This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Monthly Archives: August 2019

BERAKAR, BERTUMBUH, BERBUAH Bagian3

Yeremia 17:7-8 7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 8Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Untuk bisa berbuah sampai 100x ganda, benih sebuah pohon harus tertanam di tanah yang baik. Selain itu, akar harus tertanam kuat di dalam tanah.

Namun sebuah pohon tidak boleh hanya sekedar berbuah, namun harus menghasilkan buah yang baik.

Matius 3:10 Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

Bagaimanakah buah yang tidak baik itu?
Matius 7:15-20 15Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.16Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?17Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.18Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.19Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.20Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

Kita bisa mengenal pohon yang baik dari buahnya. Buah yang baik berasal dari pohon yang baik. Sebaliknya buah yang tidak baik berasal dari pohon yang tidak baik. Jadi apakah kita sudah menjadi pohon yang baik? Bukankah kita sudah bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat? Bukankah kita telah ditebus dengan darah Yesus dan bukan lagi menjadi orang berdosa tetapi sudah menjadi orang kudus-Nya Tuhan? Lalu mengapa ada orang percaya yang tidak berbuah atau berbuah tetapi menghasilkan buah yang tidak baik?

Selama kita berhenti hanya sebatas lahir baru dan tidak menjalani hidup baru, maka kita tidak akan berbuah. Kita harus memahami bahwa sebagai manusia kita terdiri dari roh – jiwa – tubuh.

Saat kita menerima Yesus, roh kita sudah diganti dengan roh yang baru sehingga Iblis tidak bisa menjamah roh kita, (kecualijikakitamembukacelah). Jiwa dan tubuh kita belum diganti, Iblis jugamasih bisa mengganggu jiwa dan tubuh kita. Maka jiwa kita harus ditaklukkan di bawah kehendak Firman.

A. Buah apa yang Tuhan kehendaki untuk kita hasilkan?

1. Buah Pertobatan
Matius 3:8 Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.

2. Buah Iman
Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
Iman kita harus menghasilkan perbuatan-perbuatan iman maka akan menghasilkan pengalaman hidup bersama Tuhan. Buah iman adalah pengalaman-pengalaman bersama Tuhan sebagai hasil dari melakukan Firman.

3. Buah Roh
Buah Roh adalah pembentukan karakter. Pembentukan karakter berbeda dengan pertobatan. Pertobatan terjadi di awal kita menerima Yesus dan meninggalkan hidup lama. Namun pembentukan karakter berlangsung seumur hidup. Ada orang yang sudah bertobat tetapi belum mau dibentuk karakternya. Karakter adalah sifat dasar manusia. Tuhan menghendaki agar kita bersedia mengalami pembentukan karakter hingga menghasilkan buah Roh.

4. Buah Pelayanan

Harus ada sesuatu yang kita hasilkan dan persembahkan bagi Tuhan dalam pelayanan melalui karunia yang telah Tuhan berikan kepada kita. Selama kita menganggap pelayanan adalah tampil, maka kita tidak akan menghasilkan buah pelayanan bagi Tuhan.

B. Bagaimana supaya kita bisa menghasilkan buah?
Yohanes 15:1-8 1″Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.2Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.3Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.4Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.5Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.6Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.7Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.8Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.”

Bagaimana agar kita bisa berbuah? Firman harus tinggal di dalam kita, artinya Firman harus menyatu dengan diri kita. Jika Firman menyatu dengan diri kita, maka kita mau melakukan Firman Allah. Inilah caranya agar kita bisa berbuah.

C. Bagaimanakah Proses Pembuahan?
Dimulai dari akar. Jika akar cukup mendapat makanan, maka pohon akan tumbuh sehat. Dan pada saatnya ia akan berbuah. Apakah semudah itu? Tidak! Semua pohon yang menghasilkan buah melalui proses yang panjang, bahkan ada yang sampai tahunan.

Sebelum pohon itu berbuah, pohon itu terlebih dulu berbunga. Banyak pelayan Tuhan dan hamba Tuhan terjebak disini. Ia mengira dirinya sudah berbuah padahal ia sedang berbunga. Hal ini sulit dideteksi dalam kehidupan real manusia. Apakah kita sedang “berbuah” atau “berbunga” sulit terdeteksi. Sebenarnya saat seorang percaya sedang “berbunga” itu tanda-tanda bahwa ia akan “berbuah”. Karena “bunga” harus mengawali “buah”. Namun banyak orang percaya bahkan hamba Tuhan yang berhenti saat “berbunga”.

Bunga adalah lambang keindahan (popularitas, pujian, pengagungan, dll). Banyak orang yang melebih-lebihkan dirinya, baik hamba Tuhan melebih-lebihkan prestasi-prestasi pelayanannya, maupun orang percaya umumnya yang melebih-lebihkan prestasi-prestasi dirinya.

Bunga itu saat kita menjadi terkenal, saat orang memuji kita, foto kita ada dimana-mana, dll. Semua ini tidak salah karena memang proses itu akan kita lewati. Namun untuk berbuah, bunga itu harus berguguran! Tuhan akan mengirim angin dan menggoncang pohon sehingga bunga-bunga berguguran. Apakah proses penguguran bunga itu? Proses penghancuran reputasi / nama baik. Ini memang menyakitkan! Lalu mengapa Tuhan harus menghancurkan reputasi kita? Agar kita tidak mencuri kemuliaan Tuhan dan semua kemuliaan dikembalikan kepada Dia.

