MEMBANGUN DIRI DALAM IMAN
Yudas 20 “Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.”
I Korintus 15:10 15:10 “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”
Tidak ada manusia yang tidak terlibat dalam melakukan pekerjaan membangun. Secara alamiah hal itu kita lakukan dalam hidup kita. Sebagai contoh: Orang tua yang bertanggungjawab akan tahu persis apa yang harus dia lakukan untuk anak-anaknya. Mengasuh dan membimbing hingga anak itu bertumbuh sampai usia tertentu anak itu dilatih untuk mandiri. Orang tua bukan hanya membangun dirinya sendiri tetapi ia membangun diri anaknya hingga sampai usia tertentu untuk dilatih mandiri. Membangun diri sendiri bukanlah yang bermakna negatif yang tujuannya mencintai diri sendiri. Membangun dalam hal ini adalah suatu penegasan. Contoh lainnya adalah seorang laki-laki/ayah sebagai kepala rumah tangga yang harus membanting tulang agar ada kejelasan tentang masa depannya dan juga keluarganya. Ada juga orang yang membangun studinya, misalnya selama ia kuliah ia mengambil jurusan kedokteran tetapi begitu di dunia kerja ia tidak menggunakan disiplin ilmunya karena dia harus bergelut dalam dunia bisnis dan masih banyak contoh lainnya. Tetapi yang jelas ada perjuangan dan pergumulan untuk sesuatau yang diharapkan dan hal itu menjadi kegiatan sehari-hari. Inilah realita yang ada.
Kita bukan hanya sekedar berjuang untuk membangun hal-hal lahiriah saja, kita juga diajar untuk membangun diri kita sendiri di dalam iman. Sangat disayangkan, bahwa sebagian besar orang percaya, ketika berbicara mengenai iman, pemahamannya sangat dangkal yaitu hanya sebatas “mati masuk surga”. Hal ini memang benar, kita yang sudah lahir baru, oleh iman percaya kita, maka ada jaminan keselamatan. Tapi kita tidak boleh lupa bahwa kita masih hidup di dunia ini dan beraktifitas dengan segala pergumulan dan realita hidup yang ada.
Dalam Yudas 20 berkata: “Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.”
Ini menjelaskan bahwa ada iman yang tidak suci/tercemar. Iman yang tercemar tidak bisa digunakan untuk menjadi dasar karena jika dasarnya salah maka yang dibangun diatasnya adalalah menara Babel yaitu kesombongan, keangkuhan, prestise, kebanggaan, dll.
Iman yang kudus adalah iman yang sejati. Iman yang masih disertai dengan kepercayaan-kepercayaan tempo dulu, takhayul-takhayul nenek moyang, tidak akan pernah berhasil untuk menyenangkan hati Tuhan dan tidak dapat dipakai sebagai dasar untuk membangun diri dalam iman
Jika kita tidak mau membangun diri kita dalam iman maka kita sama saja menyia-nyiakan kasih karunia yang sudah diberikan pada kita. Paulus berkata bahwa ia bergumul dan bekerja keras untuk membangun dirinya di dalam iman, karena inilah pergumulan iman. Selama kita tidak mau bergumul dalam iman, kita tidak akan dapat mencapai apa-apa.
Ingatlah bahwa sejak kita telah lahir baru, Iblis selalu mengincar kita dan berusaha untuk menjatuhkan kita. Apapun akan Iblis lakukan untuk menyentuh dan mencelakakan kita. Padahal sejak kita lahir baru Iblis tidak berhak menyentuh kita, kecuali peristiwa Ayub yang diijinkan Tuhan untuk Iblis bisa mencobainya. Tapi mengapa Iblis bisa menerobos dan menyentuh kita?
JANGAN MAU DIGESER
Kolose 1:23 “Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”
Iblis selalu menunggu waktu yang tepat untuk dapat mencobai kita. Dalam Roma 8:28 Tuhan mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan setiap orang percaya akan mendatangkan kebaikan. Tapi di lain sisi Iblispun mengambil kesempatan berusaha untuk menghancurkan kita di setiap realita hidup yang ada.
Biasanya pemahaman kita mengenai serangan Iblis hanyalah sebatas dalam hal malapetaka yang mengerikan dan menghancurkan. Hal itu lumrah, seperti halnya yang terjadi pada Ayub. Dan hal ini membuat kita cukup cerdik untuk mengantisipasi serangan Iblis. Tapi sadarlah bahwa seringkali Iblis melakukan penyerangan tanpa kita sadari.
“…dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil…”
Dalam kasus ini, Iblis tidak datangkan malapetaka yang hebat, ia hanya menggeser sedikit saja. Ini berarti ada peranan dari kita “yang mau digeser”. Hal ini terjadi tanpa kita sadari. Ibarat sebuah titik yang ditarik dari suatu garis, yang awalnya tidak jauh, tanpa disadari tetapi lama kelamaan garis itu menjauh.
