This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

ENGKAU ALASAN SELAMA KU HIDUP

GppsPalu – Mazmur 119:92 “Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku.”

Raja Daud berkata bahwa Taurat Tuhan menjadi kegemarannya. Kita akan belajar apa arti dari perkataan Daud tersebut.

* Gemar = suka sekali / sangat suka. Kalau sekedar “suka”, tingkatannya masih rendah, tetapi “gemar” atau “sangat suka” tingkatannya tinggi. Contoh kita bisa suka banyak makanan tetapi ada makanan yang sangat kita suka. Kata “gemar” atau “sangat suka” biasanya hanya pada makanan atau hobi. Tetapi Daud sangat gemar dengan Taurat Tuhan, dengan kata lain Daud berkata, “Aku sangat suka dengan Taurat-Mu.”

* Taurat (dalam bahasa aslinya: Towrah/Torah) = Hukum, perintah. Jadi, Taurat-Mu = Taurat Tuhan = Hukum/perintah Tuhan.

Kesimpulannya: Daud sangat suka dengan Taurat/hukum/perintah Tuhan.

Mengapa Daud bisa sangat menyukai perintah Tuhan?

Yohanes 14:21a “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku.”

Ternyata kuncinya adalah karena Daud sangat mengasihi PRIBADI TUHAN! Kita pasti pernah punya pengalaman mengasihi seseorang. Tidak mungkin kita bisa mencintai Taurat Tuhan jika kita tidak mencintai PRIBADI Tuhan. Banyak orang percaya yang bukan mengasihi PRIBADI TUHAN, mereka mencintai berkat atau fasilitas-Nya. Banyak orang menginjil orang lain dengan menawarkan fasilitas Tuhan: “Jika percaya Yesus maka usaha diberkati, kesembuhan, pemulihan” tetapi tidak menceritakan tentang PRIBADI Tuhan.

Jika kita mengasihi Dia: * Kita tidak akan melewatkan 1 hari tanpa membaca Firman Tuhan. Jika kita tidak suka membaca Firman, berarti kadar kasih kita kepada Tuhan belum sepenuhnya. * Sepanjang hari kita, kita akan melakukan perintah-perintah-Nya. * Ikut pemuridan bukan tekanan tetapi kegemaran. * Mendengarkan atau membaca Firman yang sama berulang kali tidak merasa bosan karena Firman-Nya menjadi kegemaran.

Belajar dari pengalaman Daud, kita menemukan bahwa Daud adalah pribadi yang bukan hanya mengasihi Tuhan, tetapi ia adalah pribadi yang sangat mengasihi Tuhan dan kita bisa mengetahuinya dari apa yang dicatat Alkitab.

I. Pengalaman Daud jatuh dalam dosa perzinahan.

Saat Daud berzinah dengan Batsyeba dan membuat Uria terbunuh, lalu kemudian Nabi Natan menegurnya, apa yang Daud katakan?

2 Samuel 12:13a, “Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.””

Betapa mudahnya bagi Raja Daud yang punya power/kuasa untuk menyogok nabi Natan atau sebaliknya menyuruh prajuritnya membunuh nabi Natan supaya tertutup aibnya dan amanlah reputasinya sebagai raja. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia dengan jujur mengakui bahwa ia telah berdosa. Berapa banyak orang berkata mengasihi Tuhan tetapi saat ditegur dosanya, ia justru berbelit dan menutupi dosanya? Saat Nabi Natan menegurnya, Daud mengenal suara itu bukanlah suara Nabi Natan melainkan suara Pribadi yang sangat ia cintai. Nabi Natan hanyalah alat yang Tuhan pakai.

Kemudian Daud berseru kepada Tuhan dalam Mazmur 51:13 “Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!”

Dalam Mazmur ini Daud seakan menangis seperti anak kecil yang tidak mau kehilangan ayahnya. Daud tidak berseru supaya Tuhan menutupi aibnya supaya selesai masalahnya. Daud tidak takut kehilangan reputasi, harta, atau orang-orang yang ia cintai. Daud hanya takut kehilangan Tuhan! Dengan kata lain Daud berkata, “Aku tidak bisa hidup tanpa Engkau Tuhan”

II. Pengalaman Daud jatuh dalam dosa meragukan kemahakuasaan Tuhan.

Dosa terbesar yang Daud lakukan adalah meragukan kemahakuasaan Tuhan dengan membuat sensus untuk menghitung orang Israel. Saat jatuh dalam dosa tersebut, Tuhan memberikan 3 opsi. Saat kita jatuh dalam dosa dan meminta pengampunan, Tuhan mengampuni tetapi setiap dosa ada konsekuensinya. Akibat dari dosa perzinahan Daud, anak yang dilahirkan Batsyeba saat itu mati. Akibat dari dosa melecehkan Tuhan ini, Tuhan memberi 3 pilihan yang sulit kepada Daud hukuman apa yang akan dijatuhkan Tuhan.