Saat bunga-bunga berguguran, banyak orang percaya dan hamba Tuhan yang tidak tahan. Saat kita mengalami proses penguguran bunga, kita harus tetap tekun dan setia kepada Tuhan. Kita harus memahami bahwa lebih baik kita sendiri yang mengugurkan bunga daripada sampai Tuhan yang mengirimkan angin untuk mengugurkan bunga-bunga yang ada pada kita. Semua pujian dan kemuliaan yang mencuri kemuliaan Tuhan harus digugurkan.

Dan pada akhirnya kita perlu memahami bahwa buah pelayanan bukan sekedar tampil tetapi menghasilkan jiwa-jiwa bagi kerajaan Allah. Inilah buah yang tetap.

By : Pdt. DR. R. F. Martino

BERAKAR, BERTUMBUH dan BERBUAH (Bagian 2)

Yeremia 17:7-8
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Markus 4:2
2Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka: 3”Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 5Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.  7Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. 8Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat. “ 9Dan kata-Nya: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Semua bentuk pertumbuhan pohon sampai menghasilkan buah tergantung dari apakah pohon tersebut berakar atau tidak. Akar tidak kelihatan. Kekuatan pohon tergantung dari kekuatan akarnya. Kesuburan suatu pohon tergantung dari cukupnya makanan yang diperoleh dari akar dengan menghisap mineral dari dalam tanah. Anginpun membantu akar untuk lebih dalam lagi. Angin membuat tanah menjadi gembur karena adanya gerakan dari pohon itu sendiri.

Bertumbuh
Penting buat kita belajar tentang “bertumbuh” supaya kita dapat memahami mengapa ada orang percaya yang bertumbuh dan ada yang tidak. Mengapa ada yang sudah puluhan tahun ke gereja tetapi tidak bertumbuh? Atau sudah bertahun-tahun dengar firman tetapi tidak bertumbuh. Melalui perumpamaan tentang menabur di atas, kita mendapat berkat rohani yang luar biasa dan pemahaman yang luas tentang benih dan tanah tempat menabur benih. Kita dapat belajar tentang bentuk-bentuk pertumbuhan. Hal ini diumpamakan sebagai penabur yang sedang menabur benih, yang kemudian tergantung benih itu jatuh di tempat yang seperti apa. Ada yang dipinggir jalan dimana benih ini tidak bertahan lama bahkan tidak bisa bertumbuh karena ketika benih ditabur, datang burung-burung dan memakannya sehingga tidak bertumbuh. Ada yang tertabur di tanah yang berbatu-batu. Benih ini tumbuh tetapi tidak tahan lama. Ada juga yang tertabur di tanah yang bersemak duri. Benih ini dapat tumbuh tetapi ada semak duri yang menghimpit pertumbuhannya sehingga mati. Ada juga yang tertabur di tanah yang baik atau tanah yang subur sehingga benih tersebut bertumbuh dengan baik.

Murid-murid Yesus pun tidak mengerti ketika diceritakan tentang perumpamaan ini. Mereka kemudian menanyakan arti perumpamaan tersebut kepada Yesus ketika keadaan sudah tidak banyak orang dan sepi.

Sebelum Yesus menjelaskan arti perumpamaan tersebut, ada satu kalimat yang Ia tekankan “ Dan kata-Nya: “Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”  hal iniberarti ada yang mempunyai telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar atau dengan kata lain ada kebebalan, kebodohan, kedegilan yang membuat seseorang tidak mendengar/dengar-dengaran. Ketika perumpamaan ini sudah disampaikan oleh Yesus tetapi mereka tidak mengerti, sehingga datang secara khusus dan menanyakan maksudnya.
Mungkin beberapa pernah mengalami ketika menerima pesan kemudian dalam beberapa menit lupa apa yang disampaikan karena tidak ada perhatian, tidak fokus ketika mendengar pesan yang disampaikan maka hal itu akan lalu begitu saja. Anak-anak pun ketika ditegur, mereka sudah mendengar tetapi belum tentu mengerti.

Ketika kita membaca perumpamaan ini, dapatkah kita menangkap/memahami arti perumpamaan sebelum dijelaskan pada ayat-ayat berikutnya?

Yesus menjelaskan bahwa penabur adalah orang yang memberitakan firman. Sedangkan tanah yang dipinggir jalan adalah mereka yang mendengar firman yang diberitakan, lalu Iblis yang diumpamakan sebagai burung datang dan segera mengambil firman yang ditaburkan dari dalam hati mereka. Orang itu mendengar tetapi Iblis punya kemampuan mengambil firman itu. Kalau sudah terjadi seperti ini maka sudah tidak ada cerita tentang bertumbuh. Selama firman itu hanya didengar, walaupun kita katakan “kita simpan didalam hati”,Iblis masih punya “kemampuan” untuk mengambilnya karena firman belum menyatu dengan diri kita. Semua firman Allah yang sudah kita dengar tetapi tidak kita lakukan/tidak dihidupi, maka firman belum menyatu dengan hidup kita dan firman itu dapat diambil iblis sehingga lenyap dan kita hidup tetapi tidak menjadi pelaku firman.Jadi tidaklah mengherankan ketika kita menemukan ada orang percaya tetapi tidak bertumbuh. Jadi firman yang sudah ada di hati pun iblis masih dapat mengambilnya selama firman itu hanya disimpan dalam hati dan tidak dihidupi/dilakukan.

