TETAPKANLAH LANGKAHMU! #5
Yosua 1:3 Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.
Secara kebenaran firman, kita ketahui bahwa Allah memberikan visi yang jelas kepada Yosua, akan menjadi apa ia kedepan, akan kemana, dan apa saja yang ada di depan. Demikian juga, di dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari sebagai orang percaya harus memiliki visi Allah. Hidup bukan lagi misteri karena kita tahu jelas dan dengan mantap melangkah. Oleh karena itu kita menjalani hidup kita sebagai orang percaya diarahkan dan tetap berada pada visi Allah.
Tercapai tidaknya visi Allah dalam hidup kita, bukan disebabkan oleh faktor eksternal tetapi faktor internal yang ada dalam diri kita masing-masing. Ketika Allah memberikan perintah-Nya kepada manusia, Ia mau agar pribadi tersebut bekerjasama dengan Allah supaya visi tergenapi. Namun kita perlu tahu bahwa kita adalah manusia lahiriah, bukan robot yang hanya ditetapkan begitu rupa yang berjalan sesuai dengan settingan, tetapi ada kehendak bebas dalam diri kita untuk menolak atau menjalani apa yang Tuhan sudah tetapkan. Itu sebabnya, kita sebagai manusia lahiriah yang ada iman didalamnya, tidak bisa hanya selalu mempertahankan diri kita sebagai manusia lahiriah yang banyak kekurangan. Seringkali untuk “membentengi” diri dan juga sebagai alasan, kita mengakui kelemahan-kelemahan itu, supaya orang memaafkan dan memaklumi kita.
Sesungguhnya ada sumber daya, ada potensi-potensi yang Tuhan sudah taruh di dalam diri seorang manusia mulai sejak lahir, yaitu ada bakat, temperamen dan intelegensi. Setiap potensi yang ada di dalam diri manusia ini perlu kita temukan, supaya ketika kita beriman tidak menjadi seorang yang ekstrim yang seolah-olah tidak hidup di bumi. Kita harus temukan sehingga kita tahu mana kelebihan sebagai satu potensi yang luar biasa yang Tuhan sudah berikan untuk kita boleh pakai bekerjasama dengan Allah agar visi Allah itu tergenapi. Sebaliknya apa yang kita temukan dalam diri kita sebagai kelemahan-kelemahan yang ada, tidak boleh dipelihara. Tidak boleh dijadikan senjata supaya orang memakluminya. Karena hal itu juga yang akan dipakai Iblis menghalangi kita mentaati visi yang Allah sudah tetapkan bagi kita. Sesungguhnya faktor diri sendiri inilah yang paling bermasalah di dalam kita menjalani hidup sehari-hari. Bisa saja peristiwa nyatanya adalah karena si A, si B atau juga karena si C, sehingga kita menjadi lemah, pesimis dan kecewa. Tuhan tidak pernah berurusan dengan si A, si B, si C dan lain-lain, tetapi Tuhan berurusan dengan pribadi kita. Faktor internal ini sangat mempengaruhi tercapainya visi Allah kita dalam hidup kita.
Tuhan bertanya kepada Musa “apa yang ada di tanganmu?” Kemudian Musa menjawab “tongkat”. Tuhan berfirman untuk membawa tongkat tersebut. Tuhan tidak memberi senjata lain kepada Musa. Ia mengatakan bahwa dengan tongkat itu, Musa akan melakukan perkara-perkara yang luar biasa, hal-hal yang dahsyat bahkan mujizat. Jadi Tuhan memakai apa yang ada pada kita bukan apa yang tidak ada pada kita. Termasuk segala sesuatu yang Tuhan sudah berikan secara alamiah saat kita lahir.
2 Timotius 2:20 Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.
Demikian juga Tuhan sudah memberikan kejelasan yang sangat nyata dalam hidup kita sehari-hari bahwa di dalam rumah ada perabot yang dipakai dengan biasa dan ada yang dipakai untuk hal yang mulia.Orang-orang yang mau menyucikan diri dari kejahatan pasti ia mendapat tempat yang mulia.
Kita sudah belajar untuk memahami bahwa di dalam kehidupan ada masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Untuk menjalani masa yang akan datang harus dimulai dengan visi yang dari Allah. Tetapi sebelum kita menjalaninya, Tuhan mau kita menemukan apa yang menjadi sumber daya yang ada pada diri kita yang Tuhan sudah taruhkan pada saat kita lahir. Tuhan sudah menaruh potensi dalam diri setiap orang yaitu bakat atau sesuatu yang khusus. Tidak ada seorangpun lahir ke dunia tanpa memiliki bakat. Untuk menemukan sumber daya-sumber daya itu kita menengok ke belakang yang terjadi pada waktu kita lahir ke dunia.
