This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Turn Your Light On (Nyalakan Pelitamu)

Saya mulai merenungkan bagaimana nanti kita akan menghadap kepada Tuhan dan akan dibukakan buku kehidupan kita. Saat buku kehidupan kita ini dibukakan, maka disana tercantum kisah kehidupan kita selama di dunia. Setiap hari ada malaikat yang menulis kisah hidup kita sampai pada akhirnya kita menghadap Tuhan. Masing-masing dari buku kehidupan kita akan dibuka dan dibacakan yaitu setiap perbuatan kita. Tetapi, tidak banyak anak Tuhan yang menyadari hal ini, mereka tidak menyadari bahwa hidupnya adalah sebuah buku. Mereka menjalani kehidupan dengan biasa-biasa saja dan tidak sadar bahwa setiap perbuatan itu tertulis di sana.
Tuhan menaruhkan di hati saya untuk berbicara kepada murid-murid yang Tuhan percayakan di bawah pelayanan kami mengenai bagaimana memasuki awal tahun 2018. Saya mendengungkan kepada murid-murid yaitu dengan menulis buku kehidupan, maka kita akan menyadari bahwa coretan/goresan/tulisan kita harusnya tidak sama dengan tahun lalu. Di dalam tahun ini, ada 1 buku terdiri dari 12 bab dan 365 kesempatan yang setiap hari diperhadapkan kepada kita masing-masing. Jika seringkali kita tidak menyadarinya, maka kita akan melewatkan begitu saja dengan kesamaan-kesamaan yang sudah kita lalui di tahun-tahun sebelumnya. Tetapi saat kita menyadari bahwa kita sedang menulis buku dan kita mau agar orang lain membaca buku kita dan menikmati kisah kita maka kita akan mulai memikirkan bagaimana saya dapat menulis dengan baik, bagaimana saya mencantumkan kisah hidup saya dan bagaimana saya menjalani kehidupan saya agar buku saya ini layak dibaca. Saya pun tidak pernah menyangka bahwa kisah kehidupan saya akan dituliskan di sebuah buku dan beberapa buku berikutnya. Kisah dalam buku kehidupan kita seharusnya menjadi layak dibaca dan bisa memberkati banyak orang diluar sana.
Saya hidup dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga hamba Tuhan, saya dididik jalan-jalan Tuhan dan saya tahu semua jenis-jenis pelayanan. Saya melayani dari anak-anak remaja, kaum muda, ibu-ibu dan orang dewasa. Saya melayani di gereja-gereja satelit, juga pernah menyebrang kali Bengawan Solo dan perahu kami hampir terbalik, dan ketika hujan, perahu kami bisa terseret dan sebagainya. Saya melayani dimana-mana, saya tahu bagaimana itu pelayanan. Saya ikut semua doa-doa, pelayanan kematian, memasukan peti sampai di kuburan dan lain sebagainya sudah saya lakukan. Tetapi saya berontak karena saya tidak suka dengan semua aturan-aturan gereja. Dan mulai dari sana, rupanya ada goresan yang tidak baik. Ketika saya sudah berontak, kemudian saya keluar dari rumah, Tuhan menemui saya. Inilah kebenarannya yaitu disaat kita mulai berontak kepada Tuhan, Ia tetap mencari kita. Sampai akhirnya, saya mengejar visi yang Tuhan berikan kepada saya. Ia menawarkan kepada saya pekerjaan yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya yaitu melayani Tuhan. Karena saya ingin lari dari Tuhan, ingin lari dari gereja tetapi ternyata Tuhan punya rancangan yang luar biasa.
Kita seringkali berkata “biar kehendak Tuhan yang jadi, biar waktunya Tuhan sendiri, ini belum waktuya Tuhan.” Seringkali kita menggunakan istilah tersebut padahal kita melakukan pembiaran dalam kehidupan kita. Kita tidak mengejar visi yang Tuhan berikan kepada kita.
Jika kita tidak tahu harus mengejar panggilan Tuhan dan memenuhi panggilan itu, maka kita akan membiarkan kehidupan kita dengan seenaknya. Jikalau kita tidak bisa manage 24 jam kita, maka kita pun tidak akan dapat me-manage 24 tahun kedepan. Kebanyakan anak-anak Tuhan menjalani kehidupan mereka seolah-olah agama hanya cap saja sebagai orang Kristen kemudian mereka menjalani kehidupan mereka dengan biasa. Mereka datang kegereja hanya ingin diisi oleh firman tetapi mereka pulang dengan kehidupan yang sama. Itu sebabnya, saya ingin membangunkan Anda, sekiranya Anda tertidur sekian lama sebagai anak-anak Tuhan dan Anda tidak mengejar panggilan yang diberikan kepada Anda.