Adakalanya ketika kitamenghadapi pergumulan hidup, Roh Kudus sudah membantu kita dengan memunculkan/mengingatkan firman tetapi unsur jiwani kita menolak untuk melakukan firman itu. Hal ini banyak sekali ditemukan pada diri orang percaya sehingga menghambat pertumbuhan imannya. Tanah yang berbatu adalah orang yang mendengarkan firman dengan sukacita dan ia bertumbuh tetapi akarnya tidak kuat. Sehingga orang ini bukan hanya mati tetapi murtad. Orang-orang yang melayani dengan semangat yang luar biasa dan menggebu-gebu tetapi hanya sebentar saja. Karena bagian yang terpenting dari seseorang yang berbicara tentang firman adalah bagaimana ia melakukan firman itu sendiri. Firman Allah bukan hanya berkuasa tetapi Ia hidup dalam dunia nyata. Sebagai contoh, Yesus berkata “kasihilah musuhmu”hal ini berarti dalam perjalanan hidup kita, akan muncul hal itu menjadi sebuah realita atau pengalaman hidup dan menunjukkan apakah kita dapat menjadi pelaku firman ataukah tidak. Pertumbuhan rohani kita, tidak dapat dipisahkan dari mendengar firman karena dari sanalah iman datang.

Benih yang ditabur ditengah semak duri mengalami pertumbuhan yang tidak baik. Orang yang mendengar firman ini mengalami pertumbuhan tetapi kemudian kekuatiran, keinginan-keinginan duniawi dan tipu daya kekayaan menghimpitnya sehingga pertumbuhan rohani orang ini menjadi mati. Ketika hidup sudah makmur/menjadi kaya tetap harus berhati-hati. Dibutuhkan kemampuan iman untuk dapat menghadapi kemapanan/kekayaan itu. Karena kekayaan mempunyai kekuatan untuk menghimpit firman. Ada juga keinginan-keinginan duniawi yang dapat menghimpit firman. Adalah hal yang tidak wajar jika seseorang yang hidupnya pas-pasan tetapi memiliki keinginan yang berlebihan. Oleh karena itu jangan pernah membeli apa yang diinginkan sebelum membeli apa yang dibutuhkan.Tanah yang baik adalah orang yang mendengar firman dan meresponi/melakukan firman itu sehingga ada hasilnya. Setiap firman yang kita lakukan akan menghasilkan pengalaman iman dan membuat kita bertumbuh.

2 Petrus 3:18Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.

Kita diingatkan untuk tidak hanya bertumbuh dalam kasih karunia tetapi juga bertumbuh dalam pengenalan akan Yesus Kristus. Ada sikap anak-anak Tuhan/orang-orang percaya yang selalu mau diperlakukan dengan lembut tetapi tidak mengerti tentang kedisiplinan dan tidak mau tahu tentang prosedur yang Tuhan sudah tetapkan sebagai suatu proses. Mereka hanya tahu tentang kasih karunia, hanya tahu Tuhan itu baik, penyanyang dan lembut. Jika pemahamannya hanya sebatas itu, ia tidak akan pernah menjadi dewasa. Karena ketika Tuhan melakukan suatu tindakan kedaulatan, ia tidak dapat menerimanya karena Allah yang maha kasih dan penyanyang juga memiliki kedaulatan penuh yang tidak dapat diganggu gugat dengan cara apapun. Olehnya rasul Paulus pernah menulis“Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi didalam seluruh kepenuhan Allah.”

Jadi, bertumbuhlah dalam kasih karunia Allah dan dalam pengenalan akan Dia. Ada hati yang selalu mau mengenal kehendak Allah sehingga kita tidak akan pernah berkata “mengapa peristiwa ini menimpa aku ya Tuhan, bukankah Engkau sudah berjanji … “ melainkan kita akan katakan “Tuhan, apa yang Engkau kehendaki dalam hidupku sehingga ini terjadi/apa yang Engkau kehendaki untuk aku lakukan dalam hidupku”.

Bukan hanya mengklaim janji-janji Allah karena kita hanya memahami satu ayat lalu menyamaratakan semuanya. Karena banyak orang menjadi kecewa karena ia tidak mengenal tentang kedaulatan Allah yang tidak dapat dirubah oleh apapun termasuk oleh doa puasa sekalipun. Kita boleh mengikat diri kita dengan janji Tuhan supaya tergenapi tetapi kita juga harus dapat menerima kenyataan ketika Tuhan bertindak lain sesuai dengan kedaulatan-Nya.

Ada beberapa peristiwa dalam alkitab yang sepertinya bertentangan dengan apa yang Tuhan sudah ajarkan. Misalnya, Tuhan memakai burung gagak untuk memberi makan Elia di sungai Kerit sedangkan burung gagak pada zaman itu adalah binatang yang haram/najis. Tuhan juga menggunakan orang kusta untuk membebaskan Samaria yang terkepung. Tuhan menggunakan perempuan sundal untuk menyembunyikan utusan-Nya sedangkan ada banyak perempuan lain.

Kita perlu memahami ini sehingga Iblis tidak menerobos karena ketidaktahuan kita dan tidak adanya pengenalan ini yang dapat membuat kita kecewa dan sakit hati khususnya  di dalam mengerjakan pelayanan, dimana kita seringkali letih dan jenuh.

Ibrani 4:2
Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman pemberitaan itu tidak berguna bagi mereka, karena tidak bertumbuh bersama-sama oleh iman dengan mereka yang mendengarnya.

