This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

SI PEMBUAT KEJAHATAN

GppsPalu – Matius 7:21 “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”” Tidak ada satupun dari kita yang lahir di bumi ini atas kehendak atau kemauan diri kita sendiri, artinya kita tidak berkuasa atas diri kita sendiri. Tuhan-lah yang menghadirkan kita di muka bumi ini, bahkan yang luar biasa adalah Dia telah menebus kita dari dosa dan yang lebih luar biasa lagi, penyertaan-Nya yang selalu bersama-sama kita dalam menjalani hidup. Maka sepantasnyalah hidup kita harus berpusat kepada Kristus. KRISTOSENTRIS harus menjadi lifestyle (gaya hidup) kita sehari-hari. Roma 14:8 “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.” Melalui kehidupan kita sehari-hari, orang bisa melihat siapakah Kristus yang ada dalam kita. Karena kita adalah suratan yang terbuka, yang dapat dibaca oleh semua orang. Dalam suatu acara kedukaan, biasanya protokol akan membacakan track record atau kisah perjalanan secara singkat dari orang yang meninggal dunia. Jika yang dibacakan adalah hal yang baik-baik, berarti semasa hidupnya, orang yang meninggal tersebut menjadi berkat untuk orang-orang yang ada di sekitarnya. Jika orang tersebut meninggal di dalam Tuhan, berarti hidupnya sudah memuliakan Tuhan. Yesaya 43:7 “semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Tujuan Tuhan menciptakan kita adalah untuk kemuliaan-Nya, jadi seharusnya dalam segala aspek kehidupan, semuanya bertujuan supaya Tuhan dipermuliakan. Tapi sangat disayangkan, banyak orang percaya yang beriman kepada Tuhan, dia tahu bahwa hidup untuk memuliakan Tuhan, dia punya kerinduan untuk menyenangkan Tuhan, tapi disisi lain dia memungkiri imannya. Terbukti dari masih banyaknya anak-anak Tuhan yang mengaku berpusat kepada Kristus, tapi kenyataannya mereka membangun kerajaannya sendiri. Terkadang iblis tidak menyerang kita melalui hal-hal yang negatif, hal-hal positif pun bisa dijadikan oleh iblis untuk menyeret kita masuk dalam hal kejahatan. Sebagai contoh: • Ketika seseorang masih memiliki penghasilan yang kecil, ia bisa seperti si janda yang memberi persembahan. Nilai persembahan bukan dinilai dari besarnya nominal tetapi dari nilai pengorbanan didalamnya. Lama kelamaan, semakin diberkati Tuhan, semakin susah ia memiliki hati seperti janda. Dia mulai hitung-hitangan dengan Tuhan. Hatinya mulai berubah, focus hidupnya pun mulai teralihkan. • Ketika seseorang belum bertemu dengan jodohnya, ia bisa berdaya guna untuk Tuhan. Ia sangat aktif di pelayanan. Ketika Tuhan sudah mempertemukan ia dengan jodohnya, semuanya mulai berubah, pelayanan dan jam ibadahnya mulai kendor, karena istri dan anak-anak menjadi alasan kesibukan. Sudah merasa dalam comfort zone sehingga sudah melupakan Tuhan. Hal inipun bisa terjadi dalam masa perkenalan, ketika dalam masa perkenalan justru membuat jauh dari Tuhan, ini bisa jadi pertanyaan, “Apakah benar ini jodoh dari Tuhan?” • Di musim ujian, biasanya anggota remaja banyak yang izin tidak mengikuti ibadah remaja dengan alasan belajar. Firman Tuhan berkata bahwa carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya maka semuanya akan ditambahkan kepada kita. Ini janji Tuhan yang Tuhan berikan bagi anak-anak-Nya. Tuhan menciptakan kita sebagai pengelola waktu. Waktu belajar dan waktu beribadah ada dalam pengelolaan kita. Jadi, tidak ada alasan bagi adik-adik remaja untuk tidak beribadah. Sekolah atau studi bukanlah segala-galanya. Damai sejahtera dan kelimpahan hidup bisa mengalihkan kita dari KRISTOSENTRIS. Banyak orang yang hidup bukan untuk membangun kerajaan Tuhan tapi membangun kerajaan. Tuhan rindu setiap kita berpusat kepada Kristus. Iblis licik dan lihai untuk membelokkan motivasi kita. Ada sebuah traktat yang sangat memberkati saya dan menjawab pertanyaan saya mengenai ayat dalam Matius 7:21. Pertanyaan saya adalah mengapa dalam ayat tersebut ada seorang pribadi yang pelayanannya sangat luar biasa tapi pada akhirnya Tuhan menolaknya, bahkan di katakan “pembuat kejahatan”? Dalam traktat tersebut dikisahkan ada 5 bersaudara yang dipanggil menjadi hamba Tuhan fulltime. Ada yang melayani di pelosok, dusun, desa, kota. Si sulung yang melayani di kota besar, suatu ketika, setelah selesai berkhotbah dan ribuan jiwa sangat kagum dengan pelayanannya. Akhirnya, tibalah masa penghakiman tiba, si pendeta tersebut tidak ada namanya terpanggil. Si pendeta itu protes, maka muncullah sebuah slide yang menggambarkan keadaan pendeta tersebut semasa dia melayani di dunia. Ternyata dalam slide tersebut dipaparkan tentang kebanggaan-kebanggaan pelayanannya yang justru membangun kerajaannya sendiri (sombong rohani). Inilah gambaran dari Matius 7:21. “Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”” Penolakan merupakan hal yang tidak menyenangkan bahkan menyakitkan. Ayat ini merupakan ayat “usiran”. Ditolak oleh manusia saja menyakitkan apalagi ditolak oleh Tuhan. Secara manusia wajarlah jika ada orang yang memuji, tetapi Firman Tuhan yang akan menjadi filter/penyaring agar kebanggaan itu tidak menjadi kesombongan yang bertujuan membangun kerajaan sendiri. Biarlah hidup kita senantiasa berpusat kepada Kristus. Tuhan kumau menyenagkan-Mu Tuhan bentuklah hati ini Jadi bejana untuk hormat-Mu Cemerlang bagai emas murni Tuhan kuserahkan hatiku Semua kuberikan pada-Mu Kuduskan hingga tulus selalu\ Agar aku menyenangkan-Mu Menyenagkan-Mu, senangkan-Mu Hanya itu kerinduanku Pdt. Lea Novitasari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *