This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MEMELIHARA KESATUAN ROH

Efesus 4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera

Matius 18:18-20 18 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. 19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. 20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Fenomena tidak boleh dijadikan doktrin
Dalam beberapa minggu yang lalu kita sudah belajar tentang fenomena baptisan Roh Kudus dan fenomena karunia Roh Kudus. Semua yang kita pelajari adalah hal mendasar yaitu bahwa apapun bentuk fenomena tersebut tidak dapat dijadikan doktrin karena di lain waktu bentuk fenomena tersebut bisa berubah. Begitu juga mengenai tafsiran, tidak boleh didoktrinkan akan berdampak membingungkan umat Tuhan.

Akibat dari fenomena yang dijadikan doktrin
Menjelang tahun 2000 ada seorang ibu berkata bahwa jika sampai tahun 2000 Tuhan tidak datang, maka ia akan murtad. Untungnya sampai hari ini ia tidak murtad. Ini disebabkan oleh pengajaran Peta Zaman yang mengajarkan seolah-olah dunia akan kiamat tahun 2000 dan kenyataannya sampai sekarang tahun 2017 hal itu belum terjadi. Ini berbahaya karena Iblis mengambil banyak kesempatan dalam banyak cara ketika hal tersebut dijadikan patokan/doktrin. Penantian kedatangan Tuhan yang belum terjadi menghasilkan sikap, antara lain:
1. Orang yang sangat percaya pada pengajaran tersebut berkata akan murtad bila hal tersebut tidak terjadi
2. Ada orang yang mengolok-olok/mengejek
3. Hal yang benar dianggap tidak benar. Orang mengatakan bahwa kabar tersebut hanyalah kebohongan, sehingga tidak perlu dipercaya. Ini membuat orang tersebut tidak siap menanti kedatangan Tuhan, hidup dengan lalai, padahal memang kita hidup di penghujung akhir zaman.

Berusahalah!
Sehubungan dengan yang sudah kita pelajari di atas, maka kita akan belajar mengenai kesatuan Roh. Kesatuan bukan tunggal, kesatuan berarti jamak yang ditunggalkan. Kesatuan Roh tidak bersifat pribadi dan tidak terjadi dengan sendirinya.

Kata “berusahalah” ditujukan pada pribadi yang sedang berkumpul dalam nama Tuhan Yesus, memuji dan menyembah-Nya. Masing-masing akan beribadah dalam satu kegiatan ibadah dan harus ada kesatuan Roh. Roh Kudus bekerja tidak dengan cara merasuk pribadi seseorang, pribadi itu sadar, oleh karena sadar maka tentunya faktor jiwaninyapun bekerja sehingga di setiap karunia-karunia yang bekerja pada pribadi orang percaya yang Roh Kudus sedang pakai, harus menyadari bahwa apabila melibatkan unsur jiwaninya sesuatu yang lain bisa terjadi yaitu emosionalnya, pikirannya, kehendaknya, itu bisa tersalur di karunia tersebut sehingga dapat membuat karunia tersebut tercemar.

Kesatuan Roh
Kesatuan Roh harus dipelihara dalam pertemuan ibadah, jika tidak ibadah hanyalah sebuah kegiatan agamawi. Kita tidak berbicara mengenai pribadi tunggal, dimana setiap orang yang berdoa dalam nama Tuhan Yesus Kristus kepadanya akan diberi hak iman yaitu apa yang diikat di dunia akan terikat di sorga dan apa yang dilepas di dunia akan terlepas di sorga. Artinya, jika kita berdoa secara pribadi tidak ada urusannya dengan orang lain dan tidak ada urusan dengan kata “sehati”, “sepakat”, atau “kesatuan Roh”, hanya urusan pribadi dengan Tuhan saja.
Ketika sudah ada dua orang yang berdoa itu berarti sudah menjadi dua masalah, apalagi tiga orang, empat orang, bahkan dalam jemaat yang beragam pribadinya.

“…Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat…” Ketika lebih dari satu orang yang berdoa maka sudah dibutuhkan kesepakatan, seiya sekata, sepikir, sehati, sejiwa. Ini adalah doa satu Roh yang namanya kesatuan Roh.
Contoh kasus:
Suami istri yang dalam pelayanan sedang berdoa untuk meminta sebuah mobil. Mereka berdua tahu bahwa dalam memohon kepada Tuhan sebuah permintaan harus detail. Ternyata masing-masing sudah mempunyai type mobil kesukaan dan masing-masing mempunyai permintaan yang berbeda.