Efesus 2:20
yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Diakamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.

Pengalaman iman demi pengalaman iman terus kita alami dan membawa kita kepada pertumbuhan dan pengenalan lebih dalam lagi akan Yesus Kristus Tuhan sehingga kita tetap dapat bertumbuh.

By : Pdt. R.F Martino

BERAKAR, BERTUMBUH DAN BERBUAH

Kolose 2:6-7 6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. 7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

Efesus 3:17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

Berakar, bertumbuh dan berbuah adalah filosofi tentang keberadaan orang percaya di gereja GPPS Jemaat Palu.

Berakar
Ketika Tuhan mengajar, tidak akan sulit untuk dimengerti, karena Tuhan memberikan contoh-contoh konkret dalam kehidupan alam nyata yang ada dalam kehidupan sehari-hari yang kita lihat, alami dan turut terlibat dalam seluruh pergerakan hidup kita. Termasuk ketika Tuhan berkata mengenai berakar, bertumbuh dan berbuah maka dengan sangat jelas kita mengetahui hal ini dalam bentuk riilnya. Bicara tentang akar kita akan mendapat gambaran sebuah pohon yang diawali oleh adanya akar yang ada di dalam tanah yang kemudian bertunas, bertumbuh kemudian menghasilkan buah.

Kita tidak akan pernah dapat mengharapkan suatu pertumbuhan jika tidak dari akar. Akar tidak kelihatan, tapi darimana kita tahu bahwa pohon itu subur, kuat/kokoh, tidak tumbang ketika diterpa angin pasti tergantung dari kuatnya akarnya.

Fungsi Akar Tumbuhan
Fungsi akar adalah mencari mineral-mineral yang ada di dalam tanah, kemudian masuk ke pembuluh dan menyebar ke seluruh bagian pohon tersebut. Tidak terlalu sulit untuk kita mengerti firman Tuhan, ketika Tuhan memberikan beberapa ketetapan-ketetapan bagi kita dalam mengikuti apa yang menjadi kebenaran.

“Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita”
Ayat ini bukan untuk orang umum, ini berbicara khusus tentang orang percaya, orang yang sudah dibebaskan, sudah ditebus dan orang yang sudah lahir baru.

Sebuah Intropeksi
Umumnya kalangan kita pernah mengalami masa kesombongan rohani, karena menganggap gereja-gereja lain tidak lahir baru. Tetapi saya mau menyatakan bahwa gereja yang lahir barupun tidak membawa dampak yang terlalu besar selain fenomena-fenomena dan terjebak di dalamnya tanpa memahami lebih lanjut, dan fenomena itu dijadikan doktrin.
Kalangan kita yang mengatakan diri sebagai gereja lahir baru tidak akan dapat merubah dunia, menggarami dunia, menyinari dunia ini, kalau ia hanya sampai ditahap lahir baru.
Bahkan kalangan kita lebih terjebak dengan penampilan-penampilan yang “wah” dalam hal-hal materi dan kemewahan gedung-gedung gereja. Seolah-olah itu menjadi icon keberhasilan pendeta yaitu gedung yang mewah, fasilitas-fasilitas yang lengkap dan banyaknya jemaat. Selama orang percaya itu hanya sampai pada tahap lahir baru maka itu sama dengan seorang bayi uang lahir dan kemudian mati, dan tidak dapat berbuat apa-apa. Itulah kalangan kita yang harus segera kita sadari dan bertobat. Tidak ada kebanggaan yang bisa kita banggakan apalagi dengan menghakimi gereja-geraja lain. Mari kita kembali kepada firman Tuhan apakah kita sebagai gereja Tuhan baik secara pribadi maupun institusi, sudah sesuai dengan kebenaran firman Tuhan? Tidak banyak yang diperbuat, selain keasyikan dalam lingkungan oleh karena hanya saling kenal satu sama lainnya.

Tetapi kita telah menjadi gagal dalam apa yang sudah firman Tuhan katakan
Kolose 2:6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.

Ayat ini menjelaskan bahwa berarti tetap didalam Dia, tidak tercabut, tidak memisahkan diri, tidak menyangkal iman apalagi meninggalkan Kristus. Mungkin kita bisa menemukan orang yang dekat didalam Tuhan, tetapi apa yang kita ketahui tentang itu sehingga ia masih tetap di dalam Tuhan? Selama kita hanya lahir baru dan kita tidak mau menjalani hidup baru  maka itu tidak ada gunanya, kita tidak akan berdampak dan tidak akan berhasil di dalam Dia. Memang kita masih di dalam Dia tidak berpindah ke percayaan lain,  tapi dihadapan Tuhan kita seperti tidak ada di dalam Dia karena kita tidak hidup menurut kehendak-Nya.

Sama halnya dengan sebuah pernikahan. Pernikahan adalah menjalani hidup baru. Yang tadinya hidup sendiri, sekarang sudah tidak sendiri lagi. Tidak berbeda dengan hidup baru yang tertulis dalam II Korintus 5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru  yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Yang lama adalah adalah hidup menurut pikiran sendiri, perasaan sendiri, kehendak sendiri oleh karena dikendalikan oleh faktor jiwani. Setelah lahir baru Tuhan sudah menetapan bahwa ia lahir untuk menjalani hidup baru.

