This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MENJADI PRIBADI YANG TANGGUH (2)

GppsPalu – Efesus 6:10 “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”

I Samuel 21:10-15 “Kemudian bersiaplah Daud dan larilah ia pada hari itu juga dari Saul; sampailah ia kepada Akhis, raja kota Gat. Pegawai-pegawai Akhis berkata kepada tuannya: “Bukankah ini Daud raja negeri itu? Bukankah tentang dia orang-orang menyanyi berbalas-balasan sambil menari-nari, demikian: Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa?” Daud memperhatikan perkataan itu, dan dia menjadi takut sekali kepada Akhis, raja kota Gat itu. Sebab itu ia berlaku seperti orang yang sakit ingatan di depan mata mereka dan berbuat pura-pura gila di dekat mereka; ia menggores-gores pintu gerbang dan membiarkan ludahnya meleleh ke janggutnya. Lalu berkatalah Akhis kepada para pegawainya: “Tidakkah kamu lihat, bahwa orang itu gila? Mengapa kamu membawa dia kepadaku? Kekurangan orang gilakah aku, maka kamu bawa orang ini kepadaku supaya ia menunjukkan gilanya dekat aku? Patutkah orang yang demikian”.

I Samuel 22:1-2 “Lalu Daud pergi dari sana dan melarikan diri ke gua Adulam. Ketika saudara-saudaranya dan seluruh keluarganya mendengar hal itu, pergilah mereka ke sana mendapatkan dia. Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang.”

Kita sudah belajar bahwa setiap orang percaya yang sudah lahir baru, di dalam dirinya ada kekuatan dahsyat dari Tuhan dan harus dinikmatinya. Secara manusia lahiriah, kita tidak beda dengan semua orang pada umumnya yang memiliki pergumulan hidup, hanya saja berbeda cara menghadapinya. Tuhan menetapkan bahwa setiap orang percaya menjadi pribadi yang tangguh dalam menjalani hidupnya, tidak rapuh dan dipermainkan masalah. Sebagai orang percaya kita harus cakap menanganinya, jika tidak kita akan gugur dari iman.
Suatu kasus, ketika ada orang yang kerasukan, biasanya orang yang mendoakannya menyuruh orang yang kerasakukan untuk melawannya juga dari dalam dirinya sendiri, dan akhirnya iapun menang dari kerasukan setan. Pertanyaannya, mengapa hanya pada kasus kerasukan setan saja berani melawannya? Padahal cara iblis bekerja tidak selamanya dalam bentuk kerasukan, iblis bekerja menunggangi setiap realita hidup selama 24 jam sehari bekerja dengan berbagai cara untuk melemahkan kita, meski tidak dalam bentuk kerasukan.

DAUD
Daud adalah raja yang dipilih oleh Allah sendiri. Meski Allah sendiri yang memilihnya, tapi jalan menuju tahta kerajaan tidak berlangsung mulus. Ada banyak rintangan yang harus dia hadapi, bahkan dia harus menghadapi Saul yang membecinya, yang saat itu masih menjadi raja. Ada suatu kesempatan untuk membunuh Saul yang pada saat itu Saul tertidur nyenyak, tapi Daud tidak melakukannya, Daud hanya memotong ujung jumbai jubah Saul, sebagai bukti bahwa Daud bisa saja membunuhnya pada saat itu.
Mungkin kita berpikir bahwa jika Tuhan yang memilih maka semua jalan akan mulus dan semua pasti akan beres, ternyata tidak. Ada banyak yang harus Daud hadapi. Daud juga menampakkan bagaimana kemampuannya, sehingga jauh sebelum dia naik tahta, di hadapan Saul ia sudah kenal siapa itu Daud, yaitu ketika kerajaan tidak mampu menghadapi Bangsa Filistin yang menghina nama Tuhan. Tapi oleh pertolongan Tuhan Daud bisa mengalahkannnya.
Daud melarikan diri dari Saul, setiba di Gat, Daud bertemu dengan Raja Akhis. Daud berusaha lari supaya persoalan selesai. Padahal lari dari kenyataan bukan menyelesaikan masalah tapi menimbulkan masalah baru.

1 Samuel 21:11 “Pegawai-pegawai Akhis berkata kepada tuannya: “Bukankah ini Daud raja negeri itu? Bukankah tentang dia orang-orang menyanyi berbalas-balasan sambil menari-nari, demikian: Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa?”
Rupanya Daud sudah terkenal dengan keperkasaannya. Lari dari persoalan hanya akan menambah persoalan baru.

