SIKAP YANG BIJAK BERHADAPAN DENGAN KEDAULATAN TUHAN
Roma 9:20 “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?”.”
II Samuel 12:13-24 “13Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. 14Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati.” 15Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit. 16Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah. 17Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka. 18Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: “Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!” 19Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: “Sudah matikah anak itu?” Jawab mereka: “Sudah.” 20Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. 21Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: “Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!” 22Jawabnya: “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. 23Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.” 24Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini.”
Pendahuluan
Kita sudah belajar memahami tentang suatu kebenaran bahwa ketika kita berhadapan dengan kehendak Tuhan itu berarti kita berhadapan dengan kedaulatan Tuhan.
Kita bersyukur diberikan kesempatan oleh Tuhan menjalani tahun 2016 yang sebentar lagi akan berakhir.
Sebagai manusia lahiriah yang sekaligus juga sebagai orang percaya, tentulah dalam semua pergumulan hidup yang dihadapi, bagi sebagian orang merupakan pengalaman hidup dan bagi sebagian orang lagi merupakan pengalaman iman, tergantung sikap dari orang tersebut dalam menghadapinya.
Adakalanya dalam menghadapi suatu masalah, sebagian orang tidak mau disibukkan dan tidak mau tertekan dengan dampak masalah yang dihadapinya, sehingga orang tersebut mencari akar penyebabnya. Tetapi yang perlu diingat adalah bahwa sekalipun kita menemukan akar penyebabnya, bukan berarti tidak ada akibat dari masalah tersebut.
Dampak dari akibat tersebut adalah penyesalan dari segala yang telah terjadi. Dampak dari masalah tersebut tidak akan merubah akibat yang menimpa, ini berarti dibutuhkan suatu sikap yang bijak dari akibat penyebab masalah tersebut, supaya kita tetap berdiri teguh.
Hukum sebab akibat adalah mutlak (alamiah)
Ada banyak orang yang dalam penyesalannya tidak dapat memahami apa ketetapan Alkitab dan tahapan-tahapan apa yang harus dia jalani supaya ia tetap tegak berdiri. Sangat disayangkan hal ini tidak ditanamkan dalam jemaat. Umumnya orang percaya mempunyai filosofi bahwa apabila kita sudah mengaku dosa kita, maka Tuhan yang setia akan mengampuni kita. Pemahaman tentang pengampunan ini, seolah-olah jika kita sudah minta ampun maka kita diampuni dan sudah tidak ada akibat dari dosa tersebut. Padahal kita tahu bahwa segala sesuatu yang terikat dengan hukum alamiah akan terjadi dengan sendirinya.
Sebagai contoh dalam suatu percakapan tentang kejatuhan Adam dan Hawa. Semua tahu bahwa Adam dam Hawa jatuh dalam dosa, seharusnya Tuhan yang sudah tahu bahwa mereka akan jatuh dalam dosa, tidak usah Tuhan menciptakan pohon yang dilarang itu. Ini menjadi pertanyaan umum yang dianggap ringan dan sebagian orang tidak bisa menjawabnya yang kemudian menyalahkan Tuhan.
Contoh lainnya: di sebuah negera terjadi kerusuhan besar dan banyak perempuan yang diperkosa. Perempuan-perempuan yang diperkosa itu hamil dan melahirkan. Ada yang tabah tapi ada sebagian juga yang tidak. Ada pembahasan seperti ini: “Kalau Tuhan itu baik dan melindungi anak-anak-Nya, seharusnya perempuan-perempuan itu tidak perlu hamil karena akan merusak masa depan mereka, cukuplah mereka menjadi korban kekerasan pemerkosaan.” Bagaimana kita merenungkan pernyataan ini? Sebetulnya sederhana, hal alamiahnya adalah ketika sel telur dan sel sperma bertemu maka akan terjadi pembuahan. Hukum sebab akibat adalah mutlak, ada sebab ada akibat, hal ini sudah alamiah. Anehnya sebagian orang percaya bersikap konyol dan tidak punya sikap yang bijak dalam memahami hal ini.
