PERANAN ROH KUDUS DALAM KEHIDUPAN PRIBADI DAN PELAYANAN (5) Jenis-Jenis Karunia-Karunia Roh Kudus
GppsPalu – I Korintus 12:4-11 “4Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. 5Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. 6Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang. 7Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. 8Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. 9Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. 10Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.11 Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.”
Dalam penjelasan kali ini yang akan disampaikan hal-hal sederhana mengenai karunia-karunia Roh Kudus dan juga fenomena-fenomena dari karunia-karunia yang sedang terjadi. Kita harus bijak dalam menghadapi segala fenomena-fenomena yang terjadi, tidak menolaknya tapi juga juga tidak langsung menerima atau bahkan melahapnya dengan dengan berlebihan
Bahasa roh dan karunia bahasa roh
Kisah Para Rasul 2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
Tanda awal seseorang dibaptis Roh Kudus adalah dapat berbahasa roh. Bahasa roh disebut juga bahasa lidah atau dalam Bahasa Yunani adalah glossolalia.
Bisa dimengerti (Xenolalia)
Xenolalia adalah bahasa roh yang diilhamkan Roh Kudus sehingga bersifat supranatural, namun bisa dimengerti oleh manusia.
Contoh kasusnya adalah pada peristiwa Hari Pentakosta dalam kitab Kisah Para Rasul 2:1-13 sebagai berikut: “1Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. 2Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk, 3dan tampaklah kepada mereka, lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. 4Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain seperti yang diberikan Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.5Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. 6Ketika turun bunyi itu berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. 7Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: ”Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? 8Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: 9kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, 10Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, 11baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” 12Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: ”Apakah artinya ini?” 13Tetapi orang lain menyindir: ”Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”
Diistilahkan bahasa roh karena ketika ia bekata-kata, itu bukan berasal dari pikirannya yang bekerja untuk mengatakanya, tapi merupakan ilham dari Roh Kudus. Roh Kudus yang sudah menyatu dengan roh manusia dalam bahasa lain yang mereka sendiri tidak tahu, tapi orang lain mengerti.
Di dalam daftar jenis-jenis karunia Roh Kudus, ada yang membingungkan, termasuk dianataranya adalah bahasa roh dan karunia bahasa roh. Seperti halnya iman dan karunia iman. Sehingga kadangkala hal ini disalahgunakan bahkan menjadi bahan perdebatan.
Ada bahasa roh secara umum ada karunia bahasa roh. Setiap orang percaya yang sudah lahir baru, untuk menjalani hidup baru, ia harus/wajib memulainya dengan baptisan Roh Kudus dan tanda ia sudah menerima baptisan Roh Kudus adalah ia dapat berbahasa roh. Tetapi ada lagi yang disebut karunia bahasa roh. Masing-masig orang diberikan karunia yang berbeda-beda karena ada manfaat dan tujuan Ilahi. Tuhan memakai setiap orang berbeda-beda sesuai dengan kehendak Roh Kudus.
Tetapi, di sisi lain Paulus mengatakan dalam I Korintus 14:1-4 “Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat . Artinya, karunia-karunia Roh – termasuk karunia bahasa roh – dirindukan untuk diperoleh dari Roh Kudus, tetapi kita harus tahu bahwa semua adalah kedaulatan Tuhan untuk memberikannya pada seseorang.
I Korintus 14:2-4 “2Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.3Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. 4Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. 5Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun.”
Meskipun Paulus menekankan pentingnya memiliki kerinduan untuk berkarunia nubuat, Paulus sebenarnya juga mendorong kerinduan kita untuk berbahasa roh. Hal itu terlihat dari nilai penting bahasa roh yang dijelaskan Paulus. Pertama, bahasa roh berguna untuk berkomunikasi dengan Tuhan secara supranatural (1 Kor 14:2). Kedua, bahasa roh sangat berguna untuk membangun iman sendiri (1 Kor 14:4). Ketiga, bahasa roh berguna membangun jemaat bila ditafsirkan dengan karunia menafsirkan bahasa roh (1 Kor 14:5). Dengan demikian, bahasa roh sangat penting dan bermanfaat sehingga harus diusahakan untuk memperolehnya dari Roh Kudus.
Berarti membutuhkan orang yang punya karunia menafsirkan bahasa roh. Supaya orang itu bisa menyampaikan dalam bahasa yang dimengerti. Supaya jemaat tahu apa arti yang dikatakan itu. Di sinilah mulai muncul peranan karunia. Ketika ada bahasa roh ada yang perlu diterjemahkan ada yang tidak perlu.
Dalam I Korintus 14 Rasul Paulus menjelaskan semua kegunaan, manfaat bahasa roh sekaligus menertibkan jemaat dalam berbahsa roh.
I Korintus 14:6-9 “6Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? 7Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi — bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? 8Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? 9Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!”
Pengucapan bahasa roh harus jelas (bukan seperti orang yang sedang mengomel), supaya dapat ditafsirkan oleh seseorang yang mempunyai karunia menafsirkan bahasa roh.
I Korintus 14:10 “Ada banyak — entah berapa banyak — macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti.”
Ayat ini menjelaskan bahwa tidak ada satupun bunyi kata yang tidak ada artinya. Jadi semua pengucapan harus jelas.
I Korintus 14:11-13 “11Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. 12Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. 13Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya.”
Semua karunia yang diberikan tujuannya untuk membangun jemaat bukan untuk memecahkan jemaat. Jadi sebenarnya bahasa roh dapat diterima oleh semua orang.
I Korintus 14:14 “Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.”
Ketika kita berdoa dalam bahasa roh, akal pikiran kita tidak ikut bekerja, kita sendiri tidak tahu apa yang kita katakan.
I Korintus 14:15 “Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.”
Mari kita pahami hal ini, dalam ayat tersebut kedua hal di atas tidak ada yang salah. Sesuatu yang tidak dipersiapkan terlebih dahulu atau bahasa yang kita tidak pernah tahu, kemudian kita ucapkan itu berarti roh kita yang berfungsi. Menyanyi dengan akal pujian yang belum pernah ada kata-katanya, kemudian kita nyanyikan secara spontan, itu berarti roh kita yang sedang menyanyi. Disinilah perlu kita pahami supaya kita juga mengerti di saat mana roh kita berfungsi menyembah dan berdoa dan dimana saat akal budi kita berfungsi menyembah dan berdoa?
I Korintus 14:16 “Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan “amin” atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan?”
Ketika ada yang berkhotbah dalam bahasa yangdapat dimengerti maka jemaat akan menjawab “amin”. Tetapi ketika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, maka orang-orang yang mendengarkan tidak akan menjawab “amin” karena orang-orang tersebut tidak mengetahui artinya.
I Kornitus 14:17-18 “17Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.18Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua.”
Rasul Paulus punya kemahiran lebih dari semua jemaat, tetapi dalam kebaktian Paulus lebih suka mengatakan kata-kata yang dapat dimengerti.
Peraturan dalam pertemuan jemaat operasional
Penertiban yang Paulus lakukan adalah bertujuan agar bahasa roh berfungsi untuk membangun jemaat dan secara umum tidak menghujat nama Allah.
I Korintus 14:26 “Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.”
Kita perlu akui bahwa semua ibadah yang kita lakukan sudah berubah menjadi upacara protokuler, yang tersusun rapi. Kita perlu mengetahui apa yang menjadi karunia kita, supaya ibadah yang kita jalani tetap dalam pimpinan Roh Kudus dan semua karunia bisa berfungsi untuk membangun jemaat.
Pdt. R.F. Martino










Leave a Reply