Ibadah Pembukaan: – Sekolah Pelayanan Palu (SPP) Tingkat II Angkatan XI – Sekolah Training Misi Palu (STMP) Angkatan III HAMBA YANG BERKENAN KEPADA KRISTUS
PENDAHULUAN
GppsPalu – Kita patut bersyukur kepada Tuhan yang telah mempercayakan GPPS jemaat Palu untuk mendidik pribadi-pribadi yang memberikan dirinya secara fulltime melalui Sekolah Pelayanan Palu (SPP) maupun Sekolah Training Misi Palu (STMP). Motto SPP yaitu mendidik dan mempersiapkan hamba Tuhan yang melayani berdasarkan kebenaran Alkitabiah, pemimpin rohani yang rohani. Prinsip sekolah ini adalah tidak mencari murid tapi mencari calon hamba Tuhan, oleh sebab itu seberapa pun murid yang Tuhan kirim akan tetap dididik menjadi hamba Tuhan. Sekolah ini terbeban mempersiapkan pribadi-pribadi istimewa yang sepenuh hati bukan pribadi yang kecewa karena “patah dagang” atau putus cinta/patah hati atau pribadi yang harus drop out dari pendidikan sekuler. Mengapa dikatakan seperti ini? Karena pada kebanyakan kasus bahwa pribadi tersebut menjadi hamba Tuhan fulltimer hanyalah sebagai pelarian saja.
Puji Tuhan, sekitar 98% gereja lokal GPPS yang ada di Sulawesi Tengah gembalanya adalah lulusan dari Sekolah Pelayanan Palu. Salah satu pergumulan bagi gereja Tuhan adalah ladang pelayanan yang sangat luas yang didalamnya banyak jiwa-jiwa yang harus dituai tapi pekerja sangat sedikit. Tugas gerejalah yang menghasilkan dan memotivasi jemaatnya untuk menyerahkan hidup sepenuhnya melayani Tuhan. Motivasi ini penting, karena ada pribadi-pribadi yang memang dipanggil untuk melayani sepenuh waktu, tapi belum semuanya mengenal panggilannya.
Galatia 1:10 “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”
Menjadi hamba yang berkenan kepada Kristus bukan hanya ditemukan dalam hidup pelayanan hamba-hamba Tuhan fulltime, hal ini kita jumpai juga dalam kehidupan sehari-hari sebagai orang percaya. Kita yang sudah lahir baru, selain disebut sebagai anak-anak Allah kita juga disebut hamba Kristus (doulos). Tugas hamba adalah melayani Tuan-nya. Kita sudah belajar memahami bahwa pelayanan adalah pengabdian hidup dengan segala milik kita.
PRINSIP IMAN
Dalam suratan Galatia ada suatu ketegasan yang Paulus sampaikan kepada jemaat di Galatia. Saat itu ada ajaran yang membawa mereka kembali ke zaman taurat, sehingga hidup mereka kembali terikat oleh adat istiadat Yahudi, ketentuan-ketentuan taurat, dll. Paulus memberikan ketegasan bagaimana seorang percaya agar memiliki prinsip iman.
Setiap prinsip iman akan selalu diuji oleh realita hidup, apakah kita tetap bertahan ataukah kita goyah? Hal ini tidak bisa dianggap remeh tapi bukan berarti harus dibesar-besarkan. Semua prinsip iman sudah tertulis dalam Alktab yang bisa kita pelajari dalam pemuridan. Semuanya itu menjadi dasar prinsip iman percaya yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun dan apapun. Jadi setiap saat kita harus berwasapada, apakah kita tetap berpegang pada prinsip iman ataukah kita kompromi dengan hal-hal yang tidak sesuai dengan kebenaran.
Kita akui bersama bahwa firman Allah itu hidup dan berkuasa! Apakah ada yang bisa mengalahkan firman? Tradisi, adat istiadat ini dapat “mengalahkan” firman. Jika kita tidak terlatih dengan prinsip iman kita maka ini akan menghasilkan dengan apa yang namanya tindakan kompromi, artinya firman dilakukan tapi adat istiadat juga tetap dilakukan karena takut dianggap tidak menghargai. Jadi masih ada hal-hal tertentu dimana kita lebih mentaati yang lain daripada melakukan prinsip firman Tuhan.
Kadangkala kita melakukan sesuatu dan berpikir hanya masalah etis padahal sudah menyangkut prinsip iman Dan hanya karena masalah etis kita tidak bisa berdiri tegak di atas kebenaran firman dan ini yang membuat iman kita hancur.