Selama kita tidak menjalani hidup baru, kita tidak akan pernah berhasil menyenangkan hati Tuhan, dan hidup baru inilah yang ditetapkan oleh Tuhan, kerena disinilah kita harus hidup dengan iman.
Oleh karena itulah mengapa dikatakan “Kamu telah menerima Yesus”, berarti sudah lahir baru, nah supaya kita bisa bertumbuh di dalam Tuhan dikatakan hendaklah kita berakar di dalam Kristus.

Kolose 2:7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

Ada beberapa hal yang  perlu dibenahi dalam diri orang percaya dan juga dalam institusi gereja Tuhan. Gereja tidak boleh hanya mengejar orang lahir baru, meskipun itu merupakan hal yang penting karena merupakan urusan akhirat, tetapi jangan lupa setiap orang yang lahir baru, ia tidak langsung meninggal. Jadi harus dimulai dengan berakar.
Gereja harus bertanggungjwab dengan kehidupan umat Tuhan yang belum meninggal dan yang masih hidup didunia ini dengan pergumulannya. Gereja bertanggungjawab untuk membimbing umat Tuhan untuk tahu dan mengerti akan rencana dan maksud dari segala sesuatu yang terjadi dalam hidup orang percaya, sehingga orang percaya tersebut bertahan sampai akhirnya
Sebuah pohon bisa bertumbuh kalau akarnya memiliki cukup makanan. Jadi selama belum berakar, sangat riskan dan berbahaya meskipun sudah lahir baru. Oleh sebab itu juga ada ayat yang mengatakan bahwa orang yang baru bertobat jangan diberi pelayanan karena sama saja memasukkannya dalam jerat Iblis.

Berakar tidak boleh dianggap remeh, memang kurang menjadi perhatian karena meman tidak kelihatan. Sama halnya juga dengan kita, iman kita juga tidak kelihatan, yang kelihatan adalah wujud manusianya tapi bagaimana perilaku sehari-harinyalah yang menentukan apakah orang ini punya akar yang kuat atau tidak?

BAHAYA JIKA TIDAK BERAKAR
Matius 13:20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.

Mendengar firman dan menerimanya dengan gembira. Respon-respon yang begitu baik ini ada nilai positifnya tapi gereja tidak pandai membaca.

Seorang hamba Tuhan menasihati seorang pengusaha, pengusaha ini menujukkan sikap yang sangat santun, ketika digiring untuk pengalaman lahir baru, diapun tidak menolak tetapi menjawab dengan bahasa yang santun, dia berkata: “Jika Yesus ingin masuk biarlah Yesus sendiri yang membuka pintu dan masuk sendiri”

Ketika firman tidak dapat melampaui nilai etis di dunia ini, orang tidak akan pernah menghargai nilai-nilai firman yang ada pada kita. Itulah kemenangan cara hidup dari iman kepercayaan lain. Nilai etisnya sangat tinggi padahal tidak ada firman, hanya pendidikan budi pekerti. Oleh sebab itu Yesus berkata dalam Matius 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar  dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Ayat ini menunjukkan bahwa tidak semua hal-hal jelek ada pada orang Farisi dan Saduki. Ada ketekunan yang luar biasa pada mereka.

Kadangkala kita menganggap diri kita sudah berakar, padahal secara sederhana kita tahu apa fungsi akar yaitu  harus mencari mineral-mineral dan makanan-makanan yang bisa diserap untuk disalurkan ke suluruh tubuh pohon. Itu baru hal “mencari makanan”. Kitapun tidak akan bisa teguh, kuat kokoh dan tidak tergoyahkan dalam iman, kalau iman kita tidak pernah ketemu dengan firman Allah.
Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengarant  dan pendengaran oleh firman Kristus.

Kalau kita tidak pernah mengisi pernah mengisi kebutuhan kita dan mencari lebih dalam lagi, pertayaannya bagaimana bisa bertumbuh? Olehnya kita kembali pada Matius 13:20 bahwa orang yang menerima firman segera menerimanya dengan gembira. Tapi apa selanjutnya?

Matius 13:21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad.

Karena tidak berakar orang tersebut bukan hanya menjadi lemah atau hanya sekedar jatuh tapi orang tersebut segera murtad, Ini sangat bahaya! Bagaimana bentuk tantangan-tantangan yang dihadapinya? Sehingga yang tadinya begitu berapi-api dalam mendengar firman akhirnya bisa murtad?
Kadangkali kita tidak dapat memahami padahal harusnya bisa dimengerti dan dipahami. Karena keberadaan kita tersita oleh persoalan, sehingga kita tidak bisa menangkap  nilai-nilai yang ada didalam setiap realita itu, kita tidak bisa menangkap bahwa ada Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita, kita juga tidak menangkap bahwa ada Iblis yang menanti untuk ambil kesempatan di celah-celah di persoalan itu.

Ayub
Iblis tidak punya urusan dengan kekayaan Ayub untuk dihancurkan dan selesai. Iblis tidak punya urusan untuk melenyapkan dan membunuh anak-anak Ayub. Semua serangan-serangan dalam bentuk musibah itu tujuannya hanya satu yaitu menumbangkan iman Ayub supaya menghujat Tuhan.

Jadi fokus kita jangan tersita dengan segala macam persoalan itu. Karena Tuhanpun tidak berurusan dengan persoalan, dia berurusan dengan pribadi yang punya persoalan. Iblispun tidak punya urusan dengan persoalan, ia pakai persoalan untuk mengahncurkan orang percaya.