Pada saat masa lalu, saat manusia lahir, kita temukan dari sisi faktor kelahiran, ada:
1. Bakat atau keahlian
Ketika seorang anak manusia lahir di dunia, Tuhan sudah menaruh potensi dalam dirinya yang disebut bakat/keahlian khusus. Olehnya, setiap orang harus dapat menemukan bakat yang dimilikinya dan dikembangkan.
2. Temperamen
Setiap orang lahir sudah punya temperamen. Ada melankolik, kolerik, plegmatik dan sanguin.Inilah faktor-faktor manusia lahiriah. Sekalipun kita beriman, kita tidak dapat menolak hal-hal lahiriah supaya kita tidak menjadi ekstrim karena Tuhan sudah memberikan kita pengetahuan.
3. Intelegensi
Intelegensi atau kecerdasan merupakan kemampuan tertinggi dari jiwa manusia.
Intelegensi sudah dimiliki oleh seseorang sejak lahir, dan sejak itu pula potensi intelegensi ini mulai berfungsi mempengaruhi kualitas perkembangan seseorang yang diistilahkan dengan “kematangan”. Faktor intelegensi atau kecerdasan perlu kita temukan dalam diri kita.Ada kecerdasan yang Tuhan sudah berikan sejak kita lahir. Setiap orang berbeda-beda. Ada suatu proses dalam suatu peningkatan kecerdasan seiring dengan pertumbuhan yang ada di dalam organ-organ tubuh.
Salah satu tempat yang ada organ tubuh di kepala yang namanya otak, disitulah tersimpan intelegensia dan otak ini harus bertumbuh dulu sesuai dengan tahapnya. Anak umur 7 tahun tidak bisa langsung mendaftar di sekolah SMP karena ia tidak dapat menyelesaikan pelajaran tingkat SMP. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kecerdasan, seiring dengan pertumbuhan organ yang ada dalam tubuh manusia yang disebut kematangan.
Salah satu faktor supaya pertumbuhan otak itu bagus, salah satunya adalah gizi. Gizi yang baik sangat penting untuk pertumbuhan sel-sel otak terutama pada saat hamil dan juga pada saat bayi di mana sel-sel otak sedang tumbuh dengan pesatnya. Kekurangan gizi pada saat pertumbuhan bisa berakibat berkurangnya sel-sel otak dari jumlah yang normal. Ibu-ibu yang mengasihi anaknya, rela berkorban untuk makan apa adanya demi bayinya sehat. Gizi ini sangat penting. Ada beberapa makanan tertentu yang sangat membantu untuk pertumbuhan otak. Kebenaran secara alamiah yang terjadi yaitu di banyak tempat terpencil di mana makanannya hanya itu-itu saja, banyak dijumpai pertumbuhan otaknya terganggu, dengan kata lain IQ nya rendah. Jadi kemampuan inteligensi ini terhambat. Berbagai hal yang ada kaitannya dengan kehidupan manusia perlu kita pahami sebagai bagian dari iman, supaya kita tidak menjadi ekstrim.
Jadi gizi yang buruk akan berpengaruh pada tingkat kecerdasan seseorang. Karena bisa saja jumlah sel otaknya berkurang. Hal inilah yang menjadi suatu bukti nyata yang kita hadapi dan kita lihat di mana-mana. Ini akan mempengaruhi kerja otak tersebut di kemudian hari. Sebuah penelitian yang pernah dilakukan menunjukan bahwa status gizi anak mempunyai dampak positif terhadap intelegensia. Ketika intelegensi seseorang sudah berkembang, maka fungsinya semakin berarti bagi dirinya dan besar pengaruhnya didalam ia memiliki suatu kualitas diri dalam berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya.
Ketika kita hidup, di mana pun kita ada, kita dihadapkan kepada sesuatu yang real. Ada realitas-realitas hidup yang menjadi suatu tantangan. Ketika sebuah realitas sudah menjadi suatu masalah yang harus kita jawab, hal itu tergantung kualitas intelegensi kita. Apakah kita dapat menjawab atau tidak, apakah kita dapat menyelesaikannya atau tidak.
