KEMAPANAN YANG MEMBAWA BERKAT
GppsPalu – Keluaran 4:1-2 “Lalu sahut Musa: “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?”. TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di tanganmu itu?” Jawab Musa:”Tongkat.””
II Timotius 2:20,21 “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untukmaksud yang kurang mulia. Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.”
Ketika pesan Tuhan ini sampai kepada kita Tuhan sudah mempersiapkan segala sesuatu mengenai kejelasan yang ada di dalamnya, sehingga kehidupan kita benar- benar adalah hidup yang berpusat kepada Kritus di segala pergerakan hidup kita (jasamani maupun rohani).
Beberapa minggu yang lalu kita sudah belajar bahwa ada jebakan-jebakan yang bisa membuat kita gagal dalam berpusat kepada Kristus, yaitu:
1. Jebakan waktu
2. Jebakan karakter
3. Jebakan kemapanan
Kita tahu bahwa kemapanan bisa membawa kita dalam bahaya, mengapa?
1. Ketika kemapanan menjadi tujuan hidup
2. Bisa merubah karakter (dari seorang yang rendah hati menjadi seorang yang sombong, murah menjadi pelit, dll)
3. Menyimpang dari iman
4. Memindahkan orang dari surga ke neraka
Kemapanan bisa membawa dampak yang berbahaya. Jadi, apakah kita tidak perlu hidup mapan? Hal ini juga keliru. Yang terpenting adalah jangan menjadikan kemapanan itu menjadi tujuan hidup. Bekerjalah dengan giat dan taat melakukan kehendak-Nya maka berkat Tuhanlah yang akan datang kepada kita. Berkat Tuhanlah yang menjadikan kita kaya. Harus ada sikap waspada, jangan terganggu dengan apapun juga, silahkan bekerja dan menghasilkan prestasi yang baik sampai kepada hasilnya. Bekerja dan berdoa!
Kemapanan tidak menjadi jebakan tapi membawa berkat dimulai dengan apa yang ada pada kita
Seorang yang dibuang pada umumnya tidak akan punya masa depan. Pada waktu bayi, Musa harus disembunyikan oleh ibunya dari tindakan pembunuhan oleh orang Mesir. Ibunya menghanyutkannya ke sungai Nil tapi dengan harapan bisa ditemukan kembali. Tidak lama kemudian bayi Musa ditemukan oleh Putri Firaun. Akhirnya Musa dipelihara dan dibesarkan di lingkungan keluarga Putri Firaun. Selama di lingkungan kerajaan, ia melihat dan menyaksikan bahwa bangsanya ditindas oleh Bangsa Mesir.
Tuhan sudah menetapkan rancangan-Nya bahwa Musa akan memimpin Bangsa Israel untuk keluar dari tanah perbudakan Mesir. Ketika Tuhan menyuruh Musa menghadap Firaun, ia sangat tidak percaya diri. Hal ini sangat logis, bagaimana mungkin seorang rakyat biasa harus menghadap raja. Begitupula dengan kita, terkadang kondisi riil yang ada dan logika kita yang sering menguasai kita dan tidak mempercayai Tuhan. Memakai logika tidaklah salah karena kita masih punya pikiran yang waras, tapi jangan lupa bahwa kita juga punya iman yang bisa kita pakai untuk bertindak.
Tidak ada salahnya kita berdoa untuk “melembutkan hati Firaun” tapi jangan kecewa ketika ternyata Tuhan “mengeraskan hati Firaun”.
Setiap persoalan yang sedang kita hadapi, sebenarnya Tuhan sudah memberikan jawaban dan ada di tangan kita. Ketika Tuhan bertanya pada Musa apa yang ada di tangannya? Musa menjawab “tongkat’. Bekal tongkat itulah yang Musa pakai untuk memimpin Bangsa Israel. Kemampanan bisa menjadi berkat dimulai dari apa yang ada pada kita. Tuhan memulai dan memakai, bukan apa yang tidak ada pada kita tetapi apa yang ada pada kita.