Apa nilai ilahi yang ada di setiap persoalan itu?
Matius 13:21 … Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad.
Semua masalah yang hadir menunjukkan hadirnya semua firman, karena firman bukan hanya berkuasa tetapi firman itu hidup.

Kalau kita lihat kronologisnya, kita akan urai kronologis itu dan disusun begitu rupa, itu semua karena firman. Datangnya masalah, penindasan, kesengsaraan dan bentuk-bentuk masalah yang lain itu semua karena firman. Bagaimana kita memahami hal ini? Kita bisa memahami juga tergantung dari tingkat seberapa dalam “akar”  bertemu dengan makanan-makanan rohani sehingga kita bisa menangkapnya.

Ada yang berpikir kita tidak perlu taat pada firman, karena ternyata firman itu mendatangkan aniaya dan penindasan. Bagaimana kita dapat memahami bahwa semua yang terjadi ini karena firman? Temukan apa inti persoalan yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan lakukan.
Contoh kasus: difitnah.
Apa yang akan Anda lakukan jika difitnah? Dan apa yang Tuhan suruhkan? Secara manusia tidak ada yang dapat menerima ketika dirinya difitnah? Kita tidak bisa menerima, sakit hati, muncul benih kebencian, dendam, dan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kemanusiaan kita akan muncul menghadapi fitnahan tersebut. Mengapa kita katakan ini karena firman? Oleh karena Tuhan sudah berfirman bagaimana seharusnya kita menghadapi kondisi seperti ini. Tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, karena pembalasan adalah hak Tuhan. Ini merupakan tekanan yang berat, jika kita tidak berakar maka hanya akan bertahan sebentar saja. Kita mau melakukan firman tapi daging kita sakit, kita mau mengampuni orang yang memfitnah kita tapi manusia kita menolaknya. Ini semua karena firman.

Jadi jangan kita salah memahami, bahwa seolah-olah nilai rohani yang kita miliki hanya hiasan bagi diri. Nilai rohani yang kita miliki bukan untuk dilihat oleh orang lain, tapi itu adalah hal yang mutlak dimiliki. Jangan berusaha sabar hanya agar orang lain tahu bahwa kita sabar, jadilah sabar karena kita memang harus sabar. Jangan menunjukkan hidup kudus kita, karena kekudusan bisa jadi kesombongan, jadilah kudus karena memang harus kudus. Terima, hadapi dan selesaikan semuanya karena firman dimana didalamnya ada kehendak Tuhan yang harus kita lakukan. Tapi sekali lagi ini akan menjadi berat kalau kita tidak berakar.

Kenapa kita perlu berakar begitu rupa?  Jangan lupa, ketika pohon  sudah tumbuh, baik masih pendek, dan daun sudah mulai lebat maka akar sudah harus bekerja lebih keras, sebab semakin besar pohon besar, maka sebesar itu akan menampung angin yang bertiup, maka akarpun harus lebih dalam lagi. Semakin banyak hal yang Tuhan percayakan pada kita (pekerjaan sekuler, usaha, rumah tangga apalagi pelayanan), akar yang kita miliki harus semakin dalam lagi supa ia lebih kuat, sebab dari segi kehidupan lahiriah dan rohani itu sama, akan ada angin yang akan menggoncang.
Kita butuh angin bahkan yang lebih kencang, karena ketika tubuh pohon ini goyah, bukan hanya dipermukaan tapi hingga ke akar, maka getaran-getaran akan masuk ke dalam dan membuat gembur tanah dan akan membuat akar itu lebih mudah lagi masuk ke dalam.

Ini kesempatan anugerah yang seringkali dilewati oleh banyak orang percaya. Ketika angin lebih kencang lagi datang dalam kehidupan itu kesempatan yang paling baik untuk semakin mendalam didalam Tuhan. Iman kita harus mencari kebenaran-kebenaran firman, karena angin sudah membantu akar untuk masuk lebih dalam lagi

Angin-angin pengajaran
Efesus 4:13-14 13sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, 14 sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan.

Jadi dalam hal pemahaman firman ada angin-angin pengajaran yang menyerang. Kita tidak perlu menghakimi yang lain, kita harus kembali pada firman. Sehingga tidak ada angin-angin pengajaran yang dapat merubah iman percaya kita, tidak ada angin-angin pengajaran yang membingungkan, tetapi kita tetap teguh di dalam iman.

Kalangan kita terlalu sombong, karena terlalu cepat menghakimi dan berkomentar. Apapun fenomena-fenomena yang terjadi dalam gereja di seluruh muka bumi ini, kemudian berubah menjadi angin-angin pengajaran. Angin-angin pengajaran tersebut bukan untuk langsung diikuti, bukan untuk langsung diterima, bukan juga untuk langsung kita katakan sesat, tapi paling tidak itu menolong kita untuk mendalami apa kata firman.Tapi kalau kita tidak berakar maka kita juga tidak akanpusing dengan apa kata firman. Akhirnya banyak umat Tuhan yang terbawa dengan angin-angin pengajaran. Misalnya: anggur perjamuan suci yang harusnya diminum tapi dioles untuk diluka. Ada juga yang menjadikan jimat, membawanya kepada orang yang sakit. Adalagi yang menjadikan minyak urapan bukannya dioles tapi diminum. Ada juga yang mengikuti kembali pernik-pernik perjanjian lama yang semuanya adalah simbol apa yang akan datang. Pengajaran yang lain ada juga yang melarang perempuan untuk berkhotbah, padahal tidak ada ayat yang mengatakannya.

