This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

KARUNIA BAHASA roh (2) Operasional bahasa roh dalam ibadah

GppsPalu – I Tesalonika 5:19 “Janganlah padamkan Roh”
I Korintus 14:39 “Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh”.

1. Hal-hal prinsip
Penulisan kata “roh” dalam huruf kecil untuk memperjelas bahwa yang dimaksud adalah roh manusiabukan Roh Kudus. Dalam terjemahan lain “bahasa roh” diartikan dengan “bahasa lidah”. Kita sudah belajar bahwa bahasa roh adalah ketika Roh Kudus menyatu dengan roh kita dan kemudian kita berkata-kata memakai lidah kita.
Berbahasa roh adalah berbicara secara rahasia kepada Allah, yang orang tidak mengerti dan kita juga tidak mengerti, agar kita memiliki hubungan yang pribadi dengan Tuhan. Karena sifatnya pribadi maka ada ketetapan yang sudah Tuhan atur ketika ada orang yang berbasa roh dalam ibadah raya.
Seseorang yang berkarunia bahasa roh tidak dalam keadaan kerasukan, ia sadar 100%, sehingga adakalanya unsur manusia bisa mecemari karunia bahasa roh. Ujilah semua roh!
Ketika kita belajar tentang karunia-karunia Roh Kudus kita harus menyadari dan memahami dengan baik. Ketika karunia itu bekerja dalam diri kita, kitatidak boleh sama sekali mencampurkannya dengan unsur emosional kita. Emosi bagian dari jiwa yang didalamnya juga adala pikiran dan kehendak. Jadi kita harus benar-benar murni dan berhati-hati. Unsur jiwani harus selalu ditaklukan dibawah unsur rohani, jika tidak, maka unsur jiwani (emosi) kita yang akan dominan. Hati kita perlu dijaga supaya tidak ada pencemaran-pencemaran terhadap karunia Roh Kudus. Ketika kita masih ragu terhadap karunia Roh Kudus tersebut, kita tidak perlu menolaknya tetapi tidak perlu menerimanya begitu saja.

2. Pemahaman tentang ibadah
Ibadah harus disertai dengan pemahaman yang benar. Jika tidak, maka kita hanya sekedar hadir dalam sebuah ibadah, tidak ada karunia Roh Kudus yang bekerja, kita hanya menjalani roster/giliran melayani dan kita sendiri tidak akan mendapatkan apa-apa dalam ibadah yang kita jalani. Semua berjalan dengan protokuler yang sudah disusun. Halini tidak salah. Tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah dimanakah peranan Roh Kudus dalam sebuah ibadah?
Sebenarnya, jika kita memahami dengan benar apa itu ibadah maka karunia Roh Kudus itu akan luar biasa berfungsi. Semua kita yang datang beribadah, baik dan yang mengambil bagian dalam pelayanan, harus memahami dengan benar apa itu ibadah.

Tata tertib peraturan ibadah.
I Korintus 14:26 “Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.”

Ayat di atas bukan semacam susunan acara yang berbetuk liturgi, ini adalah peraturan dan hal menertibkan orang-orang yang berbahasa roh. Karena pada waktu itu, penggunaan bahasa roh sangat kacau.

“Hendaknya tiap tiap orang-orang mempersembahkan sesuatu:”

A. Persiapan ibadah
1. Persiapan diri (contoh: uang kolekte, dsb)
2. Aktif (tidak berdiam diri)
Bukan Tuhan yang beribadah kepada kita, tetapi kitalah yang beribadah kepada Tuhan. Tidak ada yang jadi penonton dalam sebuah ibadah. Karunia Roh Kudus bekerja, dimulai dari pemahaman yang benar tentang hal ini. Jika kita tidak siap, bagaimana Roh Kudus bisa bekerja?
Dengan demikian barulah kita masing-masing bisa lebih lanjut mempersembahkan suatu persembahan rohani.

Ibrani 13:15 “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. Ucapan bibir yang memuliakan Tuhan”

Bagaimana memulainya?
– Jangan berkata bahwa saya belum bisa berbahasa roh, untuk memulai mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, mulailah dengan memuji Tuhan dengan bahasa yangkita tahu/bahasa yangkita mengerti
– Meresponi doa yang disebutkan oleh orang lain dengan cara menjawab “amin” jika setuju dengan doa yang dinaikan oleh orang lain

Bagaimana bisa kita merindukan lawatan Tuhan tapi kita tidak melakukan apa-apa buat Tuhan. Ketika umat Tuhan tidak siapa, apa yang Roh Kudus mau lakukan? Adakalanya kondisi seperti ini tidak kita sadari. Kemudia muncullah emosi kita yang berfungsi. Hati-hati memakai unsur emosional dalam pelayanan rohani. Kita harus benar-benar “menghabisi” unsur-unsur emosional dalam pelayanan-pelayanan rohani agar tidak tercemar.
Roh yang menyala-nyala dan semgat yang menyala-nyala adalah dua hal yang berbeda. Kelicikan Iblis bisa menjatuhkan orang yang sangat rajin dalam pelayanan, ketika orang yang rajin itu melayani dengan semangat yang menyala-nyala bukan dengan roh yang menyala-nyala.

