BERTUMBUH UNTUK MENGHASILKAN BUAH (Bagian 2): -BUAH-BUAH IMAN-
GppsPalu – Yohanes 15:16 “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”
Matius 13:1-12, 18-23 “Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Maka datanglah orang banyak berbondong-bondong lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya: “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!” Maka datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya: “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” Jawab Yesus: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Sorga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya. Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”
Minggu lalu kita telah belajar:
I. Prinsip Pertumbuhan:
1. Bertumbuh adalah mutlak
2. Bertumbuh untuk menghasilkan buah
3. Dari bertumbuh sampai menghasilkan buah membutuhkan waktu
4. Jika tidak berbuah maka akan ditebang!
II. Proses pembuahan:
1. Harus bertumbuh lebih dulu
2. Ada proses berbunga
3. Bunga harus gugur lebih dulu
4. Setelah itu barulah berbuah
Seorang percaya seharusnya tidak menyia-nyiakan kasih karunia / anugerah Allah. Darimana kita tahu seorang percaya tidak menyia-nyiakan kasih karunia Allah? Dari apakah ia menjalani hidup barunya atau tidak, apakah ia menghasilkan buah atau tidak.
Umumnya orang percaya beranggapan bahwa hidup oleh iman hanya sebatas doa yang dijawab. Mengapa bisa demikian? Karena hamba-hamba Tuhan mengajarkannya demikian. Sehingga umumnya orang percaya hanya mengaktifkan imannya saat ada masalah atau pergumulan. Memang doa adalah bagian dari iman, tetapi hidup oleh iman lebih dari sekedar doa yang dijawab, yaitu bagaimana kita hidup oleh iman dalam hidup sehari-hari, dimana iman itu bukan hanya di otak tetapi di dalam roh kita. Karena roh bukan hanya dipakai bernafas tetapi roh itu menghidupkan. Seperti kata Alkitab dalam Roma 1:17 “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”
Orang percaya yang tidak hidup oleh iman tidak mungkin bisa menghasilkan buah. Orang percaya yang tidak hidup oleh iman berarti menyiksa diri sendiri karena unsur jiwani tidak akan pernah takluk kepada kehendak Tuhan.
Lalu bagaimana memulai hidup oleh iman?
1. Mendengar Firman Tuhan
Roma 10:17 “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”
Mendengar Firman dengan telinga saat kita mendengar Firman dalam ibadah. Mendengar Firman tidak dengan telinga saat kita membaca Alkitab dan kita mengerti kehendak Tuhan.
2. Melakukan Firman Tuhan
Mendengar Firman Tuhan saja tidak cukup. Setelah mendengar Firman Tuhan, kita harus melakukannya. Alkitab berkata, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”
Jika kita sudah mendengar Firman namun tidak mau melakukannya, maka yang kita lakukan adalah dosa, dan kita menjadi seperti orang bodoh diatas.
Kita akan kembali kepada Matius 13 yang telah kita baca. Ada benih yang ditaburkan di berbagai jenis tanah, yang merupakan gambaran berbagai macam kondisi hati manusia.
1. Di pinggir jalan.
“Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan.”
Jangan meremehkan jika kita tidak mengerti Firman Tuhan karena iblis punya kemampuan mencurinya dari dalam hati kita, karena ketidakmengertian kita terhadap Firman adalah celah! Karena itu penting untuk setiap jemaat mengikuti pemuridan agar kita bisa mengerti Firman Tuhan.
2. Di tanah yang berbatu-batu
“Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.”
Orang-orang seperti ini tidak menolak Firman tetapi menyambut Firman Tuhan dengan gembira.
Apakah jenis Firman yang mudah diterima dengan gembira? Yaitu Firman yang isinya bukan perintah, tetapi janji Tuhan: “Engkau akan diberkati, menjadi kepala bukan ekor, naik dan tidak turun” dengan mudah orang percaya berkata,”Amin!”. Namun apa yang terjadi selanjutnya?
“Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itu pun segera murtad.”
Ini tidak main-main, saat datang penindasan atau penganiayaan, orang seperti ini – yang hanya menyukai Firman yang berisi janji Tuhan dan bukan perintah Tuhan – tidak hanya menjadi lemah, tetapi murtad!
3. Di tengah semak duri
“Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.”
Kita harus berhati-hati. Hal-hal duniawi punya kemampuan menghimpit Firman jika kita mengizinkannya. Bukan Firman yang tidak berkuasa, tetapi faktor dari pribadi orang tersebut.
Dalam meng-handle kehidupan hari-hari, unsur jiwani sangat terbatas. Contoh:
* Saat kita difitnah, diolok, mungkin 1-2x kita bisa sabar. Tetapi jika lebih dari itu maka kita tidak bisa lagi sabar.
* Saat kita dipuji maka kita senang, tetapi saat dicela kita tidak senang. Ini membuktikan bahwa unsur jiwani sangat terbatas. Setiap realita hidup punya kemampuan untuk menggoncangkan iman. Karena itu dalam menghadapi realita hidup, hadapi dengan roh / iman kita / Firman Tuhan.
4. Tanah yang baik.
“Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.”
Firman Tuhan harus menyatu dengan roh kita, menyatu dengan gerak tubuh kita, maka apapun yang kita lakukan adalah Firman Tuhan itu sendiri.
Sekali lagi iman bukan hanya sebatas doa yang dijawab. Dan kualitas iman kita bukan hanya dilihat dari aktivitas dan kegiatan rohani yang kita lakukan, tetapi dilihat dalam hidup kita sehari-hari: bagaimana kita di dalam studi, dalam kita bekerja/berbisnis, dalam kita berbelanja, dan lain sebagainya. Jika kita melakukan kecurangan, maka kita belum hidup oleh iman. Jika Firman yang kita dengar hanya sebatas pengetahuan, maka kita akan menjadi orang Farisi yang pandai menghakimi orang lain bahwa orang lain tidak sempurna padahal justru kitalah yang paling tidak sempurna.
Contoh, dalam hal melakukan Firman untuk mengampuni orang yang menyakiti kita. Sekalipun berat, tetapi saat kita melakukan Firman untuk melepaskan pengampunan, maka saat itulah beban yang berat terlepaskan, dan saat itulah terjadi pertumbuhan! Dan hasil dari kita melakukan Firman adalah buah-buah iman!
Yakobus 1:22-25 “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.”
Jika kita tidak melakukan Firman, maka sesungguhnya kita adalah orang yang amat bodoh karena menipu diri kita sendiri. Tetapi jika kita melakukan Firman, mungkin secara manusia berat, tetapi pada akhirnya kita akan berbahagia!
Yakobus 1:26 “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.”
Ayat diatas adalah contoh kasus (contoh nyata) dalam kehidupan sehari-hari dari orang yang rajin beribadah tetapi memiliki mulut bocor, Firman Tuhan berkata sia-sialah ibadahnya.
Iman tanpa perbuatan adalah mati. Tetapi jika iman itu disertai perbuatan, oleh perbuatan maka iman itu menjadi sempurna.
Yakobus 2:17-22 “Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati. Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.” Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”
Oleh sebab itu lakukanlah Firman Tuhan karena Alkitab berkata dalam 1 Petrus 1:23 “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.”
Written by Pdt. DR. R. F. Martino









