KETIKA TUHAN MENDIDIK KITA (2)
GppsPalu – Ibrani 12:5-13 “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.”
Minggu lalu kita sudah belajar bahwa cara Tuhan mengasihi kita tidak selamanya dalam bentuk kelembutan tapi dapat juga dalam bentuk didikan.
Apa maksud dan tujuan Allah mendidik kita?
Ketika Tuhan menyatakan kebenaran mengenai hal didikan, sebanarnya hal ini tidak sulit dimengerti, karena aplikasinya ada dalam kehidupan sehari-hari bahkan semua orang pasti sudah mengalaminya. Adalah sebuah pergumulan bagi orang tua dalam mendidik anaknya, meski ada juga orang tua melakukan didikan yang tidak baik (salah didik) terhadap anaknya sehingga berpengaruh terhadap perkembangan anak yang dididik. Di sini kita melihat ada yang dididik (anak) ada pendidik (orang tua). Sebaik-baiknya pendidik semua kembali pada yang dididik. Ketika kita memposisikan diri sebagai anak, mari renungkan apakah kita masuk dalam kategori anak yang mudah dididik?
Untuk apa Tuhan mendidik kita? apakah karya penyelamatan-Nya tidak cukup bagi kita sehingga Ia perlu mendidik kita? Ketika kita sudah meresponi karya penyelamatan-Nya melalui kelahiran baru, kita tidak langsung meninggal dunia, kita masih menjalani kehidupan sehari-hari yang penuh dengan realita/pergumulan hidup. Di dinilah Tuhan perlu mendidik kita agar kita tidak kalah oleh tipu muslihat Iblis yang berusaha membuat kita kehilangan janji-janji yang Tuhan berikan bagi kita.
Menjadi Pribadi-pribadi Tangguh
Ulangan 8:1 “Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu.”
Sebelum Bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian, mereka harus menempuh waktu selama 40 tahun beridar-idar di padang gurun. Padahal jarak dari Mesir ke tanah perjanjian dapat ditempuh dalam waktu yang singkat. Tuhan mendidik selama 40 tahun agar Bangsa Israel memiliki kualitas diri yang baik dan menjadi pribadi yang tangguh. Tuhan sudah mempersiapkannya tetapi umat Tuhan sendiri yang tidak mau dididik
“Segenap perintah” berarti melakukan dengan seutuhnya, tidak ada yang tercecer dari segala perintah yang yang ada. “Dengan setia” berarti tidak ada halangan atau alasan apapun untuk dijadikan kendala. Inilah kualitas orang percaya yang Tuhan kehendaki untuk dipertahankan. Untuk memiliki itu maka Tuhan harus mendidik kita.
Menjadi pribadi yang tangguh bukanlah hal yang gampang tapi Tuhan mau mendidik kita agar kita bisa memperolehnya.
Merendahkan hati
Ulangan 8:2 “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.”
Bukannya Tuhan tidak mengetahui isi hati kita, Tuhan mau di dalam nyata, apakah kita dapat membuktikan bahwa kita berpegang pada perintah-Nya atau tidak? Mengapa? Perihal iman adalah hubungan yang sangat pribadi dengan Tuhan, orang lain tidak tahu dan tidak kelihatan oleh orang di sekitar kita, tetapi segala sesuatu yang kita terima secara vertikal akan diwujudkan dalam alam nyata dan terbukti dalam kehidupan sehari-hari.
Tanpa bermaksud menghakimi, ada banyak orang-orang rohani tapi memiliki sifat yang sombong, walaupun sebenarnya dibandingkan dengan yang lain, masih banyak yang lebih bagus. Ritual-ritual kerohanian yang dilakukan tidak diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kerendahan hati memang tidak mudah, benih kesombongan sangat cepat masuk ke dalam hati seseorang.