Menjelaskan hal-hal lahiriah bagi orang beriman kadangkala menimbulkan masalah baru. Tetapi sebenarnya mau tidak mau kita harus belajar dan memahami. Faktor-faktor lahiriah manusia bukan untuk disingkirkan tetapi inilah realitas. Ketika kita menerima realitas ini maka kita harus menghadapi dengan iman.Karena iman berasal dari firman Tuhan dan firman Tuhan adalah jawaban. Tidak ada persoalan yang tidak dapat dijawab oleh kebenaran firman.
Seseorang memasuki fase pembentukan, yaitu perkembangan intelegensi dibawah pengaruh-pengaruh dari luar.
1 Korintus 13:11 Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak.Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
Anak-anak yang dimaksudkan oleh rasul Paulus ialah tingkat intelegensi yang ada pada diri anak-anak. Ada berbagai bentuk yang menunjukkan karakteristik mengenai anak-anak seperti cara berbicaranya yang belum jelas dimana nilai daripada kata-kata itu sendiri dikelola dari otak seorang anak-anak. Artinya, cara berpikir dan analisanya adalah cara anak-anak berpikir. Kita tidak boleh salah dalam menginterpretasi kebenaran Firman yang mengatakan “jadilah seperti anak-anak” karena yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah nilai-nilai positif yang ada dalam diri anak-anak, tetapi ada nilai-nilai negatif dalam diri anak-anak yang tidak boleh lagi dipakai oleh orang dewasa seperti halnya mudah marah dan membutuhkan bujukan.
Amsal 27:17 Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.
Besi ditajamkan dengan caraditempa oleh besi yang lain, manusia ditajamkan oleh sesamanya. Tuhan sudah menetapkan bahwa manusia akan menajamkan sesamanya. Salah satu bentuknya ialah ketika dimulai dengan tersinggung. Orang yang tidak siap ditajamkan oleh sesamanya ialah orang-orang yang anti koreksi, anti evaluasi dan anti kritik. Ada manusia yang supaya tidak dikritik, tidak dikoreksi dan tidak dievaluasi melakukan suatu trik dengan cara memaparkan semua kelemahan dan kekurangannya. Orang seperti ini tidak akan pernah tajam karena ia tidak menerima untuk dievaluasi.
Orang yang tidak mau mendengar nasihat, tidak mau mendengar didikan, akan dididik oleh Tuhan melalui peristiwa. Ada filosofi yang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang baik. Memang benar, tetapi adalah lebih baik belajar dari pengalaman orang daripada pengalaman itu menimpa diri kita. Jangan pernah lari dari daripada kenyataan hidup, sebab ketika kita lari, bukanlah jalan penyelesaian yang kita dapat tetapi awal dari sebuah bencana baru. Kita tidak boleh mencari masalah, tetapi manusia perlu masalah untuk mengasah tingkat inteligensi, untuk memiliki kemampuan berfikir yang lebih cemerlang atau dalam bahasa Alkitab, supaya kita lebih cakap di dalam mengatasinya. Jangan pernah mencari masalah tetapi jika masalah datang, hadapilah, karena itu akan meningkatkan tingkat intelegensi kita supaya cakap dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Intelegensi dapat mempengaruhi aktivitas berpikir. Berpikir merupakan kegiatan yang mencari suatu ide dalam mengambil suatu keputusan atau dalam memecahkan suatu masalah. Hasil yang diperoleh dari kemampuan berfikir tergantung dari tingkat intelegensi. Tuhan sudah memberikan intelegensi kepada setiap orang dan itu harus digunakan. Bukan berarti dengan memahami hal-hal yang lahiriah kemudian kita menjadi orang yang duniawi. Kita adalah terang di dunia.Di dalam mengambil setiap keputusan apapun tergantung dengan bagaimana kita berpikir.
Intelegensi dan kemampuan berpikir tidak bekerja sendiri dalam menentukan sesuatu. Ada satu sisi lain yang perlu diperhatikan yaitu emosi. Ketika kita berfikir atau pun akan mengambil suatu keputusan tapi di saat itu emosi kita sedang tidak baik maka keputusan yang kita ambil bisa jadi adalah keputusan yang fatal dan berbahaya. Keputusan yang diputuskan pada saat emosi tidak dikelola oleh kemampuan berpikir, tetapi mengalir bersama dengan luapan emosional dan kalimatnya tersusun sendiri secara otomatis. Jadi kemampuan berpikir kita dipengaruhi juga oleh faktor emosi. Setiap orang memiliki emosi yang berbeda. Emosi adalah perasaan yang sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi.Ada saat dimana kita merasa senang, maupun sedih. Emosi akan mewakili seluruh kondisi tubuh kita.
Dalam kitab Ester dituliskan ketika raja mengeluarkan keputusan untuk memusnahkan seluruh orang Yahudi, permaisuri Ester, didesak oleh umat Tuhan untuk menghadap. Peraturan pada saat itu ialah tidak boleh menghadap Raja jika raja tidak memanggil. Permaisuri Ester kemudian menghimbau kepada umat Tuhan agar mereka berpuasa untuknya. Lalu ratu Ester menghadap raja. Ia mempertaruhkan nyawanya sendiri. Walaupun melanggar peraturan karena Ester tidak dipanggil oleh raja tetapi saat itu Raja berkenan atasnya dan ia mengulurkan tongkatnya. Ratu Ester mengundang raja untuk datang ke pesta yang ia adakan. Ester adalah seorang yang pandai melihat emosi raja. Ia memakai imannya tetapi juga menggunakan intelegensianya. Ester mengundang raja ke pesta yang ia adakan bukan hanya sekali, tetapi lebih dari sekali. Ketika Raja sudah sangat senang, barulah ia menceritakan masalah yang sebenarnya lalu menghasilkan keputusan raja yaitu rancangan Haman membinasakan orang Yahudi dibatalkan. Dan orang yang merancangkan kejahatan itulah yang harus dihukum. Jangan pernah mengambil keputusan disaat emosi meledak-ledak, karena itu tidak dapat dianalisa oleh kemampuan intelegensi yang Tuhan sudah berikan kepada kita atau dengan kata lain akal sehat.
Kita memang belum sempurna dan masih banyak kekurangan, tetapi hal itu tidak boleh menjadi senjata atau alasan untuk tidak memaksimalkan diri kita. Kita perlu memahami bagaimana meningkatkan intelegensi dan kemampuan berpikir kita sebagai manusia lahiriah yang tidak keluar dari pada iman Kristen, yang tidak keluar dari pada prinsip Alkitab, tetapi kita perlu berpikir sesuai dengan apa yang Allah tetapkan. Setinggi-tingginya kemampuan intelektual kita, semua dibatasi oleh yang namanya hukum logika.
Roma 12:3 Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.
Ayat tersebut dimaksudkan supaya kita tidak putus asa. Tuhan mengingatkan kita untuk tidak memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kita pikirkan. Kita tidak boleh membebani pikiran dengan apa yang tidak perlu kita pikirkan. Pikirkan dan selesaikan segala realitas yang sedang dihadapi sekarang ini. Bukan berarti mematikan cita-cita. Karena cita-cita apapun tanpa kita jelaskan bentuknya, Tuhan sudah menyediakan masa depan bagi kita, yaitu masa depan yang penuh harapan.
Tuhan mengajar kita bagaimana sebagai orang percaya mengelola intelegensi kita di dalam hal berpikir dan bertindak. Orang percaya seharusnya harus lebih unggul dalam berpikir, karena ia berfikir menurut ukuran iman. Jadi menurut hukum iman, sebenarnya manusia dapat berfikir melebihi ukuran standar. Jika iman saudara sanggup untuk dapat dijadikan sebagai dasar pemikiran iman atau sesuai dengan kadar iman, itu adalah pemikiran standar. Tetapi jika tidak, maka jangan pikirkan.
Secara umum kita sudah memahami bahwa tingkat intelegensia adalah Tuhan yang memberikan.Tingkat intelegensia masing-masing orang berbeda-beda. Hal ini bukan berarti Allah tidak adil. Orang yang menemukan dirinya memiliki inteligensi rendah tetapi tidak tertarik dan tidak tertantang untuk meningkatkan apa yang kurang baik baginya berarti ia memelihara kebodohannya.
Hal-hal seperti inilah yang perlu kita pahami, karena manusia yang beriman ini adalah manusia lahiriah yang masih hidup, di mana ia memiliki segala sesuatu sesuai dengan keadaannya sebagai manusia lahiriah. Apa yang Tuhan sudah berikan pada kita dari sejak kita lahir, temukan itu. Jika masih ada yang perlu dipertajam maka jalani itu, jangan menghindar.Tuhan Yesus memberkati.
By : Pdt. R.F Martino