Dalam suatu kasus pergumulan, beberapa hamba Tuhan memberikan bimbingan agar menggumulinya dengan doa dan puasa, dengan harapan dapat melenyapkan dan merubah sebuah akibat. Ternyata pergumulan tersebut tidak merubah akibat tersebut. Akhirnya terjadi penyesalan karena sudah bergumul begitu rupa. Pengalaman sebab akibat yang dialami dalam hidup kita tidak dapat dibayar dengan doa puasa apapun.
Merasa sudah capek dalam hal ketekunan ternyata Tuhan tidak berbuat apa-apa dan akhirnya kecewa, hal ini berbahaya. Dipenghujung akhir zaman ini dibutuhkan kedewasaan untuk menghadapi semua bentuk pergumulan agar kita tidak menjadi kecewa.
Adanya sikap anak-anak Tuhan seperti ini sangat berbahaya dan sangat menganggap remeh kemurahan Tuhan sebagai barang murahan. Kita tidak perlu tertekan dan di hakimi oleh Iblis, dituding karena melakukan dosa yang akhirnya membuat kita minder secara iman. Minder secara iman juga adalah suatu kesombongan, dimana ia tidak suka kelemahannya diketahui olah orang lain.
Peristiwa Daud
Suatu peristiwa yang dihadapi oleh Raja Daud ketika ia mengambil Batsyeba dari Uria. Tuhan menganggapnya adalah suatu hal yang keji. Kita tidak akan membahas penyebabnya. Tuhan mengirim Nabi Natan untuk berbicara dan menyampaikan teguran Tuhan. Dan akhirnya Daudpun mengakui semua perbuatannya. Sebagai akibat dari perbuatannya itu maka anak yang dilahirkan Batsyeba kena tulah dari Tuhan dan sakit.
Meskipun Tuhan sudah berkata bahwa anak yang dilahirkan baginya itu akan mati, Daud tetap bermohon dengan tekun berdoa dan berpuasa dengan pergumulannya yang sangat hebat sampai ia semalam-malaman berbaring di tanah. Ini bukan hanya pergumulan biasa. Walaupun demikian kedaulatan Tuhan adalah anak itu mati. Pada saat itu tidak ada satupun yang berani mengatakan kepada Daud bahwa anaknya telah mati, karena mereka takut kalau-kalau Daud akan berbuat hal yang mencelakakan dirinya. Pada akhirnya pun Daud tahu bahwa anaknya itu sudah mati. Tapi aneh, justru ia bangkit dari pergumulannya dan membersihkan dirinya, lalu pergi kerumah Tuhan untuk sujud menyembah kemudian ia makan.
II Samuel 12:22 “Jawabnya: “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup.
Ayat ini banyak menjadi konsep dari sebagian anak Tuhan hanya saja tidak sedalam dari konsep yang Daud miliki. Jangan salah paham, bukan berarti kita tidak perlu berdoa dan berpuasa, kita perlu memahami apa yang kita doakan dan puasakan supaya kita tidak kecewa.
Kita juga sudah belajar bahwa rancangan Tuhan dan rancangan manusia jaraknya seperti langit dan bumi. Kita yang harus berusaha untuk mengerti, jadi tidak ada unsur iman yang dipakai untuk memaksa Tuhan mengabulkan permintaan kita.
Daud tidak pernah kecewa ketika menghadapi kenyataan bahwa anaknya mati, karena memang ia sudah tahu bahwa anaknya akan mati. Nah, kalau ia sudah tahu bahwa anaknya itu akan mati, mengapa ia harus bergumul dalam doa dan puasa? Dalam kasus suatu penyakit, ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan tidak ada obatnya, kanker misalnya, meski sudah divonis akan mati, ada beberapa orang yang tetap berusaha untuk mengobatinya, bahkan harus keluar negeri hingga harus dikemoterapi. Itulah usaha manusia untuk tetap mempertahankan hidup.
