Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: 18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
Kejadian 3:16 “Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.”
Semua ini adalah kehadiran realita-realita hidup yang tadinya tidak ada, tetapi harus ada karena konsekuensi dari pelanggaran yang dilakukan, maka terjadilah realita-realita tersebut.
Dengan demikian, kehadiran setiap realita hidup, apapun bentuknya, tidak dapat dipisahkan dengan kehadiran Firman Allah dalam kehidupan kita. Ketika kita menghadapi realita hidup maka kita sedang berhadapan dengan Firman Allah.
Kisah Ayub
Dalam Alkitab diceritakan seorang Ayub yang saleh, terhormat sekaligus sangat kaya pada saat itu. Kondisi nyata seperti itulah yang Ayub sedang nikmati. Di alam roh, ketika Tuhan mengijinkan Iblis “menggarap” Ayub, dalam sekejap saja semuanya hilang lenyap, harta bendanya lenyap bahkan anak-anaknya mati. Kita mungkin saja belum pernah mengalami seperti yang dialami oleh Ayub. Andai hal itu terjadi dan menimpa kita, apakah kita bisa memahaminya? Kita berkata bahwa kita sudah setia melayani Tuhan, tetapi mengapa Tuhan membalasanya seperti ini? Semua yang terjadi hadir atas seijin Tuhan, kehadiran problem yang menimpa Ayub hingga ia terpuruk, apakah Tuhan berurusan dengan harta bendanya yang telah lenyap? Apakah Tuhan berurusan dengan anak-anaknya yang sudah mati?
Banyak yang tidak memahami hal ini karena semua keberadaan kita tersita dengan masalah yang sedang menimpa kita. Ketika kita tidak memahami dengan benar apa maksud dari persoalan yang terjadi, kita datang kepada Tuhan bukan menyerahkan diri tapi menyerahkan masalahnya untuk segera diselesaikan oleh Tuhan. Pemahaman seperti inilah yang banyak dilakukan oleh kebanyakan orang percaya bahkan hamba Tuhan.
Ayub tahu bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah dibalik peristiwa yang sedang ia hadapi dan akhirnya Tuhan memulihkan keberadaan Ayub. Sekali lagi Tuhan tidak berurusan dengan segala kepunyaan Ayub yang telah hilang, tapi Tuhan berurusan dengan pribadi Ayub sendiri.
Dalam Ulangan 28 terdapat daftar berkat dan kutuk, yang diawalnya tertulis syarat jika kita mau mendapatkan berkat atau kutuk.
Ulangan 28:1-3 “1Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. 2Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: 3Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang.”
Ulangan 28:15 “Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka segala kutuk ini akan datang kepadamu dan mencapai engkau.”
Realita hidup selalu ada kaitannya dengan Firman Allah yang ditujukan secara pribadi kepada yang bersangkutan. Bukannya kita tidak mau memusingkan dengan segala persoalan yang sedang hadir, memang setiap tanggungjawab harus dipikul, tapi janganlah semua yang terjadi itu menyita semua keberadaan kita yang menyebabkan kita lupa bahwa ada rancangan Allah yang lebih indah untuk kita.
Kalau kita memahami dengan benar mengenai hal ini, maka Tuhan akan menjadikan kita lebih dari pemenang.
Written by Pdt. R.F. Martino









