MENJAGA DIRI DARI KEBINASAAN
Yesaya 6:1-81 Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. 2 Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. 3 Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” 4 Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itu pun penuhlah dengan asap. 5 Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” 6 Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. 7 Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” 8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”
I Petrus 3:10″Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.
Situasi dan kondisi yang kita alami saat ini banyak dibingungkan oleh beredarnya berita-berita yang sangat cepat diterima karena ditunjang oleh tehnologi yang canggih. Berita-berita tersebut disusun menjadi sebuah kalimat dan kalimat itu bisa menjadi bukti secara otentik karena berbentuk tulisan. Ketika ucapan sudah dalam bentuk tulisan, itu sudah punya bukti yang sangat kuat. Jadi kita harus sangat berhati-hati dengan setiap ucapan yang dituangkan menjadi sebuah kalimat yang kemudian tersebar di sosial media.
Mari kita belajar dari Nabi Yesaya, sebelum ia menerima panggilan mulia dari Tuhandia dalam kondisi najis bibiryaitu dosa yang ada dalam dirinya danitu ada pada mulutnya/bibirnya, jika ia tidak bertobat ia akan binasa. Mengapa Tuhan memilih Yesaya yang najis bibir? Apakah tidak ada yang lebih baik dari Yesaya? Jika kita memahami konteks kedaulatan Tuhan, maka kita akan mengerti itu adalah hak Tuhan untuk memilih siapa yang Ia kehendaki. Yesaya terkejut ketika ia diizinkan untuk dapat melihat Tuhan semesta alam, ia tahu diri dan menyadari bahwa ia adalah seorang yang berdosa.
Kita tidak boleh memiliki pemahaman yang keliru bahwa ketika kita sudah lahir baru dan sudah diselamatkan, kita merasa boleh dengan bebas melakukan apapun, dengan keyanikan bahwa akan tetap masuk surga.
Pengakuan Dosa
Tidak dijelaskan bagaimana najis bibir yang dilakukan oleh Yesaya, apakah dia memaki? Berbicara kotor? Mulut cabul? Dll. Yang jelas berbicara bibir berarti membahas mengenai perkataan.
Yesaya 6:5 Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.”
Yesaya mengadakan pengakuan sebelum ia dipanggil untuk melayani Tuhan. Tidak ada pengampunan tanpa pengakuan.
I Yohanes 1:9 Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.
Hal ini perlu dipahami oleh banyak orang percaya, banyak orang yang rohani susah menemukan bahwa dirinya berdosa. Semakin diri rohani semakin ia harus bertobat. Kita tidak akan pernah bertobat kalau kita tidak menemukan siapa diri kita. Semakin mudah orang berdosa untuk bertobat daripada orang yang nampaknya rohani melakukan firman “setengah-setengah” tapi merasa sudah melakukan firman tapi tidak pernah menunjukkan pertobatan.
Semakin rohani semakin sulit mengaku dosa, ini juga yang dialami oleh beberapa hamba Tuhan senior.
Pemulihan Diri Pribadi
Tuhan membereskan dosa Yesaya yaitu najis bibir sebelum Tuhan berbicara mengenai pengutusan Yesaya, sebelum Tuhan berbicara mengenai pelayanan yang selanjutnya.
Kita bisa membayangkan bagaimana waktu Yesaya ditaruh bara api dalam mulutnya, ini adalah kenjadian nyata. Ini merupakan pemurnian karakter yang luar biasa. Bibir Yesaya harus dibereskan terlebih dahulu.
Pembentukan diri pribadi jauh lebih penting dari segala macam bentuk pelayanan, oleh sebab itu kita perlu tahu apa yang perlu dibereskan dalam hidup kita sebelum kita melayani Tuhan.
Pemulihan diri pribadi yang kaitan eratnya dengan mulut ini adalah langkah awal dari pertumbuhan rohani. Modal seorang pelayan Tuhan atau seorang percaya dalam memberitakan keselamatan adalah mulut.Apa yang dikatakan itu akan mencerminkan hidup sehari-hari.Perkataan kita bisa membawa orang membaca karakter kita.
Oleh karena itu kita perlu waspada.
Tidak ada pembicaraan mengenai “utusan” sebelum Yesaya dan bibir najisnya dibereskan oleh Tuhan, caranya cukup sadis yaitu dengan menyentuhkan bara api ke mulut Yesaya.
Adakalanya Tuhan harus mengizinkan hal-hal seperti ini supaya mulut kita berhenti dari hal-hal yang najis.
Sebuah kasus: ada sebuah keluarga yang sangat rohani, suami, istri dan anak-anaknya semua melayani Tuhan. Tapi suatu saat mereka terjebak dalam suatu kesombongan rohani. Tuhanmengizinkan aib menimpa dan mulut penghakimanpun langsung berhenti dari keluarga ini. Inilah bara api itu. Ternyata keluarga rohani sekalipun tidak luput dengan apa yang namanya kejatuhan.
Ada dua alat penguji iman:
.1. Uang
Sikap diri kita terhadap uang bisa dipakai menjadi ukuran iman seseorang. Uang melekat dekat dengan kehidupan seseorang selama 24 jam. Sikapnya dalam menggunakan keuangan itulah ukurannya, jika sikap terhadap uang tidak benar maka semua kegiatan rohaninya juga tidak benar.