Hanya untuk merendahkan hati bangsa Israel, Tuhan harus mendidik selama 40 tahun. Jadi, kalau kita sudah mencapai sedikit kerendahan hati, jaga baik-baik, jangan ada setitik apapun yang disombongkan. Tuhan juga harus mencobai, Tuhan menghadapkan dengan realita dan ketika kita menghadapinya, Tuhan membawa kita kepada suatu keputusan, mana yang kita ikuti? Taat atau tidak pada perintah-Nya? Kita harus memiliki prinsip iman.
Manusia bukan hidup dari roti saja tapi dari Firman Allah
Ulangan 8:3 “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.”
Apakah Anda pernah mempunyai pengalaman ditinggal oleh Tuhan? “Tuhan membiarkan kamu lapar”, hanya untuk mengajar satu hal supaya kamu insaf yaitu bahwa manusia bukan hanya dari roti saja.
Berkat yang Tuhan berikan melalui pekerjaan bukanlah Tuhan, jadi ketika kita sudah diberkati, janganlah berkat atau pekerjaan itu menjadi tuhan allah. Ada saatnya kita mengelola pekerjaan itu dengan penuh tanggungjwab, tapi kita harus ingat untuk meluangkan waktu bagi Tuhan. Renungkanlah! Bekerja itu mutlak tapi prinsip iman harus tetap kita pegang bahwa bukan pekerjaan yang menghidupi kita!
Kita mungkin pernah berpikir bahwa meski kita tidak berdoa tapi tetap diberkati, tidak melayani tapi tetap diberkati, tidak beribadah tetap diberkati, tanpa kita sadari bahwa sesungguhnya Tuhan sudah membiarkan kita dan yang terjadi selanjutnya adalah kita ingin mengecap semua keinginan dunia yang lain, yang membuat kita sudah tidak lagi memperdulikan Tuhan. Banyak anak Tuhan yang sudah menjadikan pekerjaan sebagai tuhan allah, adakalanya Tuhan membiarkan semuanya itu, kita tetap memperoleh berkat dari jerih lelah pekerjaan kita sampai Tuhan menyadarkan kita bahwa kita bukan hidup dari roti (pekerjaan) saja tetapi dari Firman Allah yang hidup.
Insaf
Ulangan 8:5-10 “Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya. Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia. Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga. Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu.”
Sebelum masuk ke tanah perjanjian, Tuhan memberikan gambaran tentang negeri yang akan dimasuki yaitu negeri dimana mereka akan menikmati semua kelimpahan. Luar biasa janji Tuhan mengenai kemapanan. Tidak bisa disangkal bahwa pada umumnya kita sedang berjuang untuk menuju kemapanan. Tapi tahukah kita bahwa kemapanan jika tidak disiapkan di “padang gurun” akan membawa kita kepada kejatuhan. Kita harus hati-hati dengan kemapanan. Silahkan bekerja dengan maksimal, ketika kita sudah pada posisi kemapanan maka hal itu tidak akan menjadikan tuhan allah dalam kehidupan kita.
Inilah kemapanan?
Ulangan 8:11-13 “Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak,…:”
Bagi kita yang masih merasa hidup pas-pasan Tuhan berjanji akan memebrkati lebih dari cukup. Akan datang masanya kita akan makan dengan kenyang dan berlimpah segalanya. Tetapi hati-hati dengan berkat yang kita terima, karena hal itu bisa menjadi tuhan allah bagi kita jika kita tidak mempersiapkan diri.
Ulangan 8:14-16 “jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya.”
Mengapa kita bisa melupakan Tuhan? Karena ketika kita diberkati, yang menepati hati kitabukanlah Tuhan tapi berkat itu. Kita akan kehilangan segala-galanya jika kita melupakan Tuhan.
Ulangan 8:19 “Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa;”
Sadarlah bahwa segala sesuatu yang kita miliki adalah berasal dari Tuhan, sediakan diri kita untuk dididik sebelum kita masuk dalam segala kelimpahan yang Dia janjikan bagi kita yang mengasihi-Nya
By: Pdt. R.F. Martino









