MENIKMATI FIRMAN ALLAH YANG HIDUP (2)
GppsPalu – Ibrani 4:12 “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.”
Yesaya 55:10-11 “10Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,
11demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”
Markus 13:31 “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”
Minggu lalu kita sudah belajar bahwa untuk menikmati Firman Allah yang hidup dan berkuasa itu, kita harus memahaminya terlebih dahulu. Pemahaman ini adalah hal yang mendasar. Pada umumnya orang percaya mengakui bahwa Firman Allah itu hidup dan berkuasa tapi sayang sekali tidak menikmatinya, mereka tidak dapat menikmati “Firman yang hidup” itu yang bagaimana? Ujung-ujungnya selalu berpikir bahwa Firman Allah yang hidup dan berkuasa adalah Firman yang dahsyat itu bekerja secara luar biasa.
Dalam Yesaya 55:10-11 yang sudah kita baca, Tuhan memberikan suatu contoh dari suatu bentuk peristiwa nyata yang membuktikan bahwa Firman Allah itu hidup dan berkuasa, yaitu bahwa hujan dan salju yang turun dari langit tidak kembali ke atas lagi, melainkan akan mengairi bumi. Ayat 10 adalah bukti konkret/nyata yang membuktikan bahwa betapa hidup dan berkuasanya Firman Allah, yang kemudian di jelaskan di ayat yang ke-11 bahwa Firman Allah tidak akan kembali dengan sia-sia.
Dalam Markus 13:31 juga kita melihat bahwa Tuhan juga memberikan contoh pembuktian yang konkret/nyata. Pembanding kedahsyatan Firman Allah yang hidup dan berkuasa itu adalah “langit dan bumi akan berlalu”. Ada film sekuler yang berjudul “2012” yang menggambarkan bagaimana langit dan bumi itu akan berlalu, seperti itulah gambarannya bahkan lebih lagi. Kita tidak akan mudah memahami kalimat “tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu” kalau tidak memahami terlebih dahulu kalimat “Langit dan bumi akan berlalu”
Jadi untuk membuktikan Firman Allah itu hidup dan berkuasa Tuhan memberikan contoh yang konkret/nyata sehingga kita mudah memahaminya.
Untuk menikmati kedahsyatan Firman Allah, kita membutuhkan kehadiran Firman yang hidup. Krisis ekonomi yang terjadi adalah penggenapan Firman, inilah kesemapatan bagi orang-orang percaya untuk menikmatinya dalam bentuk nyata. Ada jaminan Allah terhadap orang-orang percaya yang taat, bahkan janji berkat Tuhan yang melimpah bagi mereka yang percaya. Sekecil apapun pergumulan, kita tidak boleh kuatir dan tidak boleh anggap remeh, karena hal itu mempunyai kemampuan untuk menggoyahkan iman percaya kita.
Menghadapi masa krisis, apakah kita akan lemah dan patah semangat? Dalam Kitab Kejadian Tuhan yang membuat Ishak berhasil karena ketaatannya. Pada saat itu terjadi kelaparan yang menimpa seluruh negeri. Kejadian 26:12 “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.”
Tidak dijelaskan apa yang Ishak tabur, menabur berarti bekerja, ada usaha yang ia lakukan meskipun keadaan krisis.Ketika krisis melanda kita jangan cepat berputus asa, kerja lebih keras lagi, karena lahan yang dihadapi sudah tidak seperti dulu lagi, subur dan gembur.
Ada sebuah perusahaan yang optimis meski dalam keadaan krisis, ketika dievaluasi apakah target yang direncanakan sebelumnya harus diturunkan lagi? Tetapi pemimpin perusahaan itu tetap optimis tidak menurunkan target yang harus dicapai dan tetap percaya pada Tuhan, dan hasilnya dalam masa krisispun ia bisa membuka 3 perusahaan yang baru lagi. Luar biasa Tuhan!!!
Kedahsyatan Firman Allah hanya dapat dialami jika ada peristiwa yang dahsyat. Banyak orang hanya mau kedahsayatan Firman Allah saja tapi tidak mau peristiwa yang dahsyat.
Harus ada krisis dulu baru kita bisa menikmati dahsatnya Firman Allah
Mazmur 23:1-4
“1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. 2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. 4Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”
Tuhan adalah gembala yang baik. Darimana kita tahu bahwa Tuhan adalah gembala yang baik?
Kita bisa merasakan bahwa Ia adalah gembala yang baik, ketika kita berada dalam lembah kekelaman.
Jika dibalik, ketika kita berada dalam lembah kekelaman, disitulah kita bisa benar-benar dapat merasakan pertolongan Tuhan dan menikmati kedahsayatan Firman-Nya yang berjanji bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita sendiri.
Matius 1:23 “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” — yang berarti: Allah menyertai kita.”
Pada waktu itu Yusuf masih bertunangan dengan Maria, Tuhan berkata bahwa Maria akan mengandung dari Roh Kudus, hal ini bukanlah hal yang mudah diterima oleh Maria dan Yusuf karena pada waktu itu mereka belum menjadi suami istri. Tetapi karena Maria dan Yusuf belajar taat kepada Allah, maka mereka berdua tetap mengikuti kehendak Allah.
Firman Allah yang hidup menyatakan diri-Nya dan menyatakan kedahsyatan-Nya hadir melalui realita hidup apapun bentuknya.
Yohanes 1:1 “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”.
Yohanes 1:14 “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai.”
Ia ada di dalam kita, ketika realita hidup itu hadir, itu semua adalah bagian dari Firman yang mewujudkan diri, supaya Ia bisa menyatakan kuasa-Nya.
Peristiwa dalam Alkitab, dimana Yesus memberi makan 5000 orang. Memberi makan 5000 orang bukanlah hal yang mudah. Harus ada peristiwa dulu, supaya Tuhan menyatakan kedahsayatan-Nya. Lebih hebat peristiwa lebih hebat kedahsyatannya.
Peristiwa lainnya yaitu pesta perkawinan di Kana dimana air menjadi anggur. Peristiwa ini juga membuktikan bahwa ketika Tuhan menyatakan kedahsyatan-Nya harus ada peristiwa yang hebat dulu.
Written by Pdt. R.F. Martino









