MEMAHAMI KEHADIRAN REALITA HIDUP (2)
GppsPalu – Yosua 21:45 “Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.”
Roma 9:20-21 “20Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya:
“Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” 21Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”
Pada minggu yang lalu ada beberapa poin yang sudah kita pelajari bahwa:
1. Jika kita tidak memahami dengan benar menurut Alkitab apa itu kehadiran realita hidup, maka kita akan memiliki sikap iman yang keliru. Oleh sebab itu kita menemukan berbagai sikap realita hidup, ada yang bingung, ada yang lari dari kenyataan, ada yang dipermain-mainkan oleh realita hidup, dll.
2. Kita tidak bisa menganggap remeh sekecil apapun realita hidup, karena sekecil apapun realita yang terjadi punya kemampuan menggoyahkan iman.
3. Tidak meremehkan sekecil apapun realita hidup, tapi bukan berarti semua keberadaan kita terfokus pada realita itu, sehingga kita dipermain-mainkan olehnya. Firman Tuhan berkata bahwa kita akan dijadikan pemenang, jadi semua realita hidup harus kita nikmati, bukannya menjadi permasalahan.
4. Awal realita hidup berubah menjadi permasalahan adalah pada saat peristiwa di Taman Eden, dimana Adam dan Hawa melanggar ketetapan Allah.
Apa Arti realita hidup?
Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
Ada kata bijak yang mengatakan bahwa setiap permasalahan harus dicari akar penyebabnya bahkan menyalahkan akar penyebabnya. Kembali kita mengingat, peristiwa di pelanggaran di Taman Eden ketika Adam menyalahkan Hawa dan Hawa menyalahkan ular. Bukankah sudah banyak orang yang menemukan akar permasalahan tapi hanya sampai penyesalan saja, yang disesalkan hanya penyebabnya saja, padahal yang mengalami adalah dirinya sendiri sebagai oknum yang mengalami. Kalau kita hanya mencari akar penyebabnya saja, itu sudah bijak, tapi jangan berhenti sampai disitu saja, semua terfokus hanya pada akar penyebab saja. Itu hanya sampai tahap penyesalan saja tapi belum bertobat untuk berubah.
Contoh kasus: Tahun 1972 saya pernah bertugas di Sulawesi Utara, karena pada waktu itu belum ada kamar sebagai tempat tidur maka saya hanya tidur di ruangan gedung gereja. Hanya tas yang saya letakkan di kamar pengerja gereja itu. Pengerja itu tidak mengunci kamarnya, karena dia berpikir sewaktu-waktu ketika saya ingin mengambil tas, maka saya tidak perlu mencarinya lagi. Tetapi tidak berapa lama, tas itu tenyata sudah dibawa oleh maling, karena kamar tidak terkunci. Saya tidak segera menyalahkan siapa dan apapun, tetapi saya langsung mengintropeksi diri, apakah ada sesuatu yang harus saya perbaiki.
Ketika sesuatu terjadi dalam hidup kita dan kita sudah intropeksi kalau-kalau ada yang tidak benar pada diri kita dan ternyata kita menemukan semuanya baik-baik saja, maka bawalah diri kita di hadapan Tuhan, karena Tuhan yang lebih tahu.
Yakobus 1:2-3 “2 Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, 3 sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.”
Apakah setiap realita hidup yang kita alami membuat kita terpuruk atau justru membuat kita mengucap syukur? Firman Tuhan mengatakan bahwa anggaplah suatu kebahagiaan apabila kita jatuh dalam pencobaan. Hal ini bukanlah hal yang mudah tapi harus kita jalani karena ini adalah kebenaran Firman Tuhan yang di dalamnya ada jaminan pemeliharaan Tuhan. Sayangnya, banyak diajarkan kepada kita hanya menyerahkan permasalahan kita saja tapi tidak membawa diri kita untuk dipulihkan oleh Tuhan. Memang ada ayat yang mengatakan dalam Filipi 4:6 “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
Yang perlu kita pahami adalah bahwa yang mengalami kekuatiran.permasalahan itu adalah oknum/pribadi, jadi yang perlu diurus adalah pribadi/oknum yang lagi memiliki masalah kekuatiran.
Dengan demikian kita perlu memahami bahwa Iblis memang terus mengincar kita, tapi yang harus kita sadari adalah bahwa segala sesuatu Tuhan mengijinkan dan Ia turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita, supaya kita tidak hanya menyalahkan Iblis sebagai akar penyebab permasalahan.
Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Dalam segala sesuatu Tuhan hadir di situ, jadi ketika hadir realita yang kita alami dan sudah menjadi persoalan hidup, yang perlu kita pahami adalah jangan sampai persoalan hidup itu menekan dan mempermainkan kita dan membuat tidak berdaya. Firman Tuhan katakan kita harus cakap menghadapinya.
I Korintus 10:13 “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya. “Dalam versi Terjemahan Lama “supaya cakap kamu menahannya”
Ketika realita hadir di segala penjuru, realita ini bukanlah hal yang kita buat atau kita mencari masalah hidup tapi Iblis bisa menungganginya untuk menghancurkan kita, Tuhan yang bertanggungjawab dan juga hadir di situ untuk menolong kita dan mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihinya. Dan Tuhan ingin kita tahu kedahsyatan kuasa-Nya dan menikmati kedahsayatan-Nya. Untuk menikmatinya perlu hadir persoalan yang luar biasa sehingga mujizat dari Tuhan bisa kita nikmati.
Apakah sekarang Anda dalam permasalahan? Berbahagialah! Karena ada rancangan Allah yang mulia. Rancangan Apa?
Roma 8:29 “Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.”
Menjadi seperti Yesus dalam manusia lahiriah yang di dalamnya terdapat iman dan dibentuk menjadi seperti Kristus, ini jauh lebih penting dari menyelesaikan masalah kita. Diri kita jauh lebih berharga dari persoalan yang kita hadapi.
Kehadiran realita itu hanya untuk mencobai kita apakah kita tetap berpegang pada perintah-Nya?
Ulangan 8:1-2 “1 Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu. 2 Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.
Tuhan membuat Bangsa Israel lapar hingga Tuhan sendiri yang memberi makan secara langsung. Tuhan mau kita mengakui kebesaran-Nya. Kehadiran semua peritiwa tidak hanya terjadi begitu saja, ada maksud Tuhan apakah kita tetap taat kepada-Nya atau tidak? Bukankah seringkali kita juga berada dalam kekurangan dan tidak ada jalan keluar? Masalah ekonomi dan tidak ada jawabannya? Sekali lagi Tuhan menghadirkan semua peristiwa untuk menguji kita dan Tuhan melakukan dengan cara yang tidak kita duga.
Ulangan 8:3-15 “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. 5 Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya. 6 Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia. 7 Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; 8 suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; 9 suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga.10 Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu.11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini;12 dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya,13 dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak,14 jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan,15 dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras,
Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita bergumul sendirian. Realita hidup ini menyerang kita dari berbagai penjuru, Tuhan hanya mau berurusan dengan kita, bukan persoalan kita. Oleh sebab itu mari selalu belajar untuk memahami semua kehadiran realita yang Tuhan ijinkan untuk kita alami, sehingga kita tidak dipermain-mainkan oleh realita hidup itu.
Written by Pdt. R.F. Martino