Baca: Kolose 3:1-4
Dikatakan bahwa kita sudah dibangkitkan dengan Kristus dan kita ada di dalam Kristus. Sebagai orang percaya atau sebagai anak-anak Tuhan, kita sangat berbeda dengan dunia. Kita pun harus sedemikian rupa berbeda dengan dunia sampai dunia dapat melihat terang yang ada di dalam diri kita yaitu Kristus. Bagaimana mungkin kita masuk ke hadirat Tuhan, masuk ke pelatarannya namun keluar masih dengan sifat yang sama. Bagaimana mungkin hidup di dalam Kristus, tetapi ketika keluar dari gereja justru sama dengan dunia. Seringkali kita beralasan “namanya juga manusia.” Seharusnya kita memancarkan Kristus melalui kehidupan kita seperti ada tertulis “pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang dibumi.” Kita bukan manusia dunia dan bukan manusia biasa. Di dalam firman Tuhan, kita disebut manusia Allah, manusia Kristus, manusia rohani, ada Roh Kristus yang harusnya kita kembangkan sampai kita menyerupai Dia.

Bagaimana kita berubah sampai menyerupai Dia?
Baca: Roma 12:2
Ada perjalanan yang begitu panjang sampai kita menyerupai Kristus dan itu harus kita kerjakan. Akalbudi kita perbaharui, tidak lagi bertumpu kepada sakit hati dan pikiran lama kita. Semuanya itu harus kita buang sehingga kita bercahaya ditengah kegelapan. Seandainya orang-orang percaya ini “turn the light on” seperti ketika kita akan masuk rumah/kamar yang gelap, kemudian mengklik lampu agar menyala, betapa dunia akan melihat terang kita dan mereka akan datang kepada kita untuk belajar dari kita.
Saya mulai menulis buku tahun ini. Sudah ada 9 buku dan tidak pernah menyangka bahwa buku saya dinantikan oleh banyak orang. Buku pertama saya dalam bab pertama, kisahnya adalah sebagai berikut.
Saya adalah seorang yang suka jalan-jalan di sore hari bersama dengan anjing-anjing saya di kompleks perumahan. Pada suatu sore, ada seorang bapak mengenakan celana pendek, kaos dan topi. Pakaian yang ia kenakan cukup kotor/dekil. Saat itu saya sapa beliau “selamat sore om” kemudian orang tersebut menjawab “oh, ya”. Hari berikutnya kami bertemu lagi dan mulai bercerita. Saat itu ia bercerita cukup lama, sehingga teman-teman saya menunggu sampai bapak ini selesai bercerita. Saya menyimak cerita bapak ini dengan antusias. Saya senyum dan merespon. Ketika hari berikutnya kami bertemu lagi, ia memanggil saya dan mulai bercerita kembali. Setiap kali kami bertemu dengan bapak ini, staf saya selalu resah karena harus menunggu lama beliau bercerita. Hari demi hari kami bertemu, biasa saja. Saya menanyakan kabar beliau, lalu saya berkata “Puji Tuhan” tetapi bapak ini merespon “eh,jangan sebut Tuhan yah!” Beberapa lama setelah itu, saat kami makan di teras, saya mengundang ia untuk makan bersama tetapi bapak ini menolak. Beberapa hari kemudian, bapak ini datang lagi dan mulai makan bersama dengan kami, ia mulai menceritakan perihal keluarganya. Bapak ini mengatakan bahwa istrinya sudah meninggalkan dia dan anak-anaknya tidak lagi menghargainya. Saya katakan kepada bapak ini bahwa ia adalah seorang yang luar biasa. Ia merasa senang dan hari-hari berikutnya ia sering ngobrol bersama saya. Dari awalnya ia tidak suka menceritakan tentang Tuhan dan pada akhirnya ia mengatakan “Puji Tuhan”. Akhirnya, saya mulai masuk dengan firman di dalam setiap percakapan kami. Kita dapat menjadi terang dengan sedia menjadi telinga bagi mereka, tetapi seringkali kebanyakan dari kita tidak mau mendengarkan.
