KETIKA TUHAN MENDIDIK KITA (3)
GppsPalu – Ibrani 12:11 “Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”
Yosua 21:45 “Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.”
Minggu sebelumnya kita sudah belajar bahwa didikan Tuhan bagi kita adalah mutlak karena kita adalah anak-anak yang dikasihi-Nya. Tuhan juga punya maksud dan tujuan dalam mendidik kita yaitu untuk merendahkan hati kita. Sekarang kita akan belajar: apakah hasil dari didikan Tuhan?
Hasil dari didikan Tuhan
Banyak orang melihat keberhasilan kita sekarang ini, mereka tidak pernah membayangkan bagaimana didikan Tuhan yang sudah kita jalani sebelumnya. Banyaknya air mata yang dicucurkan dan jerih payah yang dijalani. Pergumulan inilah yang perlu orang lain juga pahami. Hidup ini tidak akan pernah berhenti belajar. Setiap realita hidup, apapun bentuknya, kita harus dapat menangkap nilai-nilai rohani dan didikan Tuhan di dalamnya. Dengan demikian kita bisa memahami maksud Tuhan yang akan membawa kita pada penggenapan janji-janji-Nya.
Ibrani 11:8 “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.”
Abraham dipanggil Tuhan untuk berangkat ke tempat yang tidak diketahui. Hal ini tidak masuk akal logika, tapi inilah cara Tuhan memanggil Abraham untuk berangkat dan tidak mengetahu tempat yang dituju. Bagaimana jika hal ini terjadi pada diri kita? Apakah kita mau melakukan perintah Tuhan atau tidak?
Ibrani 11:9-12 “Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu.” Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.”
Secara iman kita merindukan apa yang Tuhan janjikan. Masa tenggang waktu penantian janji Tuhan adalah masa didikan Tuhan bagi kita. Tapi banyak yang tidak memahami hal ini, mereka hanya mau Tuhan segera menepati janji yang sudah dikatakan-Nya.
Jika dalam masa tenggang waktu ini kita lolos dari didikan Tuhan, maka kita akan masuk dan menikmati janji-Nya. Bangsa Israel yang harus melewati masa didikan selama 40 tahun di padang gurun, hanya dua orang saja yang berhasil masuk ke Tanah Perjanjian, Musapun tidak masuk ke dalamnya, ia hanya melihat dari kejauhan.
Kita perlu menjalani hidup kita dalam suatu ketaatan yang serius.
Bagaimana Sikap Abraham?
Ibrani 11:17-19 “Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.”
Hasil didikan Tuhan kepada Abraham ini adalah luar biasa, bukan hanya dijanjikan tempat kediaman yang luar biasa, tapi Tuhan masih terus mendidik Abraham, apakah hatinya tetap sama seperti wajtu Tuhan menyuruhnya berangkat ke tempat yang tidak ia ketahui. Tuhan menyuruhnya untuk mempersembahkan Ishak, anak yang ia kasihi. Ishak adalah anak yang ia nanti-natikan cukup lama. Bahkan Ishak adalah anak perjanjian yang diberikan Allah kepada Abraham. Sumber dari segala keturunan Abraham ada pada Ishak, tapi Ishak-lah yang diminta oleh Tuhan untuk dipersembahkan Abraham, ini berarti semua janji keturunan Abrahan akan habis. Ini hal yang sangat berat bagi Abraham, tapi Abraham belajar untuk tetap dalam didikan Tuhan. Semakin besar yang Tuhan berikan maka semakin kuat juga didikan Tuhan kepada Abraham. Biasakanlah diri kita untuk taat pada Firman Tuhan, mulai dari hal-hal yang kecil, sehingga ketika kita mengharapkan hal-hal yang besar dari Tuhan dan Tuhan mendidik kita, maka kita akan siap menjalaninya.
Pengalaman Ishak
Kejadian 26:1 “Maka timbullah kelaparan di negeri itu. — Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin.”
Pada zaman itu Ishak mengalami masa krisis yang sangat hebat. Tuhan mendidik ishak di situ.
Kejadian 26:2 “Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.”
Tuhan hadir dalam situasi dan kondisi apapun, termsuk dalam kondisi yang terpuruk sekalipun. Tuhan peduli pada negeri yang didiami Ishak pada saat itu, karena ada umat yang dikasihi Tuhan di situ.
Lagi lagi hal ini tidak masuk akal, masa kelaparan yang terjadi di negeri itu, tapi Tuhan menyuruh Ishak tetap tinggal di Gerar dan jangan ke Mesir.
Kejadian 26:6 “Jadi tinggallah Ishak di Gerar.”
Apa yang Ishak lakukan?
Kejadian 26:12 “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.”
Ishak tetap tinggal diam di Gerar, ini berarti ia harus bekerja lebih keras, karena tanah yang harus ia olah sangat keras dan kering. Hal ini perlu kita pahami yaitu bahwa ada bagiannya Tuhan, yaitu memberkati kita, tetapi ada juga bagiannya kita yang harus bekerja keras.
Banyak anak Tuhan yang mempunyai konyol pada masa krisis, megapa? Ketika terjadi krisis hanya berputus asa dan berdoa dalam keputus asaan. Hal ini tidak salah, bahkan bisa dikatakan benar, tetapi tidak bisa hanya sampai di situ saja. Ishak mengalami masa krisis tetapi ia tetap menabur, artinya ia bekerja lebih keras dari sebelumnya. Dalam situasi dan kondisi yang sulit, kita harus punya kemampuan untuk berinovasi/ide-ide baru dalam pekerjaan yang dikelola. Masa krisis dan sukar merupakan evaluasi bagi usaha kita untuk berpikir lebih baik lagi. Berdoalah sambil sharing bersama rekan kerja ataupun keluarga, sehingga mendapatkan jalan keluar. Ishak menabur dalam masa kering dan ia beroleh seratus kali lipat, sebab ia diberkati Tuhan.
Inilah didikan Tuhan untuk Ishak. Mungkin kita sempat berpikir, mengapa Tuhan tidak memberkati Ishak sama seperti Tuhan memberkati Elia yang mengalami kekeringan pada zamannya. Tuhan mengirim burung gagak untuk memelihara Elia. Banyak cara Tuhan memelihara dan memberkati, tapi tidak semua sama separti Tuhan memberkati Elia
Pengalaman Ayub.
Ayub 42:10-17 “Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. Kemudian datanglah kepadanya semua saudaranya laki-laki dan perempuan dan semua kenalannya yang lama, dan makan bersama-sama dengan dia di rumahnya. Mereka menyatakan turut berdukacita dan menghibur dia oleh karena segala malapetaka yang telah ditimpakan TUHAN kepadanya, dan mereka masing-masing memberi dia uang satu kesita dan sebuah cincin emas. TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu; ia mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina. Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan; dan anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh. Di seluruh negeri tidak terdapat perempuan yang secantik anak-anak Ayub, dan mereka diberi ayahnya milik pusaka di tengah-tengah saudara-saudaranya laki-laki. Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya; ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat. Maka matilah Ayub, tua dan lanjut umur.”
Ayub mengalami masa didikan Tuhan dan ia lolos, Ayub taat pada Tuhan dan tidak meninggakan Tuhan dan hasilnya luar biasa. Karena ketaatannya Ayub dibawa Tuhan menikmati hasil didikan Tuhan.
Apa didikan Tuhan yang sedang kita alami saat ini, belajarlah taat untuk menjalaninya. Maka Tuhan akan membawa kita pada janji-janji-Nya.
By: Pdt. R.F. Martino