Daud berkata dalam 1 Tawarikh 21:13 “Lalu berkatalah Daud kepada Gad: “Sangat susah hatiku, biarlah kiranya aku jatuh ke dalam tangan TUHAN, sebab sangat besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke dalam tangan manusia.”

Saat terjadi tulah, 70.000 bangsa Israel mati. Daud sangat mengasihi rakyatnya dan ia berseru pada Tuhan bahwa ia yang berdosa biarlah hukuman ditimpakan kepada dia. Banyak pemimpin yang cuci tangan terhadap kesalahannya, tetapi Daud sportif untuk mengakui kesalahannya.

III. Pada akhir hidup Daud.

Pada akhir hidupnya, Daud memperkenalkan Tuhan/Allahnya yaitu Pribadi yang sangat dicintainya kepada Salomo anaknya. Jika seorang anak sangat mencintai dan bangga dengan orangtuanya, maka ia akan menceritakan tentang orangtuanya kepada orang lain. Saya percaya bahwa Daud bukan hanya memperkenalkan Tuhan kepada Salomo tetapi juga kepada keluarganya dan rakyatnya.

Apa yang Daud sampaikan pada Salomo?

1 Tawarikh 28:9 “Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya.”

Daud berpesan kepada Salomo agar MENGENAL TUHAN. “Kenal” berbeda dengan “tahu”. Kita tahu tentang presiden Jokowi tetapi belum tentu kita kenal dengan beliau. Kenal berarti kita tahu sifatnya, kesukaannya (makanan, mobil, dll), dan masih banyak lagi. Jika kita lama bergaul dengan seseorang maka kita akan “kenal” bahkan kita bisa “sangat kenal” dengan orang tersebut. Pengenalan bertambah seiring waktu. Mengenal Tuhan dibangun dengan kedekatan.

Kita tidak bisa “kenal persis” dengan seseorang karena suatu saat ada karakternya yang baru kita tahu. Tetapi kita bisa “sangat kenal” dengan seseorang yang dekat dengan kita.

Selain itu Daud juga berpesan kepada Salomo untuk menjadi pribadi yang loyal dan royal kepada Tuhan.

1 Tawarikh 22:14 “Sesungguhnya, sekalipun dalam kesusahan, aku telah menyediakan untuk rumah TUHAN itu seratus ribu talenta emas dan sejuta talenta perak dan sangat banyak tembaga dan besi, sehingga beratnya tidak tertimbang; juga aku telah menyediakan kayu dan batu. Tetapi baiklah engkau menambahnya lagi.”

Sekalipun Tuhan tidak mengizinkan Daud membangun Rumah Tuhan, tetapi ia menyediakan banyak sekali bahan untuk membangun rumah Tuhan dan menyuruh Salomo menambahkannya lagi.

Bagaimana hidup dari orang yang mencintai Tuhan?

Mazmur 119:1-16 “Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN. Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati, yang juga tidak melakukan kejahatan, tetapi yang hidup menurut jalan-jalan yang ditunjukkan-Nya. Engkau sendiri telah menyampaikan titah-titah-Mu, supaya dipegang dengan sungguh-sungguh. Sekiranya hidupku tentu untuk berpegang pada ketetapan-Mu! Maka aku tidak akan mendapat malu, apabila aku mengamat-amati segala perintah-Mu. Aku akan bersyukur kepada-Mu dengan hati jujur, apabila aku belajar hukum-hukum-Mu yang adil. Aku akan berpegang pada ketetapan-ketetapan-Mu, janganlah tinggalkan aku sama sekali. Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu. Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Dengan bibirku aku menceritakan segala hukum yang Kauucapkan. Atas petunjuk peringatan-peringatan-Mu aku bergembira, seperti atas segala harta. Aku hendak merenungkan titah-titah-Mu dan mengamat-amati jalan-jalan-Mu. Aku akan bergemar dalam ketetapan-ketetapan-Mu; firman-Mu tidak akan kulupakan.”

Dari ayat tersebut kita simpulkan bahwa orang mengasihi Tuhan, HIDUPNYA BERBAHAGIA.