2. Mulut
Setiap perkataan yang keluar dari mulut itu akan menunjukkan siapa pribadi kita. Termasuk dalam pelayananpun perkataan itu akan menjadi kepribadian kita.
Dari sinilah Yesaya harus dibereskan terlebih dahulu, jika tidak maka tidak akan terjadi pengutusan.
I Petrus 3:10 “Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.
Lidah Bagian Tubuh yang Kecil Tapi Bisa Memegahkan Perkara yang Besar
Yakobus 3:3-63 Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya:4 Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.5 Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.6 Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.
Kekuatan kekang kuda dan kemudi pada kapal digambarkan oleh firman Allah disamakan dengan lidah manusia. Anggota tubuh yang kecil tapi bisa menodai seluruh tubuh bahkanmencemari banyak orang. Kita sudah dikuduskan tapi dinodai kembali oleh lidah.
Banyak yang tidak menerima perkataan saya bahwa dosa organisasi jauh lebih najis daripada dosa zinah. Bukan saya meremehkan dosa zinah, tapi Alkitab mengatakan bahwa dosa zinah menajiskan diri sendiri, tapi dosa perkataan menajiskan banyak orang. Dan itu yang banyak terjadi dimana-mana, termasuk dalam kehidupan hamba Tuhan. Ada kesalahan yang dia buat, dan supaya ada teman untuk membelanya, dia sampaikan kepada rekan-rekannya, maka rekan-rekannya itu menjadi najis karena perkataannya. Dan tidak berhenti sampai disitu, rekan-rekannya itu menyampaikan hal yang sama, maka semakin banyak orang yang tercemar.
Ketika saya mengadakan pembuktian tentang perkataan ini, barulah mereka dapat menerima. Tidak ada orang yang berzinah mengumumkan bahwa ia berzinah, ia akan menutup rapat-rapat kasusnya, kecuali tiba-tiba kasusnya terbuka. Tapi dosa perkataan ini, dipakai untuk meleter, makanya dikatakan jangan duduk sehidangan dengan orang yangmempunyai tabiat seperti itu dan jangan bergaul. Roh pengendalian sangat kuat dan akan takluk padanya karena tidak bisa membentengi diri. Kalau Tuhan katakan jangan bergaul, berarti Tuhan tidak mengadakan perlindungan terhadap diri kita.
Tidak Ada Seorangpun yang Berkuasa Menjinakkan Lidah.
Yakobus 3:7-87Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia,8 tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.
Alkitab sendiri mengatakan bahwa tak seorangpun dapat menjinakkan lidah. Dari perkataaan orang dapat menilai kadar iman kita dan karakter kita. Sekali lagi modal seorang pelayan Tuhan/orang percaya adalah mulut. Ketika kalimat yang kita keluarkan tidak sesuai dengan pribadi kita, itulah karakter kita. Pergumulan terberat, bukan karena ada malapetaka menimpa, masalah keuangan dll, itu akan banyak orang yang datang menghibur kita, tetapi lidah adalah pergumulan yang terberat dari setiap orang percaya atas dirinya sendiri. Kepercayaan bisa lenyap oleh karena perkataan, penghormatan bisa lenyap oleh karena perkataan, bahkan diri kita bisa diinjak-injak oleh karena perkataan.
Dimana kekuatan Roh Kudus yang ada pada kita, dimana kita juga berbahasa roh dengan menggunakan lidah. Ini sesuai kebenaran firman dalam Yakobus 3:9 9 Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah.Jangan pernah memimpikan surga jika kita tidak kudus dalam perkataan.
Yakobus 3:10-1210dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.11 Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?12 Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.
Sangat jelas, inilah yang menunjukkan karakter yang najis yang belum terselesaikan. Kelicikan iblis untuk menjatuhkan orang percaya sampai kepada hal yang tidak sampai kita duga yaitu dosa melalui lidah. Ini bisa dibereskan asal kita mau, karena bibir itu melekat pada kita bukan pada orang lain. Kalau orang masih mengeluarkan najis bibir, berarti karakternya masih najis.
Amsal 18:21Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.
Ini dijadikan pepatah dunia “Dari mulut badan binasa”
Amsal 21:23Siapa memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri dari pada kesukaran.
Jangan mengurus yang bukan urusan kita, jika ada orang yang “curhat” tidak perlu diteruskan ke orang lain.
Urusan Lidah Akan dibawa Sampai ke Akhirat
Matius 12:36-37 36Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. 37 Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”
Yakobus 1: 26Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.
Ini bukan hanya berbicara penghukuman di dunia tapi di akhirat, jadi janganlah lidah membawa kita ke neraka. Janganlah lidah menghadirkan masalah-masalah di dunia yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Jauh lebih baik kita menjaganya daripada Tuhan harus menghadirkan baptisan api melalui bara api. Iblis bisa punya “kemampuan” menghapus semua hal-hal yang baik menjadi sia-sia dan hilang upah.
By : Pdt. RF. Martino