Akhir zaman ini banyak hamba-hamba Tuhan sedang mengalami hal ini, sudah diperingati dan diberi nasihat tapi tidak mau menerima karena merasa tidak ada yang salah pada dirinya. Padahal dia tidak sadar bahwa dirinya sudah bergeser makin lama makin jauh, ia merasa tetap pada jalannya, tetapi jalan yang dibuatnya sendiri.
Pengajarannya sudah bergeser tapi tidak sadar, karena dia menyangka bahwa yang dia bahas masih firman.
Kita harus menyadari hal ini, karena terkadang kesetiaan kita sudah bergeser. Ini trik Iblis yang paling halus karena tidak disertai dengan peristiwa celaka jadi seringkali sulit dideteksi.
II Korintus 2:11” supaya Iblis jangan beroleh keuntungan atas kita, sebab kita tahu apa maksudnya.”
Ayat di atas membuktikan bahwa Tuhan memberikan kita hikmat untuk tahu trik-trik Iblis dalam menjatuhkan manusia. Kita perlu berhati-hati!
Bukan hanya hamba-hamba Tuhan, ada banyak yang sudah mulai tergeser. Ada yang bergeser dari motivasi mengikut Tuhan, sehingga motivasinya sudah tercemar. Ada yang begitu tulus ikhlas mengasihi Tuhan, tapi kasihnya sudah mulai bergeser ke hal-hal yang lain.
Jangan mau digeser! Apa yang ada pada kita yang sudah bergeser? Adalah bijaksana jika kita mengintropeksi diri masing-masing, dalam hal apa saja kita sudah mulai tergeser?
Setiap bangunan pasti dibangun diatas sebuah dasar. Begitu juga dengan kita, lahir baru yang kita alami saat pertama kali mengalami pertobatan merupakan dasar untuk kita membangun manusia rohani kita. Jadi pengalaman lahir baru merupakan hal yang mutlak bagi setiap orang yang rindu membangun manusia rohaninya. Tapi jika kita sudah lahir baru, yang berarti sudah ada dasar, tetapi kita tidak mau membangun di atasnya maka sama saja kita menyia-nyiakan kasih karunia yang sudah Tuhan berikan pada kita. Dalam menjalani hidup sehari-hari, apakah kita mampu bertahan sampai akhir? Tidak ada jaminan bagi kita karena kita tidak membangun diri kita di dalam iman.
I Korintus 13:11-16 “11Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. 12Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, 13sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. 14Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. 15Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian, tetapi ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api. 16Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”
Ketika kita sudah mulai membangun, hendaklah masing-masing kita memperhatikan bagaimana kita membangun. Ini berbicara mengenai kualitas. Hal ini harus menjadi perhatian agar pekerjaan membangun kita tidak menjadi sia-sia. Sebagian besar kita sudah melayani pekerjaan Tuhan di tempat ini, bagiamana kualitasnya? Pasti kita tidak mau menjadi tenaga gratis. Pekerjaan setiap orang akan diuji, kalau pekerjaannya terbakar, berarti ia tidak akan mendapat apa-apa. Oleh sebab itu dalam membangun yang disertai dengan bentuk aktifitas iman lakukanlah dengan berkualitas, supaya usaha kita tidak menjadi sia-sia.
HAL-HAL APA SAJA YANG HAUS KITA LAKUKAN AGAR KITA TIDAK TERGESER/TERPENGARUH?
I Petrus 1:5-7 “5Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, 6dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, 7dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.”
Ada tujuh hal yang harus kita tambahkan kepada iman kita yaitu: kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kesalehan, kasih akan saudara-saudara dan kasih akan semua orang. Ketujuh hal ini adalah pengalaman hidup sehari-hari dalam mempraktekkan firman Tuhan. Jadi, tidaklah sulit dilakukan asalkan kita mau. Ketika kita melakukan hal ini dan sementara itu juga muncul peristiwa, kita tidak menghadapinya dengan manusia lama tapi kita hadapi dengan iman. Kekuatan kuasa firman Tuhan hanya bisa dinikmati ketika firman itu dilakukan. Jika kita tidak melakukannya maka firman itu hanyalah sebuah tulisan/huruf saja.
APA HASILNYA?
I Petrus 1:8 “Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita.”
BAGAIMANA JIKA KITA TIDAK MAU MELAKUKAKNNYA?
I Petrus 1:9 “Tetapi barangsiapa tidak memiliki semuanya itu, ia menjadi buta dan picik, karena ia lupa, bahwa dosa-dosanya yang dahulu telah dihapuskan.”
Posisi tergeser adalah lebih berbahaya daripada jatuh secara langsung. Kalau tergeser kadang orang tersebut tidak menyadarinya. Tetapi kalau jatuh, orang tersebut akan segera menyadarinya dan bangkit kembali.
I Petrus 1:10 “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.”
Kita tidak akan pernah tersandung, meski dunia mengatakan bahwa tidak ada manusia yang sempurna, tapi firman Tuhan mengatakan bahwa jika kita melakukan semuanya maka kita tidak akan pernah tersandung.
Pdt. RF. Martino










Leave a Reply