Di bulan kedua, kisah saya mengenai bagaimana saya memberi barang-barang online. Tahun lalu saya membeli mesin jahit mini. Saya sudah mengirimkan uangnya, sudah diproses dan mesinnya sudah tiba dan saya pun sudah mencobanya. Tetapi rupanya penjual berkata bahwa saya harus mengirimkan kembali mesin tersebut atau jika tidak, saya harus membayar kembali mesin tersebut dengan alasan hp-nya bermasalah sehingga pembayaran tidak selesai diproses. Saya katakan “tidak bisa”. Lalu orang ini mulai berkata kasar sampai dengan kata-kata kutuk. Ketika saya melihat hal ini, saya berkata “Puji Tuhan, ini kesempatan buat saya agar lampu saya menyala.” Saya mulai minta hikmat Roh Kudus bagaimana saya bisa menjawab dengan hikmat dan dengan manis. Saya katakan kepada si penjualbahwa pelayanannya sangat cepat sekali dan sangat bagus. Juga saya berkata bahwa saya sudah membayar dengan bukti yang sudah dikirimkan. Jika ada kesalahan, jangan langsung emosi apalagi sampai mengutuk. Lebih lanjut saya katakan bahwa kutuk tidak bisa jatuh di atas kepala orang benar. Saya menuliskan pesan agar ia mencabut kata-katanya supaya ia tetap diberkati dan sukses dalam usahanya. Lalu saya menerima jawaban balik dari orang tersebut yang mengatakan bahwa ia terharu dengan pesan yang saya kirimkan dan meminta maaf kepada saya.
Dalam Bulan yang ke dua dan ketiga, saya mulai membeli barang online lagi. Kali ini barang yang saya pesan tidak sesuai dengan pesanan saya. Saya order barang dengan warna khaki, tetapi yang dikirim adalah warna putih. Saat itu saya berpikir apakah harus complain atau tidak. Pada akhirnya saya complain kepada si penjual. Tetapi si penjual selalu beralasan. Akhirnya saya katakan bahwa saya akan kirim ulang barang tersebut. Si penjual katakan jika saya kembalikan barang tersebut maka ongkos kirim saya pula yang harus membayarnya. Ongkos kirim saat itu senilai lebih dari 700ribu, Saya berpikir, orang tersebut yang salah kenapa saya yang harus menanggung pula ongkos kirimnya. Kami saling membalas email dan semakin sengit. Akhirnya ia berkata bahwa ia tidak mau menderita sengsara lagi. Ketika saya membaca emailnya, saat itu kami sedang bersiap untuk berdoa, hati saya terganggu dengan kalimat “menderita sengsara lagi”saya berdoa agar segala pencemaran jasmani dan rohani tidak masuk dalam diri saya tetapi kata-kata orang tersebut masih ada dipikiran saya. Saya merasa panas hati dan berpikir akankah saya membalas perkataan orang tersebut dengan daging ataukah saatnya saya harus menyalakan pelita saya. Saya minta hikmat Tuhan bagaimana saya dapat menjadi terang bagi mereka. Saya tidak tahu bagaiman harus menjawab, dan saya bergantung pada Roh Kudus. Roh Kudus menuntun bagaimana saya harus menulis balasan email kepada perusahaan tersebut. Saya katakan,“Saat orang dunia melakukan hal yang tidak menyenangkan lalu kita terpancing maka apa bedanya kita dengan mereka. Bagaimana mereka bisa melihat terang kita”
“Dear Margareth, terima kasih untuk surat kamu yang sangat bagus. Terima kasih untuk semua pelayanan dan semua produk-produk kamu yang sangat bagus. Selama ini saya berjuang karena saya mendapatkan produk yang salah dan kamu tidak memberikan alasannya kenapa saya dikirimkan produk yang salah dan kamu berkata saya menderita lebih lagi, saya tidak mengerti cara kamu berpikir. Tetapi baiklah tidak apa-apa. Pasti kamu mau sukses, pasti perusahaan kamu mau untung.”
Seringkali kita dihadapkan pada kesempatan agar terang kita menyala. Jika kita tidak sadar bahwa terang kita harus menyala maka kita akan merespon dengan daging. Kita harus bertindak dengan manusi roh bukan manusia daging kita.