Selain sikap yang bijak, mari kita renungkan lagi tentang sebab akibat. Bukankah Daud sudah mengaku dosanya? Tapi mengapa anak itu harus tetap mati? Ada yang berkata bahwa harusnya Daud yang mati bukannya si anak yang menanggungnya, karena memang Daud-lah yang melakukan kesalahan. Tapi itulah kedaulatan Tuhan.
II Samuel 12:24 “Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini.”
Daud berhasil melewati ujian ini dengan tetap menerima kedaulatan Tuhan. Tuhan memberikan Salomo bagi Daud, menggantikan anaknya yang sudah mati.
Ini merupakan hasil dari pergumulan yang begitu berat dalam kehidupan Daud. Ia bisa tetap berdiri tegak lagi menjadi raja yang diurapi dan dipakai untuk memimpin.
Suatu peristiwa lagi akan kita pelajari dan meneliti betapa perlunya kita berhati-hati dalam melakukan kehendak Tuhan.
Daud Menghitung Orang Israel
I Tawarikh 21
“1Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel. 2Lalu berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada para pemuka rakyat: “Pergilah, hitunglah orang Israel dari Bersyeba sampai Dan, dan bawalah hasilnya kepadaku, supaya aku tahu jumlah mereka.” 3Lalu berkatalah Yoab: “Kiranya TUHAN menambahi rakyat-Nya seratus kali lipat dari pada yang ada sekarang. Ya tuanku raja, bukankah mereka sekalian, hamba-hamba tuanku? Mengapa tuanku menuntut hal ini? Mengapa orang Israel harus menanggung kesalahan oleh karena hal itu?”
Sikap hati-hati yang harus kita lakukan adalah bujukan Iblis yang bentuknya “positif” dan kita tidak menganggapnya sebagai dosa karena sepertinya hal itu adalah baik.
Menghitung jumlah orang atau apalagi dikatakan kegiatan sensus itu adalah hal yang biasa dilakukan. Tapi hal ini merupakan jahat di mata Tuhan. Iblis bangkit melawan orang Israel dengan cara membujuk rajanya, Daud.
Rupanya Yoab lebih paham dengan ketetapan yang ada. Pada waktu itu adalah zaman Theokrasi, jadi semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Yoab sudah menasihati Daud sebelumnya
“4Namun titah raja itu terpaksa diikuti oleh Yoab, maka pergilah Yoab menjelajahi seluruh Israel, kemudian kembali ke Yerusalem. 5Lalu Yoab memberitahukan kepada Daud hasil pendaftaran rakyat. Di antara seluruh orang Israel ada sejuta seratus ribu orang yang dapat memegang pedang, dan orang Yehuda ada empat ratus tujuh puluh ribu orang yang dapat memegang pedang. 6Orang Lewi dan Benyamin tidak dimasukkannya dalam pendaftaran, sebab titah raja itu dianggap keji oleh Yoab. 7Tetapi hal itu jahat di mata Allah, sebab itu dihajar-Nya orang Israel. 8Lalu berkatalah Daud kepada Allah: “Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.”
Dalam hal ini Tuhan marah tapi Daud mengakui kesalahannya.
Kita harus belajar untuk dapat melihat bentuk-bentuk penerobosan di alam roh ke alam nyata. Perhatikan! Pendataan ini bukanlah kasus kriminal atau pembunuhan atau perzinahan, dsb, ini hanyalah kegiatan mendata penduduk.
Kita butuh kepekaan dari Roh Kudus dan selalu belajar memahami kehendak Tuhan. Apa motivasi Daud sehingga ia mau menghitung pasukannya? Ini bukan soal mendata tapi soal motivasi.
Apa yang terjadi?