GPPS Palu sudah terlalu banyak kegiatan-kegiatan pelayanan, jadi pertimbangkan kegiatan-kegiatan yang ada diluar. Silahkan mengkonfirmasikannya kepada tim penggembalaan.
Tidak terbawa-bawa dengan angin-angin pengajaran, bahkan seharusnya kebenaran-kebenaran firman yang sudah kita dengar dan pelajari bagikanlah kepada yang lain supaya menjadi berkat buat banyak orang.

Ibrani 5:13-14 Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok  dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras  Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.  Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat

Pertumbuhan dihitung dari waktu, berapa lama ia berakar juga dihitung dari waktu, jadi saatnya kita mau jadi berkat buat orang banyak. Mari berakar didalam Kristus!

By : Pdt. R.F. Martino

BERKAT TUHAN DALAM PEMBANGUNAN RUMAH TUHAN

Amsal 10:22 Berkat TUHANlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.

Yohanes 10:10 Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya.

Setiap orang memiliki kondisi finansial yang berbeda-beda. Ada kondisi beberapa orang dalam menghadapi pekerjaan Tuhan, ada yang rindu berbuat sesuatu untuk pekerjaan Tuhan tapi tidak sanggup karena keadaan finansial yang terbatas, ada juga yang berlimpah finansial tapi tidak punya beban terhadap pekerjaan Tuhan. Ada juga yang terbeban tapi hanya sekedarnya saja.
Ini disebabkan karena kurangnya pemahaman tentang “rumah Tuhan” yang sebenarnya Tuhan sediakan secara khusus bagi umat-Nya.
Saya juga mendapati seorang yang tinggal di suatu kota, dia tidak memberikan kesempatan kepada jemaat lain untuk mengambil bagian dalam pembangunan rumah Tuhan,  karena tanah, dan gedung itu adalah miliknya, sehingga ia mengambil bagian dari seluruh pembangunan gedung tersebut. Jemaat lainnya boleh memberi tapi untuk kebutuhan yang lainnya. Jadi secara fair dia mengatakan ini adalah bagiannya.

Semua yang dijelaskan di atas akan menghasilkan dampak-dampak yang negatif, antara lain:
1.    Lamanya pembangunan rumah Tuhan selesai,  ada yang belasan tahun, ada yang puluhan tahun, apalagi di desa-desa, bahkan lebih lama lagi.
2.    Tidak terterlibatan seluruh umat Tuhan dalam pembangunan rumah Tuhan

Kita sudah diingatkan minggu lalu bahwa sehubungan dengan keuangan finansial yang Tuhan tetapkan dalam Alkitab yaitu berkelimpahan dan juga dijelaskkan adalah bahwa berkat Tuhan-lah yang menjadikan kaya. Dari apa yang sudah dijelaskan oleh kebenaran firman Tuhan ini seharusnya finasial orang percaya tidak ada yang bermasalah. Karena tanpa kita ingin jadi kaya-pun Tuhan sudah menetapkannya. Tapi mengapa tetap masih ada yang bermasalah? Minggu lalu kita juga sudah belajar bahwa ada dua hukum yang harus kita jalankan dengan baik yaitu hukum logika dan hukum iman/firman. Segala seuatunya harus di-manage dengan benar, begitu salah me-manage maka yang terjadi adalah akan berkekurangan bukan berkelimpahan.

Ada hal yang aneh tapi nyata, ada orang yang menolak untuk diberkati secara berlimpah. Firman Tuhan mengatakan bahwa orang percaya bisa menjadi kepala dan bukan ekor, tapi dia tidak pernah bersedia menjadi kepala dan dia tolak.

Berbicara tentang berkelimpahan memang tidak melakukan hal-hal yang kecil, memang harus ada pekerjaan yang besar tapi segala sesuatunya harus mulai dari hal yang kecil. Tapi ketika kita sudah setia dalam perkara yang kecil maka Tuhan akan percayakan pada hal yang besar. Ini terjadi secara alamiah, karena orang melihat segala prestasi, kinerja dan segala pertimbangan lainnya dan layak diberi tanggungjawab yang lebih besar.

Semua tergantung dari pribadi masing-masing. Olehnya kenapa Tuhan menepkan seperti ini? Sebab kalau tidak ditetapkan, maka terlalu banyak anak Tuhan yang hidup dengan cara dunia sekuler dengan segala macam angan-angan yang tidak pernah tercapai.

Oleh karena itulah mari kita kembali pada kebenaran firman Tuhan untuk kita memperbaiki apa yang Tuhan sudah tetapkan menurut firman-Nya dan juga  kembali memperbaiki hitungan-hitungan logika kita dalam membenahi kembali akan finansial kita.

Secara hukum logika kembali pada kecakapan masing-masing dalam mengelola apa yang sudah dimiliki tapi sekarang kita juga belajar bagaimana memperbaiki finansial secara hukum firman.

Hagai  2:15 “Maka sekarang, perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya! Sebelum ditaruh orang batu demi batu untuk pembangunan bait TUHAN,
Tuhan memerintahkan untuk memperhatikan keadaan mereka pada saat mulai dibangunnya bait Allah.