1. Pemilik kandang tempat Yesus lahir
Pada waktu Yusuf dan Maria mencari tempat untuk melahirkan Yesus, tidak ada tempat lagi karena semua penginapan sudah penuh. Si pemilik penginapan hanya mempunyai kandang yang dapat diberikan. Ini adalah harta yang dimiliki olehnya. Kembali pada kita, apakah karena kita hanya mempunyai kandang lantas kita tidak dapat berbuat apa-apa untuk Tuhan. Banyak orang berpikir nanti ketika ia sudah punya rumah yang besar baru ia mau berbuat untuk Tuhan. Kita harus memulai dari kandang, karena kalau sudah menjadi istana terkadang kebanyakan kita sulit untuk berbuat untuk Tuhan.
2. Anak yang mempunyai 5 roti dan 2 ikan
Peristiwa Tuhan Yesus memberi makan 5.000 orang dimulai dari seorang anak kecil yang mempunyai 5 roti dan 2 ikan. Anak kecil ini punya kerelaan untuk memberi apa yang ada padanya.
3. Simon pemilik kapal
Saat mengadakan perjalanan, Yesus bertemu dengan nelayan yang sedang mencuci jalanya karena gagal semalam-malaman dalam mencari ikan (Baca: Lukas 5:1-7). Pemilik perahu, Simon, merelakan perahunya untuk dipakai oleh Tuhan dalam pelayanan khotbah-Nya. Tuhan tidak memakai dengan percuma. Dari apa yang Simon miliki secara pribadi kemudian menjadi berkat. Para nelayan itu mendapat tangkapan yang sangat banyak.
Banyak orang mendispensasikan dirinya dengan keadaannya yang masih berkekurangan. Cara berpikir harus dilatih dari sedini mungkin untuk memberi dengan apa yang ada pada kita. Dalam Perjanjian Lama Tuhan juga memprioritaskan orang yang miskin dengan membuat peraturan mengenai persembahan yang harus diberikan kepada Tuhan. Jadi bukan hanya orang yang kaya bisa memberikan persembahan.
Jangan mematok diri terhadap kuasa Allah dengan berkta bahwa kita tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan. Kaum remaja berkata, “Ah saya tidak bisa memberikan persembahan kepada Tuhan, karena saya hanya mendapat uang jajan yang tidak seberapa”. Kaum Muda berkata, “Saya hanya tinggal di kost, saya juga belum bisa memberi apa-apa buat Tuhan”. Jika dari usia muda mindset kita seperti ini maka akan tercetak jemaat-jemaat dewasa yang ada dalam keadaan bahaya bagi masa depan gereja. Ini adalah arahan buat semua kalangan yang masih remaja dan muda, belajar melatih diri memberi dari apa yang ada pada kita. Bagi Kaum Dewasa, kita sudah banyak tahu tentang hal memberi, tinggal melakukannya saja, karena semakin banyak kita tahu maka semakin banyak juga yang dituntut. Jangan berpikir hanya ketika kita mempunyai banyak harta baru bisa memberi, padahal Tuhan hanya mengatakan apa yang ada pada kita.
Matius 25:23 “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”
Dalam Injil Lukas Tuhan juga memberi contoh jemaat-jemaat perempuan yang melayani Tuhan dengan harta mereka. Mereka tidak menyayangkan harta mereka untuk melayani Tuhan.
Lukas 88:1-3 “Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka.
Kerelaan memberikan yang kita punya tidak dimulai dari istana tapi dimulai dari apa yang ada pada kita. Dari kandang, ikan dan roti dan perahu. Kadang banyak penghalang untuk menjadikan Kristus yang utama dalam hidup kita. Sebagian orang juga beranggapan bahwa hal-hal rohani bisa menjadi penghalang kesuksesan bisnisnya, Nah, bagaimana dengan Simon yang meminjamkan perahunya untuk Yesus pakai dalam pelayanan-Nya? Simon bahkan diberkati Tuhan dam bisnisnya sebagai nelayan.
Kemapanan bisa menjadi berkat, jika kita melatih diri dari sedini mungkin dari perkara-perkara yang kecil.
Pdt. R.F. Martino









