YESUS JAMAH
GppsPalu – Matius 8:1-4 “Setelah Yesus turun dari bukit, orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah seorang yang sakit kusta kepada-Nya, lalu sujud menyembah Dia dan berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”
Dikalangan orang Yahudi, orang kusta itu harus dikucilkan/disingkirkan. Konsekwensi bagi orang yang bergaul atau menyentuhnya adalah bahaya menular dan bahaya bagi jiwanya karena melanggar peraturan pada masa itu. Nama lain dari penyakit kusta adalah lepra atau hansen sesuai dengan nama penemu virus sekaligus penemu obatnya yakni seorang ilmuwan Norwegia bernama Gerhard Henrik Armauer Hansen pada tahun 1837.
Pada zaman Yesus, penyakit kusta bukan merupakan masalah medis tapi dianggap masalah teologis, dianggap sebagai penyakit kutukan. Contoh kasus: Miryam yang membicarakan otoritas/orang yang diurapi Allah. Contoh lain adalah Gehazi yang memakai nama Elia sebagai abdi Allah untuk memperoleh persembahan dari Naaman. Contoh kasus lainnya juga adalah Uzia yang mengambil alih peran imam-imam dengan melakukan membakar ukupan yang seharusnya berhak melakukan hal tersebut adalah hanya imam-imam saja. Orang sakit kusta/lepra dianggap sama dengan orang yang sudah mati, orang itu akan dikucilkan, tidak boleh menyapa/memberi salam, bahkan ada rabi yang melempari mereka dengan batu seperti melempar anjing.
Bagiamana sikap Yesus dan apa yang Dia lakukan?
Lukas 8:3 “Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.”
Yesus tidak menjauh, bahkan Ia menyentuh/menjamah orang kusta itu.
Apa yang menarik dari peristiwa ini?
Kebanyakan orang hanya berfokus pada mujizat kesembuhannya saja, padahal ada hal yang lebih menarik dari itu semua, bahkan lebih mendalam daripada mujizat kesembuhan secara fisik, yaitu: SENTUHAN/JAMAHAN YESUS.
Riset yang diadakan di Massachuset University, Amerika mengatakan bahwa setiap manusia sejak hari pertama dilahirkan punya kebutuhan yang sangat mendasar untuk mengalami sentuhan. Secara fisik, kulit manusia mempunyai rasa lapar akan sentuhan (the skin hunger). Anak-anak yatim piatu yang diberikan sentuhan dan belaian yang cukup akan mempunyai daya tahan untuk hidup lebih tinggi daripada yang tidak disentuh sama sekali. Kebutuhan mendasar ini terus menerus sampai dewasa dan sampai mati.
Orang kusta ini sudah sekian lama dikucilkan dan tidak pernah mendapatkan sentuhan fisik sama sekali karena jurang dan benteng yang dibangun oleh peraturan dan masalah sosial.
Waktu Yesus menjamah dia, dia mengalami secara nyata bahwa ada seseorang yang berani mengambil resiko untuk mengorbankan kepentingannya sendiri bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk melangkah, mendobrak semua batas/aturan yang ada, bahkan kemungkinan penyakitnya akan menular.
Bagi si kusta ini lebih dalam artinya, waktu Yesus mengulurkan tangan kepadanya untuk menjamahnya dibanding kesembuhannya dari sakit kusta. Terjadi mujizat yang lebih dalam yaitu PEMULIHAN. Kejadian ini bukan hanya kesembuhan yang dia alami secara fisik tapi sentuhan/jamahan Yesus mengembalikan harga dirinya, memberikan rasa berharga bagi dia, memulihkan batin dan jiwanya.
Perempuan yang mengalami pendarahan selama dua belas tahun
Markus 5:25-34 “Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jubah-Nya. Sebab katanya: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah pendarahannya dan ia merasa, bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada ketika itu juga Yesus mengetahui, bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berpaling di tengah orang banyak dan bertanya: “Siapa yang menjamah jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menjamah Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan tersungkur di depan Yesus dan dengan tulus memberitahukan segala sesuatu kepada-Nya. Maka kata-Nya kepada perempuan itu: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan selamat dan sembuhlah dari penyakitmu!”
Imamat 15:19-23 “Apabila seorang perempuan mengeluarkan lelehan, dan lelehannya itu adalah darah dari auratnya, ia harus tujuh hari lamanya dalam cemar kainnya, dan setiap orang yang kena kepadanya, menjadi najis sampai matahari terbenam. Segala sesuatu yang ditidurinya selama ia cemar kain menjadi najis. Dan segala sesuatu yang didudukinya menjadi najis juga. Setiap orang yang kena kepada tempat tidur perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. Setiap orang yang kena kepada sesuatu barang yang diduduki perempuan itu haruslah mencuci pakaiannya, membasuh diri dengan air dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. Juga pada waktu ia kena kepada sesuatu yang ada di tempat tidur atau di atas barang yang diduduki perempuan itu, ia menjadi najis sampai matahari terbenam.”