Seringkali kita diperhadapkan dengan uang dimana uang berbicara sangat keras. Kalau uang kita diambil, kalau ego kita disinggung kita bisa emosi begitu saja. Kalau kita sadar bahwa kita sedang menulis buku kehidupan maka kita akan sangat hati-hati menjalani kehidupan kita dan kita harus memancarkan terang Kristus. Saya bersyukur karena dapat menjadi terang Tuhan. Sayaberkata “terima kasih Tuhan sudah beri saya kesempatan untuk menjadi terang di dalam kegelapan”.Dan kemudian saya katakan kepada dia“Tidak apa-apa, saya akan ambil ini barang, saya memberkati kamu, saya release blessing dan damai kepada kamu.
Saya sedang menantikan bab berikutnya dalam hidup saya. Kita seharusnya merespon bukan dengan daging tetapi dengan Roh.
Baca: Wahyu 2:26-28
Kita sebagai anak Tuhan, mau tidak mau kita berada di gelanggang perlombaan yang diwajibkan.Saat kita menerima Kristus, hidup kita sudah ditebus, otomatis kita berada di dalam gelanggang perlombaan tetapi banyak anak Tuhan tidak menyadarinya. Tuhan berikan kita iman dan Ia mau agar kita berjuang di dalam pertandingan iman. Setiap hari kita dihadapkan dengan pertandingan iman. Dari iman kepada iman, dari karunia kepada karunia, dari kemuliaan kepada kemuliaan, hari demi hari kita diperhadapkan dengan manusia yang berbeda-beda dan kita lewat begitu saja, iman kita tidak naik, lalu kita diperhadapkan dengan ujian iman, kita tidak naik lagi karena kita tidak sadar bahwa kita berada dalam gelanggang perlombaan.
Jika kita kalah bagaimana kita akan diberi kuasa atas bangsa-bangsa, bagaiman kita dapat menuntun mereka ke dalam kebenaran? Kita nantinya akan memerintah bersama Kristus. Jika kita tidak menang maka kita akan diperintah. Karena ada yang memerintah, ada yang diperintah.
Anda mau memerintah ataukah diperintah selamanya.
Baca: Wahyu 5:10
Tuhan telah membuat kita orang percaya sebagai raja-raja dan menjadi imam-imam bagi Allah kita. Sebagai orang rohani, leveliman kita harus terus naik. Tuhan secara luar biasa telah menyiapkan level pemerintahan tetapi banyak anak Tuhan tidak menyadarinya.
Ada buah-bah yang muncul ketika kita dilemparkan ke dunia dan itu harus dikerjakan. Banyak anak Tuhan lupa sudah keluar dari pintu gereja sudah lupa ayat firman. Diperlukan hati murid untuk melakukannya.
Baca: Wahyu 11:15
Tuhan mau agar kita memerintah bersama Dia. Saya membaca tulisan Dr. Jaerock Lee dimana ia pernah diangkat oleh Tuhan dan melihat sorga. Ada beberapa tingkatan di sorga. Dan ditingkatan itu ada yang namanya Eden, Firdaus dan juga sorga tingkat pertama, tingkat ke dua, tingkat ke tiga sampaiYerusalem baru bahkan tahta Allah. Dari tingkatan-tingkatan ini ada yang paling dekat dengan Yerusalem baru dan takhta Allah yaitu tingkatan sorga ke tiga.
Tingkatan sorga pertama, rumah disana adalah rumah bersama, di tingkat yang lebih tinggi, rumahnya lebih luas lagi, ditingkat yang lebih lagi ada pelayanan malaikat. Di tingkatan ketiga dikatakan bahwa orang percaya akan memerintah bersama dengan Kristus. Dibutuhkan cinta yang total kepada Tuhan, dibutuhkan peremukkan kehendak daging selama di dunia ini, diperlukan pengorbanan hati dan diri kita untuk kita sepenuhnya melayani Tuhan. Tidak ada lagi keegoisan yang ada hanyalah kasih dan pengorbanan.
Seringkali kita dihadapkan dengan uang. Seringkali ketika kita dirugikan, kita naik darah, spot kita di ambil kita jengkel. Jadwal penerbangandelay kita emosi tetapi jika kita yang terlambat kita tidak bisa terbang, hal-hal seperti itu seringkali memancing amarah kita.