Setiap orang yang datang beribadah pastilah mempunyai pergumulan pribadi masing-masing. Maka masing-masing mulai ada yang bersorak ada yang berteriak, ini seharusnya sepakat, tetapi tidak sepakat. Mengapa? Karena masing-masing punya pergumulan pribadi. Oleh karena masing-masing menyampaikan kepentingan pribadi maka lupalah akan kesatuan Roh, dan tidak terbiasa karena belum mengetahui tentang hal itu. Oleh karena itulah firman Tuhan berkata “Berusahalah!” dalam konteks kesatuan Roh, satu dengan yang lain harus bersama-sama dan tidak sendiri-sendiri.
Kita akan melihat bagaimana Tuhan mengatur secara tehnis pelaksanaannya sehingga ibadah begitu indah dan yang hadir boleh menikmati kebersamaan dengan Tuhan dan sesama. Bagaimana Tuhan menyampaikan apa yang Tuhan kehendaki bagi jemaat Tuhan dengan memberikan Roh Kudus bekerja melalui karunia-karunia yang ada pada jemaat dan masing-masing mendapatkan sesuatu dari Tuhan. Nah, ibadah/persekutuan yang seperti inilah ada ikatan damai sejehatera.

Kesatuan Roh akan Menghasilkan Kristosentris
Persekutuan yang seperti ini akan menghasilkan pribadi yang hidup sehari-harinya berpusat kepada Kristus, sebab mereka sudah terlatih dalam berusaha menjaga kesatuan Roh, dengan jalan satu dengan yang lain akan saling menaklukan diri di hadapan Tuhan dengan tidak saling mendahului.
Oleh Karena ini adalah perhimpunan ibadah yang berpusat pada Kristus, tidak ada yang lebih berharga, tidak ada yang lebih hina, semua sama dihadapan Tuhan. Tidak berpusat pada indahnya musik, atau siapa artis siapa yang datang, atau siapa yang berkotbah, atau siapa yang bernubuat/berkarunia tetapi semua berpusat pada Kristus.

Ada tipe jemaat yang sangat menyukai ibdah hanya saat puji-pujian saja, maka iapun tidak pernah datang terlambat, tetapi begitu pemberitaan firman dimulai ia mulai merasa capek bahkan mengantuk ketika dengar fiman. Ada juga yang sering datang terlambat karena kurang menyukai suasana pujian penyembahan jadi hanya berfokus pada pemberitaan firman Tuhan saja.
Kita tidak boleh berpusat pada apapun juga selain pada Krisus. Sehebat apapun musik, worship leader, pengkhotbah, kita tidak boleh berpusat pada hal-hal itu.
Kita tidak boleh berpusat pada karunia, sehingga tanpa kita sadari kita meng”tuhankan” orang yang diberi karunia tersebut
Jika kita tidak berpusat pada apapun dan siapapun, kita akan menikmati apa yang Tuhan akan sampaikan dan lakukan bagi kita

Suatu saat ada yang bertanya pada saya: “Bolehkah kita pindah gereja dengan alasan tidak dapat apa-apa dari firman yang disampaikan?”
Saya memberi penjelasan, kita datang beribadah dan berbakti kepada Tuhan bukan sebaliknya, Tuhan yang berbakti kepada kita, jangan pernah punya paradigma bahwa kita datang ibadah untuk dapat sesuatu, justru setiap kita yang datang harus mempersembahkan persembahan kepada Tuhan, maka Tuhan akan melakukan dan menjawab apa yang menjadi pergumulan kita.

I Koruntus14:26 Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.

Dalam konteks berkat, terkadang banyak orang percaya hanya terfokus pada berkat-berkat Tuhan bukan pada Tuhan itu sendiri yang memberi berkat.
Dalam hal lain juga, terkadang kita hanya berdoa minta urapan Roh Kudus agar pelayanan kita bisa memberkati orang lain, padahal jauh lebih penting kita memiliki pribadi Roh Kudus itu sendiri.
Seperti beberapa pengajaran yang meminum minyak urapan, dan menjimatkan roti dan anggur perjamuan. Akhirnya bukan berpusat pada kristus tapi pada benda-benda tersebut. Ini tidak jauh beda dengan ilmu kebatinan

Tehnis Pelaksanaan Kesatuan Roh adalah kata “AMIN”
I Korintus 14:15-16 15 Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. 16 Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan “amin” atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan?

Amin menunjukkan kata sepakat yang artinya ya dan benar. Untuk mendukung kalimat doa yang diucapkan. Kita perlu berusaha untuk memelihara kesatuan Roh. Agar Tuhan bisa bekerja sesuai kehendak-Nya atas kita semua

By : Pdt. R. F. Martino