Menikmati Firman Allah Yang Hidup
GppsPalu – I Korintus 11:23-26 “Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang.”
Ibrani 4:124:12 “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.”
Setiap kali kita mengadakan perjamuan suci, suratan I Korintus 11:23-26 selalu dibacakan. Ada beberapa kalimat yang perlu menjadi perhatian kita, dalam pembuktian ikatan perjanjian Tuhan dengan umat-Nya. “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku.” Peristiwa penyaliban Tuhan Yesus Kristus yang harus jadi peringatan bahkan yang harus kita hayati dalam hidup kita. Perjanjian yang dimateraikan adalah keselamatan hidup yang kekal untuk urusan akhirat yang kedua adalah janji Tuhan untuk hidup di dunia.
Selama di dunia kita harus dapat menikmati firman yang hidup itu, kalau tidak kita akan dipermainkan oleh realita atau pergumulan hidup sehari-hari.Firman Allah yang hidup ini akan dapat menjawab masalah apapun yang sedang kita alami. Beberapa minggu lalu kita sudah belajar bagaiman memahami Firman Allah yang hidup dan berkuasa.
Tidak ada dalam kehidupan ini yang tidak mempunyai masalah, kecuali sudah meninggal dunia. Jika dalam menjalani kehidupan ini dan kita tidak mempunyai jawaban atas setiap pergumulan, maka tidak heran kita akan menemukan pribadi-pribadi yang dipermainkan oleh masalah, bahkan hidupnya akan menjadi korban masalah. Tidak menikmati apa yang baik dari Tuhan, padahal Tuhan sedah memberkati.
Kita haru bisa memahami baru kemudian kita bisa menikmati Firman Allah yang hidup itu. Kalau kita dapat memahami dengan benar maka semua pergumulan akan enteng, bukan berarti kita meng-entengkan-kan masalah, tapi kita sudah tahu bagaimana menyikapi setiap pergumulan yang kita hadapi.
Seringkali pemahaman mengenai Firman Allah yang hidup ini hanya pemahaman yang sepihak dari kita saja. Semua Firman Allah yang hidup iti kita “giring” pada apa yang namaya mujizat. Mujizat memang masih berlaku. Ketika ditimpa oleh masalah yang berat dan tidak ada jalan keluar maka dibutuhkan mujizat. Bukannya kita tidak membutuhkan mujizat, tapi yang perlu kita pahami adalah ketika kita ingin mengalami mujizat, mental kita juga harus disiapkan untuk menghadapi peristiwa ketika tidak ada jalan keluar.
Belajar Firman bukan hanya untuk dipelajari tapi untuk dinikmati juga
Setiap Firman yang kita pelajari kita juga harus bisa memahaminya supaya Firman itu bisa kita nikmati dalam kehidupan sehari-hari.
Ibrani 4:12 “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.”
Mari kita lihat kesanggupan Firman Tuhan! “…ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.”
Di dalam menikmati Firman Allah yang hidup kita harus melatih diri kita setiap hari untuk dapat mengenal kehendak Allah dalam hidup kita atas problem yang ada. Untuk mengetahui kehendak Allah atas problem yang kita hadapi, disitulah kita menemukan apa yang menjadi jawaban. Kalau kita tidak terbiasa bergaul, kita tidak akan pernah menikmatinya.
Firman Allah adalah pedang Roh (Efesus 6:17), pedang Roh memang tidak nampak di alam nyata. Bagaimana Allah membuktikan bahwa Firman-Nya itu hidup? Iman datang dari dari mendengar Firman (Roma 10:17). Untuk membuktikan Firman-Nya itu hidup, maka Allah harus hadir di alam nyata, karena umat-Nya hidup di alam nyata. Ini perlu kita pahami, supaya semua kebenaran Firman yang sudah kita pelajari di pemuridan.
Firman Allah yang hidup ini bukan lagi sekedar kalimat ataupun sekedar suara, tapi Allah sendiri menghadirkannya di alam nyata. Karena pemahaman yang dangkal, terkadang ketika Firman itu mucul di alam nyata, banyak yang tidak siap. Kebanyakan orang hanya menangkap Firman itu adalah sesuatu yang luar biasa, memberi kekuatan, menghiburkan, dll. Mereka memahami kuasa Firman hanya seperti tukang sulap. Firman Allah yang berkuasa bukan hanya berbicara tentang kesaktian Tuhan.