Sebenarnya kita bisa tetap berdiri di atas prinsip iman dengan cara tidak kompromi tapi tetap dilakukan secara etis, tapi tidak banyak orang melakukannya dengan baik. Ada yang lebih mementingkan perilaku etis daripada mempertahankan prinsip iman karena takut dianggap tidak baik. Ketika terjadi interaksi horizontal (sesama manusia) di sini ada ujian iman dalam perilaku etis (kita tidak berbicara mengenai ajaran lain yang mempengaruhi prinsip iman kita) dalam hal etis inilah seringkali iman kita gugur. Yang membuat iman kita gugur adalah hal yang sederhana yaitu “sungkanisme”.
Sungkan adalah perilaku etis untuk dapat hidup secara terhormat. Perilaku etis haruslah sesuatu yang wajar, tetapi jangan lupa bahwa sungkanisme tidak boleh “menyentuh” prinsip iman kita. Jika hal itu sampai mempengaruhi iman kita maka akan terjadi tindakan kompromi. Supaya Iblis tidak mengambil keuntungan, kita tidak perlu arogan tapi bisa disampaikan secara etis.
BERKENAN KEPADA ALLAH
Roma 14:17-18 “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia.”
Berbicara mengenai hamba yang berkenan ini sekaligus membawa kita pada suatu kejelasan dalam pola hidup sehari-hari dengan tujuan yang jelas. Setiap orang percaya pasti ingin hidupnya lebih baik setiap hari, mencapai sukses dan berhasil dan juga ingin diberkati secara rohani.
Sangat jelas bahwa pola hidup anak- anak Kerajaan Allah bukan soal makan dan minum. Hal ini akan mengingatkan pada kita pada suatu kebenaran, yaitu: sebagai orang percaya bukan hanya masalah mati masuk neraka atau masuk surga. Apa tujuan kita ada di dunia ini? Jangan jadi orang percaya hanya untuk memperbaiki nasib. Tujuan kita hidup di dunia ini bukan merubah nasib, susah menjadi senang, miskin menjadi kaya, sakit menjadi sembuh sembuh. Semua berkat Tuhan yang sudah ada dalam berbagai macam bentuknya sudah disediakan bagi setiap orang percaya. Kita tidak mencari kayapun, Tuhan sudah berkehendak kita hidup dalam kelimpahan, jadi sangat aneh jika kita menjadikan itu tujuan hidup, ini berbahaya! Tanpa kita inginkan kesuksesasnpun, Tuhan mempunyai tujuan untuk membuat kita menjadi kepla bukan ekor. Jadi kesuksesan bukanlah tujuan, kesembuhan juga bukan tujuan, hidup senang bukan tujuan, semuanya memang sudah Tuhan sudah sediakan. Kalau kesuksesan kita jadikan tujuan hidup maka motivasi sudah berubah maka prinsip iman juga akan terganggu.
Mari kita kembali mengingat dan memahami pengertian sukses melalui matematika sederhana di bawah ini:
5 x 5 (Proses) = 25 (Hasil)
25 + 25 (Proses) = 50 (Hasil)
100 x 100 (Proses) = 10.000 (Hasil)
100.000 x 100.000 = 10.000.000.000 (Hasil)
Kebanyakan orang hanya ingin hasilnya tapi tidak mau direpotkan dengan proses. Jika kita mengamati matematika sederhana di atas maka setiap angka yang tidak dihasilkan melalui proses maka angka tersebut hanya disebut nomor urut. Kita mau angka 10.000.000.000 tapi tidak mau prosesnya maka 10.000.000.000 hanyalah sebuah nomor urut yang sangat panjang bukan?
Kisah Para Rasul 13:22 “Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.”
Berkenan kepada Tuhan dan melakukan segala kehendaknya itulah tujuan hidup kita. Yang kita lakukan adalah menyenangkan hati Tuhan, itu sudah cukup. Tidak perlu terpancing untuk menjadi terkenal asal kita berkenan di hadapan Tuhan. Jika ini sudah kita lakukan maka ketika kita dipuji kita tidak akan tinggi hati dan ketika kita direndahkan kita tidak akan tersinggung. Jangan mengejar fasilitas dan jangan terpancing dengan soal makan dan minum atau perilaku hedonisme (perilaku duniawi). Menyenangkan hati Tuhan yaitu melakukan kehendak Tuhan dan cari tahu apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam kehidupan pelayanan kita.
Pdt. R. F. Martino










Leave a Reply