1 Samuel 21:12 “Daud memperhatikan perkataan itu, dan dia menjadi takut sekali kepada Akhis, raja kota Gat itu.”
Dengan Goliat, orang Filistin yang sangat ditakuti itu, Daud tidak takut bahkan ia bisa mengalahkannya. Sehebat apapun Daud, dia mengalami ketakutan pada saat itu.
Adakalanya kita melakukan perbuatan-perbuatan yang hina sehingga sudah tidak menghargai diri sendiri dan sudah tidak peduli dengan apa kata orang, itulah manusia lahiriah.

1 Samuel 21:14 “Lalu berkatalah Akhis kepada para pegawainya: “Tidakkah kamu lihat, bahwa orang itu gila? Mengapa kamu membawa dia kepadaku?”

Ada banyak yang tidak bisa dilakukan oleh manusia lahiriah, kemampuan manusia lahiriah hanya sebatas kemampuan logika.

Daud di Gua Adulam
I Samuel 22:1-2 “Lalu Daud pergi dari sana dan melarikan diri ke gua Adulam. Ketika saudara-saudaranya dan seluruh keluarganya mendengar hal itu, pergilah mereka ke sana mendapatkan dia. Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang.”

Sekarang Daud menjadi pemimpin dari orang-orang yang bermasalah. Kondisi ini membentuk Daud menjadi pribadi yang tangguh.

Mazmur 119: 71 “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.”

Inilah sebuah pergumulan. Ada masalah-masalah yang bisa kita selesaikan dengan analisa logika baik itu dalam bentuk nasihat atau petunjuk, tapi ada juga masalah yang tidak dapat diselaikan dengan cara apapun, selain berserah kepada Tuhan. Kita harus belajar apa yang menjadi kehendak Tuhan. Ketika kajian logika kita mengalami jalan buntu kita berpikir bahwa semuanya akan berakhir dan kitapun berputus asa. Tapi ingatlah bahwa keputusasaan bagi dunia adalah jalan buntu, tapi keputusaan bagi orang percaya adalah memperbaiki penyerahan diri kepada Tuhan.

II Korintus 1:8 “Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami”.

Orang lain tidak mau tahu keberadaan kita, mereka hanya mau tahu kita menjadi pribadi yang tangguh, ketika hal ini terjadi maka muncullah penghakiman. Orang lebih suka menghakimi ketika ada sesorang yang jatuh dalam persoalan hidup.

II Korintus 4:8 “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa.”

Setiap pergumulan hidup biasanya membuat kita mengeluh, tapi tidak boleh dijadikan alasan untuk semakin terpuruk. Makanya, dikatakan bahwa hendaklah kamu kuat di dalam kekuatan kuasa-Nya! Tekun dengan sungguh-sungguh sampai kekuatan Tuhan yang bekerja dan bukan kekuatan kita sendiri.

Apa yang membuat Daud mampu?
Mazmur 142:1-8 “Nyanyian pengajaran Daud, ketika ia ada di dalam gua: suatu doa. Dengan nyaring aku berseru-seru kepada TUHAN, dengan nyaring aku memohon kepada TUHAN. Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya, kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya. Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku, Engkaulah yang mengetahui jalanku. Di jalan yang harus kutempuh, dengan sembunyi mereka memasang jerat terhadap aku. Pandanglah ke kanan dan lihatlah, tidak ada seorang pun yang menghiraukan aku; tempat pelarian bagiku telah hilang, tidak ada seorang pun yang mencari aku. Aku berseru-seru kepada-Mu, ya TUHAN, kataku: “Engkaulah tempat perlindunganku, bagianku di negeri orang-orang hidup!” Perhatikanlah teriakku, sebab aku telah menjadi sangat lemah. Lepaskanlah aku dari pada orang-orang yang mengejar aku, sebab mereka terlalu kuat bagiku. Keluarkanlah aku dari dalam penjara untuk memuji nama-Mu. Orang-orang benar akan mengelilingi aku, apabila Engkau berbuat baik kepadaku.”

Inilah yang membuat Daud, meskipun di dalam Gua Adulam (dalam masalah) ia tetap bisa berjumpa dengan Tuhan, berdoa dan berseru. Daud membawa dirinya kepada Tuhan bukan masalahnya.

Filipi 4:6 “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Salah satu penyebab orang lari dari kenyataan adalah kuatir. Jangan pernah mencoba mengatasinya dengan kekuatan sendiri itu adalah tindakan yang bodoh dan melelahkan.

By : Pdt. R.F. Martino