Saya belajar untuk mengerti hal-hal ini dan tidak mudah. Satu kali saya tertinggal pesawat. Kata petugasnya saya sudah dipanggil. Tapisayatidakmendengar. Lebih lanjut si petugas berkata bahwa ia sudah menelfon saya tetapi tidak ada miscall di hp saya. Saya mengerti bahwa ini adalah tantangan. Lalu saya katakana “Pak boleh ngga saya dipindahkan di jam berikutnya” petugas katakan tidak boleh. Saya pandang matanya sambil berkata “Pak, terima kasih ya, Tuhan Yesus berkati” lalu saya jalan layaknya ratu. Tetapi staf saya berjalan dengan langkah yang kedengaran agar si petugas mendengar kejengkelannya. Saya mulai mikir dan berterimakih kepada Tuhan untuk hal-hal seperti ini. Saya kemudian mencari counter lain untuk mencari jam penerbangan berikutnya dan ternyata ada. Ketika tiket sudah di print, si petugas yang mengatakan tidak boleh datangtadidatangdengan tergopoh-gopoh karena badannya agak sedikit gemuk sambil dia katakan bahwa saya bisa masuk di pesawat berikutnya. Saya katakan “Tidak apa-apa, karena bapak sudahmelakukan pekerjaandantugas”.
Lalu orang tersebut mengatakan maaf. Saya katakan kepada staff saya untuk membri vcd khotbah.
Dua hari kemudian, bapak ini menelpon dan berkata ia bertobat.
Seringkali kita kehilangan dan tidak mau dirugikan, kita lebih mementingkan kepentingan diri kita sendiri. Seringkali kita harus melalui kerugian-kerugian yang di akhirnya berbuntut kemenangan-kemenangan iman.Memangpelajaran untuk meredam emosi tidak semudah seperti membalikan telapak tangan.
Berkat Tuhan yang menjadikan kita kaya susah payah tidak menambahainya.
Baca: Yesaya 40:10-11
Ada perbedaan jemaat Tuhan ketika nanti kita bertemu disana. Ada induk domba danada anak domba. Anda yang sudah setia, ini akan menolong Saudara untuk naik ke tahap berikutnya. Anda tidak harus dituntun dan diberi makan terus tetapi harus memberi makan domba-domba lain juga. Bukan tim penggembalaan saja tetapi Anda diminta untuk menjadi gembala-gembala kecil. Dalam Matius 22 di tuliskan perumpamaan tentang seorang raja yang mengundang orang-orang untuk datang di pestanya tetapi para undangan sibuk dengan urusan mereka masing-masing akhirnya para pengangguran yang dipanggil masuk ke dalam pestanya. Akhirnya mereka semua datang di pesta tersebut dan raja berkeliling di dalm pesta tersebut dan mendapati seseorang yang tidak berbaju pesta. Ia bertanya bagaimana mungkin seseorang masuk ke dalam pesta tanpa menggunakan baju pesta. Tuan itu berkata “ikat dia dan campakkan ke luar di tempat dimana terdapat ratapan dan kertak gigi”.
Saya berpikir apakahorang dijalan-jalan punya pakai baju pesta?Rupanya pada waktu mereka masuk, baju pesta sudah disediakan, yaitu kebenaran-kebenaran tetapi tergantung bagaimana anda meresponinya. Kerinduan saya untuk memperlengkapi gereja Tuhan.
Baju pesta sudah disediakan bagi kita, baju lenan putih yaitu perbuatan-perbuatan kebenaran.
Ganti kata-kata kutuk dengan kata-kata kebaikan, kata-kata berkat. Firman harus diperkatakan dan tidak boleh turuti perasaan. Ada pikiran yang tidak sesuai dengan pikiran Kristus harus ditolak di dalam nama Yesus.
Baca Filipi 2:5
Seringkali kita mengatakan orang ini tidak bisa berubah, kita membatasi diri kita dan membatasi kuasa Tuhan. Bagaimana Anda menghadirkan janji Tuhan dengan perkataan anda? Yaitu Saat semuanya tidak sesuai dengan kita, jika kita tidak membiasakan diri memperkatakan firman, maka kita akan menjadi sama dengan dunia dan juga kita akan menjadi kalah.
Mari kita membuat sebuah buku kehidupan yang akan kita tulis sendiri. Kita menulis kehidupan yang layak dibaca oleh orang lain. Kedua Persiapan kita akan naik level yang dikemudian hari kita akan memerintah dengan Dia. Bagaimana anda dari hari ke hari menghadapi segala sesuatu yang berbeda dan menang.
Barangsiapa menang, Kepadanya akan Kukaruniakn kuasa atas bangsa-bangsa.

By : Dr. Maqdalene Kawotjo