Hagai 2:16 bagaimana keadaanmu? Ketika orang pergi melihat suatu timbunan gandum yang seharusnya sebanyak dua puluh gantang, hanya ada sepuluh; dan ketika orang pergi ke tempat pemerasan anggur untuk mencedok lima puluh takar, hanya ada dua puluh.
Hampir separuh semuanya lenyap. Mereka kerja dengan susah payah, tapi membawa pulang hasil sedikit.

Hagai 2:17 Aku telah memukul kamu dengan hama dan penyakit gandum dan segala yang dibuat tanganmu dengan hujan batu; namun kamu tidak berbalik kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN.
Segala macam mereka usahakan supaya tidak jadi kebocoran dalam finasial.

Hagai 2:18 Perhatikanlah mulai dari hari ini dan selanjutnya — mulai dari hari yang kedua puluh empat bulan kesembilan. Mulai dari hari diletakkannya dasar bait TUHAN perhatikanlah.

Jadi Tuhan membawa mereka memperhatikan perbedaan keadaan mereka dimana mereka menterbengkalaikan pembangunan selam 14 tahun lamanya dan ketika kemudian membangun kembali.

Hagai 2:19 apakah benih masih tinggal tersimpan dalam lumbung, dan apakah pohon anggur dan pohon ara, pohon delima dan pohon zaitun belum berbuah? Mulai dari hari ini Aku akan memberi berkat!”

Hal ini perlu diajarkan bagi kita karena kita sedang berhadapan dengan kondisi riil sebagaimana yang sudah kita baca dalam Hagai dan ini sangat jarang diajarkan kepada jemaat.

Sejauh mana hati kita memahami dan iman kita menanggapi tergantung dari diri pribadi kita masing-masing. Olehnya hal yang selalu menjadi penghalang bagi kita dan mengganggu iman kita yaitu masalah finasial yang kita tidak tahu bagaimana mengatasinya. Jangan pernah mengatasi dengan cara sendiri. Memanage keuangan dengan melanggar hukum-hukum logika. Ini harus segera kita atasi, misalnya pengeluaran lebih banyak dari pemasukan, dll.

Ketika kita sudah menangambil langkah-langkah perbaikan secara hukum logika tapi masih juga bermasalah maka kita harus menyelesaikannya dengan hukum iman yaitu firman Allah.

Ketika melakukan perbaikan sesuai hukum firman jangan pernah melakukan tanpa iman. Jika kita melakukan sesuatu untuk pekerjaan Tuhan dam hal finasial jangan pernah melakukan tanpa iman. Jangan pernah mengisi amplop persembahan bukan dari hati. Ini percuma, karena hal ini sama saja dengan menghambur. Menyatakan kasih dengan apa yang akan kita persembahkan. Berarti apa yang kita berikan pada Tuhan itulah nilai cinta kita kepada Tuhan, karenaiman dimotori oleh kasih. Iman yang bergerak karena agape. Ini bimbingan yang perlu kita renungkan.

BEKERJA ADALAH CARA TUHAN MENGHADIRKAN UANG
Roma 4:4 Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.

Inilah alur yang Tuhan sedikan bagi setiap orang percaya bagaimana menghadirkan uang dalam hidupnya yaitu dengan cara bekerja. Dengan kita bekerja maka kita dapat upah/penghasilan. Makanya tidak boleh ada orang yang menganggur. Tidak ada cara lain Tuhan menghadirkan uang selain bekerja.

Pada saat kita dapat upah disitu ada milik Tuhan.
Maleakhi 3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Inilah hukum kelimpahan. Mengapa harus berlimpah? Kenapa tidak secukupnya?

II Korintus 9:8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

II Korintus 9:9-10 9Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.” 10 Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu;

Berkecukupan dalam segala hal itu berarti kebutuhan kita berkecukupan dalam segala hal dan malah berkelebihan.

Roti memenuhi segala kebutuhan sehingga berkecupan dalam segala sesuatu, tetapi ternyata lebih dan lebihnya inilah adalah benih. Yang boleh dimakan adalah roti.
Ketika kita mengembalikan milik Tuhan diberi kelimpahan, inilah hukum iman. Jadi jangan melakukannya hanya karena kebiasaan.

Hasil dari mengembalikan milik Tuhan Tuhan memberikan roti dan benih untuk ditabur. Ketika benih ditabur, disitulah kita masuk dalam hukum tabur tuai. Itu sebabnya Tuhan memberikan lebih ketika kita mengambalikan 10% milik Tuhan supaya kita bisa menabur. Mengelola yang 90% tergantung dari gaya hidup

Kita diperhadapkan dengan pembangunan rumah Tuhan, kesempatan kita menabur dan apa yang kita tabur tidak akan sebanding dengan apa yang Tuhan lakukan dikayu salib.
II Korintus 9:6-7 6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 7Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
Oleh karena itu;lah harus dengan iman
Tujuan Tuhan memberkati kita berlebihan karena di dalamnya ada benih yang harus kita tabur kembali.
Mari kita pelajari sirkulasi pertumbuhan. Bagaimana jika kita makan mangga sekaligus dengan bijinya, maka pohon mangga akan punah karena tidak ada lagi yang ditanam.
Galatia 6:7-10 7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. 8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. 9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.
10 Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.

Mari kita pahami ini untuk memperbaiki segala keberadaan kita secara finansial menurut hukum logika dan menurut hukum iman, sehingga kita tidak salah mengelola dan belajar melangkah menabur supaya saatnya kita akan menuai.

By : Pdt. R.F. Martino