“9Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Gad, pelihat Daud: 10 “Pergilah, katakanlah kepada Daud: Beginilah firman TUHAN: tiga perkara Kuhadapkan kepadamu; pilihlah salah satu dari padanya, maka Aku akan melakukannya kepadamu.” 11Kemudian datanglah Gad kepada Daud, lalu berkatalah ia kepadanya: “Beginilah firman TUHAN: Haruslah engkau memilih: 12tiga tahun kelaparan atau tiga bulan lamanya melarikan diri dari hadapan lawanmu, sedang pedang musuhmu menyusul engkau, atau tiga hari pedang TUHAN, yakni penyakit sampar, ada di negeri ini, dan malaikat TUHAN mendatangkan kemusnahan di seluruh daerah orang Israel. Maka sekarang, timbanglah jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.”
Apa jawab Daud?
“13Lalu berkatalah Daud kepada Gad: “Sangat susah hatiku, biarlah kiranya aku jatuh ke dalam tangan TUHAN, sebab sangat besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke dalam tangan manusia.” 14Jadi TUHAN mendatangkan penyakit sampar kepada orang Israel, maka tewaslah dari orang Israel tujuh puluh ribu orang.”
Poin langkah-langkah bijak menghadapi kedaulatan Tuhan
1. Akui kesalahan
Jika kedaulatan Tuhan itu hadir oleh karena perbuatan kita, apalagi karena kesalahan kita, akui kesalahan itu dan menyesalinya. Penyesalan adalah awal dari pertobatan, tapi penyesalan itu sendiri bukanlah pertobatan. Tidak akan ada pemulihan dan jalan keluar yang lebih baik jika hanya sampai tahap penyesalan. Penyesalan itu sendiri merupakan langkah awal untuk memperbaiki diri dan sikap yang bijak. Jadi, menyesali dan bertobat.
2. Menyerah kepada keputusan Tuhan
Jangan memakai doa dan puasa sebagai “alat sogok” untuk melenyapkan akibat. Tuhan tidak bisa disogok. Contoh kasus: pada tahun 1991 sebuah travel, yang bisnisnya mengalami masalah, memberikan kesempatan kepada gembala-gembala gereja untuk berangkat ke korea (yang pada waktu itu pertumbuhan gereja Tuhan sangat pesat). Gembala-gembala ini hanya membayar dengan biaya yang sangat murah dan sisanya disubsidi oleh travel ini. Tapi pada akhirnya travel ini tetap bangkrut. Ini bukan cara untuk memperbaiki bisnis yang sedang bermasalah. Kita tidak boleh melakukan sesuatu yang kita anggap sebagai langkah-langkah iman padahal bukan, ini akan membuat kita kecewa. Meyerahlah pada keputusan Tuhan. Kita harus siap mental untuk apapun yang akan terjadi akibat dari suatu keteledoran yang kita buat, supaya kita tidak kecewa.
3. Jalani keputusan Tuhan
Kedaulatan Tuhan yang menjadi keputusan Tuhan bukanlah sebuah hukuman kekal, itu merupakan sebuah didikan yang membawa kita ke arah dewasa. Jadi jalanilah bersama dengan Tuhan.
4. Jaga persekutuan dengan Tuhan
Tatkala Daud tahu bahwa ternyata anaknya mati, ia segera datang masuk ke rumah Tuhan dan sujud menyembah kepada Tuhan. Persekutuan yang erat dengan Tuhan akan membawa kita peka dengan segala kehendak-Nya.
Dengan jalan demikian, tidak ada kesempatan bagi Iblis untuk merobohkan kita. Mungkin Iblis berhasil membujuk, tapi Tuhan tetap bersama kita dan kita tidak tetap berdiri teguh. Mazmur 37:23 “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya.”
Jangan pernah merasa bingung dengan keputusan Tuhan, firman-Nya adalah jawaban bagi setiap pergumulan kita. Firman Allah itu hidup kita tinggal jalani saja dan tetap setia kepada-Nya.
Pdt. R.F. Martino










Leave a Reply