Hidup adalah suatu perjalanan. Kita tidak pernah tahu kapan hidup kita berakhir. Ada pepatah jawa yang berkata, “Kita hidup di dunia ini hanya menumpang minum.” Kata “menumpang” berarti kita tidak selama-lamanya hidup di dunia. Dalam hidup ada banyak pengalaman suka dan duka. Ada kalanya kita memasuki pengalaman padang pasir yang membuat kita letih/jenuh. Mengapa kita bisa jenuh? Karena kita tidak tahu hidup ini untuk Siapa dan untuk apa. Jika kita hidup untuk Tuhan dan untuk kemuliaan-Nya maka kita akan bergairah menjalani hidup. Sama seperti anak kecil yang menanti berjumpa dengan orangtuanya. Biarlah kerinduan kita adalah untuk berjumpa dengan Tuhan di sorga dan perjalanan hidup kita selama di dunia ini adalah “ENGKAU ALASAN SELAMA KU HIDUP.”

Roma 14:8 “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”

Jika kita hidup dan mati untuk Tuhan, kita tidak perlu cari kompensasi pelarian hidup karena hanya Tuhan yang bisa memuaskan kita.

Terkadang kita memasuki situasi padang pasir. Apakah padang pasir itu? Situasi padang pasir adalah gersang, kering, dan dingin saat malam hari. Ini berupa: – Hati rasa gersang, kering. – Hubungan suami istri yang dingin. Banyak rumah tangga yang bertahan hanya karena demi anak. Ini salah, kalau bertahan bukan karena manusia tetapi karena Tuhan karena kita hidup untuk Tuhan. Belajarlah untuk agape. Dalam hubungan suami istri tidak ada memperhitungkan untung rugi. Setiap pribadi melakukan kehendak Tuhan: sebagai suami mengasihi istri dan tidak berbuat kasar, sebagai istri sebagai penolong bagi suaminya. Yesus alasan kita hidup. – Hubungan orang tua dan anak, mertua dan anak mantu yang tidak harmonis. Beberapa anak yang memiliki orangtua tetapi merasa seperti tidak memiliki orang tua. Tetapi Firman berkata “hai anak-anak hormatilah orang tuamu”, titik! Tidak dikatakan “…jika orangtuamu baik.” Sebagai anak-anak tetap mengasihi orang tua.

Ada kalanya kita juga mengalami “Masa Terpuruk”: * Terpuruk dalam finansial/ perekonomian. Jangan berkata hidup ini susah, ekonomi lagi susah maka akan semakin susah. Kita harus percaya bahwa Tuhan kita adalah Jehovah Jireh, sekalipun yang lain sepi tetapi kita tetap diberkati. Banyak kesaksian dimana saat situasi ekonomi lesu tetapi ada anak Tuhan yang justru berekspansi. Dan kita juga harus meningkatkan kinerja. * Merasa sendirian. Ada suami/istri yang merasa tidak diperhatikan oleh pasangannya. Tetapi ketahuilah bahwa kita tidak pernah sendiri karena Tuhan akan memberi kekuatan untuk tetap agape. Bahkan Tuhan Yesus sudah cukup bagi kita.

Ada kesaksian pasangan suami istri hamba Tuhan yang menikah hanya dengan masa perkenalan yang sangat singkat yaitu 3 bulan. Maka pada masa awal pernikahan mereka sempat hampir bercerai tetapi karena mereka belajar mencintai Tuhan dan melakukan kehendak Tuhan maka mereka berhasil melalui masa sulit tersebut. Tetapi kemudian terjadi prahara. Sang istri mengalami penyakit langka sejenis pembengkakan limpa yang di dunia ini hanya beberapa orang yang mengalaminya. Mereka membongkar tabungan mereka untuk berobat tetapi dokter akhirnya “angkat tangan” karena penyakit isterinya langka. Kemudian 2 orang anak juga menderita sakit. Yang seorang menderita penyakit sejenis kanker dan yang kedua mengalami penyakit usus bocor. Dan kemudian banyak orang yang mencibir. Bahkan pelayanan suaminya sebagai gembala menjadi cemoohan, “Katanya hamba Tuhan tetapi isterinya tidak sembuh-sembuh, pasti ada dosa”, dll. Kemudian dari pengalaman hidupnya ini sang istri menggubah sebuah lagu yang sangat memberkati. Dalam lagu tersebut ia tidak mengeluh atau protes kepada Tuhan tetapi ia berkata agar Tuhan jangan meninggalkannya karena Tuhanlah alasan selama ia hidup.

“ENGKAU ALASANKU HIDUP”

Ku hidup karna anugerah-Mu

Tiada satu pun dapat ku banggakan

Semua karena cinta-Mu Ini hidupku pimpin jalanku

Kasih-Mu mengubah hidupku

Kau memilihku s’lamatkan hidupku

Semua karena cinta-Mu

Ini hidupku pimpin jalanku

Yesus pegang erat tanganku

Ku tak dapat hidup di luar kasih-Mu

Bapa jangan tinggalkan aku

Engkau alasan s’lama ku hidup.

Written by Pdt. Lea Novitasari, S.Th., MA