Apa yang dipersembahkan?
1. Mazmur
2. Pengajaran
3. Pernyataan Allah
4. Bahasa roh
5. Menafsirkan bahasa roh
6. Nubuat
Semuanya dipakai untuk membangun jemaat. Ini berarti, tidak ada satupun yang datang beribadah dengan berdiam diri, tetapi semuanya datang dengan mempersembahkan sesuatu. Olehnya sebelum beribadah semuanya harus siap. Bayangkanlah! jika keenam hal diatas berfungsi dalam sebuah ibadah, maka ibadah itu akan penuh dengan lawatan Roh Kudus dimana semua jemaat terbangun oleh karena berfungsi sesuai dengan ketentuan Alkitab.

I Korintus 14:27 “Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya.”
Siapapun yang berbahasa roh, dia juga harus berdoa, agar diberikan artinya, berdoa untuk mengetahui apa kehendak Tuhan melalui bahasa roh yang disebutkan itu.

I Korintus 14:28 “Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.”
Maksudnya adalah untuk ketertibannya maka suara diperkecil jika belum ada yang menafsirkannya.

I Korintus 14:29 “Tentang nabi-nabi — baiklah dua atau tiga orang di antaranya berkata-kata dan yang lain menanggapi apa yang mereka katakan.”
Orang yang dipakai untuk bernubuat juga harus tertib dengan cara berganti-gantian dalam menyampaikan nubuatan. Kemudian yang lainnya menaggapi apa yang dikatakan, bukan hanya mendengar tapi mengatakan “amin” tanda setuju.

Bagimana jika ada pernyataan Tuhan yang masuk?
I Korintus 14:30-31 “Tetapi jika seorang lain yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang pertama itu harus berdiam diri. Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan.”
Jadi semua boleh bernubuat dan tidak dilarang berbahasa roh, tetapi harus ada ketertiban yaitu seorang demi seorang.

Bagaimana pelaksananaannya?

I Korintus 14:32 “Karunia nabi takluk kepada nabi-nabi.”
Bahasa roh yang sudah memakai unsur emosional, harus ditertibkan.

I Korintus 14:33 “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.”

I Korintus 14:40 “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”
Jadi, sekali lagi, tidak dilarang untuk berbahasa roh, tetapi harus berjalan dengan tertib.

I Korintus 14:39 “Karena itu, saudara-saudaraku, usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa roh.”

Ini yang perlu kita pahami supaya semua berlangsung sesuai dengan Firman Tuhan. Kita sudah diberikan Roh penolong untuk membentuk karakter kita dan juga untuk melatih unsur jiwani sehingga emosi kita berfungsi dengan benar saat dalam hidup sehari-hari maupun ataupun saat dalam hal-hal rohani yaitu menaklukkan unsur-unsur jiwani dalam kehendak roh.
Iblis bisa merubah hal-hal yang positif menjadi negatif. Contoh kasus: ada seorang ibu yang berpuasa dan mengurung diri dikamar, suatu saat suaminya datang kepada saya dan mengeluhkan keadaan istrinya yang berpuasa dengan tidak wajar. Saya memberikan solusi agar ibu tersebut berhenti berpuasa dan segera makan. Setelah ia selesai makan maka raut wajah ibu itu kembali segar dan tidak bersikap aneh lagi.
Dari contoh tersebut kita bisa mempelajari kelicikan Iblis dalam mengubah hal-hal yang positif menjadi negatif. Bagaimana mungkin seorang ibu yang berpuasa untuk tujuan rohani tiba-tiba ada “roh’ lain yang bekerja dalam dirinya? Tapi itulah kenyataannya.
Dalam studi alam roh ada yang dinamakan dengan “malaikat terang”.
II Korintus 11:14 “Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblis pun menyamar sebagai malaikat Terang.
Cara kerjanya adalah melakukan hal-hal yang rohani tapi tidak Alkitabiah.
Dengan pertolongan Roh Kudus kita akan mampu membedakan setiap roh, oleh sebab itu marilah terus belajar untuk mengerti kehendak Tuhan agar kita dapat melawan segala tipu muslihat Iblis.

Pdt. R.F. Martino

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *