This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

“IMAN YANG BEKERJA OLEH KASIH”

Yohanes 14:15 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

1 Yohanes 5:3-5 “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,
sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?”

Galatia 5:6 “Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.”

Akibat pemahaman yang dangkal mengenai iman, banyak orang percaya yang memahami iman hanya sebatas menerima sesuatu dari Tuhan (jawaban doa, mujizat, dll), sehingga mereka tidak melakukan banyak hal yang merupakan hasil dari imannya.

Orang yang baru menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat adalah orang yang lahir baru. Orang yang lahir baru ini masih merupakan bayi rohani dan harus diajar untuk menjalani hidup barunya sebagai orang percaya yaitu hidup oleh iman.

Kekeliruan banyak hamba Tuhan adalah mengajarkan jemaatnya untuk beriman hanya saat ada permintaan/keinginan. Maka yang menggerakkan imannya bukan kasih namun segala keinginan-keinginannya, sekalipun bentuk aktivitasnya adalah aktivitas rohani yaitu berdoa. Tak heran iman dari banyak umat Tuhan tidak kuat, bahkan mungkin saja seperti “tembok roboh”.

Yakobus 2:14-16 “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?”

Iman orang ini adalah iman yang tidak menjawab persoalan, hanya memberi kalimat-kalimat penghiburan tetapi tidak memberi apa yang dibutuhkan sesamanya yang berkekurangan. Karena itu gereja GPPS Palu mengajarkan iman yang realistis, yaitu iman yang mampu menjawab realita hidup / iman yang menghasilkan perbuatan-perbuatan iman!

Kita harus berhati-hati bahwa banyak orang semakin rohani semakin pelit. Mengapa? Karena semua hal terlalu dikaji secara rohani sehingga ia lupa melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sebagai hasil dari imannya. Orang rohani biasanya mengkaji bahwa sesamanya miskin karena dosa/kutuk, maka ia hanya sebatas memberi nasihat. Padahal jika ia memberikan apa yang menjadi kebutuhan sesamanya, maka saat ia memberikan nasihat / memberitakan Injil, berita tersebut mudah diterima oleh sesamanya itu.

Yakobus 2:17-20 “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.”
Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?”

Ada banyak orang yang menyanyikan lagu-lagu rohani, namun ia tidak melakukan perintah Tuhan. Apa gunanya? Banyak orang percaya – mungkin diantaranya adalah kita – berargumen supaya tidak melakukan Firman. Atau mungkin kita tidak mengatakannya, tetapi dalam sikap hidup kita, kita sudah menunjukkan bahwa kita memiliki banyak argumen untuk tidak melakukan Firman Tuhan.

Yakobus 2:21-25 “Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna. Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”
Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain?”

Minggu lalu kita sudah belajar bahwa perintah-perintah Tuhan tidak masuk akal. Apakah Tuhan mempersulit kita untuk masuk surga? Tidak! Karena jika kita tidak melakukan perintah-perintah Tuhan, maka kita tidak akan bisa hidup oleh iman. Jadi, jika kita mau belajar hidup oleh iman, kita akan diperhadapkan dengan Perintah-Perintah Tuhan, yang tuntutannya adalah melakukan isi perintah.

Saat orangtua mendidik anaknya, ada kalimat-kalimat yang mengajarkan untuk berhati-hati – ini adalah nasihat. Ada juga kalimat-kalimat penghiburan, memberi semangat dan dorongan. Namun ada juga perintah-perintah agar dilakukan. Perintah-perintah orangtua kepada anak adalah perintah yang masuk akal tetapi perintah-perintah Allah tidak masuk akal bagi kita. Sebagai contoh: Abraham mendapat perintah yang tidak masuk akal untuk mengorbankan Ishak anaknya, namun ia taat. Yesus memberi perintah yang tidak masuk akal untuk membuka pintu kubur Lazarus yang mayatnya sudah berbau busuk.

Yesus berkata, “Jikalau kamu MENGASIHI Aku, kamu akan melakukan SEGALA PERINTAH-KU.” Jadi ini adalah masalah kasih. Jika anak-anak mengasihi orangtuanya, mereka akan melakukan segala perintah orangtuanya. Jadi anak-anak yang tidak melakukan perintah orangtuanya adalah anak-anak yang tidak mengasihi orangtuanya. Demikianlah hubungan antara kita dengan Tuhan. Jika kita tidak melakukan perintah Tuhan, itu menunjukkan bahwa kita tidak mengasihi Tuhan.

Sebelum kita hidup dalam Tuhan, hidup kita hanya diikat dengan hukum logika. Namun setelah kita lahir baru dan menjalani hidup baru, Tuhan menetapkan kita hidup menurut hukum iman yang berada diatas hukum logika. Ini adalah pengalaman yang baru! Karena itu kita harus melatih diri untuk melakukan perintah-perintah Tuhan mulai dari hal yang kecil.

Kita hidup karena benih Kasih Agape. Pengalaman pertama menerima Yesus adalah pengalaman pertama kita mengalami Agape. Pengalaman itu begitu kuat, yang disebut pengalaman kasih mula-mula, dimana tidak ada kata “tidak” untuk Tuhan, tetapi semuanya adalah “ya” untuk Tuhan. Pengalaman kasih mula-mula adalah pengalaman luar biasa dimana Tuhan pun akan menguji kasih kita melalui ketaatan akan Firman-Nya.

Tetapi seiring waktu, banyak orang percaya yang kasihnya menjadi luntur. Rohnya tak lagi menyala-nyala. Mengapa? Karena Kasih Agape di dalam hatinya telah dicemari oleh unsur-unsur dunia.

Jika kita tidak lagi memiliki kasih kepada Tuhan / kasih kita telah tercemar, kita akan menjadi orang-orang percaya yang melakukan perbuatan-perbuatan hebat dan sepertinya rohani, tetapi karena kita melakukannya tanpa kasih, kita melakukannya untuk kepujian diri (seperti yang tertulis dalam 1 Korintus 13).

Karena itu kita harus memahami bahwa Kasih Agape-lah yang menggerakkan iman kita untuk menghasilkan perbuatan-perbuatan iman yaitu ketaatan akan perintah-perintah Tuhan.

By : Pdt.  R. F. Martino