Pada zaman itu perempuan yang sedang mengalami siklus haid dianggap najis, itu berarti ia harus disingkirkan agar orang lain tidak ikut tercemar/najis. Bayangkan saja peristiwa yang dialami oleh perempuan yang mengalami pendarahan selama dua belas tahun. Ia tidak hanya mengalami sakit fisik, karena bisa dipastikan badannya sangat lemah karena banyaknya darah yang keluar, tapi ia juga dikucilkan dan disingkirkan selama dua belas tahun tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain, terisolir dari masyarakat umum.
Bagaimana dengan kita? ada banyak orang yang merasa sendiri, dimana keadaan ini sangat memedihkan. Punya suami tetapi seperti tidak punya suami, karena suami sangat sibuk dengan pekerjaannya. Begitu juga sebaliknya punya istri tetapi seperti tidak punya istri, karena kurangnya perhatian istri terhadap suami. Ada juga anak-anak yang kehilangan haknya sebagai anak, seperti tidak mempunyai orang tua, karena orang tua tidak bersikap sebagai orang tua semestinya, kurang memperhatikan anaknya. Peristiwa yang sangat memedihkan adalah ketika merasa sendiri padahal kita tahu bahwa kita tidak sendiri, ada orang di sekitar kita tapi mereka tidak memperdulikan kita.
Menantikan jamahan-Nya
“Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.”
Perempuan ini membutuhkan jamahan Yesus karena dia tahu jamahan itu akan mengubahkan hidupnya
Hati yang terasa hampa, kering, terluka Apakah saat ini kita juga menantikan Yesus untuk menjamah hidup kita?
Ada berita baik: Yesus ingin menjamah hidup kita. Katakan “Aku ingin menjamah DIA.”
Saya pernah melayani seorang remaja putri yang hidupnya sangat terpuruk. Di usianya yang masih sangat belia, dia sudah memiliki dosa yang yang “lengkap”. Dia terjerumus menjadi seorang Pekerja seks komersil (PSK), bukan karena dia kekurangan finansial, dari hasil konseling ternyata dia kurang kasih sayang dari orang tuanya, tidak pernah mendapat sentuhan orang tua, akhirnya ia mendapat kasih sayang dari “om – om” yang memperhatikannya. Di sini kita belajar bahwa setiap orang membutuhkan jamahan dari Tuhan.
Mazmur 84:11 “Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain…”
Pemazmur Daud menyadari bahwa hadirat Tuhan adalah segala-galanya bagi dia. Saat kita menyembah ada satu Pribadi yang datang menjamah hidup kita dan pada waktu jamahan datang kita merasa bahwa kita sangat berharga karena pribadi itu mengorbankan segala-galanya bagi kita.
Matius 17:1-7 “Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia. Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia”” Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!”
Kalimat: “Yesus menyentuh” sama seperti Yesus menyentuh si kusta, pada saat kuasa mengalir dari tubuh-Nya, menyentuh/menjamah perempuan yang sakit pendarahan, orang yang buta dan telinga yang tuli.
Pada saat Yesus menyentuh kehidupan seseorang, bukan hanya fisiknya yang diberkati oleh Tuhan, bukan hanya sakit penyakitnya yang disembuhkan oleh Tuhan, tetapi pemulihan gambar dirinya, pemulihan batinnya, memuaskan jiwa yang haus dan lapar, bahkan mengobati luka di dalam diri seseorang.
Yeus berkata kepada perempuan itu: “Imanmu telah menyelamatkan engkau” bukan “imanmu telah menyembuhkan engkau”. Seringkali kita hanya membutuhkan/memfokuskan jamhan Tuhan hanya kepada mujizat kesembuhan saja, padahal jamahan Tuhan bukan hanya kesembuhan secara fisik saja.
Setiap orang membutuhkan JAMAHAN TUHAN
Masalah keluarga yang menekan, pekerjaan/usaha/bisnis yang menekan, masalah studi, masalah pelayanan, masalah pendamping hidup, bahkan orang yang tidak ada masalahpun yang semuanya kelihatan nyaman, ingatlah bahwa kasih manusia sangat terbatas, kita semua tetap membutuhkan Yesus. Jamahan Tuhan akan memberikan kita keselamatan, damai sejahtera, kekuatan, pemulihan.
YESUS JAMAH
SEG’NAP HIDUPKU
DAN B’RI DAMAI DI HATIKU
SEMUA TELAH BERUBAH
DAN AKU TAHU
YESUS JAMAH KU JADI BARU
Pdt. Lea Novitasari, S.Th., MA