Coba kita mengingat satu ayat Firman Tuhan yang kita ingat dalam hidup sehari-hari!
Firman Allah itu hidup. Jika Ia berfirman maka Tuhan tahu persis apa yang sedang dihadapi umat-Nya.
Misalnya:
Filipi 4:6 “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
Jika ayat di atas Tuhan hadirkan bagi kita, berarti Tuhan tahu bahwa ada masalah serius yang membuat kita kuatir. Firman Allah itu hidup dan berkuasa! Artinya Firman akan hadir dalam realita ini dan akan memberikan jalan keluar. Mari kita pahami baru kemudian kita bisa nikmati Firman itu. Firman bukan Cuma hadir tapi Firman itu berkuasa, sekarang apakah kita mau melakukan atau tidak?
Firman Allah yang hidup akan senantiasa menyatakan diri dan kuasa-Nya untuk dinikmati
Kejadian 8: 22 “Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”
Itu janji Tuhan pada waktu air bah melanda bumi, yang ditandai dengan pelangi.
Orang yang tidak memahami kebenaran Firman Tuhan dalam kondisi krisis ekonomi seperti sekarang ini. Banyak yang mengatakan keadaan ekonomi lagi sepi sehingga keadaan semakin susah.
Krisis ini terjadi karena sudah dikatakan sebelumnya dalam kebenaran Firman. Wahyu 6:6 “…Secupak gandum sedinar, dan tiga cupak jelai sedinar. Tetapi janganlah rusakkan minyak dan anggur itu.”
Ketika hal ini terjadi, maka akan nampak orang-orang Kristen materialistis dan orang-orang Kristen iman sejati.
Keterpurukan ekonomi akan terjadi sampai muncul juruselamat palsu yaitu Antikristus.
Jika peritistiwa hari ini kita cakap menaggungnya, maka problem yang lebih besar lagi kita akan mudah memahaminya, ketika kita sudah memahami maka tinggal kita jalani saja. Jangan pernah kuatir akan jaminan Tuhan untuk orang percaya.
Peristiwa ekonomi pada zaman Ishak
Kejadian 26:1-5 “Maka timbullah kelaparan di negeri itu. — Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin. Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.” Jadi tinggallah Ishak di Gerar.”
Apa yang Ishak buat?
Kejadian 26:12 “Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.”
Peristiwa krisis ekonomi yang dialami oleh Ishak bisa menjadi pencerahan buat kita. Setiap orang yang menghadapi masalah apa saja, unsur jiwani akan menaggapinya. Banyak ketidakmampuan dari unsur jiwani kita dalam menanggapi setiap masalah.
Firman hadir untuk menyatakan kuasa-Nya dan harus ada peristiwa dulu. Kelaparan yang hebat di seluruh negeri terjadi pada saat itu dan Tuhan membrikan petunjuk apa yang harus dilakukan oleh Ishak.
Justru dalam situasi yang gawat kita butuh pendekatan dengan Tuhan dan butuh petunjuk dari Tuhan. Dalam kondisi masa sulit apapun jangan gegabah dan jangan bertindak pada saat emosi.
Ishak tetap menabur meski pada saat itu keadaan kering. Begitu juga dengan kita, mari kerjakan dengan tekun, perbaiki apa yang kurang, manajemen usaha harus diperbaiki.
Jangan teralihkan pandangan kita sehingga menurunkan kualitas rohani kita dengan terjebak dengan hal-hal yang tidak berguna. Taburlah dan bekerjalah, lakukan dengan iman serta mengandalkan Tuhan. Kalau kita bekerja dengan lemah lesu maka kita juga akan bekerja dengan lemah.
Mari kita memahami kebenaran Firman Tuhan. Firman Allah itu hidup, maka Ia akan hadir danmemberi jawaban untuk segala sesuatu yang kita hadapi. Jangan pernah mengandalkan hal yang lain.
Written by Pdt. R.F. Martino









